
"Ini kamarmu. Aku sudah membuatnya agar terasa nyaman untukmu. Kau tetap di sini," ucap Leon tegas, mencegah apapun yang dapat membuat Jecy melarikan diri darinya.
"Jadi apa aku harus tidur dengan pria yang bukan suamiku? Kau ingin aku terlihat seperti wanita simpanan?" tanggap Jecy memicingkan mata.
Leon menggeram. Bukan maksudnya seperti itu. Dia berusaha agar dapat dekat dengan Jecy.
"Jaga bicaramu, Jecy. aku tidak ingin mendengar kau menjelekkan dirimu sendiri. Apa aku harus menyewa guru kesopanan untuk merubah kata-katamu menjadi santun?"
Jecy mengabaikannya, "Kalau begitu aku tidur di sofa. Jangan merasa tidak enak, aku bisa tidur di manapun."
Dia lebih baik tidur di lantai daripada harus satu kamar dengan Leon. Namun, tetap saja raut wajah Leon memberikan penolakan. Mana bisa dia membiarkan wanita itu tidur di sofa. Pasti sangat tidak nyaman. Semua yang terbaik sudah sepantasnya Jecy terima tanpa perlu ditolak.
Mungkin dia terlalu terburu-buru menuntut Jecy untuk menyesuaikan diri. "Pasti dia merasa tidak nyaman", batin Leon.
Mau bagaimanapun wanita itu sangat waspada pada dirinya. Leon harus bersabar, Jecy terlihat mudah membangkang, tapi dia justru jadi semakin merasa tertantang.
"Baiklah, kau bisa tidur di kamar ini. Aku akan di kamar yang lain. Bila ada apa-apa kau bisa memanggilku. Beristirahatlah."
Leon tersenyum samar, dia menatap Jecy. Mata amber kepunyaannya tetap sama, mengundang pria itu untuk berjalan mendekat dan secara tiba-tiba mendaratkan satu ciuman di keningnya. Leon bertingkah begitu lembut sampai membuat kaki Jecy seolah meluber lemas.
"Kuharap kau tidak keberatan dengan ciuman itu. Aku tidak main-main dengan ucapanku untuk membuatmu yakin menikah denganku. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Leon lirih.
Jecy terdiam, bibirnya sedikit membuka tapi tidak bersuara. Dia membeku dengan suhu tubuh mendadak naik. Kontak fisik dengan Leon memberikan efek kontaminan. Menjalar ke semua bagian tubuh sampai gemetar. Pompaan pada degup jantungnya meningkat. Tempat di mana sang pria memberikan ciuman diusap pelan.
Merasa bimbang.
Dadanya bergemuruh. Menggulung rasionalitasnya. Sentuhan dari orang yang ingin sekali dia hindari kenapa terasa hangat?
"Ah, tapi datanglah ke kamarku kalau kau berubah pikiran. Aku selalu menunggumu," Leon mencoba merayu.
Jecy segera tersadar dari perasaan bimbang yang tiba-tiba menghantam, "Jangan menunggu. Aku tidak akan datang."
Leon terkekeh, menarik pergelangan tangan Jecy yang hendak masuk ke dalam kamar. Mendekatkan tubuh mereka berdua. Dia tergoda merasakan lembut dari sang wanita dari dekat, ingin memeluk sebentar sebelum membiarkan Jecy menata barang bawaannya.
__ADS_1
Namun, Jecy menolak, ia menarik tangannya, lalu tubuh tegap didorong perlahan olehnya.
"Bye!"
Pintu kamar tertutup dengan satu kata perpisahan. Tatapan mata amber sekilas menatap sebelum pintu tertutup. Hanya sekilas dan Leon dapat melihat wajah memerah Jecy.
"Hmm? Apa artinya wajah malu-malu kucing itu?" gumam Leon lalu tertawa tertawa kecil. Gemas setengah mati dengan mommy-nya Liam.
**
Sementara itu.
Bagi disambar petir di siang bolong, Kirana benar-benar syok. Bahkan sekarang, dia seperti seorang yang dihantui mimpi buruk.
Bagaimana tidak, ayahnya dipaksa mengundurkan diri dari perusahaan, berakhir menjual aset-asetnya untuk membayar uang perusahaan yang dipakai sesuka hati, perjodohan dengan Keluarga Januartha yang dibatalkan, dan rumah tangga kedua orang tuanya hancur berantakan karena perselingkuhan sang ayah yang terungkap.
Leon benar-benar berhasil menghancurkan hidup Kirana dengan perlahan, dia pintar dan cepat mencari bukti-bukti kebusukan Sovian Daniel.
Kirana menjerit, melemparkan semua benda yang ada di sekitarnya. Kamar mewah milik wanita itu kini sudah berubah menjadi kapal pecah.
"Aku tidak terima ini! Aku tidak terima!"
Dia kembali menjerit, persis orang kesetanan. Menangis histeris, seperti orang gila kehilangan kewarasan. Ayahnya bangkrut dan jatuh miskin.
Cukup lama Kirana meraung dan menangis, hingga ia akhirnya berhenti dengan wajah yang muram. Matanya bengkak dan sembab, hidung runcing wanita itu nampak memerah. Namun, sorot tanda kebencian itu tidak pernah hilang. Seolah ingin melenyapkan orang-orang yang telah merenggut kebahagiannya.
"Jecy..." geramnya dengan rahang mengatup rapat, "Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama Leon! Tidak akan!" pekiknya dengan penuh amarah dan benci pada wanita yang menjadi sumber kehancurannya.
Jika tidak ada Jecy, Kirana pasti berhasil menikah dengan Leon, dia tidak akan berakhir seperti ini.
"Leon hanya milikku! Bertahun-tahun aku berusaha mendapatkannya! Hanya aku yang berhak memiliki dia! Aku yang akan menjadi Nyonya Keluarga Januartha!"
Kirana mengepalkan tangan dengan erat, seorang sedang merencanakan sesuatu di dalam kepalanya.
__ADS_1
"Lihat saja, apa yang akan kulakukan!" ucapnya dengan geram tertahan.
Dia benar-benar tidak akan mengikhlaskan Leon untuk Jecy. Karena menurutnya, pria itu adalah miliknya seorang.
Kirana menyambar kasar ponsel miliknya, dan segera men-dial nomor seseorang yang pasti akan membantunya.
"Hiks, ha-halo... Leonard..."
**
Selarut apapun Jecy terlelap dia akan secara otomatis bangun pukul lima pagi sebelum cahaya matahari benar-benar memasuki jendela kamarnya. Tidurnya cukup baik, entah itu efek dari kasur empuk yang dia tiduri atau memang dirinya membutuhkan istirahat yang berkualitas, atau memang sudah terbiasa untuk bangun lebih awal.
Selimutnya ditata di tengah ranjang, Jecy berjalan ke luar kamar. Dia ingin melihat jagoannya. Apakah Liam sudah bangun atau belum. Kamar putranya hanya berada di sebelah, dia menengok ke dalam, dia melihat kamar anaknya di sana masih gelap. Segera dinyalakannya lampu namun ia tidak melihat sosok bocah kecil tersayangnya.
"Liam? Liam!" panggilnya menoleh ke kanan ke kiri. Tidak ada Liam! Ke mana anak itu? Panik Jecy. Ia berlari ke kamar mandi. Tidak ada juga di sana.
Dengan langkah seribu, Jecy berlari. Mencari putranya ke penjuru rumah. Tiap hentakannya diiringi ketakutan luar biasa. Hati mulai sesak. Apakah ada yang menculik anaknya? Bagaimana bisa? Rumah ini seharusnya aman!
"Tuan! Tuan Leon!" jeritnya di lorong lantai dua.
Sial, rumah ini terlalu besar, dia masih saja tersesat. Jecy merutuki dirinya sendiri karena tidak bertanya di mana letak kamar si pria pemilik rumah.
Cepat berlari menuruni tangga menuju lantai satu. Saking kencangnya berlari ia sampai terpeleset di akhir tangga.
"Aaaa!" teriak Jecy refleks seraya menutup rapat kedua matanya dan pasrah jika ia berakhir mencium lantai marmer.
Satu detik, dua detik, tiga detik... Jecy tidak merasakan sakit ketika ia jatuh. Ia justru merasa seperti ada yang menghalangi tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan lantai. Sontak wanita itu langsung membuka mata dan terkejut ketika Leon tepat berada di bawah lututnya.
Jecy terdiam dengan mata amber yang menatap lekat mata hazel milik Leon. Tatapannya teduh, terlihat sangat menenangkan.
"Kau baik-baik saja?"
_To Be Continued_
__ADS_1