SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
LIAM'S BIRTHDAY


__ADS_3

"Liam, kau menggambarku?" ucap Leon agak tercekat.


Si bocah tampan tersenyum lebar, "Ya~"


"Liam, dia menggambarku," gumam Leon merasa terharu, lalu dia menoleh pada Jecy dan menunjukkan kertas bergambar tersebut, "Jecy, lihat! Liam menggambar ini untukku! Oh, kupikir kau sudah tahu soal itu..."


"Tidak, Liam menggambar itu dan berkata ingin menunjukkan padamu, tapi dia merahasiakan gambarnya bahkan dariku," ucap Jecy menatap gambar tersebut. Siapa sangka Liam menggambar daddy-nya untuk tugas sekolah.


"Jadi begitu," Leon memelankan suara, dia sangat senang. "Liam menggambar daddy dengan sangat baik. Terima kasih untuk ini. Daddy sangat tersentuh," memuji dan mengecup pipi tembam anaknya.


"Benarkah?" hazel berbinar cerah, si bocah kecil senang mendapat pujian dari sang daddy.


"Tentu saja! Daddy akan menghargainya. Terima kasih."


"Liam akan menggambar daddy lagi!"


Jecy yang memperhatikan interaksi keduanya tersenyum. Begitu dekat dan hangat. Dia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang... menenangkan.


Keluarga, huh?


Batinnya terus bergemuruh. Kembali dia memikirkan perkataan Leon yang ingin merayakan ulang tahun Liam dan pergi ke taman hiburan sebagai keluarga. Baiklah, ayo lakukan. Apa salahnya membuat putranya merasakan kebahagiaan sejati.


Tatapan Jecy beradu dengan Leon.


Sesuatu yang dirasakan Leon ketika pandangan mereka bertemu, rasa kesepiannya selalu hilang. Ia sudah menemukan... rumah. Tempat hatinya berlabuh, menambatkan sauh.


**


Minggu berikutnya.


Pada akhirnya, karena Jecy memilih melarikan diri untuk menyelesaikan masalah debaran di hatinya, hari-hari berlalu dengan dia yang menghindari Leon. Namun, tetap saja dia tidak dapat menghilangkan perasaan aneh tersebut, terlebih pria itu tak kehabisan cara untuk mencoba membangun hubungan baik dengannya.


Hari ulang tahun Liam yang ke-5 tahun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berdua dengan sang mommy, kali ini dia dapat merayakan hari spesial tersebut bersama kedua orang tuanya. Betapa bahagianya Liam, apalagi daddy-nya berkata ingin mengajak ke taman hiburan.


Setelah Jecy setuju dengan apa yang direncakan Leon, mereka berangkat ke Amerika Serikat di mana Disneyland berada dengan pesawat pribadi. Pria itu memang bisa melakukan apapun untuk menyenangkan Liam.


Sementara Jecy, dia tidak menyangka akan kembali ke negera kelahirannya setelah lima tahun lebih melarikan diri. Rasanya menyedikan setelah berpikir tidak mungkin kembali lagi, bertentangan dengan pilihan sebelumnya untuk melarikan diri.


"Senang kembali ke sini?" tanya Leon yang berjalan di sebelah Jecy.

__ADS_1


Mereka sampai di bandara, berjalan dengan iringan bodyguard di belakang.


"Biasa saja," jawab Jecy tersenyum kecut, "Kurasa kau sudah bertindak berlebih. Kenapa harus pergi ke Disneyland? Kenapa tidak ke taman hiburan yang dekat saja?"


Jecy melirik Liam yang tidur di gendong Leon, mengelus lembut rambut hitam sesaat. Sebenarnya dia terpaksa mengikuti, tapi anaknya begitu antusias dengan Disneyland, Liam sangat menantikannya.


"Kau tahu, bukan? Apapun untuk anak kita. Aku hanya ingin memberikan pengalaman yang luar biasa padanya," balas Leon tersenyum simpul. Bisa dibilang ini termasuk liburan keluarga.


"Ya," gumam Jecy.


**


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya oleh Leon, ia akan membuat meriah ulang tahun anaknya. Dia bahkan menyewa secara khusus seluruh area Disneyland untuk malam ini. Baginya uang bukan masalah.


Kue ulang tahun setinggi satu meter dipangkas hanya menjadi setengah meter karena tidak muat masuk helikopter. Namun demikian, meski dipangkas tidak mengurangi kebahagiaan Liam.


Balon berwarna biru, merah, dan putih melekat di tembok dan wahana-wahana. Begitu pula dengan aneka dekorasi. Liam terlihat bahagia mengenakan topi ulang tahun. Lagu-lagu berirama riang berputar. Tokoh-tokoh Disney langkah dan Super Hero berdansa mengikuti irama.


"Woahh!" seru Liam terkagum-kagum.


Sementara Jecy tertegun, membeku melihat semua ini, dia tidak bisa berkata-kata melihat apa yang telah disiapkan Leon untuk anak mereka. Berkali-kali dia melirik pria itu. Protes kenapa harus sampai menyewa seluruh area taman hiburan, padahal hanya ada mereka bertiga.


"Tiup lilinnya! Ayo nyanyikan lagu happy birthday!" seru Leon tepuk tangan, diikuti Jecy dan orang-orang yang memakai kostum. Semua menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Liam.


"Liam ingin meniupnya bersama daddy dan mommy," ucap Liam tersenyum lebar.


Leon tidak menjawab, dia melirik Jecy yang ternyata sedang menatapnya. Seketika Jecy langsung melengos salah tingkah. Ah, apakah wanita menggemaskan itu yang akhir-akhir ini selalu menghindarinya?


"Baiklah. Sebelum itu, make a wish," Jecy mengingatkan Liam untuk meminta sebuah permohonan sebelum meniup lilin.


Liam mengangguk. Menutup mata dan mulai meminta sebuah permohonan di dalam hati. Ada sebuah permohonan yang bocah itu harapkan untuk terjadi sebentar lagi.


"Satu... dua... tiga...!"


Bertiga, bersamaan. Liam, Leon, dan Jecy meniup lilin ulang tahun. Dalam sekali tiupan, mati sudah api mungil tersebut.


Turun dari gendongan daddy-nya, Liam memotong kue dengan dibantu Jecy.


"Kue! Kue!" bocah itu berseru bahagia. Dia melompat sambil mengulurkan tangan, meminta sang mommy menyuapinya kue yang sudah dipotong tersebut.

__ADS_1


"Ayo, makan," Jecy menyendok sesuap kue dan meletakkannya di depan mulut anaknya.


Liam langsung membuka mulut dan menerima suapan itu masuk. Mata hazel berbinar-binar. Jecy tersenyum melihatnya.


"Apa mom dan dad ingin tahu apa permohonan Liam?" ucap Liam menggandeng masing-masing tangan kedua orang tuannya.


"Hmm? Bolehkah kami tahu?" sahut Leon menatap lembut.


"Ya! Liam ingin mommy dan daddy terus bersama seperti ini! Liam sayang kalian berdua!"


Jecy terhentak mendengar perkataan buah hatinya. Merasa sesak. Batinnya bergemuruh. Mengetahui betapa Liam menginginkan kedua orang tuanya bersama mengiris hatinya sedikit demi sedikit.


"Bagaimana kalau kita mulai bermain?" ujar Leon yang menyadari keterdiaman Jecy. Ingin mencairkan suasana.


"Liam ingin bermain!" seru Liam meloncat sambil merentangkan tangan.


"Apakah daddy harus berpegangan tangan denganmu dan juga mommy supaya kalian tidak hilang?"


"A-apa?" sahut Jecy tak yakin dengan apa yang dia dengar.


"Ya!" persetujuan Liam tak membiarkan Jecy melontarkan protes.


"Ayo, kita bersenang-senang!"


"Ayo!"


Sementara itu, melihat tangan Leon yang memegang tangannya, menghadirkan kesenangan tersendiri bagi Jecy. Dalam sekian detik dia begitu hanyut dalam gambaran keluarga kecil yang bahagia. Pikirannya kembali ke kenyataan.


Tidak membuatnya bekerja keras lagi, memasukan Liam ke TK yang sangat ia sukai, membalas orang yang mungkin mencelakai anak mereka, meluangkan waktu untuk ikut mengasuhnya, makan, pakaian, membuat perayaan pesta ulang tahun luar biasa, dan mengajak ke taman hiburan.


Semuanya adalah berkat Leon.


Seperti yang Jecy katakan, dia adalah orang yang tidak terbiasa membagi penderitaannya dengan orang lain, karena ia sudah terbiasa berjuang sendiri. Dia tidak pernah berharap pria baik menyukainya, meski harus menjalani hidup yang sulit. Karena dia yakin jika hidup tidak sesuai dengan apa yang diimpikan, karena faktanya hidup itu sangat mengerikan.


Dan lebih dari itu...


Jecy merasa sesak ketika memikirkan Leon.


Uangnya, bahkan belas kasihan pria itu, itu terlalu berlebihan. Tatapannya kepada Jecy, itu tidak ada apa-apanya. Sentuhannya, itu membuat sesak.

__ADS_1


Barangkali Jecy memilih rasa sayang pada Leon karena semua tindakan tersebut. Bolehkah dia punya rasa kasih sayang pada pria itu?


_To Be Continued_


__ADS_2