SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
LUAR BIASA MALU


__ADS_3

Batin Jecy bergemuruh, merutuki dirinya sendiri.


"Bukan. Bukan itu masalahnya sekarang. Bagaimana caraku keluar dari sini?"


Jecy berbaring diam sambil menahan nafas, takut kalau-kalau Leon merasa bahwa ia sudah bangun. Ia teringat kembali pada kejadian sejam sebelumnya, dan darahnya mengalir dengan lebih deras. Entah berapa kali Leon menciumnya, dan setiap kali wanita itu memikirkannya, rasanya pengalaman itu semakin memalukan.


Dia ingat betul bagaimana responnya terhadap Leon. Jecy merasa begitu mendamba akan dicumbu, seolah memberitahukan pada pria itu bahwa ia memujanya.


Pada suatu titik, wanita itu berlega hati. Sebab, Leon tidak memanfaatkan kondisi panasnya. Ia justru membantu melewati kondisi itu, untuk memadamkan api yang memanaskan darahnya, untuk membebaskannya dari rasa mendamba sentuhan yang mendera.


Leon menoleh guna melihat Jecy yang tidur membelakanginya, tubuh ringkih yang menjadi tulang punggung keluarga. Seorang single mom tangguh dengan sejuta luka di hidupnya.


"Akan lebih baik meminta bodyguard membawa beberapa makanan. Ah, haruskah aku bertanya pada mom?"


Batin Leon menimbang-nimbang. Beda halnya dengan batin Jecy yang begitu canggung, penuh dengan anxiety atau kegelisahan.


"Bagaimana caranya aku keluar dari sini?"


Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang menjauh dan suara pintu yang dibuka kemudian ditutup.


Menyadari Leon yang pergi, Jecy berharap mendapatkan kesempatan melarikan diri. Dia langsung bangun terduduk, selimut yang menutupi tubuh telanjngnya otomatis merosot ke bawah. Pipinya merona karena situasi yang memalukan ini. Dia tahu bahwa wajahnya pasti sangat memerah sekarang.


Untuk menyembunyikan kulit yang dipenuhi tanda kepemilikan, dia buru-buru menoleh ke kiri dan ke kanan, namun, tidak menemukan keberadaan pakaiannya. Jecy hanya mengeluarkan suara tidak jelas.


Membungkus tubuh dengan selimut, kaki kurus itu turun dari ranjang dan melangka menuju walk in closet──di mana pakaian-pakaian Leon tersimpan. Dia mencari apapun yang dapat dipakai. Kemeja putih dan celana panjang.


"Ugh, ini besar sekali," keluh Jecy setalah memakai pakaian yang seolah-olah menenggelamkan tubuhnya. Dia gulung lengan kemeja dan bagian bawah celana tersebut.


Kemudian Jecy bergegas keluar dari kamar itu, sambil memegangi celana kedodoran yang dia kenakan agar tidak merosot.


Jecy mengamati sekitarnya. Penthouses milik Leon dibangun dengan material terbaik dan mewah. Dia menemukan teras lebar yang terbuat dari marmer, sejumlah master suites, jendela berukuran besar dan dapur yang berkelas, bahkan terdapat kolam renang.


"Makanan apa yang bagus untuk orang sakit, Mom?"


Sayup-sayup Jecy dapat mendengar suara Leon.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak sakit, Mom. Jadi makanan apa yang bagus?"


Jecy berpikir sekarang Leon sedang telepon. Sementara pria tersebut melakukan itu, ia akan menyelinap mencari pintu keluar. Namun, ia tidak kunjung menemukannya meski sudah mencari pintu itu kemana saja.


Dia berpikir rumah macam apa yang sebesar ini. Apa gunanya mempunyai rumah besar? Apa semua rumah modern seperti ini?


Setelah berputar-putar cukup lama, pada akhirnya, Jecy menemukan apa yang dia cari. Namun, suara serak yang rendah mendadak hadir ketika dia hendak membuka pintu keluar penthouses.


"Mau ke mana?"


Leon bejalan menapaki langkah ke depan, menuju Jecy. Hazel itu berkilat, memandang punggung Jecy yang menegang karena terkejut. Sudut bibirnya terangkat membentuk kurva. Menganggap Lucu tingkah si tikus perempuan yang gagal melarikan diri.


"A-aku..." gagap wanita berambut cokelat muda tanpa berniat berbalik ataupun sekedar menoleh. Dua bola mata amber bergerak resah, ke kanan dan ke kiri, merasa pria itu sudah berdiri di belakangnya. Terlalu dekat, sampai hidungnya membaui khas wangi tubuh Leon.


Ah, Jecy baru menyadari kalau wangi mereka berdua sama. Ia ingat bahwa pria itu memandikannya dengan menggunakan sabun yang sama. Seketika rona kemerahan menjalar ke telinga hingga tengkuknya.


Ingin sekali rasanya Jecy menggali lubang untuk mengubur dirinya sendiri hidup-hidup di lapisan terdalam bumi!


Bahkan ketika sebuah tangan besar menyentuh pundaknya, Jecy masih terperangkap dalam rasa canggung luar biasa. Sentuhannya menggetarkan apa yang seharusnya tetap tenang dan diam, wanita itu masih mengingat bagaimana rasa telapak tangan Leon ketika menyentuh kulitnya beberapa saat yang lalu. Besar dan sedikit kasar.


"Maafkan aku," ucap Leon dengan nada agak terkejut. Tangan yang ditepis ia turunkan ke sisi tubuhnya.


Rasa bersalah menelisik. Jecy tidak bermaksud bersikap kasar, "Tidak, aku yang minta maaf," sesalnya menundukkan wajah.


Mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia sadar, sudah cukup banyak menerima pertolongan dari pria itu. Seharusnya dia berterima kasih, tapi dia hanya merasa sangat malu untuk sekedar menatap Leon.


"Bibirmu bisa terluka."


"Huh?" dari balik bulu mata lentik yang bergetar, Jecy melirik Leon bingung. Tanpa sadar ia menjulurkan lidah untuk membasahi bibirnya yang terasa kering.


Pria itu terdiam dengan tatapan yang menajam.


"Kenapa dia menatap bibirku?" pikir Jecy yang sadar ke mana arah tatapan Leon.


Menelan saliva berat, si wanita ingin sekali lari dari situasi tidak nyaman ini, "Aku ingin pulang. Anakku sedang menungguku, dia sendirian di rumah."

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh Marvin untuk menjaga Liam," ucap Leon menghilangkan alasan Jecy untuk pulang.


"Tapi tetap saja, aku harus pulang."


Jecy kukuh ingin keluar dari sini.


"Hmm," Leon bergumam sesaat, ia menatap penampilan Jecy dari bawah ke atas, "Kau yakin ingin keluar dengan keadaan seperti ini? Aku bahkan dapat melihat ujung dadamu yang kemerahan."


"A-apa...?"


Jecy terdiam di sana selama beberapa detik setelah mendengar definisi eksplisit itu. Lalu ia turunkan pandangan ke bawah. Dan benar saja, kemeja yang ia kenakan tipis. Tidak, itu bisa dibilang transparan. Karena terburu-buru, dirinya tidak terlalu memperhatikan penampilan.


Seketika matanya membola dengan sempurna. Segera ditutupnya tubuh bagian depan dengan kedua tangan, tetapi secara tidak sengaja melepaskan genggaman pada celana kedodoran yang sejak tadi ia tahan, menyebabkan celana itu melorot dan terjatuh ke lantai.


"Aaa! Jangan lihat!" Jecy menjerit.


Semakin luar biasa malu lah wanita itu, sehingga ia merasakan dorongan untuk membentur tembok dan bunuh diri.


Jecy berjongkok untuk meraih celananya, tapi ia tidak kembali berdiri. Bagaimana bisa ia memakai celana itu di depan Leon? Terlebih dengan tubuh bagian atasnya yang terpampang nyata dari balik kemeja transparan.


Dia benar-benar ingin menangis detik ini juga...!


Sementara Leon yang melihat itu semua, menganggap Jecy sangat menggemaskan dengan segala tingkah kikuknya. Dia berusaha menahan tawa. Lagi pula, apa yang wanita itu tutupi? Bukankah mereka sudah saling melihat satu sama lain?


"Tidak apa-apa. Berdirilah," ujarnya mencoba membujuk sang wanita untuk sedikit tenang, sambil mengulurkan tangan.


Jecy hanya menatap uluran itu. Jantungnya berdegup kencang serasa hendak melompat keluar dari tenggorokannya, seperti tersangkut dan terangkat tinggi oleh perasaan ragu-ragu karena sangat malu.


"Jangan bilang kau akan berjongkok di depan pintu sampai berkarat," kekeh Leon.


Hah? Itu tidak lucu!


Pada akhirnya Jecy memilih menyerah, dan menggerakkan tangannya guna meraih uluran tangan kekar Leon.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2