SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
PERASAAN AMBIGU


__ADS_3

"Masuklah, aku sedang membuat makan siang untuk Liam," ucap Jecy yang mendapat anggukkan dari Leon, "Apa kau sudah makan?"


"Belum," jawab pria yang sedang melepas sepatu pantofel mahalnya.


"Baiklah, aku akan membuat untukmu juga."


Leon terhenyak mendengarnya, tak menyangka Jecy berinisiatif memasak untuknya. Ia tak mampu menahan senyum karena terlalu senang.


"Apa yang lucu, Daddy?" tanya Liam dengan suara polosnya, heran melihat senyum diam-diam daddy-nya.


"Tidak ada," Leon mengacak rambut hitam putranya, masih tersenyum tipis memandangi Jecy yang kembali memasak. Wanitanya terlihat sangat mempesona saat memakai apron berwarna biru muda dan surai digelung ke atas. Menampilkan leher jenjang yang begitu indah.


Butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk Jecy menyiapkan makanan. Mulai dari menuangkan sup pada mangkuk berukuran lumayan besar, memindahkan ikan dari alat penggorengan ke piring, dan lain sebagainya.


Dan setelah semuanya sudah beres, mereka duduk lesehan di atas karpet, karena memang tidak ada furniture di situ.


"Tuan Leon, maaf karena aku tidak memiliki meja makan. Kau pasti tidak nyaman untuk makan lesehan seperti ini," ucap Jecy sambil mengambil tiga piring nasi yang tergeletak di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Siapa bilang aku tidak nyaman?" kilah Leon yang justru merasa bersyukur karena dapat makan bersama Jecy dan Liam. Kehangatan menjalar ke hatinya. Kini, mereka benar-benar seperti keluarga, ia pastikan kedepannya mereka akan terus makan bersama seperti ini.


Jecy mengambil setengah piring nasi untuk Liam, sepiring nasi untuk Leon, dan sepiring nasi lagi untuk dirinya. Tak lupa dia menuangkan sup beserta lauknya di nasi tersebut.


Leon dan Liam mengambil alih masing-masing piring bagian mereka, berterima kasih pada satu wanita yang mereka cintai. Lalu meletakkan piring tersebut di hadapannya. Kedua pasang mata hazel langsung berbinar. Saatnya makan!


"Bagaimana pekerjaanmu, Jecy?" Leon membuka suara.


"Aku mengambil cuti," jawab Jecy melirik Liam yang sedang makan dengan lahap, tersenyum dan mengecup kening putranya lembut.


Cuti sehari untuk membenahi barang-barang yang akan dia bawa pindah ke rumah Leon. Meski begitu tak banyak barang yang akan Jecy bawa, hanya sesuatu yang penting saja.


"Daddy, apa kau tahu? Namaku hampir sama dengan dengan daddy," ucap Liam memeluk lengan ayahnya, "Nama daddy Leon dan aku Liam. Itu mirip bukan?"

__ADS_1


"Kau benar," senyum Leon mengembang, "Ini, aa..."


Oh... Seketika Jecy teringat bagaimana dia memberi nama bayinya 'Liam', menurutnya itu adalah nama yang tampan. Bahkan dia ingin meninggalkan sedikit kenangan tentang Leon. Jecy ingin putranya terlihat seperti ayahnya, bukan dia. Karena dia tidak mau bayi laki-lakinya memiliki garis takdir yang buruk seperti dirinya.


Perasaan Jecy ambigu. Pemandangan yang... entah. Leon menyuapi Liam dan mengelus sayang surai hitam itu. Dua wajah bagai pinang dibelah dua. Bagaimana pun keduanya terlihat bersinar dan bahagia, menggetarkan hati wanita itu.


Kini bocah mungil itu sudah dipertemukan dengan ayah kandungnya sendiri. Jika Liam menyukai Leon lebih dari itu. Jecy tidak bisa mengatasinya.


**


Sepanjang perjalanan di mobil. Liam ada dipangkuan Jecy. Leon yang ada di samping mereka terus menoleh dengan kekaguman. Menatap seperti orang yang sedang jatuh cinta, tanpa jeda. Tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala. Tidak percaya dia akan benar-benar membawa pulang Jecy dan Liam.


Liam terlelap dalam pelukan Jecy. Kepala rebah di pundak sang bunda. Leon terus memperhatikan. Ia mencari cela antara pundak Jecy dengan sandaran kursi mobil. Ikut merebahkan kepalanya di pundak Jecy.


Si empunya pundak pun terkejut dibuatnya, "Kenapa Tuan Leon bersandar padaku? Ini membuatku tidak nyaman."


Leon tak acuh dengan protes sang wanita. Keningnya disentuhkan dengan kening Liam. Jemari mungil disentuh oleh jemari besar. Lima tahun dalam pencarian dan rasa frustasi. Wajah Jecy yang terus menghantuinya siang dan malam. Ternyata, wanita itu telah menghadirkan sosok anak laki-laki yang dapat dia belai kepalanya dengan penuh kasih.


Jecy diam membisu. Tersenyum datar, "Takut padamu...?"


Rasa takut pada Leon memang membuat Jecy pergi menjauh. Namun, ia kembali bertemu dengan pria itu meski sudah berusaha bersembunyi sebaik mungkin. Apakah takdir menentukan ia harus bersama dengan Leon?


"Iyakah? Tapi setelah ditinggal lima tahun membuatku berubah. Kau tidak perlu takut padaku lagi."


Sesuatu menghentak perasaan Jecy. Ditinggal selama lima tahun? Itukah yang dirasakan Leon selama ini? Ditinggal? Pria itu merasa ditinggal oleh dirinya? Why?


Dia dapat melihat wajah pilu yang terlukis dari pria bermata hazel itu ketika mengucap ditinggal selam lima tahun. Menatap nanar sehingga membuat Jecy tertegun.


"Apa yang kau pikirkan?" jemari Leon membelai pipi sang wanita.


"Banyak yang aku pikirkan," jawab Jecy melengos menatap keluar jendela mobil.

__ADS_1


**


Jecy nampak masih belum percaya dia kembali ke sini. Memasuki penthouses milik Leon.


"Ini kamarmu, Jagoan." Sebuah kamar lengkap dengan segala fasilitas terbaik sudah disiapkan Leon bagi putranya. Kasur empuk serta dekorasi super hero Captain America sebagai tokoh pujaan sang buah hati mendominasi setiap sudut kamar. "Kau senang?"


Liam mengangguk, wajah ngantuk sehabis bangun tidur seketika berubah semangat. Mengayunkan kaki kecilnya untuk melompat-lompat di atas kasur. Pegas naik turun, bocah itu memekik mengatakan dia seolah bisa melayang dan terbang.


"Ini menyenangkan, Dad!" teriaknya girang. Dia akan bergulir ke kanan ke kiri sesuka hati tanpa khawatir jatuh.


"Kau bisa menikmatinya, daddy akan mengajak mommy ke kamarnya. Kau tidak apa kami tinggal, 'kan?"


"Baiklah, Daddy."


Leon membawa Jecy ke kamarnya, berjarak beberapa langkah dari kamar Liam. bersebelahan namun tidak terlalu berdempet.


"Aku tahu kau tidak akan mau terlalu jauh dari Liam, jadi aku telah menyiapkan kamar ini untuk kita."


Ke dua alis Jecy bertaut, "Kita?"


Bola mata amber menangkap gambaran sebuah ruang kamar yang mewah. Sangat luas dan berkelas. Satu ranjang king size berada di tengah, Jecy menelan saliva. Leon tidak bermaksud menjadikan kamar ini untuk mereka berdua bukan?


"Kita tidak akan tidur seranjang, bukan?"


Leon tersenyum, berharap jawaban iya terdengar. Siapa tahu hati yang tertutup sudah mulai dibuka lebar untuknya, "Untuk menjadi dekat kurasa hal ini perlu. Kita bisa saling mengenal lagi lebih dalam bila berada dalam satu ruangan. Jadi, mau tidur di... kamar kita?"


Senyumnya yang mengandung maksud terselubung, Jecy tidak yakin dengan ucapan pria itu. Bulu di tengkuknya tiba-tiba meremang.


"Tidak, lupakan saja, aku akan tidur dengan Liam," tolak Jecy.


"Ini kamarmu. Aku sudah membuatnya agar terasa nyaman untukmu. Kau tetap di sini," ucap Leon tegas, mencegah apapun yang dapat membuat Jecy melarikan diri darinya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2