SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
TIDAK DIBUTUHKAN


__ADS_3

Jecy bisa melihat seberapa marahnya Leon. Sebagai seorang ibu, dia juga merasakan amarah itu. Selama sembilan bulan dia mengandung Liam, merawatnya dengan penuh kasih sayang lantas tiba-tiba ada orang lain yang sengaja melukai putranya.


Kenapa wanita yang baru dia temui itu memusuhinya? Jecy tidak berniat menganggu hubungan Kirana dan Leon. Sama sekali tidak ingin pengakuan dari ayah biologis Liam. Dia hanya menginginkan kehidupan damai bersama putranya, tapi kemudian pria itu datang dan mengacaukan segalanya.


Kesalahannya karena terlalu lama menetap bersama Leon, yang hanya akan membuat anaknya semakin terluka. Liam akan menjadi incaran orang jahat jika tetap berada dekat dengan Leon.


Jecy takut putranya mengalami trauma akibat kejadian buruk yang baru saja dia alami. Terlebih dia juga tidak akan membiarkan Liam diambil darinya.


Dengan segenap tenaga Kirana mencoba melepaskan diri dari cekikikan Leon, tapi tidak ada guna. Meski hanya satu tangan yang digunakan pria itu, tetap saja terasa begitu kencang dan tidak bisa dilepas.


Karina berusaha berucap dengan susah payah, "I-ingat, a-aku calon istrimu, Leon... akh..."


"Persetan dengan itu, Kirana. Aku tidak pernah menerima perjodohan sialan itu. Buka matamu, Jalng!" desis Leon melotot. Melepas cekikannya, lalu mendorong Kirana ke luar.


Sekali lagi wanita itu ambruk ke lantai, napasnya tersengal-sengal, sambil memegangi leher yang sangat sakit. Ia terbatuk terus karena udara belum lancar mencapai paru-paru. Leon sungguh ingin membunuhnya.


"Kau pikir, kau bisa memperlakukan aku seenaknya? Kau tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa!"


Kirana merasa begitu tersakiti. Sifat aslinya benar-benar terlihat. Dia tidak akan berdiam diri membiarkan Leon memilih Jecy. Merasa yang paling berhak untuk bersanding dengan pria itu, bukan wanita murahan itu. Meski sudah dorong ke luar, Kirana bangkit dan berusaha kembali masuk ke dalam.


"Jangan bermain-main denganku, kau akan menyesalinya, Kirana."


Penekanan intonasi Leon jelas menyiratkan makna, "Berani macam-macam kau mati."


"Kau yang akan menyesal karena telah mengakui sampah itu sebagai anak──"


Plak! Leon menampar pipi Kirana hingga menciptakan sobekan di sudut bibirnya. Tidak seberapa baginya, pria itu belum puas meluapkan rasa marah yang bisa membuat kepalanya meledak.


Tidak hanya itu, Leon juga menyeret Kirana, melempar wanita itu ke luar dari vilanya. Tak peduli meski si wanita berteriak kesakitan.

__ADS_1


"Bangsat! Kenapa kalian memperbolehkan wanita ini masuk! Bawa pergi dia! Lempar ke laut kalau perlu!" bentak Leon pada dua pengawalnya.


Buru-buru si pengawal mengekang kedua tangan Kirana. Mengabaikan rontaan wanita itu yang tidak terima diperlakukan buruk.


Sialan, kenapa Kirana bisa datang mengacau di pulau pribadinya? Sang ibu saja tidak tahu di mana Leon berada, lantas kenapa wanita itu tahu tempat ini? Siapa yang memberitahu?


Deru kasar napas Leon masih naik turun. Detak jantungnya berdetak menusuk-nusuk tulang rusuk. Dia mengusap wajah gusar. Tatapan beringasnya terganti pandangan sendu tatkala melihat Jecy dan Liam masih terduduk di lantai. Rambut cokelat muda yang halus milik Jecy kusut dan acak-acakan, dia yakin ibu muda itu masih merasa kesakitan.


Bibir Jecy terlihat memucat lecet, secara tak langsung Leon mengakui. Dialah penyebab semua ini. Lalu netra hazelnya berotasi pada Liam. Bocah kecilnya masih menangis dengan luka lebar di dahi.


Leon dibuat panik juga sakit. Iba dan tak tega. Melihat dua orang penting dalam hidupnya dilukai membuat dadanya sesak menahan perih. Tenggorokannya tiba-tiba kering, dia tidak bisa memanggil keduanya dengan benar karena dia tahu bahwa dialah yang patut disalahkan.


"Jecy──"


"Jangan mendekat," suara dingin Jecy menghentikan keinginan Leon. Bola mata kuning keemasan menatap menyalahkan. "Ternyata wanitamu benar-benar gila. Dia hampir membunuh anakku," sinisnya masih memicing tajam.


Sial, Leon merasa sangat tidak nyaman ditatap seperti itu.


Sampai saat ini pun, dia tidak pernah mengencani atau mencintai wanita lain, katakanlah dia dulu memang pria brengsek. Perasaanya terlalu rumit untuk sekadar mengenali apa itu cinta. Namun, entah sejak kapan dia sudah meletakkan hatinya, memberikan setengah dari jiwanya hanya pada satu orang. Pada Jecy seorang.


Sosok wanita lugu bersurai cokelat muda itu terlalu melekat dipikirannya, sampai Leon terus memimpikan Jecy selama lima tahun ini. Bahkan dia sudah mati rasa pada wanita lain.


Mungkin itu kesalahan Leon, kebodohan terbesarnya ketika dia baru menyadari perasaannya sendiri.


"Aku tidak peduli dengan kehidupan cintamu yang suka bermain-main dengan wanita. Aku hanya ingin kau menjauh dari hidupku. Tidak bisakah kau tidak mengenalku saja?" sahut Jecy begitu smooth. Begitu halus dia berucap namun menusuk sampai di sanubari si pria.


Leon terdiam dan tertohok. Dia menahan napas berat. Tentu saja dia tidak bisa tidak mengenal Jecy, di saat pikirannya selalu berpusat pada wanita itu.


"Kita perlu bicara," ujarnya lirih.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Lebih baik kau urus wanita bernama Karina itu. Nikahi dia. Buatlah banyak anak agar dia tidak mengincar anakku," ketus Jecy menahan gejolak emosi di dalam dada.


"Kau salah paham, Jecy..."


"Kubilang jangan mendekat!"


Menguap, kesabaran wanita itu tinggal selapis. Leon harus sadar bahwa sejak awal Jecy sama sekali tidak pernah mengharapkan reuni mereka setelah kencan semalam lima tahun yang lalu. Jecy sudah terlanjur kecewa, marah dan terluka.


Harus semenyedihkan apalagi hidupnya agar Leon berhenti mengoyak dunia kecilnya? Jecy hanya ingin hidup tenang bersama Liam. Dia tidak membutuhkan pria angkuh itu.


Namun, Leon tidak mau menjauh apalagi mundur seperti seorang pengecut. Matanya meredup melihat Liam juga menghindarinya.


"Sayang, apa dirimu baik-baik saja?" tangan gemetar ketika hendak menyentuh kening anak lelaki itu. Leon berencana mengobatinya.


Namun, belum sempat dia melakukannya, Liam sudah menepis kasar dan memandangnya dengan sorot mata tajam.


Liam menolak Leon. Manik hazel sewarna miliknya itu nyata menampilkan kebencian tak terkira.


Seketika Leon kehilangan dunianya.


"Menjauh dariku dan mommy! Paman bukan daddy-ku. Liam tidak mau punya daddy jahat seperti paman, hiks..."


Leon meringis, kata-kata Liam mengiris aliran nadinya. Sedikitpun dia tidak melihat adanya kesempatan. Mereka terikat darah, tapi hubungan ayah dan anak itu terlalu tipis untuk ditarik merenggang, dan pada akhirnya berakhir putus.


Apakah sesusah ini untuk memperbaiki semuanya? Tidak adakah kesempatan untuknya mencoba melindungi baik Liam maupun Jecy?


Ditolak anak sendiri adalah hukuman yang pantas bagi Leon. Jika dulu dia lebih berusaha keras mencari keberadaan Jecy, dia pasti sudah menjadi bagian keluarga kecil itu. Rongga dadanya seolah menyempit tidak bisa mengambil udara secara benar. Leon dihancurkan di saat dia baru memulai.


Pondasinya goyah, sebentar lagi ambruk.

__ADS_1


Hati pria itu sudah remuk, penolakan Liam menjadikannya lemah. Juga Jecy tidak menginginkannya.


_To Be Continued_


__ADS_2