SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
RASANYA MEMILIKI DADDY


__ADS_3

"Memangnya Tuan Leon akan bertanggung jawab kalau dia memintamu? Apa anda tidak akan menyuruhnya mengugurkan bayi itu?"


Jika Jecy datang padanya waktu itu, Leon sendiri tidak yakin akan membiarkan wanita itu mengandung anaknya. Itu sebabnya, ia sangat berhati-hati dengan memastikan setiap wanita yang tidur dengannya untuk mengurus kontrasepsi. Ia tak mau ambil pusing jika seorang wanita menggunakan hal itu untuk memerasnya.


Namun, Jecy justru tidak datang meminta tanggung jawab, bahkan meminta uang pun tidak. Wanita itu memilih melarikan diri dan membesarkan anaknya sendiri. Jelas sekali, Jecy berbeda dengan para wanita murahan itu.


"Tidak. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Mau bagaimanapun, anak itu darah dagingku, aku juga turun tangan dalam proses pembuatannya," ucap Leon kembali dari pikiran yang melayang ke masa lalu. Ia mengusap wajah kasar.


"Lalu apa yang akan anda lakukan selanjutnya, Tuan? Ingin meminta hak asuh anak itu? Saya bisa melihat jika hanya anak itu satu-satunya yang dimiliki Jecy. Apa anda akan memisahkan mereka berdua?" tanya Marvin yang membuat Leon kembali terdiam.


Bisakah pria itu membawa Liam?


Namun, Jecy lah yang telah mengandung selama sembilan bulan sampai mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan putranya. Wanita itu juga yang sudah membesarkan Liam hingga menjadi anak yang tampan dan cerdas, ia bahkan mempertaruhkan segalanya sampai jatuh sakit seperti ini.


Sedangkan Leon, apa yang dirinya lakukan? Dia justru sibuk mengencani para wanita yang mirip dengan Jecy, meski tak ada satupun yang berhasil.


Satu hal yang pasti, Liam tidak mungkin mau jauh dari Jecy. Lihat saja, anak itu terus saja menangis karena ibunya sakit. Meski Jecy terlalu miskin untuk bisa menghidupi Liam, tapi bukan berarti Leon bisa memberikan kasih sayang sebesar Jecy yang sudah melindungi putranya selama ini.


Bukankah dia akan sangat kejam jika memisahkan ibu dan anak itu? Lagi pula Leon tidak ingin berakhir dibenci putra kandungnya.


"Tuan, dia mendekat," bisik Marvin gugup karena bocah kecil jiplakan bos-nya mendekati mereka.


Kedua pria itu panik. Kembali Leon memandangi lekat wajah bocah kecil yang berjalan mendekatinya. Tidak percaya, benarkah dari dirinya──dari inti tubuhnya ada sosok mungil sangat tampan?


"Apakah kita jadi makan bersama, Paman? Bukankah Liam harus makan banyak agar terlihat baik ketika mommy bangun? Ayo kita makan sekarang," berucap dengan polos, tangan kecil Liam menyentuh jari telunjuk Leon. Wajahnya mendongak guna melihat wajah pria dewasa yang menjulang tinggi di hadapannya.


Sedikit rasa aneh menelisik, mendengar Liam memanggilnya paman. Ah, sungguh tidak pas, bukan?

__ADS_1


"Baiklah. Ayo kita pergi makan bersama, Jagoan," angguk Leon membalas menggenggam tangan kecil Liam, "Kau ingin makan apa? Paman akan membelikan apapun yang kau mau."


"Benarkah?" mata hazel jernih milik Liam berbinar, "Kalau begitu Liam ingin gulali...?"


Leon beralih menatap Marvin. Alisnya berkerut, menyatakan ia bingung apakah gulali juga termasuk jenis makanan yang sehat untuk anak kecil. Kemudian sang sekretaris menggeleng.


"Jangan gulali, ok? Hmm..." Leon berhenti berucap sejenak. Memutar otak untuk memikirkan sesuatu selain gulali, yang bisanya disukai oleh anak-anak, "Bagaimana dengan ayam goreng dan... es krim?"


Marvin menepuk kening. Bukankah es krim tidak jauh berbeda dengan gulali? Keduanya adalah makanan manis yang bisa berdampak buruk jika dimakan berlebihan. Liam bisa sakit gigi bahkan sakit perut.


Memang apa yang diharapkan dari seorang pria dewasa yang juga menyukai makanan manis?


"Yay! Liam mau ayam goreng dan es krim stroberi!" Liam berseru senang. Jika bersama ibunya, ia pasti tidak diperbolehkan makan es krim karena sudah memakannya kemarin.


Leon mengulum senyum manis seratus juta dollarnya.


"Kau bisa mendapatkannya, Boy," ucap pria tempramen buruk itu, bahkan membeli satu restoran ayam atau pabrik es krim pun sanggup dilakukan Leon.


"Wow, bos-ku yang brengsek bisa berucap lembut?" batin Marvin makin tidak habis pikir. Ia tak percaya.


Dengan menggandeng tangan kecil Liam, Leon keluar dari ruangan rawat Jecy. Sementara waktu ia mempercayai Marvin untuk menjaga wanita itu. Sebenarnya agak terasa berat baginya pergi, tapi Leon harus memberi makan Liam terlebih dahulu.


Di sisi lain, pria itu tidak menyadari ada seorang dokter wanita yang memperhatikan dari belakang. Menelisik dingin pada interaksi Leon dan Liam yang berjalan di koridor rumah sakit. Kemudian wanita itu menoleh ke pintu ruangan di mana Jecy dirawat.


"Jadi kau lebih memilih bermain dengan wanita jlang beranak satu? Apa-apaan dengan seleramu saat ini?" desis Kirana mengepalkan tinjunya, "Sialan, aku tidak akan tinggal diam. Kau itu milikku, Leon."


Satu hal yang dilewatkan Kirana, ia tidak terlalu memperhatikan rupa dari anak laki-laki yang menggandeng tangan calon suaminya.

__ADS_1


**


Leon membawa Liam makan di restoran ayam referensi dari Marvin. Sang sekretaris berkata jika ayam goreng di sini sangatlah enak. Terlebih mereka juga menjual es krim yang bocah kecil itu inginkan. Leon juga diingatkan untuk tidak membiarkan Liam memakan es krim terlalu banyak.


Terlihat Liam yang sedang makan dengan pipi bulat yang menggembung karena mengunyah ayam goreng. Ia menolak ayah kandungnya ketika ditawari untuk disuapi.


"Setelah makan, Liam bisa bermain sebentar bersama paman."


"Benarkah? Kenapa paman begitu baik? Pasti seperti ini rasanya mereka yang memiliki seorang daddy," Liam berandai.


Bukannya iri tapi dia sedikit cemburu. Jecy mengatakan daddy berada di surga. Liam tidak bisa menemuinya.


Dada Leon langsung sesak. Nyeri di ulu hati ketika anak yang ia yakini sebagai anaknya tidak tahu bagaimana figure seorang ayah. Padahal dirinya sendiri, sejak kecil selalu mendapat kasih sayang yang berlimpah.


"Ini daddy, Sayang. Kau masih punya daddy," batin Leon begitu sulit untuk berucap langsung. Dia menelan saliva gugup.


"Karena paman bukanlah orang jahat," ucap pria itu, sambil mengulurkan tangan dan mengusap rempah ayam goreng di bibir Liam.


Liam mengangguk. Dan detik berikutnya, raut wajah anak laki-laki itu berubah muram. Dia berkata dengan mencebikkan bibir, "Daddy meninggalkan aku dan mommy, sampai mommy bekerja dengan keras. Liam membenci daddy yang tidak pernah ada. Liam tidak tahu seperti apa wajah daddy. Mommy selalu bersedih ketika Liam menanyakan daddy."


Leon membisu, napasnya sesekali tersengal.


"Tapi Liam sudah biasa, Paman. Liam tidak butuh daddy jika ada mommy. Aku menyayangi dan mencintai mommy," sambung bocah kecil itu mencurahkan isi hatinya, ia sudah merasa dekat dan akrab dengan pria dewasa yang duduk di depannya itu.


Giliran hati Leon mencelos, lima tahun berlalu tanpa dirinya tahu ada anak yang merindukannya. Apalagi Jecy tidak membiarkan Liam tahu siapa ayahnya, bahkan dirinya dianggap sudah mati. Tangannya terkepal erat, entah siapa yang harus disalahkan.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2