SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
MEMBELI CINCIN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jecy terbangun, dia merasa kehangatan di seluruh tubuhnya. Dan ketika berhasil membuka kelopak mata, wanita itu dikejutkan karena masih merasa di atas kasur kamar hotel.


Sekali lagi Jecy terkejut, saat mendapati ada ada jakun yang bergerak naik turun, tepat di depan matanya. Detik itu, dia menyadari jika dirinya berada di dalam pelukan Leon.


Deg!


Jantung Jecy berdebar tidak karuan, seolah-olah mengajaknya berolahraga di pagi hari. Bola matanya membulat sempurna. Ingin menjerit namun tertahan, ingin mendorong namun Leon justru semakin mendekap tubuhnya, agar semakin merapat.


"Astaga! Kenapa aku jadi terus berdebar-debar seperti ini? Apa aku sedang sakit?" gumamnya yang sudah tidak terkejut dengan perlakuan pria itu.


Bahkan dalam alam bawah sadar pun, Leon masih berusaha untuk memeluk tubuhnya. Seolah tidak mau melepaskan Jecy satu detik pun. Ya, dia memang lelaki yang posesif.


Diam-diam Jecy menarik wajahnya ke atas. Meski sedikit susah, karena dia berada tepat di bawah dagu pria itu. Namun, pada akhirnya dia berhasil. Dan kini, wajah mereka saling berhadapan.


Jecy tertegun, ketika dia melihat wajah Leon yang sangat tenang dalam tidurnya. Bahkan dalam tidur pun pria itu masih terlihat sangat tampan.


Bibir peach membentuk lengkungan manis, menata wajah Leon dalam posisi seperti ini, benar-benar dapat memperbaiki moodnya.


Pandangan Jecy terus mengitari kulit wajah pria itu. Memperhatikan semua dengan detail. Alisnya tebal dan hitam, bulu mata lentik, hidung runcing yang tidak berlebih, bibir merah kecil yang berisi.


Oh, My Goodness! Betapa sempurnanya pria ini, apalagi ketika dia membuka mata dan menunjukan netra berwarna hazel.


Beruntung Liam mewarisi wajah sempurna daddy-nya. Tampaknya Malaikat sangat bersuka cita ketika menyambut kelahiran anak mereka. Liam pasti akan tubuh menjadi lelaki idaman para wanita seperti daddy-nya. Minus sifat buruk yang tak perlu ditiru.


Jecy merasa nyaman berada di dekat Leon. Apalagi tangan pria itu tidak pernah lepas dari punggungnya, seolah melindungi.


Tersenyum kecil dan terus memperhatikan Leon yang sedang terlelap.


Jecy hadap pria itu tidak terbangun, karena dengan memandangnya seperti ini benar-benar membuat hatinya terasa nyaman.


Namun, harapannya tak terkabulkan, karena Leon perlahan bangun, dan pria itu menatapnya dengan tatapan sayu.


Beberapa detik mereka saling tatapan.


Dalam sepersekian detik, jantung Jecy seakan berhenti, saat menyadari jika ternyata Leon sudah bangun.


"Wajahku akan berlubang kalau kau memandangiku terus. Apakah kau jatuh cinta padaku?" ucap pria itu dengan suara khas bangun tidur, dan sialnya, suara itu benar-benar membuat seluruh bulu roma Jecy meremang.


Sial! Ini sangat memalukan! Pasti Leon akan sangat kegeeran sekarang! Karena Jecy, diam-diam menatapnya seperti itu.


"A-aku mau mandi dulu!" ucap Jecy dengan cepat, mengabaikan ucapan si pria.


Membalikan tubuhnya ke arah belakang dan hendak melepas pelukan pria itu. Dia harus cepat-cepat melarikan diri dari sini. Karena jika dia semakin lama berada di dalam dekapan pria itu, maka bisa saja Jecy mati berdiri nantinya.


Baru saja dia bergerak sedikit. Leon menarik tangannya cepat, lalu menghentakkan lengan wanita itu agar kembali tidur di atas ranjang.


Bugh!


Jecy membeku, ketika menyadari jika Leon sedang berada di atas tubuhnya. Membelenggu.


"Jangan pergi," suara Leon masih serak. Itu terdengar sangat seksi.

__ADS_1


Wajah berhadapan. Sinar mentari pagi menerpa wajah Jecy. Napas sang pria memburu, ia begitu terhanyut.


Jecy hanya dapat membeku di sela udara dalam kamar.


Wajah Leon semakin mendekat. Kedua puncak hidung bersentuhan. Rasanya ada ratusan helaian bunga sakura berjatuhan di sekitar mereka hingga membuat suasana semakin indah dan syahdu. Jecy memejamkan mata.


Terlalu banyak berpikir itu melelahkan. Bisakah dia membuat semua ini mengalir? Ya, saat ini Jecy tidak ingin berpikir, dan membiarkan perasaannya mengalir.


Embusan napas Leon bisa dia rasakan semakin dekat. Menghangatkan bibir yang dia percaya akan dikecup sebentar lagi.


Namun...


"Mommy? Daddy? Kalian sedang melakukan apa?" Liam sudah berada di samping kepala Jecy. Duduk bersila menatap kedua orang tuanya penasaran, "Dan kenapa mommy menutup mata? Apa kalian sedang bermain petak umpet? Bermain tanpa membangunkan Liam?


Kedua mata Jecy dan Leon sontak terbuka. Mendapati anak mereka sudah ada di sebelah. Sudah bangun dan memperhatikan entah sejak kapan.


Leon bangkit dari atas tubuh Jecy, begitu pula si wanita yang langsung mendudukkan tubuhnya. Kemudian keduanya tertawa. First kiss mereka pagi ini gagal sudah, bisa-bisanya mereka hampir melupakan keberadaan Liam di kamar ini.


Kembali saling tatap dalam gelak tawa. Menikmati semua kelucuan Liam yang protes karena menyangka tidak diajak bermain petak umpet.


Ah, apakah ini yang namanya kebahagiaan sejati? Batin Jecy terus bergemuruh.


**


Dua hari kemudian. Setelah acara perayaan ulang tahun Liam yang menyenangkan sekaligus ujian hati bagi Jecy.


Hari Minggu pagi, cuaca cerah. Leon memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kota. Dia langsung menuju toko perhiasan ternama.


Pegawai tersebut memberi isyarat kepada temannya agar memanggil pemilik toko yang berada di belakang. Pelanggan spesial, yang harus dilayani secara langsung oleh sang pemilik toko.


Seorang lelaki tua bermata sipit tergopoh datang. Wajahnya terkejut melihat siapa yang datang ke tempatnya──seorang milyader muda yang wajahnya cukup sering terpampang di majalah bisnis dan televisi.


"Tuan Januartha! Selamat datang!" sapanya gembira, bersemangat.


Leon melirik sekilas. Ekspresinya dingin dengan tatapan tajam. Tidak ada keramahan sama sekali. Begitulah dia, hanya mencair ketika bersama orang yang dia anggap penting. Dia tidak begitu peduli dengan tanggapan dan perasaan orang asing.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Cincin berlian terbaik yang kau punya. Aku ingin hanya itu satu-satunya. Tidak ada yang menyamai di seluruh dunia."


Leon menatap deretan cincin si etalase. Belum ada seseorang yang menarik hati.


"Apakah anda ingin melamar seorang wanita?" tanya pria itu.


Berdeham sejenak, sebelum Leon menjawab, "Ya."


"Berapa ukuran jari pasangan anda?"


Leon menggerakkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk pola lingkaran kecil, seolah-olah kedua jadi tersebut sedang mengukur jari manis sang wanita. Ketika Jecy sedang tidur, dia sudah mengukurnya diam-diam.


"5cm 4mm," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Cincin berlian solitaire biasanya digunakan untuk proposal. Sebuah event yang menandakan bahwa tuan siap hidup bersama dengan orang terkasih dan berkomitmen untuk membawa hubungan ke jenjang selanjutnya," jelas si pria pemilik toko, sambil memilihi cincin yang sesuai.


"Oh! Bagaimana bisa aku melupakan cincin ketika membuat proposal di bawah kembang api?" pikir Leon mengakui kesalahan, beruntung dia tidak jadi mengatakannya.


"Ini, Tuan Januartha. Cantik sekali, bukan?"


Sebuah cincin emas putih, bertatahkan berlian merah muda berbentuk pear. Memancarkan sinar yang luar biasa indah. Seketika itu juga, Leon terpesona.


"Aku suka ini," gumamnya kagum.


"Sudah kuduga. Selera tuan pasti tidak mungkin salah. Mewah!" puji pria sipit itu.


"Berapa?" Leon siap mengeluarkan kartu dan dompetnya.


"Rp.113,5 milyar. Berlian dengan grade terbaik, Tuan. Sungguh, wanita yang sangat beruntung."


"Bukan, akulah yang beruntung."


Kehadiran Jecy yang membawa putra mereka bagai hujan rintik-rintik di dalam hidup Leon. Kesempurnaan di matanya, dan wanita itu memang seseorang yang telah ditakdirkan untuknya.


"Siapa nama calon istri anda?"


"Jecy Ketlovly."


Leon tersenyum lebar ketika menyebut nama itu. Bayangan Jecy memakai cincin darinya menggelitik di perut sampai ke ulu hati. Perasaan senang bahagia tiada tara.


"Jecy Ketlovly Januartha," sambung pria bermata hazel kembali. Dia akan mengejutkan Jecy dengan cincin tersebut, dan berharap sang pujaan hati menerima proposalnya.


**


Sementara itu, tepat ketika jam kerja Jecy berakhir. Dia sudah mengurangi jam kerjanya agar bisa menjemput anaknya di sekolah, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Liam setelahnya.


Masa-masa di mana dia merasa khawatir meninggalkan bocah kecil tersebut di rumah sendirian sudah hilang, sekarang Jecy bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat putranya. Semenjak hidup bersama Leon, segalanya menjadi lebih mudah.


Jecy keluar dari restoran tempat dia bekerja. Angin berhembus dengan kencang. Gadis itu berjalan sendiri seraya mengeratkan jaket. Mata amber tengah menatap ke langit yang tampaknya sudah mulai gelap dan sebentar lagi akan turun hujan.


Deja vu.


Dia teringat hari di kala Leon membiusnya dengan obat tidur dan membawanya ke rumah pria itu, ketika sepulang kerja dan cuaca mendung seperti ini. Namun siapa sangka, kini Jecy justru tinggal bersama pria yang dulu dia anggap psikopat mesum.


Situasi ini benar-benar tidak dapat dipercaya. Leon yang dulu dihindari karena sangat ditakuti, dia adalah si kaya raya yang membeli harga dirinya dengan uang, lelaki pertama yang mengambil ciuman dan menyentuh tubuhnya. Terlepas dari faktor mana yang membuat waspada, tapi kali ini kewaspadaan Jecy benar-benar tersingkir dan hanya dipenuhi dengan perasaan hangat.


Menghentikan langkahnya di halte untuk menunggu bus. Dia tertawa kecil.


"Ternyata Leon tidak semenakutkan yang kukira. Dia memperhatikan kami dengan sangat baik saat kita bertiga tinggal bersama, dia juga imut seperti Liam ketika tersenyum..."


Segera menggeleng menyadari apa yang dia katakan, tak percaya kalau menganggap Leon yang pada dasarnya memiliki tempramen buruk imut, meski tak bisa dipungkiri ia mirip dengan Liam.


"A-apa, sih? Memang siapa yang tidak terlihat imut saat tersenyum? Nenek-nenek tetangga juga terlihat imut kok kalau tersenyum..." gumam Jecy seolah sedang berbisik, wajah memerah. Akhir-akhir ini wajah itu memang sering memerah.


Di sisi lain, terlihat mobil hitam mengkilat berhenti tak jauh dari halte tempat Jecy berdiri menunggu bus. Sepasang mata hazel menatap dingin wanita tersebut.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2