
"Jecy, kau dan Tuan Leon saling mengenal sebelumnya?" tanya Nyonya Margaret yang membuat Jecy mendelik langsung.
"Ng... tidak, aku tidak kenal dia sebelumnya. Mengapa?"
"Hmm begitu, ya. Apa kau perhatikan sesuatu dari Tuan Leon?"
"Apa?" Jecy makin berdebar.
"Wajah Tuan Leon dan Liam kenapa bisa sangat mirip?"
Jecy merasa dihantam bom atom setelah mengedar pertanyaan Nyonya Margaret.
"Mirip? Mirip apanya? Liam tidak mungkin mirip dengan pria arogan dan kurang ajar seperti dia," sangkal wanita beranak satu itu.
"Tetap saja, wajah mereka sangatlah mirip," sahut Margaret menelisik. Memandangi wajah gugup Jecy, "Apa dia ayah──"
Secara cepat Jecy memotong kalimat bos-nya.
"Hentikan, Nyonya Margaret. Dia bukan ayah Liam. Liam milikku dan itu sudah cukup," finalnya sebelum kembali ke belakang untuk membersihkan pakaiannya sendiri.
Ah, tatapan itu lagi! Jecy memilih menolak melihat tatapan sendu Nyonya Margaret. Tatapan yang terlihat mengasihani. Dia tidak ingin mendapatkan tatapan seperti itu.
Dan kenapa Leon bisa ke sini?
Ini begitu gawat. Jecy tidak pernah memikirkan perasaan semenakutkan seperti ini. Jantungnya berdetak kehilangan kendali. Baginya, Leon sosok keji yang bisa menghancurkannya. Lelaki bermarga Januartha itu membawa mimpi buruk baginya.
Memangnya apa yang begitu Leon inginkan darinya? Tidak cukupkah pria mesum itu tidur sekali dengannya?
Bahkan Jecy meyakini bahwa ia sudah tidak memiliki hal beharga selain putranya. Maka, apapun yang terjadi Leon tidak boleh tahu bahwa ia telah menjadi seorang ayah sejak lima tahun silam.
Tidak seorang pun yang bisa merebut Liam dari sisinya.
Jika dulu ia lemah sekadar menjaga kehormatannya, maka kali ini ia tidak keberatan melawan──berkonfrontasi secara langsung dengan Leon untuk melindungi sumber kekuatannya──Liam. Mungkin dari segi keuangan Jecy memang jauh dari kata 'mampu', tapi satu hal yang membuat dirinya merasa akan menang, karena dia memiliki Liam.
Meski pun suatu saat kebenaran akan jati diri Liam terungkap, dia tidak akan membiarkan Leon menyentuh putranya sehelai rambut pun.
Tidak! Sejak Tuhan menitipkan embrio janin dalam rahimnya, Liam adalah miliknya seorang. Dialah yang membawa Liam dari janin sampai sekarang.
"Tenangkan dirimu, Nak," ucap Margaret mengusap halus punggung rapuh Jecy yang bergetar.
Mata Nyonya Margaret menerawang jauh. Sewaktu awal bertemu, Jecy datang saat memasuki akhir tahun, merantau mencari uang. Tidak ada dokumen penunjang guna melamar pekerjaan, ia hanya menunjukkan kartu penduduk berstatus sebatang kara.
__ADS_1
Ketika ditanya adakah sanak saudara, Jecy menunduk mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal. Wanita yang lahir di Amerika itu sendiri tanpa sanak saudara.
Jecy terlalu muda mengecap asamnya dunia, Margaret tidak sampai hati membiarkannya menjadi gelandangan apalagi melihat perutnya membuncit. Bahkan sejak awal, sebenarnya dia telah menganggap Jecy sebagai anak sendiri mengingat dia memiliki ciri fisik menyerupai mendiang putrinya.
Margaret tahu Jecy punya rahasia besar, dijaga dan disembunyikan sebaik mungkin. Namun, dia akan tetap mendukungnya secara diam-diam, memberikan tempat jika kelak Jecy mau mengatakan sebuah kebenaran yang sudah wanita itu duga.
Nyonya Margret menatap Jecy sesaat, ia menghela napas menyadari bahwa sifat naluri seorang ibu memang kental dalam diri pegawainya ini.
"Jika kau merasa kesulitan, kau bisa membawa putramu ke sini. Bukan masalah dan kau tetap bisa melaksanakan tugasmu. Terimalah ini, bonus hasil lemburmu beberapa hari lalu. Belilah makanan bergizi agar anakmu tidak sedih melihat ibunya kurus kering begini."
Bagi Jecy, Nyonya Margaret sudah dia anggap lebih dari seorang bos. Sosok wanita yang tegas namun berkasih sayang adalah hal yang dia lihat dari wanita itu.
Dulu di saat dia bingung mencari pekerjaan dengan membawa beban janin umur tujuh bulan dalam perut, semua tempat yang didatangi akan menolak dengan alasan mereka membutuhkan wanita single bukan seorang wanita berbadan dua, terlebih saat itu Jecy belum cukup menguasai bahasa Indonesia.
Hanya Margaret yang mau menerimanya bekerja meski beberapa bulan selanjutnya Jecy meminta cuti panjang sehabis melahirkan. Mungkin perkataan dari wanita yang masih awet muda meski berumur hampir setengah abat itu sedikit tajam dan kejam, tapi bentuk perhatiannya pada setiap pekerja tidak perlu diragukan.
**
Kini, waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Jecy keluar dari restoran di mana tempatnya bekerja dengan wajah berseri-seri, merasa senang karena hari ini tidak lembur dan baru saja mendapatkan bonus dari bos-nya.
Dia mampir ke toko roti untuk membeli beberapa pastery kesukaan putranya, meski dia sendiri tidak terlalu menyukai makanan manis. Hanya membayangkan wajah gembira Liam sudah cukup membuat senyumnya merekah.
Akhir-akhir ini angin sedang kencang-kencangnya. Jecy melangkah menuju halte bus dengan menenteng satu kotak pastery. Melihat awan mendung yang menutupi langit malam, segera dia mempercepat langkah dan berharap tidak turun hujan sebelum sampai di rumah.
Di jalan yang sepi itu Jecy berjalan sendirian. Namun, pada saat dia hampir sampai di halte bus tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan.
"Hmpphh!"
Jecy menjerit panik, tapi percuma karena mulutnya tertutup sapu tangan yang beraroma cukup kuat. Dia mencoba meronta tapi percuma, orang itu mempunyai badan lebih besar darinya.
Dia takut bukan main!
Lama-kelamaan dirinya tidak tahan saat mencium bau sapu tangan itu, dan membuat Jecy kehilangan kesadarannya.
**
Mencoba membuka mata, namun hanya kegelapan yang samar yang dia temui.
Kepalanya pusing sekali, apa yang baru saja terjadi...?
Jecy memilih untuk menutup mata beberapa menit.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?"
Terdengar suara berat milik seorang lelaki, Jecy merasakan sentuhan dari sebuah tangan yang tengah membelai pipi sebelah kanannya.
Mencoba membuka mata yang kedua kali, rasa silau dari lampu yang menyala terang membuat matanya terasa ditusuk, dia pun mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Dan dua detik kemudian, matanya melebar ketika melihat wajah Leon yang terpampang jelas di depannya.
"Le, Leon...?"
"Kau pasti kaget, tidak apa-apa sekarang. Selama kau tidak mencoba melarikan diri," ucap Leon tersenyum dengan mengetatkan rahang. Mencoba ramah namun terlihat menyeramkan di mata Jecy.
Situasi apa ini? Leon menculiknya!
Mengapa?
Jecy bingung. Lalu menggerakkan kepala dengan cepat ke kiri dan ke kanan. Berusaha mengenali lokasi ini karena terlihat begitu asing.
Tangan yang awalnya membelai halus pipinya, kini bergerak mencengkram dagunya. Leon menghadapkan kembali wajah Jecy ke arahnya.
"Aw, apa kau terkejut?" tanyanya ketika mendapati tatapan horor dari wanita itu.
Jelas saja terkejut! Orang gila mana yang menanyakan pertanyaan yang sama di saat ekspresi ketakutan terlihat jelas di wajah Jecy? Oh, Leon memang orang gila sesungguhnya!
"...Kenapa kau melakukan ini? Di mana aku...? Kenapa kau menculikku?" tanya Jecy menelan saliva. Tidak! Kenapa dia berakhir berada di sini? Bagaimana dengan Liam yang sedang menunggu kepulangannya di rumah?
"Ini tempatku, dan ini bukan penculikan. Aku hanya mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
"Apa?"
Jecy menatap tidak percaya, dengan santainya lelaki itu mengatakan apa yang dilakukannya bukan penculikan. Memang apa yang membedakan? Jelas-jelas dia di bawa paksa dengan cara dibius obat tidur!
"Jecy, kau benar-benar merasa tidak bersalah, ya? Atau kau hanya berpura-pura?" tanya Leon menarik wajah Jecy supaya lebih dekat padanya.
Hati Jecy bergemuruh. Wajah blaster Indonesia──Amerika tampan di depannya memang sangat mempesona. Namun, prilakunya sangat tidak mempesona. Tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya terdiam.
"Kau..."
Sesaat Leon berhenti berucap, matanya menyelusuri seluruh wajah Jecy. Dari kening yang berkeringat dingin, mata amber yang ketakutan, hidung kecil namun mancung, dan bibir peach yang ingin sekali dia cium.
Sial, hanya pada wanita ini dia merasa bersemangat. Sudah lama sekali dia tidak berhasrat seperti ini.
"Aku yakin kau tahu siapa aku? Aku bisa melakukan apa saja kepadamu," sambungnya.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan kepadaku?"
_To Be Continued_