
"Dan jalan-jalan ke taman hiburan? Aku, kau, dan anak kita. Sebagai keluarga," Leon kembali menyuarakan rencananya.
Keluarga...?
Apakah kini mereka bertiga sudah dapat dikatakan keluarga? Bisakah?
Wajah tampan terus memandang. Tatapannya lembut, berdampingan dengan senyum kasih. Tangan Jecy saling meremas satu sama lain.
Hal-hal begitu berbeda, karena Leon yang sekarang bukan Leon yang dulu, tidak ada lagi aura kejam diiringi dominasi tak terkalahkan dari pria itu lagi. Jecy melihat perubahan signifikan tersebut dengan mata kepalanya sendiri.
Leon hanya menatapnya, tapi kenapa wanita itu merasa begitu malu, seakan pria itu melucuti pakaiannya... bahkan dia tidak tahu, dia tidak yakin apakah itu karena mata hazel yang tajam terlihat dingin namun tenang, tapi melihatnya tersenyum lembut seperti itu...
Membuatnya berdebar-debar.
Jecy melengos, memutus kontak mata mereka berdua.
Tidak, dia tidak mampu mencegah debar di dadanya. Kepercayaan yang telah Jecy miliki untuk dirinya sendiri supaya tidak jatuh cinta. Berbalik begitu mudah, seperti papan jungkitan. Lalu kemudian, seakan terasa sedikit sensasi──seperti sensasi cemas yang membungkus hatinya.
Alasan terbesar Jecy membangun dinding tebal untuk orang lain ialah karena telah mengalami bermacam-macam kesulitan di hidupnya. Ayahnya adalah sampah yang suka mabuk-mabukan dan berjudi hingga mewarisi setumpuk hutang, mengabaikan tanggung jawab terhadap istri dan anak. Di saat ibunya sakit pun pria itu tidak peduli. Hal itu sudah cukup bagi Jecy untuk tidak mempercayai cinta.
"Kenapa kau diam saja, Jecy? Apakah kau tidak setuju dengan rencanaku?" tangan Leon menggenggam jemari Jecy yang masih saling meremas satu sama lain. Ia bawa jemari lentik mendekati bibir, ingin mengecupnya. Namun, sang wanita menarik kembali.
"Akan aku pikirkan," sahut Jecy.
Leon menghela napas. Jecy masih belum membuka diri, "Baiklah. Ngomong-ngomong bagaimana kakimu yang terjatuh dari tangga tadi pagi? Apa jadi bengkak?" tanyanya mengalihkan pembicaraan sebagai usaha menutupi kekecewaan.
"Kakiku baik-baik saja."
Tentu saja Leon tak percaya, dia sadar kalau kaki Jecy tidak baik-baik saja, sebab cara jalannya terlihat aneh meski wanita itu sudah berusaha menyembunyikannya.
"Sini duduk dan naikkan kakimu," Leon mendorong tubuh Jecy agar duduk di sebelahnya. Ia lalu mengangkat kedua kaki mulus dan meletakkan di atas pangkuan.
"Kau mau apa?" Jecy bingung.
__ADS_1
"Memeriksa kakimu."
"Tapi aku sungguh baik──"
"Kau memiliki kebiasaan buruk dengan tidak mau merepotkan orang lain," sindir Leon memicingkan mata, digulung celana panjang yang dikenakan Jecy hingga terlihat pergelangan kakinya, "Apanya yang baik-baik saja? Kakimu menjadi bengkak tidak seperti tadi pagi, ini semakin parah karena kau terlalu banyak berdiri."
Jecy menjadi malu sendiri karena apa yang dikatakan Leon benar adanya, "Ma... maafkan aku."
"Untuk apa minta maaf? Bukankah lebih baik kalau kau memintaku untuk memijit kakimu, biar berkurang sakitnya?" ujar Leon melirik serius.
Jecy tertegun. Memijat? Dia meminta seorang Tuan Januartha untuk memijat kakinya? Apa dunia mereka sudah terbalik?
"Aku tidak berani," ucap wanita itu jujur.
Leon terkekeh geli, "Anggap saja sebagai imbalan karena sudah mengobati luka di wajahku."
Mata amber mengerjap. Debaran kembali muncul ketika telapak tangan besar mulai menyentuh pergelangan kakinya.
Jecy mengangguk. Memang terasa enak pijatan lelaki itu. Sentuhan demi sentuhan. Tekanan demi tekanan. Lembut tidak menyakiti. Ia bisa merasa kalau jemari Leon sangat berhati-hati.
"Kau pandai memijat...?" heran sang wanita, ia menyukai pijatan tersebut.
"Aku memang pandai dalam segala hal," sahut Leon memuji dirinya sendiri, "Lebih enak kalau aku pijatnya terus naik ke atas. Mau rasakan, tidak?" mencoba mencari kesempatan. Melirik nakal.
Jecy mengigit bibir bawah agar tidak melebarkan senyum, entah kenapa merasa lucu. Namun, rona merah di wajah tidak bisa disembunyikan, "Dasar mesum!" ia ingin tertawa.
"Kemesumanku menghasilkan Liam, bukan? Well done, Leon! Well done!" Leon kembali memuji dirinya sendiri.
Keduanya tertawa lepas. Jecy begitu terlarut pada detik-detik ini.
"Aku akan terus menunggu jawabanmu," ucap Leon saat tawanya terhenti. Ah, akhirnya dia bisa membuat Jecy tertawa. Sebuah kemajuan besar.
"Yang mana?" tanya Jecy tak paham.
__ADS_1
"Tuan besar membutuhkan nyonya besar untuk membesarkan tuan muda kecil bersama. Bagaimana menurutmu?" suara Leon pelan, tapi mampu menjadikan debaran kencang di dalam dada sang wanita.
"Ini baru sehari," ucap Jecy menundukkan wajah.
"Aku akan sabar menunggu 29 hari."
Leon berhenti memijat. Jemari dinaikkan ke wajah putih Jecy yang terasa hangat.
"Ya," Jecy mengangguk. Jantungnya terus berdegup kencang. Pesona seorang Leon Victor Januartha begitu menembus masuk ke dalam titik terdalam sanubari. Akankah dia bisa bertahan selama waktu perjanjian tersebut? Entahlah, Jecy sendiri pun tidak yakin.
"Jecy, bolehkah aku mengambil imbalanku karena telah menolongmu tadi pagi?" pinta Leon mengarahkan wajah Jecy pada wajahnya.
Bibir pria itu mendekat ke wajah sayu nan jelita. Ingin mengecup bibir ranum. Begitu cantik wajah itu di saat tanpa make up sekalipun. Jecy yang melihat tujuan Leon dengan jelas. Yaitu menciumnya. Hatinya bergetar hebat.
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Jecy. Kemudian Leon melarikan bibirnya ke pipi Jecy, mengecupnya lembut. Bukan hanya pipi, dia juga mengecup hidung, kedua mata, dan kening. Menghujani dengan kecupan dan Jecy hanya diam sambil memejamkan mata, menikmati bibir tipis di wajahnya.
Mengarahkan tangannya ke tengkuk Jecy, menarik wajah cantik mendekat dan menyatukan kening mereka berdua. Sesaat saling menatap satu sama lain.
Dalam sekejap bibi Leon sudah kembali menyentuh bibir Jecy. Bukan hanya menempelkan seperti sebelumnya, kali ini bibirnya melumt bibir sang wanita. Lidahnya membelai lembut bibir Jecy, merayu dengan sabar agar wanita itu memberinya akses lebih.
Otak Jecy seakan berhenti bekerja. Pikirannya terasa kosong, dia tak mampu mencerna dengan baik apa yang sedang terjadi. Yang dia rasakan adalah lumatn bibir Leon yang semakin membuat terbuai. Membuat sedikit demi sedikit otak berkabut dan akal sehat terbang. Entah bisikan setan dari mana, Jecy menuruti bujukan lidah Leon untuk membuka bibir. Dia hanya memberi akses, tidak membalas ciuman itu.
Jecy tidak tahu harus berbuat apa, semangat Leon terus menginvasi rongga mulutnya. Mengecap lidahnya seakan itu adalah buah paling nikmat di dunia.
Setiap kecupan dan lumatn yang Leon berikan semakin membuat Jecy melayang. Bahkan entah sejak kapan dia mulai mengikuti cara pria itu merasakan bibirnya. Ternyata tidak sulit, Bahkan Jecy mulai menikmatinya juga. Bibir Leon terasa manis, apa ini yang pria itu rasakan saat mengecup bibirnya?
Leon melepas ciumannya, berdua sama-sama terengah. Merebut oksigen setelah ciuman panas mereka beberapa saat lalu. Setelah si pria mendapatkan cukup oksigen, ia kembali melumt bibir Jecy selama satu detik.
"Terima kasih karena tidak mengigit lidahku," kekehnya.
Namun, bukankah ini terlalu berlebihan untuk dijadikan sebuah imbalan? Jecy merasa telah tertipu.
_To Be Continued_
__ADS_1