
Restoran seafood di pusat kota dipilih menjadi tempat makan siang Leon bersama wanita pilihan ibunya. Meski tidak sebesar restoran bintang lima namun makanan di sana luar bisa lezat, sampai menjadi favorit sang ibu.
Jelita──ibu dari pria bermata hazel itu memang sengaja mengatur acara makan siang keduanya di tempat yang akan Leon sukai, karena putra sulungnya sangat menyukai seafood.
Namun, keputusan itu justru mempertemukan kembali Leon dengan Jecy.
"Astaga lihat, siapa tikus got yang kutemui ini."
Leon merasa suatu keberuntungan bisa kembali bertemu dengan Jecy secepat ini. Dia tersenyum sinis mengetahui fakta bahwa wanita itu bekerja di restoran seafood, berpikir kalau kehidupan susah Jecy belum berakhir.
"Apa dia menikah dengan pria miskin?" batin pria itu dalam tatapan merendahkan.
Jecy menggigit bibir kuat, merasa terancam dan ingin sekali melarikan diri. Kenapa hal buruk tidak bosan datang kepadanya? Apa dia perlu pindah ke negara lain lagi?
Namun, dia tidak cukup memiliki modal untuk memulai kembali hidup baru. Dunia ini begitu keras dan saat ini ada Liam yang harus dia jaga. Jujur, Jecy juga lelah terus bersembunyi.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau sedang memikirkan cara untuk melarikan diri lagi, hmm?" tanya Leon lebih terdengar mengejek, matanya memicing tajam.
Dia sedang menunggu, Menunggu kebiasaan si tikus perempuan yang selalu melarikan diri darinya. Dirinya sudah cukup bersabar meladeni permainan 'melarikan diri dan mengejar' yang Jecy ciptakan.
"Tuan, aku..." berhenti sesaat untuk menarik napas dalam, Jecy berupaya menciptakan keberanian, "Aku tidak akan melarikan diri."
Ya, mau sampai kapan dia terus melarikan diri? Bukankah ini saatnya untuk berhenti?
"Heh, benarkah?"
Seringai tipis terlukis di wajah tampan itu, Leon sedikit dibuat terkejut. Ternyata wanita itu tidak sepengecut yang dia kira. Cukup berani untuk mencoba melawannya.
Nyonya Margret datang dan menanyai keributan macam apa yang sedang terjadi, "Maaf, Tuan. Namun, apa ada masalah dengan pegawai kami?"
Dia mencoba menangani apa yang terjadi. Sebagai seorang pembisnis, Margaret tentu mengenal siapa pria yang sedang ia hadapi. Seorang milyader muda yang sedang di atas puncak keemasan sebagai seorang pengusaha, sekaligus putra dari pelanggan VIP yang sering datang ke restorannya.
Kemudian Margaret melirik ke samping, matanya melihat keadaan Jecy yang jauh dari kata baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Pegawaimu itu buta, melihat ada orang di depannya saja dia tidak bisa. Lihat! Sampah yang dibawanya mengenaiku, seharusnya dia sadar bahwa dengan menjajakan tubuhnya pun tidak akan sanggup membersihkan noda apalagi mengganti sepatuku."
Tangan Jecy terkepal, telinganya panas mendengar kalimat buruk yang dilontarkan padanya. Baginya, Leon sendiri tidak lebih bersih dari kotoran itu. Namun, dia hanya bisa menyimpan amarahnya. Sebab determinasi pria itu kelewat kuat untuk dilawan, sosoknya bengis hampir meragukan memiliki sisi kebaikan.
Nyonya Margaret memijat pelipisnya. Dia cukup merasakan ketegangan yang mencekam. Lalu wanita itu menawarkan Leon untuk mengantarkan pria itu ke meja di mana seorang wanita sudah menunggu.
"Jika tidak keberatan, saya akan mengantar anda ke meja yang sudah di reservasi, seorang wanita sudah cukup lama menunggu anda di sana. Mohon maaf atas kelalaian pegawaiku, saya akan memastikan dia menanggung konsekuensinya."
"Terserah, tapi jangan pecat dia."
Jika Jecy dipecat, Leon akan kesulitan menemukan wanita yang gemar kejar-kejaran itu. Meski tadi dia menghinanya, "──Tapi aku masih ingin melihat wajah jeleknya," batin pria itu.
**
"Sudah lama kita tidak bertemu, Leon."
Kirana Odelia, wanita cantik pilihan sang ibu. Tubuhnya yang langsing terlihat menawan dalam balutan gaun berwarna krem. Rambut hitam pekat membingkai wajah cantik permata cokelat yang terlihat sendu.
Wanita itu berusaha mengabaikan detak jantungnya yang tidak beraturan saat pria itu duduk di hadapannya. Dia sengaja datang lebih awal karena sudah menantikan pertemuan ini. Setelah dua belas tahun tidak bertemu, mereka akhirnya bertemu.
Wanita itu tersenyum, menunjukkan keanggunan dan kecantikan dirinya. Namun, Leon terus membalas dengan tahapan dingin.
"Apa kau ingat? Dulu kita bertiga tidak pernah terpisahkan," Kirana mengungkit kenangan masa kecil mereka. Di saat Leon dan Leonard tidak ingin jauh darinya, si kembar yang selalu merebutkannya.
Namun, itu hanya masa kecil yang sudah berlalu. Orang tua mereka yang bersahabat membuat ketiganya dekat. Alasan si kembar bersaudara merebutkan Kirana hanya karena insting untuk bersaing.
"Hmm, aku terkejut mengetahui kau adalah wanita yang akan dijodohkan denganku. Bukankah kau menyukai adikku?" ucap pria tampan itu tanpa ekspresi.
"Aku sudah tidak berhubungan dengan Leonard," tangkas Kirana cepat.
Leon pernah mendengar kabar jika wanita itu menjalin hubungan dengan Leonard ketika dirinya belajar di luar negeri, padahal Kirana berkata akan menunggunya. Nyatanya, janji seorang wanita memang hanya omong kosong belaka.
Well, itulah akhir cinta masa kecilnya. Kelihatannya memang tidak masuk akal disebut akhir ketika bahkan belum pernah dimulai. Leon juga tidak yakin pernah mencintai wanita itu.
__ADS_1
Dengan berani, Kirana mengulurkan tangan dan menggenggam tangan besar milik Leon yang berada di atas meja, "Aku menyukaimu dari dulu sampai sekarang."
Leon menatap tangan yang menggenggamnya, berharap bisa merasakan sesuatu getaran apapun itu. Sialnya, dia masih tidak bergairah dengan wanita manapun.
Diperhatikannya Kirana dengan seksama. Tidak ada surai panjang berwarna cokelat muda, tetapi surai pendek berwarna hitam. Tidak ada iris amber yang jernih, tetapi iris coklat yang teduh. Leon masih saja mencari sosok Jecy pada setiap wanita.
Dia justru merindukan Jecy yang baru saja bertemu dengannya dua puluh menit yang lalu.
"Penyakitku memang tidak bisa tertolong," batin pria itu frustasi dengan keadaannya.
Kedatangan seorang pelayan yang membawa pesanan menginterupsi keterdiaman Leon. Ia refleks menepis tangan Kirana dari tangannya, dan langsung melihat si pelayanan yang dia kira Jecy.
Loh? Kenapa dia merasa seperti seseorang yang takut ketahuan selingkuh?
Leon berdeham menyadari kekonyolannya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa harus bereaksi seperti itu. Bahkan sampai membuat wanita yang duduk di hadapannya terkejut──tidak menyangka akan ditepis kasar.
"Kenapa bukan Jecy yang mengantar makanan?" pertanyaan itu meluncur begitu saja. Bola mata hazel milik Leon bergerak untuk mencari keberadaan wanita bersurai cokelat muda.
"Siapa Jecy?" tanya Kirana ingin tahu.
Namun, Leon mengabaikannya. Pria itu lebih memilih menunggu jawaban dari si pelayan yang sedang menata makanan di atas meja.
"Maaf? Apa yang anda maksud Chef Jecy?" ucap pelayan itu agak ragu.
"Chef?" beo Leon.
Ditatapnya makanan yang sudah tertata di atas meja. Dia kira Jecy hanyalah pelayan rendahan yang kerjaannya membuang sampah, tapi nyatanya wanita itu adalah seorang juru masak di restoran ini.
Leon mengambil sendok dan garpu untuk mencicipi makanannya. Rasa spaghetti aglio olio udang buatan Jecy membuatnya tercengang.
"Ini enak."
Sang ibu benar, Leon berakhir menyukai restoran ini. Entah itu makanannya atau juru masaknya.
__ADS_1
_To Be Continued_