
Oh, God! Kesadaran Jecy benar-benar terkoyak oleh stimulasi sialan itu. Apa yang harus Leon lakukan? Dia tahu bahwa situasi ini tidak benar, dia tahu dia tidak boleh tergoda.
Namun, untuk wanita ini, dia tetap...
Menciumnya, menyesap bibir Jecy tanpa aba-aba.
Merasa gairah asmara begitu panas dan dahsyat, langsung mengalir diseluruh pembulu darahnya begitu bibir Leon bersentuhan dengan bibir ranumnya. Jecy membuka mulut menyambut ciuman pria itu seakan-akan ia sudah menunggu seumur hidup untuk itu.
Sang wanita benar-benar kehilangan kendali dirinya. Tubuhnya yang berhianat sudah menyambut ciuman Leon seolah penuh kerinduan. Dirinya diliputi nafsu yang menggelora yang seketika mengalahkan harga diri dan akal sehat.
Gemetar saat jemari Leon menyelusuri kulit pundaknya, menyentuh dengan penuh perasaan, bersama dengan bibir mereka yang sedang bergulat intens. Bahkan nyaris limbung, didera oleh hasrat untuk mendapat lebih... ──lebih dari sekedar ciuman.
Jecy mendambakan sentuhan Leon di tubuhnya, di tempat-tempat sensitivitas. Dia ingin jari-jemari solid itu melepas sisa kain yang dikenakannya, berharap bisa meloloskan rasa panas yang diderita. Dia ingin Leon membaringkannya di ranjang dan bercinta dengannya pada saat ini juga.
Kalut sudah pikiran Jecy. Tidak bisa lagi menjadi jernih. Mulai melupakan ke-rasionalisasi.
"Oh, Jecy," gumaman Leon di mulutnya, "Ya! Tunjukan padaku. Tunjukan padaku betapa kau menginginkanku."
Leon tak tahu apa sebenarnya diharapkannya dari wanita yang terpengaruh efek stimulasi. Jecy memberi respon semata-mata berdasarkan insting, membalas ciumannya dengan agak panik dan bersemangat seakan-akan ia belum pernah dicium sebelumnya.
"Kau benar-benar ingin aku menyentuhmu, hmm?" bisik Leon sambil menarik tubuh Jecy agar lebih mendekat, serapat-rapatnya.
Merasakan tubuh wanita itu yang gemetar, getaran liar dan tak terkendali yang menunjukan bahwa ia sudah hampir tak mampu menahan hasratnya. Leon menarik diri, takut memikirkan apa yang terjadi selanjutnya bila ia tak segera menghentikan hal ini.
Leon pun menyudahi ciumannya dengan tiba-tiba, dan Jecy tersentak ketika melihat wajahnya. Nafsu berahi yang jelas-jelas terpampang diwajah sang wanita membuatnya tampak seperti orang asing. Namun, benar-benar menggoda.
Menatap tak berkedip. Bayangan api yang bermain dengan cantik di wajah dan tubuh wanita itu melayangkan angan dan sejuta imaji. Di bawah sinar lampu, kecantikan dewi molek di hadapannya benar-benar membuat mabuk kepayang.
"Kau... sangat cantik," lirihnya hanya bisa mengagumi dengan terbata.
Jecy tersenyum mendengar pujian Leon. Menatap pria itu dengan napas yang mulai tertahan akibat desir darah terlalu kencang mengalir.
"Kau tidak tahu, betapa aku membayangkan bisa menyentuhmu lagi seperti ini," bisik Leon.
__ADS_1
Dia membenamkan wajahnya di pundak Jecy. Memberikan embusan hangat di leher putih. Jemari solid semakin mencengkeram pinggang ramping dengan erat, menolak untuk berpisah. Membuat sang wanita mendesh dengan resah, karena sebagian tubuhnya masih terus menginginkan lebih.
Bibir Leon bergetar, mencium lereng leher Jecy yang begitu harum. Membuat tergila-gila lelaki manapun yang bisa sedekat ini.
"Mmhh," desah Jecy mendongakkan kepala ketika kecupan di lehernya semakin intens. Membiarkan pria itu bermain di belakang telinganya.
Mendesh, memburu.
Leon meraih tangan Jecy dan membiarkan jemari mereka menjadi satu dan genggaman lembut. Ia terus membelai kulit mulus itu perlahan. Menikmati setiap jengkal kelembutan.
"Kau tidak perlu melakukan ini," ujar Leon berusaha bertahan dengan segenap kesadaran yang masih dimiliki, dia menahan tangan Jecy yang hendak membuka resleting celananya.
"Aku hanya ingin melakukan ini, biarkan aku melakukannya," ucap Jecy memohon, "Ayo kita lakukan lebih. Uhm... masukan. Aku ingin kau memasukkan──"
"Sialan, berhenti menggodaku!" sela Leon gusar, lalu melangkah beberapa jengkal, menjauhi tubuh molek yang sedang menginginkannya, "Tidak. Aku tidak ingin melakukannya."
"...Apa?" keluh Jecy bingung, ia kembali mendekati.
"Aku pikir ini bukan yang terbaik. Jika aku tidak berhenti di sini, maka aku mungkin tidak bisa mengendalikan diriku," jelas Leon memalingkan wajah, tidak berani menatap wanita dengan wajah seribu godaan, takut lepas kendali.
"Itu tidak masalah, lakukan saja," sahut Jecy menyipitkan mata, wajahnya sudah sematang tomat ceri.
Leon menggaruk alisnya, lalu menoleh dan terdiam sesaat. Ia dapat melihat pancaran nafsu yang tidak ditutup-tutupi di wajah Jecy. Lalu tersenyum tenang, meskipun jantungnya memukul-mukul keras.
"Aku tidak bisa," tolaknya tegas.
"Kalau kau tidak bisa, aku yang akan mengurusmu, ya...?"
Gila! Betapa kerasnya wanita itu berusaha menggoyahkannya. Leon menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya, "Tetap tidak."
Jecy merengsek ke depan dan secara refleks tubuh Leon pun menegang. Sang wanita mengangkat kepalanya tinggi-tinggi untuk menatap pria dengan tinggi badan 193cm itu, dengan tatapan memohon dan mata amber berbinar bening seperti kristal, "Kalau begitu, sentuh saja aku, kau tidak harus memasukannya."
Kini, wanita itu merayu dengan begitu imut. Bagaimana bisa Leon menolaknya? Benar-benar keimutan yang sulit diabaikan. Sebenarnya stimulasi jenis apa yang bisa membuat Jecy seperti ini? Ingatkan Leon untuk mencari tahu dan memusnahkan obat itu dari peredaran.
__ADS_1
"Kau itu, benar-benar..." gumam Leon mengecup pipi Jecy. Tangan kokoh itu langsung menggendong tubuh mungil, membawanya ke tempat tidur. Lalu mendudukkan wanita itu di pangkuannya, "Kau selalu menguji pengendalianku."
Detik berikutnya, bibir keduanya bertemu kembali. Telapak tangan Leon masuk ke balik tengkuk, menekan bibirnya lebih hebat, dengan ciuman yang lebih intens.
Puas dengan menyesap bibir. Lidah Leon turun ke leher. Memberi banyak kecupan sembari tangannya mulai membuka kain yang menutupi mereka berdua satu-persatu.
"Aku selalu menginginkanmu, hmm," desah Leon menjatuhkan dirinya perlahan di atas tubuh Jecy. Menindih dan memeluk. Menciumi setiap inci kulit putih. Nuansa erotika mulai menggelora, menyebar ke dalam sanubari keduanya.
Bibir Leon mulai turun, menyapa dua buah beda kenyal. Ujung yang sudah menegang dia kecup lembut. Memainkannya sesaat sebelum meremas manja.
"Aaah," gumam Jecy, merapatkan bibir menahan gejolak rasa.
Dalam sekian menit ke depan, Leon benar-benar menahan untuk tidak memasukan adik kecilnya. Hanya menyentuh sana-sini, menyenangkan Jecy hingga terbebas dari efek stimulasi.
Di setiap sentuhannya hanya ada rasa kasih membara, menaikan temperatur ruangan dengan teriakan pelan sang wanita. Lengan kekar Leon memeluk tubuh Jecy, mengekang dengan rasa takut kehilangan.
**
Leon keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Rambut pendeknya menjuntai turun meneteskan butiran air meski sudah beberapa kali digosok menggunakan handuk. Bathrobe hitam yang menutupi tubuh atletisnya telah berganti dengan kaos santai dipadu dengan celana pendek loreng, dia lebih senang berpakain biasa ketika tidak ada kegiatan formal apapun.
Berdiri di samping ranjang besar di mana terdapat tubuh telanjng yang ditutupi selimut. Leon menyentuh kening Jecy yang kembali tertidur. Kini, wanita itu sudah tenang.
Menyilangkan tangan di depan dada. Merasa bangga pada dirinya sendiri yang mampu menahan diri tidak mencoblos, meski dia harus berakhir menuntaskannya di kamar mandi.
"Apa sekarang dia lebih baik? Demamnya hampir hilang, buburnya pasti sudah dingin," gumamnya sembari menyentuh dagu.
Itu lebih baik daripada bubur buatannya. Mungkin Jecy tidak ingin makan bubur? Apa yang wanita itu suka selain mawar putih?
Selagi Leon berkutat dengan pikirannya, ternyata Jecy hanya berpura-pura tidur. Kedua mata wanita itu terbuka, ia gigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Jecy, apa kau sudah gila? Ada apa denganmu? Tidak peduli seberapa besar efek obatnya, apa kau sudah kehilangan seluruh akalmu ini? Aku bahkan belum pernah seperti ini."
Batin Jecy bergemuruh, merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bukan. Bukan itu masalahnya sekarang. Bagaimana caraku keluar dari sini?"
_To Be Continued_