
"Silakan dinikmati makanannya!"
"Terima kasih makanannya! Wow, ini kesemek," mata hazel Liam berkilau binar menatap buah kesemek yang berada di piring berkarakter Captain America. Buah berwarna orange terang itu sudah dibelah menjadi dua oleh Marvin.
Pria yang diperintahkan untuk menjaga tuan muda kecil tersebut tidak merasa kesulitan sama sekali, sebab Liam tidak rewel dan cukup dewasa untuk mengerti jika malam ini ibunya pulang telat. Berbeda sekali dengan ayahnya yang selalu membuat Marvin kerepotan.
Nyatanya bocah kecil itu memang sudah terbiasa.
Liam justru terlihat senang karena ada Paman Marvin yang menemaninya bermain sembari menunggu kepulangan sang mommy. Kadang dia merasa kesepian sendirian di rumah, tapi anak lelaki itu tidak pernah mengeluh kepada Jecy.
"Paman."
Liam mendekati pria bersetelan jas lengkap yang duduk di lantai depan televisi. Marvin menolah dan melihat wajah bingung si bocah laki-laki.
"Ada apa, Tuan Muda──hmm," Marvin berdeham sesaat guna meralat, "...Liam?"
"Buah kesemeknya aneh, mommy biasanya memberikanku dengan sendok seperti ini," keluh Liam sambil memperlihatkan buah kesemek yang sulit untuk dia sendok, "Tetapi Liam tidak bisa mengambilnya, sepertinya ini sudah mengeras," ucapnya mengedipkan mata beberapa kali.
Marvin terdiam sebentar. Ya, seberapa mengertinya Liam pada kondisi orang tuanya, namun, tetap saja ia adalah anak kecil yang masih banyak tidak mengertinya. Memang tidak seharusnya meninggalkan bocah sekecil ini sendirian, sebab banyak hal membahayakan yang bisa saja terjadi.
"Ah, ini karena ada kulitnya," tukas sang sekretaris mengambil alih piring dan sendok yang dipegang Liam, lalu menunjukkan cara menyendok buah kesemek yang benar, "Sendok ke atas seperti ini."
Mata hazel memperhatikan dengan seksama, kepala yang ditumbuhi rambut hitam tebal mengangguk mengerti.
Marvin mengarahkan sendokkan buah kesemek ke mulut mungil si anak laki-laki, "Aaa."
"Aaa..." Liam membuka mulut dan menerima suapan itu dalam sekali hap.
"Mommy-mu selalu mengupas kulitnya untukmu, ya?" ucap Marvin sambil mengupas kulitnya supaya sang tuan muda kecil bisa menyendok sendiri, "Sulit mengupas kulit kesemek karena nipis," tangannya terulur menyeka sudut bibir Liam.
"Kenapa harus dikupas kulitnya kalau itu sulit?" tanya Liam memiringkan kepala, mata bulat melebar ingin tahu.
"Mommy mengupasnya karena mencintai Liam. Dia ingin Liam makan dengan nyaman."
Wajah tampan Liam berseri seketika. Mendengar apa yang dikatakan Paman Marvin membuatnya sangat senang.
"Nah, sekarang paman sudah mengupasnya, kau makanlah sendiri," Marvin kembali menyerahkan piring dan sendok berkarakter pada Liam.
__ADS_1
"Ya," angguk si bocah kecil menerimanya, lalu memakan buah kesemek tersebut.
Selang waktu lima menit, pintu kontrakan sepetak itu terbuka. Terlihat Jecy dari balik pintu.
Wanita itu tampil manis dengan dress berwarna mustard yang dibelikan Leon──karena pakaiannya kotor. Jecy gentar meminta Leon untuk memulangkannya, dengan alasan tetap merasa cemas meski ada Marvin yang menjaga putranya. Liam akan sulit tidur jika tidak ia peluk.
"Oh, anda sudah datang?" sambut Marvin bangkit dari duduk, ia melihat keberadaan sang CEO yang mengekor di belakang Jecy. Heran juga, ia kira Leon akan menahan wanita itu hingga besok.
Ternyata, Leon sangat lemah terhadap wanita yang dicintainya. Entah ke mana si pemaksa bertemperamen buruk pergi. Sungguh tidak habis dipikir.
"Mommy!" seru Liam berlari menghampiri Jecy, lalu langsung meloncat memeluk mommy-nya.
"Oh? Liam, mommy bilang jangan lari. Kau semakin berat," Jecy sampai oleng ke belakang dibuatnya. Ia hampir jatuh, jika tidak ada Leon yang menahan di belakang dengan memegang kedua pundaknya.
Tinggi tubuhnya yang hanya setinggi dada pria itu, membuat Jecy harus mendongakkan kepala untuk bisa melihat Leon yang menunduk, membalas melihatnya.
Pria bermata hazel tersenyum simpul.
Mendapati dirinya ditatap lekat disertai senyuman tampan. Jecy menahan napas sejenak sebelum menunduk. Ia selalu tidak kuat dilihat sedemikian rupa oleh Leon.
Jecy mengangkat tubuh montok Liam, dan menggendongnya.
"Aku mencintaimu!" seru anak lelaki tampan tersenyum lebar, menunjukkan deret gigi susu yang ompong di bagian gigi seri depan.
"Apa?" gumam Jecy heran mendapatkan pernyataan cinta tiba-tiba dari putra kesayangan. Ia melirik Marvin yang mengangguk sambil ngangkat dua jempol.
Wanita itu mengerutkan alis. Bertanya-tanya tentang pengetahuan apa yang diajarkan sekretaris-nya Leon pada Liam. Semoga bukan hal yang aneh.
Kembali Jecy melihat putranya yang masih tersenyum lebar. Pipi bulat bagai buah plum memerah. Liam terkekeh pelan membuat sang mommy semakin heran.
"Aku paling mencintaimu di dunia!"
Jecy tertegun. Mendengar Liam berucap manis seperti itu. Ia peluk erat malaikat tampannya.
"Aku juga, mencintaimu."
Sementara Leon hanya diam, namun, tatapannya tak lepas dari ibu dan anak yang saling menyatakan cinta sambil berpelukan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan aku?" batinnya.
Pria itu menanti waktu di mana ia bisa ikut merengkuh keduanya. Hatinya kini membuncah karena mendapatkan Jecy dengan bonus Liam. Langit benar-benar sedang menyanjung.
"Liam tahu! Karena mommy mengupas kulit kesemek untukku!" kekeh Liam.
"Apa?" tanya Jecy membelai kening anaknya.
Ternyata, hanya karena perkara sebuah kesemek. Jecy menggeleng dan tertawa kecil.
Ada begitu banyak hal di sekitar yang mengguncang wanita itu. Tapi Liam adalah satu-satunya yang memegangnya erat hingga dia bisa terus bertahan dan berdiri tegak. Benar, dia harus mempertahankan senyum putranya.
Jika Liam aman, dan bahagia... maka Jecy bisa melakukan apapun untuknya. Sepertinya menerima tawaran tinggal bersama Leon selama satu bulan, melihat apakah pria itu memang benar-benar memiliki kepercayaan diri menjadi seorang ayah.
"Liam," suara serak dan rendah memanggil.
Yang dipanggil menoleh, senyum ceria seketika pudar. Liam baru melihat daddy-nya berdiri di belakang mommy-nya, ingatan kejadian mengerikan kala itu membuatnya buru-buru bersembunyi di dekapan Jecy. Wajah mungilnya mengintip enggan menatap.
Guratan garis wajahnya ketakutan. Dia belum bisa menerima keberadaan Leon sebagai orang baik apalagi sebagai daddy. Cengkeramannya pada lengan baju Jecy semakin menguat. Setengah berbisik memanggil ibunya, "Mom…" ia berharap Mommy Jecy segera mengusir pria dewasa itu.
Mata hazel menatap sendu pada Liam. Bocah itu masih membencinya.
Jecy mengelus surai putranya yang masih menyembunyikan diri dari kejaran mata Leon, "Tidak apa-apa, Sayang."
Liam masih memeluk sang mommy erat, matanya menukik tajam pada Leon. Semakin menggembungkan pipinya ketika Leon mencoba tersenyum ke arahnya. Bulir mata serupa kucing mengisyaratkan agar pria versi dewasanya tidak mengambil langkah mendekat atau mencoba bersikap ramah.
Bagaimana rasanya ketika anakmu sendiri menolakmu?
Pertanyaan yang menelisik dan meremas relung hati Leon. Mendobrak pertahanannya.
Bagaimana?
Pria itu menerawang beberapa lama, tidak bisa menjabarkannya. Tangannya terkepal begitu saja. Tidak diakui ayah oleh anak yang berdarah sama dengannya, haruskah dia panjang lebar bercerita mimpi buruknya beberapa hari ini? Hah, jangan bercanda seolah-olah dirinya bisa tetap tertawa tanpa beban.
Leon ingin segera memperbaikinya!
_To Be Continued_
__ADS_1