SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
HASIL KLONINGAN


__ADS_3

"Bolehkah aku ikut ke tempat kerja mommy?" tanya Liam, menghentikan Jecy yang hendak pergi.


Bocah kecil itu menunjukkan rasa keengganan untuk ditinggal. Sangat tidak biasa sekali.


Jecy menatap putranya yang masih berdiri di dekat pintu masuk daycare, dapat dilihat bola mata hazel milik Liam yang menghindarinya.


"Memangnya kenapa? Di tempat kerja mommy tidak ada mainan, di sana bukan tempat yang cocok untukmu bermain," Jecy mensejajarkan tinggi badannya dengan putranya.


Suara lembut dari sang mommy mendorong bocah kecil itu mengungkapkan apa yang mengganggunya, "Teman-teman tidak mau bermain bersama Liam."


Jecy tersentak mendengarnya. Sejak awal dititipkan Liam terlihat begitu mudah akrab bersama teman-temannya. Namun, kenapa mereka tidak ingin bermain bersama putranya?


"Ada anak baru yang dititipkan. Liam benci dia, Mom. Hanya memegang mainannya saja dia marah. Mengatakan aku harus memintanya pada daddy," terdiam sesaat, seakan ragu melanjutkan ucapannya. Dan detik berikutnya, Liam kembali membuat mulut kecilnya yang terlihat bergetar, "Ta... tapi, Liam 'kan tidak memiliki daddy."


Napas Jecy tercekat, badanya sedikit gemetar imbas dari rasa kejut mendadak.


Kenapa ada yang tega melukai buah hatinya?


"Dia mengejekku, lalu... lalu dia bilang sesuatu yang buruk mengenai mommy."


Dua iris kombinasi milik Liam tidak sengaja mengeluarkan air mata, isak tangisnya perlahan terdengar membuat hati Jecy mencelos sakit.


Anak itu kesusahan menahan agar matanya tidak berair, menangis di depan ibunya.


"Dia menyebut mommy wanita tidak tahu malu. Liam lahir tanpa daddy, itu artinya Liam anak kotor. Hiks... aku tidak mau berteman dengannya."


Liam tidak ingin ibunya khawatir. Tapi itu terlambat, ketika dia melihat Jecy merasakan sedih dari pantulan mata sendu yang berair.


"Mom, mommy kenapa menangis? Apa aku melakukan kesalahan? Jangan menangis, Mom. Liam akan menjadi anak baik dan tidak pernah merengek lagi. Aku akan memukul anak itu."


"Tidak, Sayang," cepat-cepat Jecy menghapus air matanya dan menggelengkan kepala, "Liam adalah anak yang paling baik sedunia, kau boleh merengek ketika merasa kesulitan, tapi mommy tidak mengajarimu memukul ataupun berkelahi."


"Yes, Mom. Liam akan menuruti semua yang mommy bilang," ucap si kecil patuh, dia menggosok matanya yang lembab dengan kedua tangan.


Jecy menarik tubuh kecil Liam ke dalam pelukannya, memberikan pelukan erat.


"Mommy hanya ingin bilang, meskipun kau tidak punya daddy namun ada mommy di sini. Mommy akan menutup telinga pada omongan itu begitupun juga Liam. Cukup hanya ada kita berdua."


"Ya, hanya ada aku dan mommy yang paling kucintai," angguk Liam dalam pelukan, tangan kecil itu melingkar pada pundak ibundanya.


Jecy terharu, hati yang perih langsung terobati oleh kalimat manis dari sang anak. Liam akan selalu bisa membuatnya tersenyum.

__ADS_1


"Anak pintar, nanti akan mommy belikan mainan robot, jadi tidak perlu meminjam mainan temanmu. Oke?"


Ya, dia akan lebih bekerja keras supaya mendapatkan uang yang banyak, untuk membeli mainan yang Liam inginnya.


"Sekalian gulali, ya?"


**


Leon mengalami jet lag selama dua hari, dan berakhir bermalas-malasan di mansion. Efek samping dari perjalanan jauh dengan pesawat membuatnya merasa mengantuk sepanjang hari, tubuh terasa lelah, dan terkadang sakit kepala. Ini di sebabkan perubahan waktu tidur yang sementara.


Setelah merasa lebih baik, adik perempuannya──Aletta justru menyeretnya pergi jalan-jalan, dengan beralasan rindu dengan sang kakak yang sudah lama sekali tidak pulang ke rumah.


Dan kini, Leon berakhir berada di sebuah bangunan moderen, pusat perbelanjaan. Dia berjalan dengan wajah malas. Jika bukan karena tidak bisa menolak paksaan adik perempuan kesayangannya itu, dia lebih baik tidur di rumah.


Satu hal yang pasti, kelemahan Leon adalah keluarganya. Dia hanya bersikap manis pada orang-orang terdekat saja.


"Kak, aku senang sekali, ini seperti kencan," ucap Aletta bergelayut manja di lengannya.


"Ya," jawab Leon sekenanya.


Biarkanlah, jika dengan cara menempel seperti perangko padanya dapat membuat sang adik senang. Aletta memang yang termanja di antara keluarganya yang lain.


"Hmm, beli apapun yang kau mau dengan menggunakan ini."


Leon menyerahkan kartu hitam tanpa limit miliknya pada Aletta. Dirinya bukanlah orang yang pelit, bahkan dia bisa membeli mall beserta isinya jika sang adik menginginkan.


"Wow, Kak Leon memang yang terbaik!" girang wanita itu memberikan kecupan pada pipi kakaknya, sebelum menerima kartu hitam itu.


Kemudian, Aletta langsung menarik Leon menuju toko baju brand populer. Sedangkan pria berambut hitam itu hanya pasrah, dia hanya ingin ini cepat selesai dan kembali pulang ke mansion.


Ketika Aletta sedang memilih baju yang menurut wanita itu bagus, pria itu pergi mencari toilet. Dia memasuki toilet yang berada tidak jauh dari toko baju.


Tanpa berpikir panjang lagi Leon segera memulai ritual buang air kecilnya.


Sebuah pintu dari salah satu bilik terbuka, terlihat anak laki-laki melangkah keluar dari sana.


Leon yang sudah selesai dengan ritualnya melirik si anak kecil yang sedang berusaha untuk memencet kran air. Tubuh pendek bocah itu belum bisa menjangkau kran.


Ingin mengabaikan, namun ada sebuah dorongan yang menyuruhnya membantu anak kecil itu.


"Butuh bantuan, Boy?"

__ADS_1


Liam menolehkan kepala pada sosok asing di sampingnya. Matanya berkedip lucu melihat siapa yang menawarinya bantuan.


Dua mata serupa saling bertemu.


Leon merasakan darahnya berdesir membawa banyak partikel oksigen, hingga sesaat dia lupa cara bernapas. Membiarkan dirinya terjatuh mengagumi bola mata hazel serupa miliknya. Entah benar turunan atau imitasi hasil kloningan. Dia seperti melihat dirinya di masa kecil.


Seolah ada sebuah ikatan di antara mereka, Leon melangkah semakin mendekatkan diri. Saking terpesonanya dengan sosok Liam.


"Aku bisa mengangkat tubuhmu."


"Huh?"


Liam nampak malu dan merasa tidak sopan, karena terus memandangi orang asing lamat-lamat. Dia juga merasa terpesona dengan pria dewasa yang serupa dirinya itu.


Sedikit ragu menerima bantuan yang ditawarkan, bocah kecil itu lantas berkata dengan polos, "Tapi, kata mommy badanku berat. Paman yakin bisa kuat?"


Terdengar suara tertawa lepas seorang pria dewasa.


Leon bukan tipe pria lembut terhadap anak kecil, tapi justru dia mengelus helai hitam milik Liam. Yang terasa lembut dan halus, meski sedikit bergelombang.


"Kau meragukanku? Sini, biarkan paman menggendongmu, Boy!"


Tubuh Liam terangkat hingga tangannya dengan mudah menekan kran dan mencuci sela-sela jarinya menggunakan sabun cair.


"Sudah paman, terima kasih."


Liam masih sangat muda namun sikapnya begitu tertata.


Lagi-lagi si pria minim ekspresi seperti Leon dibuat tersenyum, karena melihat tingkah lucu yang ditunjukkan anak itu.


"Siapa namamu?" tanyanya ketika menurunkan Liam untuk kembali berdiri dengan kakinya sendiri.


"Liam Camillo," jawab si bocah kecil tersenyum lebar, memamerkan gigi susunya.


Leon terdiam beberapa saat. Dia memandang lekat Liam tidak ingin melewatkan secuil pun apa yang bisa dirinya lihat. Semua yang ada dalam diri bocah laki-laki itu mengundang ketertarikan.


"Liam? Apa kau masih di dalam, Nak?"


Terdengar suara seorang wanita dari luar pintu toilet. Leon seperti mengenali suara itu. Suara yang mengetuk rasa rindu di sanubarinya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2