
"Tunggu, apa yang akan si mesum ini lakukan...? Ada apa dengan wajahnya sekarang, aku tidak percaya dia bisa melakukan hal gila ini. Dia bahkan menculikku. Sekarang aku dalam bahaya."
Batin Jecy bertambah takut dan takut. Sebab Leon semakin merengsek kepadanya, memojokkan ke sandaran sofa. Wajah pria itu menggelap seperti binatang buas yang ingin menerkam. Ini adalah situasi di mana dia tidak baik-baik saja.
"Maafkan aku, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu kesalahan apa yang kuperbuat," memelas sementara dirinya semakin dipojokkan, Jecy meminta maaf meski sejatinya tidak bersalah, "Tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi sekarang."
Leon tak merespon belas kasih yang wanita itu minta. Hanya diam dan masih memandangi wajah cantik yang memucat. Dan sialnya, justru membuatnya semakin semangat. Bersemangat dalam artian bergairah untuk mempermainkan Jecy lebih jauh lagi. Bahkan ingin membuatnya menangis.
Oh ayolah, wajah menangis Jecy lah yang selalu datang di mimpi Leon lima tahun terakhir. Wanita sialan itulah penyebab dirinya tidak pernah mendapatkan cukup ereksi terhadap sentuhan wanita lain.
Namun, ketika mengingat akan Jecy yang memiliki anak dan suami, ia marah dan kecewa. Bisa-bisanya wanita itu menikah dengan pria lain di saat meninggalkan kenangan yang selalu membayanginya.
Leon tidak terima!
Karena itulah ia menculik Jecy untuk meminta pertanggung jawaban.
Menyadari Leon yang justru hanyut dalam pikirannya sendiri. Jecy menggunakan kesempatan itu untuk mendorongnya.
"Aku akan pergi sekarang dan aku anggap ini tidak pernah terjadi."
Wanita berambut cokelat muda itu bangkit dari sofa, tidak lupa juga menyambar tasnya yang tergeletak di meja.
Ketika Jecy hendak pergi mencari pintu keluar, ia baru menyadari betapa luas dan mewahnya ruangan di mana dirinya berada saat ini, tapi bukan saatnya berdecak kagum. Dia harus lari dari sini.
Namun, sebelum wanita itu melangkah lebih jauh, Marvin yang tidak diperhatikan keberadaannya tiba-tiba datang menghalangi. Mencegah Jecy melarikan diri.
"...Jecy."
Dari arah belakang, Leon datang dan memeluk tubuh Jecy yang mematung. Ia menghirup kelembutan wanita itu. Aroma Lavender dan Rosemary yang membuatnya melayang dalam kenangan.
"A... apa yang kau lakukan?" tanya Jecy terbata.
"Kau tidak bisa meninggalkanku."
"Apa?"
Kepala Leon dibenamkan di tengkuk Jecy. Menyatu dengan gerai harus rambut cokelat muda. Ketika bibirnya menyentuh tengkuk wanita itu, ia mengecupnya pelan.
"Lima tahun... selama lima tahun terakhir, aku tidak bereaksi terhadap rangsangan dari wanita manapun," desah Leon lirih.
__ADS_1
"Itu bukan salahku! Lepaskan aku!" teriak Jecy meronta. Menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Menolak untuk disentuh apalagi dicium, "Aku benci kau!"
"Aku juga membencimu yang terus-terusan menganggu pikiran dan mimpiku, sialan," Leon berbisik di samping telinga Jecy, rahangnya mengetat karena menahan sesuatu yang akan meledak, "Aku hanya ereksi ketika membayangkan wajah menyedihkan dan jelekmu."
Jecy mendelik mendengar betapa mesumnya pria itu. Lantas di mana letak kesalahannya? Siapa juga yang mau dipikirkan dan dimimpikan pria itu? Seharusnya dirinya yang harus marah di sini!
"Setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihatmu kembali. Itu membuatku merasa bersemangat pertama kalinya dalam lima tahun."
Perasaan Jecy mulai tidak enak, dia merasa jijik ketika tubuh bagian belakangnya bergesekan dengan sesuatu yang keras milik Leon. Pria itu benar-benar psikopat mesum yang gila.
"Kau bisa merasakannya, bukan?"
"Jauhkan benda itu dariku!"
Jecy mengigit tangan Leon yang melingkar erat di dadanya. Senjata terakhir wanita. Menggigit.
Leon meringis perih dan nyeri akibat gigitan Jecy. Baru kemarin dia digigit Liam, dan sekarang digigit ibunya. Ada apa dengan ibu dan anak itu? Apa mereka berdua gemar menggigit? Apa ini ajaran dari pria yang wanita itu nikahi?
Memikirkan itu membuat hatinya tak senang. Dia merasa cemburu──
"Apa cemburu? Aku cemburu pada wanita ini...?" batin Leon tidak percaya dengan apa yang sedang dirasakannya.
Karena terlalu shock ia melepaskan Jecy. Ekspresi Leon terlihat seperti orang kebingungan.
Ditatapnya wanita yang sudah menjauh beberapa langkah darinya. Leon kembali menyusun pikirannya yang tiba-tiba blank. Namun, tatapannya justru tertuju pada bibir Jecy.
Sial, dia ingin mencium wanita itu!
"Mauku, jadilah milikku sekarang."
Jecy terperangah, dengan mata membola sempurna dan mulut terbuka kaku. Dan selang lima detik, sekujur tubuhnya mendadak bergetar, dan dia mulai panik.
Seketika dia paham dengan apa kemauan pria itu. Sama halnya memintanya menjadi seorang pelacur lagi. Lebih tepatnya, tubuhnya lah yang diinginkan Leon. Memang apa lagi yang diinginkan pria kaya dari wanita yang pernah ditiduri demi selembar cek kosong?
Kedua tangan Jecy terkepal kuat. Dia tidak sudi menjadi milik Leon, dia tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu yang sangat disesalinya. Mana mungkin dia membiarkan pria itu mengoyak kehormatannya lagi dan lagi.
"Aku tidak mau!"
Bersamaan memberi penolakan yang sangat pasti, Jecy menendang ************ Leon dengan tenaga yang susah payah dikumpulkan. Dia sengaja mengincar titik terlemah dari seorang lelaki.
__ADS_1
"Argh! Fck! Fck you!" jerit Leon setelah menerima tendangan kekesalan Jecy. Ia mengaduh. Suara kesakitan meraung-raung. CEO tampan berteriak sangat kencang.
Tak sampai di situ, Jecy juga memberikan pukulan di wajah kesakitan pria itu dengan tas miliknya. Memukul bolak balik sisi kanan dan kiri wajah itu.
Bugh! Bugh!
Setelahnya, Jecy buru-buru pergi dari tempat itu.
**
Lima belas menit setelah kepergian Jecy.
"Crazy btch!" maki Leon pada wanita yang sudah berani memukulinya, "Apa dia mau membunuhku, ha? Brengsk! Bangst! Aku hampir benar-benar impoten dibuatnya!"
Pria itu terus berteriak dan memaki. Kedua tangannya memegangi junior yang baru saja tersakiti. Kakinya disatukan, menekan bagian tengah tubuh yang masih perih dan nyeri. Tak hanya itu, wajah tampannya juga babak-belur karena dipukul berkali-kali dengan tas.
Astaga! Bisa dibayangkan sakitnya seperti apa?
"Kau bisa menghentikannya!" bentak Leon pada Marvin yang sedang mengobati lebam di wajahnya.
Marvin menghela napas, dia memang sengaja membiarkan Jecy kabur di saat Leon lengah. Dia tidak mau terlibat terlalu jauh dalam tindakan kriminal yang bos-nya lakukan.
"Mengapa tuan ingin sekali mendapatkannya?"
Leon meringis ketika lukanya ditekan-tekan dengan kapas antiseptik. Sekretaris-nya itu memang sangat tidak berbakat merawat orang yang terluka.
"Karena dia yang mengacaukanku selama ini. Marvin, kau harus menghentikan Jecy. Jangan biarkan dia pergi. Dia harus bertanggung jawab terhadapku."
"Tuan, sayang sekali Jecy sudah memiliki seorang anak. Bagaimana jika ibu anda mengetahui tentang Tuan Leon yang mengganggu wanita bersuami?"
Sebenarnya Marvin tidak tahu kalau wanita itu sudah menikah atau belum, dia hanya menebak. Begitu pula dengan Leon yang ikut mengira kalau Jecy sudah bersuami.
Pria bermata hazel itu terdiam, ia membayangkan raut kecewa sang ibu kalau tahu putranya sedang berusaha menjadi pebinor.
"Tuan Leon, mari panggil dokter untuk mengobatimu. Lupakan Jecy, biarkan dia pergi. Akan kupastikan dia tidak membuka mulutnya," ujar Marvin mencoba mencegah bos-nya, supaya tidak terus mengejar wanita beranak satu.
"Hmm," Leon hanya bergumam tak jelas.
"Saya tak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Anda berani menculiknya seorang diri," ucap Marvin heran.
__ADS_1
"Tidak ada jalan lain. Demi bisa memilikinya, aku akan melakukan apa saja."
_To Be Continued_