
Leon ingin segera memperbaikinya!
Ia tidak mau dihantui mimpi buruk setiap mengingat raut ketakutan dan kebencian baik Liam maupun Jecy setiap berada di dekatnya. Seolah dirinya adalah musuh yang dapat meloncat ke arah mereka untuk menggigit, memangsa.
Astaga, bisakah Liam berhenti menatapnya seperti itu? Leon ditakuti seolah dia monster, menyeramkan sekaligus tidak memiliki hati.
Sedikit tersenyum, Leon membayangkan kaki kecil itu akan berlari ke arahnya seperti saat berlari ke arah Jecy tadi, merentangkan ke dua tangannya untuk minta digendong atau dipeluk. Dan dia paling tidak sabar mengharapkan ketika dirinya dipanggil 'daddy' oleh Liam.
Jecy menurunkan Liam dari gendongannya. Ia yang sudah mulai menerima keadaan, sedikit melihat adanya angin baru. Menghabiskan waktu berbicara dengan Leon beberapa saat yang lalu memberinya satu pandangan, meski hanya sebatas spekulasi bahwa pria itu mencoba serius untuk turut serta dalam mewujudkan kehidupan lebih baik bagi putra mereka.
Sekuat apapun wanita itu berusaha, dia tidak akan dapat mengingkari takdir bahwa Liam terlahir dengan membawa nama belakang Leon di belakangnya. Bila lelaki itu menginginkan haknya sebagai seorang ayah maka Jecy akan memberi jalan, membantunya menjadi dekat dengan Liam.
Sebab hubungan darah tak mudah untuk diputus begitu saja, akan tetap mengalir tanpa bisa dibendung, karena bagaimanapun juga Liam mewarisi sebagian dari Leon.
Hanya itu, Jecy tidak menjanjikan hal lebih.
Jecy sadar Liam jelas membutuhkan sosok Leon. Figur seorang ayah yang selama ini hanya sebatas angan. Yang lebih penting lagi adalah keamanan anaknya sendiri, bocah tampannya butuh perlindungan.
Liam memandang Jecy curiga. Tidak biasanya mommy memandangnya seperti ini. Dia takut mommy dilukai lagi, "Mom..."
Jecy tersenyum, lalu memberi Liam kecupan di sepanjang garis pipi.
"Daddy di sini, apa benar Liam sangat tidak ingin bertemu daddy?"
Wajah masam anaknya membuat Jecy terkekeh. Benar-benar mirip Leon. Terlalu serakah pria itu dalam menurunkan dirinya. Dia mendengus tanpa sadar.
"Masih marah dengan daddy walau daddy sudah minta maaf?"
Bibir tipis anaknya semakin manyun, "Tidak ada daddy," Liam menunduk, memilin rambut halus mommy-nya yang menjuntai tatkala menyamakan tinggi mereka berdua, "Daddy tidak menyayangi kita. Dia tidak pernah ada untuk kita, Mon..." rengeknya.
"Tapi sekarang daddy sudah ada, mencari Liam untuk diberikan cinta. Daddy sudah kembali, ingin mengajak Liam jalan-jalan dan bermain."
Mata Liam mengerjap. Dia mendongak melihat pada wajah cantik ibunya, "Bukankah daddy jahat? Daddy membuat mata mommy memerah. Liam tidak suka."
Jecy mengelus pipi Liam pelan dan lembut, kembali memberinya kecupan sayang, "Mungkin kau sering melihat mommy menangis karena daddy. Tapi Liam juga harus tahu bahwa daddy pula yang memberikan mommy kebahagiaan. Daddy Leon memberikan mommy dirimu, sayang. Sebuah cahaya agar mommy bisa bertahan. Jadi, jangan terlalu membenci daddy-mu."
Leon menguping dalam diam. Kebungkamannya mengisi suasa haru itu, tanpa sadar ia menangis, air matanya meleleh panas mendengar penuturan lembut Jecy. Pria itu mengaku bersalah. Meradang pada dirinya sendiri, memaki dalam hati. Menyesali karena baru datang sekarang. Ia berjanji akan mendapatkan wanita itu bagaimanapun caranya.
"Meski kau ingin berlari pun, aku tidak akan melepaskanmu, Jecy. tidak akan pernah," batinnya.
__ADS_1
"Dad..."
Leon terlonjak kaget. Sosok kecil anaknya pelan-pelan berjalan mendekat. Mata bulat Liam mencoba menatap dengan gerak gerik menggemaskan. Buru-buru ia usap air matanya.
"Aku ingin daddy menggendongku."
Leon ternganga, dia tidak percaya. Tatapan benci Liam hilang. bocah kecil itu bahkan minta digendong. Secepat inikah Jecy membujuk putranya?
"A-apa daddy dimaafkan?" bertanya hati-hati. Bila ini hanya ilusi, rasanya sungguh mendebarkan.
"Hmm," Liam mengangguk singkat.
Mommy-nya bilang daddy sudah menjadi baik, mirip tokoh penjahat yang telah disadarkan oleh sang pahlawan.
Grep!
Tubuh kecil Liam tenggelam dalam pelukan Leon. Diayun ke atas sebelum kembali direngkuh erat. Semua sudut di wajah bulat bocah kecil itu tidak luput dari ciuman pria itu. Anaknya sampai terpingkal geli.
Leon begitu bahagia Liam mau menerimanya.
"Daddy kangen padamu, Nak. Daddy minta maaf. Daddy janji akan selalu menemani Liam kapanpun. Daddy tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Apakah sekarang Liam mau tinggal bersama daddy?"
Anaknya kembali mengangguk. Binar bahagianya sungguh menggemaskan, bahkan ke dua pipinya akan menyembul gembul ketika tertawa lebar, "Yes, dan harus bersama mommy juga!"
Dia bergelayut manja di leher Leon. Suka ketika tangan besar daddy-nya menyanggah punggungnya. Liam menyandarkan kepala di dada Leon, menghirup wangi sang daddy sebanyak mungkin.
Kesempatan terbuka tanpa diduga. Leon melihat ada peluang untuk mendekati Jecy, "Daddy sudah mencoba membujuk mommy untuk tinggal bersama, tapi mommy belum setuju. Bisakah kau juga membujuk mommy untuk tinggal bersama kita?"
Di depannya Jecy mendelik melihat bagaimana Leon mencoba memanfaatkan Liam agar bisa mendekatinya. Jelas ia tidak akan sanggup menolak keinginan putranya, Liam benar-benar kelemahannya. Leon semakin menunjukkan senyum kemenangan.
Jecy menghela napas, "Tuan Leon, bisakah kita bicara di luar sebentar?"
**
Terlihat Jecy dan Leon yang sedang berdiri berhadap-hadapan di teras depan kontrakan. Malam yang semakin larut membuat tidak adanya orang berlalu-lalang di gang rumah tersebut.
"Jadi, kau bersedia ikut ke rumahku? Itu keputusan bagus, Jecy."
__ADS_1
Jecy mengangguk. Meski begitu, ia masih tidak mempercayai Leon sepenuhnya, "Bukankah kau tidak menerima penolakan? Aku akan tinggal bersamamu selaman sebulan, dan itu hanya karena demi Liam. Lalu tepati janjimu untuk pergi bila kau tidak dapat membuatku yakin."
Malam ini suasananya menyenangkan dan menenangkan bagi Leon, karena kesempatan benar-benar terbuka untuknya. Ia tersenyum simpul, "Ya, ini demi anak kita."
Ah, pria itu yakin pada dirinya sendiri. Ia pasti akan berhasil meyakinkan Jecy, dan tidak akan pernah menjauh dari kedua orang berharganya.
Keduanya terdiam sesaat, Leon tak bosan memandang wajah cantik wanitanya. Sedangkan yang dipandangi, menjilat bibir bawahnya yang terasa kering, sebuah kebiasaan buruk yang memancing tatapan buas dari pria bermata hazel.
"Baiklah, aku akan pergi. Besok aku akan datang menjemput kalian berdua," ucap Leon memilih pergi daripada lepas kendali. Bisa-bisa dirinya mencium ganas bibir wanita itu.
"Tunggu," Jecy menarik lengan Leon yang hendak berbalik, mencegahnya pergi, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, "Wanita itu, dia yang telah menyuruh preman..."
Ah, persetan menahan diri.
Leon memutar kakinya, ia menyerang bibir Jecy tanpa aba-aba. Melumt kasar dan tergesa-gesa. Tubuhnya menekan tubuh kecil wanita itu hingga terhimpit pada dinding.
Jecy terkejut, ia mencoba melepas ciuman itu. Ingin mendorong dada Leon menjauh. Namun, naas sekali, kekuatannya tak cukup kuat untuk melawan kekuatan Leon.
Ciuman itu semakin kasar, lidah Leon menerobos mulut Jecy, membelit lidah wanita itu dan mengajaknya menari. Tapi itu hanya tiga detik, karena Jecy mengigit sekuat tenaga lidah kurang ajar yang memasuki mulutnya tanpa izin.
"Ugh," Leon langsung menarik diri beberapa langkah ke belakang. Merasa perih luar biasa. Sepertinya tadi Jecy benar-benar ingin mengigit lidahnya sampai putus, "Ini sungguh sakit..."
Menggosok kasar bibirnya dengan punggung tangan, mencoba menghilangkan sensasi aneh di bibir dan mulutnya akibat ciuman Leon barusan. Tatapan mata dingin menusuk, Jecy menatap dengan amarah yang meledak, "Kenapa kau begitu gila? Jangan seenaknya menciumku!"
"Apa maksudmu dengan kenapa? Aku hanya mengambil imbalan milikku," protes Leon dengan mata sendiri berkaca-kaca menahan rasa sakit di lidahnya.
Yang benar saja! Jadi, ini alasan pria itu menyimpan imbalan dari rasa terima kasih Jecy? Sungguh tak habis dipikir.
Seketika Jecy merasa khawatir pada dirinya sendiri. Apakah ia akan baik-baik saja tinggal serumah dengan seorang cabul seperti Leon? Ia harus berhati-hati!
"Seharusnya aku potongan saja lidahmu!" batinnya mendelik.
Membuang napas kasar, Jecy menumpahkan beberapa hal yang mengganjal pikirannya, "Wanita itu, Kirana. Aku tahu kalau dia yang menyuruh ketiga preman untuk menggangguku. Apa kau sungguh tidak memiliki hubungan apapun dengannya? Kau berkata ingin menikah denganku namun kau memiliki kekasih. Aku takut dia mencoba menyakiti Liam setelahnya."
Ternyata Jecy tahu siapa dalang dari kemalangannya hari ini, sedikit membuat Leon terkejut. Namun, ia tidak mau hal tersebut mengganggu pikiran wanitanya.
"Dia bukan kekasihku. Aku akan mengurus masalah ini. Kau tenang saja, Liam begitu juga kau──Jecy akan baik-baik saja. Aku takkan membiarkan siapapun menganggu kalian berdua."
_To Be Continued_
__ADS_1