
"Kau baik-baik saja?" ucap Leon menyadarkannya. Jecy langsung bangkit dan mencoba untuk berdiri, tetapi, ia merasa nyeri di pergelangan kakinya.
"Aw..." rintih wanita itu karena terasa semakin sakit.
Tanpa aba-aba, Leon menggendong Jecy, membuat wanita itu terkejut dan otomatis memberontak, "Turunkan aku, Tuan! Aku harus mencari Liam! Anakku dia──"
"Anak kita," sela Leon meralat, ia tak menggubris dan tetap menggendong Jecy, membawanya menuju sofa ruang tamu.
"Anak kita tidak ada dikamar! Liam diculik!"
Leon berhenti melangkah, tangannya bersiap melepaskan tubuh mungil dan menundukkan di atas sofa beludru. Dia berdiri di depan sambil memperhatikan dengan seksama. Mata tidak berkedip memandangi wajah cantik di pagi hari tanpa make up yang menjadi pemandangan favorit.
"Liam ada di kamarku," ucap Leon mengulum senyum, membuat ekspresi cemas si wanita berubah menjadi kelegaan, "Karena kau tidak mau tidur bersamaku, aku beralih mengajak Liam. Apa aku juga tidak boleh tidur bersama anak kita?"
"O-oh, tidak seperti itu," Jecy menghela napas. Ternyata, anaknya tidak hilang. Liam bersama daddy-nya, "Aku panik. Aku kira Liam hilang," ucapnya sedikit malu.
"Mana mungkin hilang selama masih ada aku?" Leon terkekeh dan menggelengkan kepala.
Jecy tak tahu saja, pria itu tidak kalah panik ketika mendengar teriakannya. Leon yang hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum langsung berlari menghampiri.
Leon berjongkok. Ada lebam di pergelangan kaki Jecy. Mata hazel langsung melirik kebagian tersebut. Meraih kaki kiri sang wanita dan jemarinya menyentuh kulit tersebut, "Tidak terlihat bengkak. Kau baik-baik saja?"
Kepala Leon mendongak, kedua wajah menjadi sangat berdekatan. Berhadapan. Saling tatap. Sang pria melempar senyum sementara Jecy membatu.
Pria itu benar-benar terlihat sangat teduh, dengan rambut hitam pendek yang berantakan, kulit putih, dan iris mata yang terang. Ingatan tentang wajah bengis Leon yang dulu pernah Jecy lihat, menjadi samar seketika.
"Sudah puas melihatku? Aku tahu kalau aku tampan," tegur Leon menyadarkan Jecy.
Wanita berambut cokelat muda itu berdeham salah tingkah, "Aku baik-baik saja."
Leon kembali fokus pada kaki yang masih dia pegang. Membersihkan telapak kaki yang terlihat mungil daripada tangannya. "Jangan berkeliaran tanpa memakai alas kaki, kau bisa masuk angin," ujar pria itu seperti seorang ibu pada putrinya.
Mengangguk. Langsung menarik kakinya, tapi jari-jari solid menahan. Jecy mengernyit tatkala Leon beralih memijat pelan pergelangan kakinya, "Geli... sungguh, aku baik-baik saja."
Leon melepaskan kaki tersebut. Diam-diam merasa lega karena wanitanya tidak benar-benar terluka, "Baguslah. Kalau begitu kau bisa kembali ke kamar untuk membersihkan dirimu. Mandilah dengan air hangat supaya segar. Liam juga. Ah, aku yang akan memandikan anak kita,"
__ADS_1
"Mendadak kau jadi ahli memandikan anak-anak?" tanggap Jecy tersenyum simpul.
"Aku baru sedikit belajar, aku harap kau mengajariku hingga benar-benar menjadi seseorang yang ahli," jawab Leon lirih. Ia membalas dengan senyum pula.
Ini benar-benar di luar bayangan. Berbicara masalah anak bersama Leon? Pria yang terkenal memiliki tempramen buruk? Keduanya saling memandang dengan debaran jantung masing-masing. Seakan dengungan piano memainkan lagu cinta mengudara, membuat segala sesuatu menjadi manis.
"Oke."
Setelah mengatakan itu, Jecy bangkit dan melangkah untuk kembali ke kamarnya. Meninggalkan Leon yang menatap kepergiannya dengan penuh arti.
"Aku mencintaimu, Jecy..." Leon bergumam sendiri. Sejak dulu sampai sekarang, ia tidak pernah mengucapkan kata cinta tersebut. Sepertinya, dengan Jecy ia harus mulai mengucapkannya. Mungkin juga dengan rangkaian mawar putih? Apapun, untuk membuat hati wanitanya luluh.
**
Setelah membersihkan diri, Jecy melihat di ruang makan yang telah tertata sarapan hangat. Biasanya dialah yang menyiapkan makanan untuk mereka, dirinya dan Liam sebelum berangkat bekerja. Namun, kini hanya dengan duduk pun semuanya sudah tersedia. Sejujurnya dia lebih menginginkan dirinya sibuk di dapur untuk memasak sendiri daripada seperti ini. Dia terbiasa hidup keras.
Beberapa pelayan yang baru dipekerjakan Leon menyapanya halus, mengatakan selamat pagi nyonya dan membuat Jecy kehilangan kata-kata membalas. Penghormatan yang baru pertama kali dia rasakan. Padahal dia bukan pasangan Leon meski dialah ibu dari anak mereka.
Jecy memilih beranjak, dia ingin melihat putranya, tapi salah seorang pelayan mengatakan bahwa si Tuan Muda Kecil Liam sedang bersiap bersama dengan Tuan Leon.
Biasanya dia tidak pernah melewatkan pagi tanpa membangunkan Liam. Namun, nampaknya putranya sudah mulai bisa melakukan beberapa kegiatan tanpa dirinya. Termasuk sudah bisa bangun pagi sendiri.
"Mom!"
Dan ketika suara melengking milik Liam memanggilnya, Jecy menoleh cepat dan segera menghampiri anaknya.
"Kau wangi sekali sayang, apa kau mandi sendiri?"
Harum lemon sangat kuat tercium dari tubuh Liam. Benar-benar bau segar, Jecy menyisir rambut hitam anaknya menggunakan sela jari.
"Aku mandi dengan daddy. Semalam Liam tidur bersama daddy. Ketika Liam bangun daddy mengajakku mandi bersama. Daddy bercerita tentang banyak hal, mungkin lain kali kita bisa pergi berenang bersama, Mom," ucap Liam beruntun bercerita seolah dia baru saja melakukan hal yang sangat menyenangkan.
Jecy tidak banyak berkomentar. Dia masih belum sepenuhnya yakin pada perlakuan Leon, "Benarkah? Dan mengapa kau berpakaian rapi seperti ini, Nak?"
Pandangannya tertuju pada setelah baju yang dikenakan Liam. Mahal dan berkelas. Jecy menelan saliva sadar bahwa putranya lebih terawat ketika tinggal dengan Leon. Ditambah dengan sepatu sneakers kecil serta celana hitam bahan katun selutut semakin menjadikan Liam seperti tuan muda kecil sungguhan.
__ADS_1
Tiba-tiba hati Jecy terenyuh, sekeras apapun dia berusaha untuk memberikan semua yang terbaik bagi Liam, pada kenyataannya Leon lah yang akan keluar menjadi juara. Putranya tidak akan kekurangan bila ada Tuan Januartha.
"Aku akan mengajaknya untuk melihat sekolah."
Suara husky Leon menjawab pertanyaan Jecy. dia terlihat rapi pula dengan setelan jas abu-abu muda, "Sebentar lagi dia berusia lima tahun, sudah saatnya untuk bersekolah. Liam harus mendapatkan semua yang terbaik. Terutama pendidikan."
Menyesap secangkir kopi hangat, Leon kemudian menghampiri Jecy.
"Apa kau ingin ikut? Tapi, sekarang lebih baik kita makan terlebih dahulu," sambung pria itu.
Tentu Jecy ingin sekali ikut, tapi dia harus bekerja. Dia masih bekerja di restoran, biarpun tinggal bersama Leon, dia tidak boleh terlalu berpangku tangan. Jecy tidak akan mengatakannya pada Leon. Toh tidak semua hal dia lakukan harus diketahui oleh pria itu.
Leon menempati kursi utama, sedangkan Jecy berada di sampingnya dengan Liam menempati sisi kirinya. Mereka makan cukup tenang. Hanya beberapa kali suara si bocah kecil yang berkata heboh mengenai hal-hal menggemaskan, seperti apakah sekolah adalah tempat yang seru atau pertanyaan lainnya yang membuat Liam semakin berbinar mendengar jawaban dari daddy-nya.
"Liam sudah berjanji pada mommy untuk menjadi pintar agar mommy bangga," celoteh Liam yang memiliki ingatan yang kuat, "Tapi, apakah sekolah seperti di daycare?"
"Tentu berbeda, Boy. Di sekolah kau akan mendapat lebih banyak teman," balas Leon.
"Termasuk banyak mainan?" tanya Liam bersemangat.
Senyum Leon terbentuk lebar. Dia mengangguk. Menepuk-nepuk halus ujung kepala putranya, "Kau akan menyukainya, daddy jamin itu."
Dua interaksi itu tak luput dari pandangan Jecy. Setengah mengikhlaskan, setengahnya lagi berisi kecemburuan ketika Liam mulai dekat dengan daddy-nya. Ini kali pertama dia merasa Liam lebih menyukai orang lain dibanding dirinya. Hal yang wajar Jecy rasakan, karena sejak dulu semua perhatiannya hanya akan dia berikan pada anaknya, namun, kini telah hadir sosok sang ayah yang akan memberikan Liam sesuatu yang tidak bisa dia berikan.
Anak lelakinya cenderung menjadi dekat dengan ayah kandungnya. Nasi yang ditelan Jecy tiba-tiba kehilangan rasa. Hambar.
"Di sana nanti akan banyak anak seusia dirimu yang diantar bersama ke dua orang tuanya. Apakah kau menginginkannya?" info Leon sesekali melirik Jecy.
Liam menyahut cepat. Responnya akan berlebihan bila mengenai sesuatu yang baru, "Ya, Dad. Aku ingin sekali daddy dan mommy mengantarku."
Leon mengirim pesan mata ke arah Jecy. Wanita itu tidak punya alasan untuk menghindarinya, "Kalau begitu coba tanyakan ke mommy, bisakah dia ikut?"
Liam masih terlalu polos. Dia mengikuti apa yang daddy-nya arahkan, "Mom, bisakah kau ikut? Kita akan pergi bersama. Mommy, daddy, dan Liam."
Mengigit bibir bawah tipis, Jecy menganggukkan kepala walau hanya setengah hati. Kelemahannya adalah Liam, dan Leon telak mengetahuinya.
__ADS_1
_To Be Continued_