
Perjalanan menuju sekolah Liam tidak membutuhkan waktu yang lama. Jecy berakhir ikut mengantar putranya. Lagi pula dia masih memiliki waktu sampai pukul sepuluh nanti.
"Mommy! Lihat! Rumahnya besar sekali!" pekik Liam senang melihat bangunan besar di depan matanya dengan pandangan berbinar. Kaki kecilnya sedikit berlari namun tidak sampai terlalu cepat karena Leon menggenggam tangannya. Di sebelahnya juga ada Jecy yang membawakan bekal makanan.
"Bukan rumah, Liam. Tapi, bangunan sekolah," sahut Jecy tertawa bersama dengan Leon.
"Perhatikan langkahmu, Boy. Kau bisa jatuh bila kau berlari terlalu semangat." Melihat anaknya sangat antusias tentu membuat Leon semakin mengeratkan pegangannya, "Kau tidak akan melewatkan apapun, jadi jangan terburu-buru."
"Baik, Daddy."
Setelah mengurus beberapa persyaratan administrasi, baik Leon maupun Jecy telah sampai di batas untuk mengantar anak mereka.
Jecy berjongkok menyamai tinggi putranya. Dia melihat si bocah kecil semakin tumbuh dewasa, entah kenapa ia merasa Liam tumbuh terlalu cepat. Rasanya dia masih mengingat bagaimana awal bayi Liam dia gendong dan kini putranya sudah bisa berjalan sendiri.
Sembilan bulan dia membawanya seorang diri. Dia tidak akan melupakan kelahiran Liam. Waktu itu bobot bayinya terlalu besar untuk dilahirkan normal. Pendarahan hebat tidak bisa dihindarkan, operasi cesar menjadi pilihan. Tapi tidak semudah itu, Jecy terlalu banyak kehilangan darah, dokter sampai memberikannya dua pilihan berat. Dia yang mati atau merelakan jika bayi mungilnya yang tidak selamat.
Jecy sangat bersyukur, jagoan kecilnya yang tampan dapat bertahan hidup, mulai tumbuh sehat dan belajar perbedaan dengan begitu cepat, tentang apa yang tidak dia miliki namun dimiliki anak lain. Liam menanyai Leon, dia bingung menjawab apa. Bocah kecil itu ingin melihat ayahnya, tapi dia tidak bisa menunjukkannya. Jecy hanya bisa berkata jika ayah putranya telah meninggal. Namun, pria yang sudah dianggap meninggal itu datang menawarkan sebuah pernikahan──demi memberikan orang tua lengkap untuk Liam.
"Jangan nakal, Sayang. Hormati gurumu dan carilah teman yang baik," Jecy memeluk Liam, "Ketika pulang tunggu mommy atau daddy, jangan percaya pada orang asing. Paham."
Liam mengangguk. Pesan-pesan seperti itu sudah sering mommy-nya berikan padanya.
"Ini bekal untukmu. Kau bisa memakannya bersama teman-teman barumu. Baiklah, kau bisa masuk ke dalam. Guru sudah menunggumu," sambung Jecy masih wanti-wanti.
Wanita itu tidak paham kenapa ia ingin menangis ketika melihat tubuh mungil Liam sudah masuk ke dalam kelas. Ini hanya sesi mengantar ke sekolah namun dia merasa terharu dan melankolis.
__ADS_1
"Bukankah kau terlihat sedikit berlebihan?" Leon memberikan saputangannya pada Jecy, "Liam hanya sekolah dan kau sudah menangis seperti ini, bagaimana bila nanti anak kita menikah. Kau pasti akan menangis seperti anak kecil," ia terkekeh melihat tingkah Jecy. Bahkan di umurnya yang sudah dewasa pun wanita itu masih memunculkan sifat menggelikan seperti ini.
"Kau takkan akan paham," Jecy membersihkan air matanya dengan saputangan milik Leon, matanya pasti memerah, "Bila kau melihatnya sedari kecil kau akan tahu perasaanku. Tapi kau tidak."
Nada suaranya sedikit ketus namun dia tidak bermaksud untuk melukai perasaan Leon.
"Ma… maaf," ucap Jecy merasa bersalah.
Leon tersenyum miring, "Bukan masalah. Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kau tahu..."
Pandangan bola mata hazel mengunci penglihatan Jecy. Dia menyukai bila melihat seluruh roman wanita itu secara lekat.
"...terima kasih telah melahirkan dan merawat Liam selama ini. Aku mungkin masih jauh dari dirimu, tapi sebisa mungkin sedikit demi sedikit aku akan menghapus jarak itu. Tidak hanya dari Liam melainkan juga dirimu. Jadi, persiapkan dirimu baik-baik."
Elusan lembut diterima Jecy dari tangan kekar Leon. Pria itu terus mengucapkan hal-hal yang dapat memicu runtuhnya pertahanannya. Dia seolah punya sihir untuk mengatur pompa jantungnya.
"Aku akan naik bus," sahutan cepat Jecy memangkas ucapan Leon.
Kedua tangan Leon terlipat di depan dada, "Kenapa? Kau tidak ingin kita berdua saja? kau masih takut padaku?"
"Tidak, namun, bila aku bersamamu, suasananya akan terasa canggung," jawab Jecy melihat mata hazel yang meruncing tajam.
"Kenapa harus canggung? Sudah kubilang untuk persiapkan dirimu baik-baik. Jangan buat aku menarikmu untuk masuk ke mobil, Jecy," ujar Leon diakhiri ancaman, "Itu bukan sesuatu yang bagus untuk dilihat orang lain."
"Fine, aku berencana mempersiapkan diri. Tapi, aku bukan anak kecil yang akan tersesat bila berjalan pulang sendiri. Dan jangan menyulitkan orang lain hanya untuk memenuhi ambisimu," Jecy tidak kalah dalam membalas.
__ADS_1
Semuanya seolah mudah bagi Leon. Jecy berdecak. Kenapa dia harus berurusan dengan orang yang arogan seperti ini?
"Kau menyetujui bahwa kita tidak harus mencampuri urusan pribadi. Itu perjanjian awal kita. Hentikan tindakan posesifmu seolah aku adalah milikmu. Kau tidak ber-hak mengatur hidupku. Kerjakan milikmu sendiri dan biarkan aku menjalani hidupku sendiri," sambungnya.
Ah, sial, bolehkah Leon menyesali perkataannya yang memberi kebebasan pada Jecy? Seringai pria itu muncul. Dia tertawa setengah mendesis, "Semakin aku mengenalmu kau ternyata cukup keras kepala. Aku lebih menyukai dirimu yang pasrah dan tanpa perlawanan seperti lima tahun lalu. Defenless. Sekarang kau sangat gigih membangun dinding."
Sebuah dinding yang telah dia bentuk untuk orang lain. Jecy tidak mungkin membiarkannya hancur seakan itu bukan apa-apa. Saat ini alarm di kepala wanita itu, mengingatkannya agar tidak lebih dekat dari ini. Karena Jecy merasa dinding itu seperti gemetar dan melemah di depan Leon.
"Apa dirimu baru sadar bahwa kau berharap pada orang yang salah?" Jecy melempar tawa sinis. Kenapa pria itu seolah bertingkah bahwa dialah yang jahat di sini? "Omong kosong. Tidak ada yang salah bersikap anti pada orang yang tidak disukai."
Jecy menganggap semua perkataan Leon memuakkan. Kebaikan seolah tidak pernah hinggap di lidahnya.
"Baiklah."
Telinga Jecy tidak salah mendengar ketika pria berambut hitam itu akhirnya menyerah. Biasanya dia tetap memaksa mempertahankan gagasannya. Leon bukan seperti pihak penerima. Dia dominan, menguasai dan mengatur segala hal sesuai keinginannya.
"Segera telepon aku ketika sampai di restoran. Jangan buat aku mengerahkan semua yang aku miliki hanya untuk membuatmu menghubungiku," Leon benar-benar meninggalkan Jecy setelah memberikan pesan yang terdengar seperti ancaman.
"Kenapa aku harus meneleponmu? Bahkan kita bukan sepasang kekasih!" protes Jecy.
Melihat mobil Leon berlalu, wanita itu melepas wajah masamnya. Tangannya meraih detakan jantung di dada kiri, "Kenapa kau terus berdetak keras seperti ini?"
Jecy mengakui bahwa ucapannya selalu kasar dan cenderung melukai, biasanya dia tidak keras kepala seperti ini, dia hanya tidak bisa mengontrol apa yang harus diucapkan ketika berdekatan dengan Leon.
Langkahnya pelan meninggalkan tempat. Langit di atas kepalanya sedikit berawan. Dia tidak boleh ragu dalam melangkah. Sedikit lelah memang. Berjalan dengan membawa hati yang telah berubah. Sekali saja, dia ingin meletakkan lukanya, menyandarkan beban hatinya. Kembali menjadi Jecy yang dulu sebelum sang ibu meninggal.
__ADS_1
Tapi ketika dia menoleh ke belakang, dia hanya menemukan dirinya jatuh tanpa ada siapapun yang menolong.
_To Be Continued_