
Leon menarik tangan Jecy yang terhuyung hendak ambruk ke samping, membuat wanita itu berada di pelukannya.
"Panas, air... ugh, kenapa ini?" desah Jecy, entah kenapa dia merasa kenikmatan ketika disentuh Leon.
"Jecy?" bisik Leon menegang kening dan leher Jecy. Dipandanginya wajah yang masih tidak biasa di pelukannya.
"Panas..."
Jecy terus gelisah, menggesekkan kepalanya di dada Leon yang menahan tubuhnya, semakin menikmati sentuhan pria itu dan menginginkan lagi dan lagi.
"Ow, kau seperti cacing kepanasan. Sepertinya para bajingan itu memberikanmu obat perangsang," ucap Leon tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Jecy, yang makin tidak bisa diam di pelukannya.
"To... tolong," lirih Jecy sambil memegangi jas bagian depan Leon. Kemudian ia limbung, tidak sadarkan diri. Dia sudah benar-benar kehilangan fokus akibat efek dosis besar dari obat yang masuk ke dalam tubuhnya.
Leon langsung memeluk erat tubuh tidak berdaya itu. Bagaimanapun dirinya adalah pria normal yang akan terangsang pada kondisi Jecy saat ini, apalagi wanita itu satu-satunya yang dapat membuatnya ereksi. Salah-salah dia bisa menerkam Jecy detik ini juga. Namun, Leon harus bisa mengendalikan diri. Jika tidak mau dibenci dan berakhir membuat Jecy semakin pergi menjauh.
"Tuan."
Leon melempar pandangan ke belakang guna merespon Marvin yang datang mengikuti. Juga terlihat tiga pria yang tadi dia pukuli telah diringkus oleh pengawalnya.
Melihat tiga pria itu lagi, membuat Leon mengetatkan rahang. Matanya memerah dengan napas memburu kasar. Dadanya kembang kempis karena emosi kembali meledak.
Awalnya, Leon berpikir mereka hanya para preman yang menganggu seorang wanita untuk kesenangan, tapi nyatanya lebih dari itu. Ini seperti sudah direncanakan, sebab mereka sengaja mencekoki Jecy dengan obat perangsang.
"Saya akan mengurus tiga pria ini, Tuan," ujar Marvin prakarsa.
"Ya, kau harus siksa mereka sampai membuka mulut. Siapapun yang menyuruh mereka, akan kuhabisi tanpa tersisa," Leon menekan setiap kata-katanya.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Leon mengangkat tubuh Jecy. Membuka pintu mobil dan menidurkan wanita itu di kursi belakang, lalu melepas jas abu-abu tua yang ia kenakan untuk menyelimuti tubuh sintal itu.
Sesaat setelah menutup kembali pintu mobil, Nyonya Margaret datang menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
"Tuan, Tuan, Tuan..." panggil si wanita pra-pensiun berkali-kali, menginterupsi Leon yang hendak masuk ke kursi pengemudi, "Tunggu, Tuan Leon. Mau kau bawa ke mana Jecy?"
Mata hazel memicing tajam. Dengan dingin, ia berkata, "Apa pedulimu?"
"Dia karyawanku, kau tidak bisa membawanya begitu saja."
"Apa kau menginginkannya untuk kembali bekerja di saat kondisinya yang seperti itu?"
Nyonya Margaret menggeleng cepat, "Tidak, aku sudah menutup restoran."
"Hey, Nenek Tua. Seharusnya kau malu karena tidak bisa melindungi karyawanmu dengan baik. Kau tadi ke mana saja? Jika aku tidak ada, mungkin Jecy sudah──tck," Leon berdecak dan membuang napas kasar. Ia tidak ingin membayangkan kemungkinan buruk itu.
Margaret terdiam. Bukan tidak melindungi karyawannya. Ia saja baru datang, dan langsung dibuat terkejut ketika tahu kalau Jecy diserang tiga orang mafia. Di saat pegawai restoran dan pelanggan lain takut menolong meski mendengar teriakannya, beruntung ada Tuan Januartha yang menolong wanita itu.
Tidak mau terus menggubris wanita tua itu, Leon masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area parkir restoran.
Leon berpikir, akan lebih baik jika dia menggusur Vendoria Restaurant sebagai pelampiasan amarah. Namun, wanitanya pasti tidak akan menyukai tindakan tersebut. Lalu diliriknya kaca spion tengah untuk melihat keadaan Jecy yang tidur dengan deru napas berat dan wajah memerah.
**
"Sepertinya meminum stimulasi berdosis besar, yang memaksa peningkatan efektivitasnya, ini bisa berlangsung cukup lama. Di mana dia mendapatkannya? itu dianggap obat terlarang," ucap dokter pribadi yang dipanggil Leon datang ke penthouses miliknya, untuk memeriksa kondisi Jecy.
Dokter itu sudah mengobati luka pada dahi dan leher Jecy yang sedang terbaring di ranjang, dan kini terlihat sedang menyuntik tepat di lekukan sikut wanita itu.
"Pertama-tama saya akan menggunakan obat penenang untuk mengurangi efek obat yang dikonsumsi. Sulit untuk sepenuhnya menghapus efeknya, terlebih tidak tahu berapa dosis yang disarankan. Saya tidak tahu akan berapa lama efeknya. Setidaknya, itu akan menahan satu atau dua jam."
__ADS_1
Kening Leon berkerut. Dia mendengar semua perkataan sang dokter dengan seksama. Dielusnya pipi mulus dan lembut, putih bersemu seperti bunga Magnolia. Jecy hanya bergeming dan masih tertidur lelap sekali.
"Menurut kondisi fisiknya, dia bisa bermasalah dengan pencernaannya nanti, tolong berikan dia bubur dan sesuatu yang mudah dicerna," lanjut dokter tentang eksplanasi terakhirnya.
Leon mengangguk mengerti, "Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu."
"Tidak apa saya pergi sekarang."
Sepeninggal sang dokter, Leon kembali melihat wajah tertidur Jecy dengan ekspresi kelelahan, membuatnya iba dan geram pada saat bersamaan.
Leon merebahkan diri di samping si putri tidur. Kening Jecy ia kecup pelan.
"Tidurlah. Aku di sini, menjagamu. Aku ingin berbicara denganmu ketika kau sadar."
Dia melihat safety shoes masih dipakai. Dilepaskannya sepatu itu dari kaki Jecy dan melemparkannya di bawah ranjang. Tangannya kini menutupi tubuh Jecy agar hangat. Kecupan mesra ia curi di bibir yang terasa dingin.
"Aku akan cari tahu siapa yang memberimu afrodisiak, dan ketika aku menemukan orangnya, aku akan membuatnya menyesal telah dilahirkan di muka bumi, karena dia akan sangat menderita," desis Leon tidak terima Jecy yang sudah diklaim sebagai wanitanya dicelaki begini.
"Apa kau tahu? Kau satu-satunya wanita yang bisa membuat hatiku berdebar hebat. Kau tahu kenapa aku selalu memikirkanmu setiap waktu?" lanjutnya tiba-tiba mencurahkan perasaan. Dia berbicara begitu karena yakin Jecy tidak akan mendengar apa yang diucapkan.
Jemari Leon membelai kepala sang wanita yang sedang tertidur. Helaian cokelat muda yang jatuh di wajah, ia kembalikan ke belakang telinga. Wajah Jecy ia amati dengan seksama. Sungguh cantik, sungguh polos, dan sungguh membuat tergila-gila.
"Aku marah, karena aku tidak mau tubuh cantikmu dijamah lelaki lain selain aku. Biarkan aku yang jadi pertama untukmu, sekaligus yang terakhir. Bisakah begitu, Jecy? Bisakah kau dan anak kita menerimaku?"
Leon menghela napas panjang. Bisa-bisanya dia mengutarakan sisi terapuh dirinya pada orang yang sedang tidur. Menceritakan apa yang dia rasakan. Mulai mengakui bahwa dia memang mencintai Jecy.
Ya, sang CEO dengan segala tempramen buruk, ternyata masih bisa merasakan cinta. Dulu ia berpikir kalau mencintai seseorang dengan segenap hati dan jiwa adalah sesuatu yang memalukan, ia tidak ingin direpotkan dengan bagaimana membedakan cinta murni dari cinta palsu, tidak ketika dia sangat suka kebebasan.
"Kalau aku jatuh cinta padamu, apakah kamu akan merasa hal yang sama? Bisakah aku mendapat cintamu?" gumam Leon mengecup kembali bibir Jecy, lalu membiarkannya tertidur.
__ADS_1
_To Be Continued_