SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
PERGI KE INDONESIA


__ADS_3

Saat ini Jecy sedang berada di konter check in. Dia menunjukan semua berkas yang dia bawa ke petugas check in. Mulai dari tanda pengenal, tiket, paspor, dan berkas lainnya yang dibutuhkan.


"Tolong penerbangan selanjutnya ke Indonesia!" ucap Jecy pada petugas yang melayaninya.


"Penerbangan ke Indonesia? Nomor penerbangan KA193. Namun, akan singgah di──"


"Aku tidak masalah! Tolong daftarkan aku pada penerbangan selanjutnya!"


Jecy tidak ingin mendengar penjelasan si petugas lebih lanjut. Terlihat sekali jika dia sedang terburu-buru, seperti sedang dikejar sesuatu.


"Huh? Oke, Miss..." sahut petugas itu.


Setelah mendapatkan boarding pass, wanita bermata amber itu masuk ke ruang tunggu dan menyimak setiap panggilan keberangkatan untuk masing-masing pesawat.


Sementara itu, ketika sedang dalam perjalanan menuju bandara, Leon terjebak macet yang membuat mobilnya tidak bisa bergerak.


"Ada apa dengan kemacetan ini?" decak pria itu kesal, sambil menggerakkan kaki tidak sabaran. Dia menahan segala sumpah serapah yang ingin disemburkan.


"Sepertinya ada yang menghalangi di depan, kita harus putar balik," ungkap Marvin yang duduk di kursi pengemudi.


"Lewati itu!" seru Leon menolak putar balik.


Siapa yang berani menghalangi jalannya? Dia pasti akan menandai orang itu! Tidak tahukah jika dirinya sedang terburu-buru?


"Baik, Tuan," patuh Marvin tidak mau memperburuk suasana hati bos-nya yang mudah meledak-ledak.


"Sial!"


Leon hanya bisa mengumpat, kesabarannya seperti selebar tisu yang dibagi tujuh bagian.


**


"Ini adalah pengumuman pra boarding untuk penerbangan KA193 ke Indonesia, boarding akan dimulai dalam sepuluh menit. Dimohon untuk para penumpang dengan tujuan Indonesia segera bersiap."


Pengumuman bahwa pesawat tujuan Indonesia sudah akan boarding, sehingga membuat Jecy memilih bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kaca besar yang menjadi penghalang antara dirinya dan pesawat yang akan membawanya ke negera tujuannya.


Ketika Jecy menatap pesawat itu, dia dapat melihat dua pilot yang akan membawanya meninggalkan negara ini. Kemudian tatapannya beralih pada langit berwarna biru. Siang ini begitu cerah dan tidak berawan, dia berharap penerbangannya baik-baik saja.


Ketika badan Jecy berbalik memunggungi langit dari tempat kelahirannya, dia merasa berat untuk meninggalkan makam sang ibu. Meski begitu, dia harus meninggalkan nasib buruk yang terus mengejarnya. Dengan cara pergi dari negara ini.


Tangannya bergerak mengelus perut yang masih rata, lalu menarik napas dengan mata yang tertutup. Ketika Jecy menghembuskan napas, hatinya bertekad bahwa dia akan menjalani hidup yang lebih baik dengan indentitas barunya.


Kemudian wanita itu segera kembali menuju boarding gate dengan menyeret kopernya, dan melakukan pemeriksaan tiket.

__ADS_1


Di sisi lain, Leon dan para pengawalnya telah sampai di bandara.


"Temukan dia!" perintah Leon.


"Baik, Tuan."


Para pengawal mulai memasuki bandara dan menyebar untuk mencari wanita berambut cokelat dengan mata amber. Membuat semua orang yang berada di pelabuhan udara itu bertanya-tanya ada apa.


Pria-pria kekar dan berjas hitam itu tergesa-gesa mencari ke semua bagian bandara. Namun, Jecy belum juga ditemukan. Hingga Marvin mendapatkan panggilan telepon dari salah satunya.


"Baru saja?" ucap pria itu sesudah mendengar informasi yang diberikan rekannya. Lalu dia langsung menghampiri Leon untuk melapor, "Tuan!"


"Apa kau menemukannya?" tanya Leon dengan kedua alis yang terangkat.


"Er... penerbangannya sudah berangkat," lapor Marvin agak ragu, takut kalau bos-nya mengamuk.


"Apa?"


Oh, itu bukan sesuatu yang Leon ingin dengar. Jadi tikus perempuan miliknya benar-benar berhasil melarikan diri?


Dan benar saja, terlihat Jecy yang sudah memasuki kabin pesawat, duduk di pojok sambil menikmati jus jeruk. Dia menatap keluar jendela.


"...Tuan dan Nyonya, tolong pastikan kembali sabuk pengaman anda telah digunakan dengan benar. Dilarang merokok di area pesawat termasuk WC. Kami harap anda menikmati penerbangan ini."


**


Tidak lama terdengar suara pesawat lepas landas, dan sudah pasti itu pesawat yang ditumpangi Jecy.


"Hahaha, ini pertama kalinya."


Lewat kaca yang besar, Leon melihat pesawat itu dengan tertawa lepas.


"Tuan?" Marvin mencoba memanggil, dia merasa aneh dengan reaksi Leon.


Bukankah lebih buruk? Apa Leon menjadi gila karena wanitanya berhasil melarikan diri? Marvin benar-benar tidak mengerti, akan lebih baik kalo bos-nya mengamuk seperti biasa.


"Ini pertama kalinya aku kehilangan sesuatu yang kuinginkan," gumam Leon dengan mata hazel yang berbinar.


**


Hari berganti hari, siang berganti malam, senin berganti selasa dan begitu juga seterusnya. Roda waktu terus berputar.


Terlihat wanita berambut cokelat muda yang menggoyang-goyangkan wajan sesekali, hingga api membesar di bagian wajan tersebut. Tidak berhenti di situ, dia meletakkan masakannya di piring.

__ADS_1


Sudah hampir lima tahun Jecy menjadi seorang chef di Vendoria Restaurant. Owner restauran ini──Margaret Doria, tidak salah mendapatkan dia. Dia adanya chef terbaik. Hasil masakannya luar biasa enak.


Ya, wanita itu berhasil memulai hidup di Indonesia. Keputusannya saat itu benar-benar membuat hidup Jecy jauh lebih baik.


Sepuluh menit lagi, maka Jecy akan benar-benar terlambat. Dia melirik pada jarum jam yang menunjukkan waktu makan siang telah hampir berakhir.


"Kau masih di sini? Anakmu akan cemberut seharian bila ibunya tidak muncul sekadar menemaninya makan."


Bersama dengan perkataan itu, Nyonya Margaret mendorong tubuhnya, tidak mempedulikan raut tidak enak Jecy yang merasa tidak enak dengan karyawan lainnya. Sebab, dia selalu diberikan ijin untuk pergi ke seberang sana untuk melihat anaknya. Padahal kondisi restauran semakin ramai di siang hari.


"Kupikir hari ini aku tidak akan──"


"Cukup, Jecy. Lepaskan chef jacketmu dan berlarilah ke sana. Bocah itu begitu mengerikan ketika merajuk."


Margaret tidak berbohong. Dia sudah menganggap anak yang menjadi anak kandung Jecy seperti cucunya sendiri dan tahu seluk-beluk sifat bocah empat tahun itu.


Anak itu akan menolak makan jika ibunya tidak ada. Kekanakan untuk bocah yang selalu ingin dipanggil dewasa.


"Ya, kau pergilah, Jecy!"


"Serahkan kitchen ini pada kami!"


"Kau tidak perlu khawatir..."


Bahkan rekan kerjanya yang lain juga menyuruhnya pergi. Restauran ini memiliki lima karyawan termasuk Jecy, mereka begitu pengertian dan baik.


"Thanks, kalian yang terbaik," Jecy berucap tulus, sedangkan yang diberikan ucapan terima kasih hanya mendengus pura-pura mengabaikan, "Setidaknya terima kasih telah memperhatikan Liam."


"Sudah sana cepat! Bilang pada anakmu bila bekal makan siangnya masih belum habis, aku tidak akan membelikan gulali lagi!" seru Nyonya Margaret diakhiri tawa kecil.


Mata Jecy membulat, tidak jadi melepas chef jacket yang dikenakannya, "Jadi anda yang membuat gigi susu anakku berlubang?"


Jelas sudah kenapa Liam kadang mengeluh sakit gigi. Nyonya Margret berlebihan memanjakan anaknya, dan itu membuat Jecy merasa kesal, tentu saja.


Salah bicara, Margaret hanya nyengir merasa tidak berdosa, "Salahkan mata anakmu yang bisa menghipnotis wanita tua ini. Dia benar-benar monster kecil ketika merajuk, untunglah aku memiliki banyak uang."


Mendengar itu, Jecy menggelengkan kepala. Lalu kembali bersiap.


"Aku akan kembali sebelum jam tiga, Nyonya Margaret!"


Menyambar tas selempang biru muda pada pintu loker, dia berlari melewati pintu belakang untuk segera ke tempat penitipan anak.


Jecy akan pergi kepada putra tercintanya, Liam Camillo.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2