SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
PERKELAHIAN


__ADS_3

Beberapa kali Leon meneguk kopi Americano. Dia bersandar di punggung kursi empuknya, mata hazel melirik ponsel yang tergeletak di atas meja. Tidak ada panggilan masuk dari Jecy. terakhir dia mendapat kabar dari orang suruhannya mengatakan bahwa Jecy menjemput Liam. Wanita itu telah mengurangi waktu bekerjanya.


Dia ingin pula menjemput anaknya, namun, sekarang sedang ada rapat besar membahas kerja sama antar beberapa perusahaan.


Selesai rapat, Leon kembali kembali ke ruang kerjanya. Dia sedikit kaget ketika membuka pintu, dan sudah mendapati Leonard duduk di sofa ruangan tersebut. Saudara kembarnya benar-benar datang mencarinya. Lihat saja, raut wajah yang terlihat menahan amarah itu.


"Apa wanita sialan itu mengadu padamu?" tanya Leon menatap adiknya tajam, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.


"Kau yang sialan!" maki Leonard bangkit dari duduk, "Apa yang telah kau lakukan pada Kirana? Tidak seharusnya kau menghancurkan hidupnya!"


"Apa salahnya aku membalas orang jahat yang telah menganggu wanitaku?" tawa Leon sinis terdengar.


"Bangsat!" meledak sudah amarah Leonard. Ia melangkah tegap menuju Leon. Melihat sang kakak yang bersikap seperti itu membuat darahnya mendidih.


Leonard menubruk Leon dan mencengkram kerah bajunya.


"Kaulah yang memicu Kirana melakukan hal tersebut! Kau tidak akan bisa membayangkan perasaannya, Leon. Pria yang dia cintai malah memilih wanita lain. Katakan apa yang kurang darinya? Apa dia kurang cantik? Apa penantiannya untuk menunggumu tidak berarti apapun? Apa yang salah? Mengapa kau mengabaikannya dan justru memiliki seorang wanita murahan! Katakan!" desis Leonard bersiap mengajar wajah yang mirip dengannya.


Kesal, sedih, iba, marah bercampur menjadi satu. Pria itu ingin sekali menghajar Leon yang selalu menyakiti wanita pujaannya, mengabaikan perasaan Kirana yang selama ini masih mencintainya.


Satu pukulan mendarat di rahang tegas itu. Ketika Leonard hendak melayangkan pukulan yang kedua kalinya, Leon mencengkeram tangan pria itu. Lalu membalas dengan tendangan di perut.


"Sekali lagi kau menghina Jecy sebagai wanita murahan, aku tidak segan padamu!" dengkus Leon dengan suara pelan namun mematikan, "Apa yang kau tahu tentang cinta? Aku merasa malu karena memiliki saudara kembar yang sangat bodoh sepertimu! Kirana hanya mengincar harta keluarga kita! Coba kau buka lebar-lebar matamu itu!"


Terbatuk-batuk sesaat. Leonard memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Dia melihat Leon yang tidak kesakitan sama sekali meski mendapatkan pukulan tepat di rahang. Leonard yang memiliki daya tahan tubuh lemah memang tidak sebanding dengan Leon.


"Kau salah! Aku tahu bagaimana kerasnya perjuangan Kirana demi mencairkan hatimu yang membeku. Aku lah yang selalu menghiburnya ketika dia mencurahkan kesedihannya setiap kali terluka olehmu. Bahkan aku sampai rela menjadi tempat pelarian sesaat!"

__ADS_1


Leonard mencintai Kirana. Sangat, sangat mencintainya. Yang diinginkannya adalah kebahagiaan wanita itu, meskipun dia harus melihat cintanya bersanding dengan saudara kembarnya. Ia hanya ingin melihat senyum bahagia di wanita cantik itu, bukan air mata ketika hidupnya dihancurkan Leon.


Apapun yang terjadi kebahagiaan Kirana adalah nomer satu, jika sang wanita merasa bahagia ketika Leon mencintainya maka dengan sekuat tenaga akan membantunya merebut hati Leon.


Sementara Leon yang sudah paham kalau cinta dapat membuat seseorang menjadi gila hanya tertawa terbahak. Ternyata saudara kembarnya tidak jauh berbeda dengannya, hanya saja Leonard mencintai wanita yang salah.


"Sialan!" amuk Leonard karena merasa diremehkan oleh suara tawa Leon.


Leonard mendorong kakaknya hingga terjengkang ke belakang. Menerkam dan segera melancarkan pukulan. Amarahnya telah meledak.


Kini Leon berada di atas lantai, ia menutupi wajahnya karena sang adik terus meninju. Sepertinya setelah ini wajah pria itu akan dipenuhi luka lecet. Tentu saja dia tidak pasrah begitu saja.


Keduanya saling pukul dan berguling. Dua pangeran kembar Januartha menggila di atas lantai. Mau sampai kapan?


Brak! Terdengar suara nyaring dari pintu yang terbuka paksa.


"Apa-apaan kalian? Berhenti berkelahi! Seperti anak lima tahun saja berkelahi begitu!" teriak seorang pria paruh baya yang muncul dari balik daun pintu.


Kedua pria itu berhenti saling menyerang, mereka berdiri dengan wajah yang sama-sama babak belur. Tidak ada raut penyesalan sama sekali, namun, amarah masih terlihat jelas. Ryo memijit pelipis melihatnya. Jika istrinya tahu, pasti akan sedih melihat kedua putra kesayangannya berkelahi seakan ingin saling membunuh.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya Ryo menatap bergantian.


"Leonard yang datang tanpa diundang! Entah apa yang dipikirkannya sampai bertindak sejauh ini demi si sialan Kirana!" Leon menjelaskan bahwa adiknya yang memulai duluan.


"Kau tidak ingin wanitamu dihina, makan berhentilah menghina Kirana!" sentak Leonard jengkel.


"Ternyata hanya masalah perempuan," batin Ryo mencibir.

__ADS_1


"Jelas karena Jecy berbeda, dia adalah wanita tangguh yang telah melahirkan anakku! Sedangkan Kirana hanya wanita busuk yang gila harta!"


"Kau dan kelakuanmu yang paling busuk, Leon! Kau..."


Leonard terdiam tidak melanjutkan perkataannya. Sama halnya dengan Ryo yang melotot, dia terbatuk merasa tenggorokannya tersedak ludah. Keduanya terkejut.


"Ba-barusan kau bilang apa? Anak!"


Dua pria itu baru mengetahui fakta bahwa Leon memilki seorang anak dengan wanita yang bernama Jecy.


Ah, benar. Memang sudah saatnya Leon memperkenalkan Jecy dan Liam kepada keluarganya.


**


Leon kembali ke penthouses. Sebenarnya dia tidak ingin kembali ke penthouses yang ditempati Jecy dan Liam, karena keadaan wajahnya yang babak belur. Namun, dia rindu pada mereka.


Dia jadi penasaran bagaimana reaksi Jecy, dia tidak tahu bagaimana wanita itu akan bereaksi. Apakah dia akan khawatir? Apa ketakutan? Apapun itu, Leon ingin bertemu dengannya. Setidaknya dia harus senang karena mereka sudah tinggal bersama. Dia akan melakukan apapun supaya wanita itu memperhatikannya.


Berdiri di samping pintu mobil dan melihat pantulan wajahnya di kaca spion, "Aku harus ngapain, ya? Supaya kelihatan kalau aku ini lagi kesakitan? Harusnya tadi aku tidak meminta Marvin untuk mengobati lukaku..." batinnya.


Memegang rambut hitamnya yang tertata rapi dan membuatnya agak berantakan. Leon berpikir harus latihan dulu agar terlihat sakit. Dia membuat berbagai ekspresi yang terlihat menyedihkan.


"Ibu, paman itu bertingkah aneh."


"Hush! Jangan dilihat."


Leon langsung menghentikan tingkah konyolnya ketika mendengar perkataan ibu dan anak yang lewat di depan mobilnya. Dia jadi merasa malu sendiri.

__ADS_1


"Cukup, ini sudah berlebihan," batin Leon mengelus tengkuknya yang memerah, "Mana mungkin hal begini menarik perhatian Jecy. Terserahlah yang penting usaha dulu. Pokoknya aku ingin dia sedikit khawatir padaku."


_To Be Continued_


__ADS_2