SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
GIGI LIAM COPOT


__ADS_3

Leon menatap geram pada lembar file yang dia baca. Seminggu dia menunggu dengan rasa ingin terpuaskan. Mengerahkan semua kesabaran untuk menunggu Jecy menenangkan diri.


"Sampai kapan lagi aku harus menunggu?" geram pria itu sampai meremas kertas hingga lusuh, lalu segera dia singkirkan. Ditatapnya kertas itu yang sudah berakhir mengenaskan di tempat sampah.


Bukankah itu seperti dirinya? Tidak dibutuhkan dan berakhir dibuang.


Tidak! Bagaimana bisa seonggok sampah disamakan dengan seorang Leon Victor Januartha yang mencatatkan diri sebagai pangeran abad ini. Sedikit berlebihan, namun nyatanya dia pantas mendapatkan julukan titisan dewa. Mungkin memang tidak ada kuda putih sebagai tunggangan, tapi siapa peduli? Membeli satu area pacuan balap kuda pun dia mumpuni.


Tujuh hari Leon tidak tenang, semuanya menjadi berantakan. Pikirannya dijungkir balikkan, apalagi hatinya. Bertanya-tanya apakah Jecy dan Liam baik-baik saja? Apakah mereka sudah tidak membencinya? Apakah mereka bisa tidur nyenyak? Makan apa mereka selama ini? Apa Jecy kembali bekerja di restoran?


Pria itu kelimpungan sampai tidak fokus, tidur tidak lebih dari tiga jam, semua pekerjaan mulai terabaikan. Selebihnya dia menghabiskan waktu untuk melamun. Leon benci menunggu tanpa kepastian, dia mengkhawatirkan keadaan Jecy dan Liam secara berlebihan.


Mungkin Jecy memang sudah dewasa, sudah terbiasa menjadi diri sendiri selama ini, tapi Leon tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Jecy juga seorang wanita biasa. Sedangkan anaknya cuma bocah empat tahun. Bagaimana jika mereka menjadi sasaran kejahatan?


Leon cemas. Sakit kepala akibat stress berat sampai harus mengkonsumsi obat penenang agar pikirannya tetap rasional. Waras.


Leon hanya ingin menjaga mereka berdua. Dia ingin menebus waktu yang telah dia lewatkan sebelumnya. Menjadi sosok ayah yang bisa dibanggakan anaknya, atau lebih-lebih bisa ikut menjaga Jecy pula. Jadi Jecy tidak boleh lagi lari darinya.


Diraihnya ganggang telepon, lalu menghubungi seseorang di seberang sana.


"Marvin, ke ruanganku sekarang!" perintahnya lalu menutup panggilan dengan cepat.


Knock, knock. Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar. Membuat Leon mendongakkan kepala. Detik kemudian, sang sekretaris muncul tepat di hadapannya.


Dia menatap Marvin sesaat, lalu menggerakkan kepalanya. Seolah meminta pria itu untuk duduk di hadapannya sekarang.


"Anda, butuh sesuatu?" tanya Marvin, dan sesaat dia terkejut mendapati kertas-kertas lusuh yang berceceran di lantai. Sudah dipastikan, sang CEO sedang kumat.


"Belikan aku sebuket bunga mawar putih dan satu kotak pastery."


**


Terlihat Liam yang sedang berjinjit di atas bangku, bocah kecil itu berusaha mencapai cermin untuk bisa melihat pantulan dirinya sendiri. Dia membuka mulut dan memperhatikan deret gigi susunya.


Merasa tidak nyaman bahkan giginya terasa sakit sejak kemarin. Namun, Liam hanya diam karena tidak ingin sang mommy khawatir. Kemudian disentuhnya gigi bagian bawah yang bergoyang.

__ADS_1


Hingga...


Gigi seri anak laki-laki itu copot dan terjatuh begitu saja.


Seketika wajah Liam memucat, ketakutan. Dia pun menangis sambil memegangi mulutnya.


"Hiks..."


**


Sudah seminggu setelah kepulangan Jecy dari pulau pribadi milik Leon, wanita itu kembali menjalani aktivitas sehari-harinya. Tidak ada yang berbeda. Dia masih bekerja di restoran milik Nyonya Margaret, Liam masih dia titipkan di daycare, dan dia masih pulang malam seperti biasanya.


Mau bagaimana lagi, Jecy butuh uang untuk menghidupi dunia kecilnya, terlebih juga harus menabung untuk biaya pendidikan Liam. Ya, sang putra kecilnya akan pergi ke TK sebentar lagi.


Tapi kali ini, wanita itu akan lebih menjaga kesehatan dan pola makannya. Dia tidak ingin kembali jatuh sakit.


"Liam Sayang, mommy pulang," ucap Jecy ketika membuka pintu kontrakan, tangannya terlihat menenteng sebuah bungkusan kecil.


Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit, hari ini dia berhasil tidak pulang larut malam. Liam pasti akan senang, apalagi Jecy membawa donat stroberi.


Liam menggeleng dengan mulut yang tertutup rapat.


"Mommy membelikan Liam donat stroberi," ucap Jecy menyerahkan bungkusan pada putranya. Karena merasa gerah dan tidak ingin tubuhnya yang terkontaminasi mempengaruhi Liam, dia ingin langsung membersihkan diri terlebih dahulu, "Mommy akan pergi mandi, jadi makanlah."


Liam menerima bungkusan itu, dan kembali mengangguk namun kali ini sedikit tersenyum, "Eum..."


Sesudah menerima jawaban dari sang buah hati, Jecy segera beranjak ke kamar mandi. Menanggalkan semua pakaiannya dan mulai membersihkan diri.


Di sela-sela aktivitas menggosok tubuhnya dengan sabun, wanita itu berpikir dengan sedikit cemas, "Ada apa ini? Kondisinya hari ini..."


Tidak ingin lama-lama, Jecy segera menyelesaikan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dengan terbalut handuk berwarna biru, lalu melangkah ke lemari untuk mengambil satu set piyama dan dengan cepat memakainya.


Setelahnya, Jecy mendekat pada Liam yang sedang duduk di lantai sambil menonton televisi. Tidak, tatapan putranya tidak tertuju ke televisi namun terlihat melamun.


Jecy ikut duduk di sebelah anak laki-lakinya, lalu melirik bungkusan donat yang tadi dia berikan tidak dibuka sama sekali. Dengan sudut bibir di tarik ke bawah, ibu muda itu bertanya lembut, "Sayang, kenapa kau tidak memakannya dan hanya memegang itu?"

__ADS_1


"Liam ingin makan bersama mommy," jawab Liam menoleh ke arah sang ibu, suaranya lirih seperti tidak bersemangat.


"Benarkah?" Jecy mengambil bungkusan donat itu dan membukanya, lalu mengambil satu donat untuknya dan satu lagi untuk Liam, "Nah, makanlah."


Tangan kecil Liam menerima donat stroberi pemberian sang mommy. Membawanya ke mulut dengan gerakan ragu-ragu, tapi donat itu tidak kunjung dia gigit. Hanya didiamkan saja di mulut.


Hal itu tidak luput dari mata amber milik Jecy.


"Kemarilah," ujarnya sesegera mungkin menarik Liam untuk duduk di pangkuannya.


Memandangi lekat wajah sang anak. Memastikan tidak ada apapun yang terluka di bagian itu. Memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, mengamati dengan seksama wajah tampan Liam.


"Kau tidak demam..." ucap Jecy menyentuh kening dan pipi gembul Liam, yang untungnya memiliki suhu normal, "Apa kau merasa sakit? Kalau ada yang sakit, cepat katakan pada mommy. Akan menjadi masalah besar kalau Liam membiarkannya terus sakit."


Namun, Liam tidak menjawab. Dia mengigit bibir dengan gemetar.


"Tidak apa-apa, jadi cepat katakan pada mommy," ujar Jecy menuntut jawaban.


Dan detik berikutnya, Liam tidak mampu menahan tangis. Anak lelaki itu menangis dengan air mata yang tumpah ruah, "Huaaaa, Mommy..."


Hati Jecy mencelos melihat anaknya menangis, bahkan sampai terisak-isak. Ini kedua kalinya Liam menangis kencang setelah kejadian seminggu yang lalu.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang sakit? Hmm? Katakan pada mommy," Jecy memeluk tubuh kecil itu dengan erat, merasa sangat takut dengan apa yang terjadi pada putranya, "Perutmu sakit?"


"Hiks..." Liam hanya terisak.


Dengan luar bisa khawatir, Jecy berpikir apa sangat menyakitkan sehingga Liam tidak dapat berbicara.


Kedua mata Jecy mulai berkaca-kaca, "Di mana? Di mana yang sakit?"


Dia harus membawa Liam ke rumah sakit...


"Gigi..." sahut Liam pada akhirnya.


"Gigi?"

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2