
"Siapa dirimu yang mencampuri urusanku?" desis Jecy melebarkan matanya, menatap marah, "Tidak usah pura-pura peduli!"
Berdecak lidah kasar, Leon lebih memilih bungkam. Jecy yang sekarang berani untuk berdebat dengannya. Benar-benar bukan Jecy lima tahu yang lalu, seorang perempuan lugu dan penurut yang bersedia tidur dengannya demi selembar cek kosong.
Salah besar jika beranggapan dia wanita tanpa keberanian!
"Kau ingin aku melemparmu keluar, begitu?" ucap Leon tidak sungguh-sungguh.
"Maka lakukan. Buang aku!" sahut Jecy menantang.
Leon menghela napas, kali ini ia mencoba lebih dewasa dalam menghadapi Jecy. Dia kembali berucap dengan suara rendah supaya tidak semakin memancing ketakutan wanita itu, "Sayangnya, saat ini kau sedang berada di pulau pribadiku, di satu-satunya vila di pulau ini. Kau tidak mungkin bisa ke mana-mana. Kecuali kalau kau ingin dibuang di tengah lautan."
Jecy melotot. Napasnya memburu dengan dada kembang kempis. Ketakutannya justru semakin terpancing. Mengira dirinya tengah diculik pria itu lagi, bahkan sampai membawanya ke pulau pribadi yang entah di mana.
"Dasar sinting! Kau pikir apa yang telah kau lakukan? Aku akan melaporkanmu pada polisi!" gusar wanita itu dengan nada yang meningkat satu oktaf, tapi ancamannya sama sekali tidak membuat si pria takut. Ia justru diabaikan.
Leon dan Jecy adu pandang. Mata keduanya sama-sama memicing dengan kilatan emosi. Bedanya, sang wanita menatap penuh dengan kebencian. Yah, wajarlah karena apa yang telah pria itu perbuat sebelumnya.
Batin Jecy riuh bertanya-tanya. Apakah Leon sudah mengetahui fakta bahwa Liam putranya? Apakah pria itu ingin memisahkan dirinya dengan Liam? Tiba-tiba, rasa takut luar biasa mencekam. Muncul di lubuk hati dan melai menyeruak ke seluruh tubuh Jecy. Tangannya mencengkeram selimut, menahan kegelisahan.
"Kembalikan anakku, biarkan kami pergi. Kumohon..." kembali Jecy berucap namun suaranya terdengar bergetar.
"Dan kau ingin kembali ke tempat kumuh itu? Itu menjijikan."
Sebenarnya Leon tidak bermaksud merendahkan, ia hanya ingin wanita itu tenang dan berhenti omong kosong tentang pergi bersama Liam, juga ingin Jecy beristirahat tanpa memikirkan kehidupannya yang mencekik. Namun, berbeda dengan Jecy yang merasa terluka dengan perkataan itu.
"Apa? Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku..." pikir wanita itu dengan menguatkan cengkeraman di selimut. Tangannya yang putih menjadi semakin pucat dan dingin.
__ADS_1
Tempat kumuh? Menjijikan?
Leon tidak tahu, bagaimana perjuangannya hingga bisa mencapai titik ini. Kehidupan Jecy kali ini tidak lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan jauh lebih baik. Jecy tidak harus berurusan dengan bos mesum yang dulu sempat melecehkannya hingga membuat kesulitan mendapat pekerjaan, tidak ada lagi ancaman rentenir, dan tidak lagi menjual tubuhnya.
"Apa bedanya?" Jecy melihat Leon dengan tatapan terluka, air matanya mengalir begitu saja, "Apa tuan ingin melemparku dengan setumpuk uang, kalau aku menceritakan kehidupanku yang cukup menyedihkan? Di mana dan bagaimana aku tinggal bukan urusanmu."
Kenapa Leon membawanya ke tempat ini, kalau hanya akan mengatakan hal-hal seperti ini? Kenapa harus pria itu yang datang menolong dirinya? Jecy tidak ingin berhutang budi pada Leon. Sangat memalukan.
Melihat wanita yang telah melahirkan anaknya menangis, Leon mengatur napas mengolah emosinya. Sejujurnya Jecy selalu bisa menaik turunkan suasana hatinya. Mengaduk perasaan sampai membuat dia berdiam diri sibuk menyelami apa yang telah dia lakukan. Dadanya berdentum melihat air mata Jecy.
"...Kenapa kau menangis?" Leon bisa merasakan seterluka apa Jecy hanya dari tatapan dan ucapannya, "Apa masalahnya? Apakah aku yang salah? Selain itu, kaulah yang berkata ingin ikut bersamaku."
"A... ap... apa?" Jecy tergagap tidak percaya, mata yang masih lembab melebar, ia bingung sebab merasa tidak pernah mengatakannya, "Kapan aku berkata seperti itu?"
"Ketika kau pingsan. Kau memohon dengan menggenggam tanganku dan tidak mau kutinggalkan."
Sesegera mungkin Leon mengambilkan air dan membantu Jecy meminumnya. Wanita itu nampak dehidrasi. Namun, Jecy menampik bantuannya sampai membuat gelas terjatuh ke lantai.
Prang! Terdengar bunyi pecahan gelas yang cukup nyaring.
"Astaga, bisakah otakmu kau gunakan sedikit?" desis Leon tajam mengusap wajahnya gusar. Oh ayolah, dia hanya ingin memberi minum, "Jangan bilang kau pikir aku melakukan ini karena apa aku terpesona dengan hal kecil yang menyedihkan sepertimu?"
"Huh? Tidak itu bukan seperti itu..."
Sangkalan Jecy terendam ketika Leon kembali berucap, "Tidak ada yang untukmu, ini semua untuk membuatku hidup lebih mudah. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab karena sudah membuatku terkena penyakit aneh."
Itu tidak sepenuhnya benar. Bohong jika Leon tidak terpesona dengan wanita yang dia anggap menyedihkan itu. Dia hanya tidak ingin mengakui secara gamblang.
__ADS_1
Sedangkan Jecy yang mendengar alasan yang dibeberkan Leon, seketika bungkam. Diam-diam, dia merasa lega. Ternyata pria itu bukan ingin memisahkan dirinya dari Liam. Dia berkesimpulan jika Leon belum tahu bahwa Liam anak kandungnya, mungkin pria itu tidak terlalu memperhatikan kemiripan di antara keduanya.
Bisakah Jecy berhenti khawatir sekarang?
Leon membelai wajah layu dan pucat, dia bersyukur wanita itu sudah kembali membuka mata, "Kau tidak perlu khawatir, putramu baik-baik saja. Liam sedang tidur di kamar sebelah karena mengalami jet lag. Kau bisa menemuinya besok," ujarnya seolah dapat mendengar isi hati Jecy.
Merasakan sentuhan halus di kulit wajahnya, Jecy agak menegang namun tidak menepisnya. Membiarkan Leon menghapus jejak air matanya. Tangan pria itu terasa begitu hangat. Perasaan khawatir seketika menguap.
Pada akhirnya, wanita itu mengangguk. Tenaganya yang memang masih belum pulih sudah terkuras habis akibat perdebatan sebelumnya. Dia lemas dan sakit kepalanya tak kunjung hilang. Jecy memang belum benar-benar sembuh.
"Aku akan mengambilkan minum lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Leon keluar dari kamar. Dia menuju dapur yang terletak di lantai dasar.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Para pelayan sudah diperintahkan untuk pergi dari vila ketika malam hari, dan akan kembali esok paginya. Jadi Leon harus merawat Jecy sendiri kali ini.
"Haruskah aku membuat bubur?" gumam Leon pada dirinya sendiri.
**
Setelah memberi Jecy minum, Leon kembali lagi ke dapur. Dia benar-benar akan membuat bubur untuk Jecy.
Kini hanya ada satu yang menjadi pertanyaannya, dimulai dari manakah seharusnya kegiatan memasak bubur ini? Leon bahkan tidak pernah memasak, memasak mie instan saja dia tidak tahu. Jadi, pria itu memutuskan untuk melihat video tutorial di ponselnya.
Kemudian Leon mulai memotong-motong labu kuning menjadi bentuk dadu, dan merebusnya dengan air lumayan banyak. Sambil menatap labu direbus, dia berkacak pinggang dengan wajah berpikir keras.
"Apa benar begini caranya membuat bubur labu? Ck! Aku hanya harus mengikuti video. Biar saja seperti ini sampai lunak?"
__ADS_1
_To Be Continued_