
Liam menjerit melihat mommy-nya ambruk. Dia menangis histeris, begitu takut jika terjadi hal buruk pada sang ibu.
Bocah laki-laki itu langsung berlari menuju pintu keluar untuk mencari bantuan orang dewasa. Ketika ia membuka pintu, terlihat seorang pria berkaca mata hitam berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
Liam menubruk kaki Leon, dia terisak sambil menarik-narik celana hitam lelaki dewasa itu, "Hiks, tolong mommy...! Mommy tidak sadarkan diri, jangan biarkan mommy mati..."
Tubuh Leon menegang mendengar apa yang dikatakan Liam, segara ia masuk ke dalam kontrakan satu petak itu. Mata hazel di wajah eurasia melebar.
"Jecy!" teriak Leon, "Jecy bangun!"
Jecy sudah tergeletak di samping kasur kecil dengan wajah pucat pasi. Ada darah mengalir dari hidungnya. Wanita itu pingsan tak sadarkan diri.
Leon langsung tanggap, Dia mem-bridal tubuh Jecy. Sesaat pria itu baru menyadari satu hal. Jecy terlalu ringan, ia tak yakin wanita itu cukup makan. Tubuh kurus itu menggigil demam, panasnya tinggi sampai kulit Leon terasa tersengat.
Dia harus membawa Jecy ke rumah sakit secepat mungkin. Tidak lupa dia juga membawa Liam.
"Sial, ke mana lelaki brengsek yang kau nikahi? Kenapa si sialan itu tidak ada ketika kau sekarat?" Leon menggeram marah, memaki seseorang yang sebenarnya memang tidak ada.
Dia adalah orang bodoh yang benar-benar mengira Jecy sudah menikah.
**
Leon memandang Jecy yang masih tertidur dengan beberapa selang infus tertanam pada lapisan dermis lengannya. Sudah tiga jam lamanya mereka sampai di rumah sakit dan sampai saat ini pula wanita itu belum sadar. Wajahnya masih pucat meski keringat dingin tidak lagi bercucuran.
Demam yang cukup tinggi, tekanan darah rendah sekali, serta tubuh kekurangan cairan dan juga vitamin. Wanita itu memiliki pola makan yang tidak teratur. Tubuhnya kurang istirahat sehingga metabolismenya renta sekali. Tidak hanya flu, dia juga terkena anemia.
Tak ayal Leon memerintahkan agar wanita itu dirawat khusus di rumah sakit dengan pengawasan dokter terbaik. Entah kenapa dia menjadi panik. Setiap dua puluh menit sekali dia akan melihat keadaan wanita cantik itu.
"Paman," Liam mengucek matanya. Bocah kecil itu terus menangis hingga tertidur. Mata hazel warisan dari sang ayah memandang sedih mommy-nya, "Mommy sudah sadar? Apa mommy membenci Liam? Kenapa mommy tidak ingin membuka mata untuk melihat Liam?"
Mata Liam berkaca-kaca, Leon bingung bagaimana menenangkannya.
__ADS_1
"Liam ingin mommy," rengek bocah itu semakin histeris.
Mampus kau Leon. Bagaimana caranya kau menenangkan seorang anak kecil yang tidak mau berhenti menangis itu?
Setelah mencari jalan keluar dari kebingungannya, Leon mengangkat tubuh kecil namun berisi itu.
"Tidak, sayang. Mommy memang butuh istirahat," lidah pria itu tergelitik memanggil Jecy dengan sebutan 'mommy'. Aneh, tapi terasa benar untuk diucapkan, "Liam makan dulu, ya. Ini sudah siang."
Liam hampir saja kembali menangis jika Leon tidak mengelus punggungnya dengan lembut. Tangan besarnya seolah memberi anak lelaki itu sandaran.
Liam bergelung nyaman di dalam tepukan halus Leon. Ia menyukai dekapan dari pria yang sudah membantu ibunya. Kini, ia tidak lagi berpikir jika paman tampan itu orang jahat.
"Sstt, mommymu butuh istirahat."
Leon jarang berkata halus. Namun di depan Liam, dia menjadi sosok lunak. Tanpa dia tahu, memang ada sebuah ikatan darah yang membuatnya berlaku seperti itu.
Liam menatap ke arah Jecy. Bocah itu ingin memeluk ibunya namun takut akan mengganggu pemulihan sang mommy, "Ta-tapi mommy akan bangun, 'kan? Mommy tidak akan tidur terus, 'kan?"
Mau tidak mau Liam menurut. Dia memeluk pria dewasa yang menggendongnya. Mengalungkan kedua tangan kecilnya di leher pria yang sebenarnya adalah ayah kandungnya, sampai membuat Leon tersenyum bahkan tertawa lebar ketika melihat tingkah polos anak itu.
Tangan besar dengan jari-jemari yang solid menghapus genangan air mata di pelupuk mata langit Liam. Meski sedang menangis pun anak itu akan terlihat sangat tampan.
Persis seperti dirinya.
Mendadak Leon melamun, ia bertanya-tanya bagaimana bisa ciri fisik dari Liam hampir semua didapatkan darinya. Seperti dirinya lah ayah kandung anak kecil itu.
Tunggu.
Bagaimana jika Liam benar-benar anaknya...?
Seketika jantung Leon terasa seperti berhenti berdetak. Dia membeku, matanya melebar dan tidak berkedip. Berkali-kali menelan air liurnya sendiri. Jakun bergerak dengan tenang. Ia terus menyorot kembaran kecilnya di gendongan.
__ADS_1
"Jecy.... dia melahirkan anakku? Apa waktu itu dia tidak meminum obat kontrasepsi?" batinnya dengan logika yang mulai menyatukan kepingan puzzle menjadi sebuah rangkaian jawaban.
Ia merasa sesak. Bila memang benar-benar dirinya telah menjadi seorang ayah, maka dia tidak akan melepaskan Jecy begitu saja.
"Paman baik-baik saja?" tanya Liam dengan suara yang lucu. Tangan mungilnya kemudian menyentuh wajah Leon. Menyentuh pelan luka lebam akibat hantaman tas milik Jecy.
Merasa sentuhan jari lembut anak laki-laki itu di pipi, menyadarkan jiwa Leon. Ia sentuh telunjuk Liam dengan jemarinya yang gemetar.
"D-d-di... mana ayahmu?" gagap Leon bertanya pada Liam yang menatapnya heran.
Ekspresi bocah kecil itu seketika berubah mendung, Liam menatap ragu dari balik bulu mata lentik yang bergetar, "Liam tidak memiliki ayah, Liam hanya memiliki mommy. Ayah sudah mati."
Hah? Mati?
Leon terhentak dan diam mendengar apa yang dikatakan Liam. Sebuah kebenaran menghantam batinnya hingga tak sanggup berkata-kata lagi.
**
"Kau lihat sendiri, 'kan? Menurutmu, dia anakku atau bukan?" gusar Leon tidak percaya kalau Liam bukan anaknya.
"Ya, ya, saya juga berpikir begitu. Terlalu mirip! Dia mirip sekali dengan Tuan Leon dan Tuan Leonard," jawab Marvin takjub melihat Liam. Kedua pria dewasa itu sengaja menjauh untuk membahas masalah ini.
"Jelas itu anakku! Kau tidak sadar kalau dia lebih mirip denganku? Mana ada mirip dengan Leonard!" amuk Leon kesal. Tak mau Liam dimiripkan saudara kembarnya.
"Eh, ya. Begitukah? Apa anda ingin melakukan tes DNA untuk lebih membuktikan kalau dia adalah tuan muda kecil yang baru?" imbuh Marvin yang sebenarnya yakin jika Liam benar-benar anak bos-nya, meski tanpa bukti nyata.
"Ya! Kalau Liam memang anakku, kenapa Jecy menyembunyikannya selama ini? Kenapa tikus perempuan itu tidak meminta tanggung jawab padaku? Dia justru mengatakan kalau aku sudah mati! Sialan kau Marvin, dia itu belum menikah!" desis Leon marah dan senang pada saat bersamaan.
"Memangnya Tuan Leon akan bertanggung jawab kalau dia memintamu? Apa anda tidak akan menyuruhnya mengugurkan bayi itu?" tanya Marvin mengingat betapa buruk tabiat Leon.
_To Be Continued_
__ADS_1