SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
AYAH YANG PAYAH


__ADS_3

"Semalam Liam mendengar paman meminta maaf pada mommy. Apa kalian bertengkar atau semacamnya?"


Mendengar pertanyaan itu, Leon terdiam kebingungan. Ternyata semalam Liam terbangun dan berniat mengunjungi mommy-nya, tapi bocah kecil itu mengurungkan niatnya ketika melihat Jecy dan Leon yang sedang berbicara serius.


"Tapi, Paman. Bukannya orang yang meminta maaf duluan yang menjadi pecundang?" Liam kembali bertanya dengan polos, mata hazel membuat seolah berkata penasaran.


"Kata siapa?" selidik Leon.


"Liam melihatnya di TV," jawab Liam cepat.


Kedua alis Leon mengernyit, dia bertanya-tanya acara TV apa yang ditonton putranya itu? Liam sangat cepat tanggap, seharusnya anak itu tidak sembarang menonton TV.


Sejenak Leon menutup mata, menghisap udara melalui hidung dan mengeluarkan kembali dari paru-paru. Dan detik berikutnya, kedua matanya kembali terbuka, "Ya, bahkan kita orang dewasa sangat sulit secara jujur mengakui bahwa kau salah dan minta maaf."


"Bahkan untuk orang dewasa?" tanya Liam mengerjap lucu.


"Itu benar. Dibutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa kau salah. Tetapi orang-orang meminta maaf karena mereka memiliki hal yang lebih penting untuk dijaga daripada harga diri mereka."


"Oke, Paman," Liam mengangguk, seolah mengerti apa yang dikatakan pria dewasa.


Segera meninggalkan percakapan yang tidak cocok dibahas bersama seorang anak kecil, Leon melanjutkan aktivitas memandikan Liam. Dan seketika dia teringat sesuatu.


"Ah, sabun."


Botol sabun cair wangi lemon diambil Leon, tapi dia kembali dibuat bingung. Oh ayolah, dia memang benar-benar ayah yang payah.


"Sabun apa yang sesuai?" tanyanya pada diri sendiri.


Tingkat kesensitifan kulit orang dewasa dengan anak-anak jelas berbeda. Leon takut sabun yang biasa dia gunakan tidak sesuai dengan kulit Liam. Jika bocah kecil itu alergi bagaimana? Sampai bentol-bentol merah, dirinya tentu tidak mau hal tersebut terjadi.


Leon keluar dari bak mandi. Lalu mengambil ponsel di atas tumpukan handuk dalam rak dan menelepon seseorang.


"Halo, Mom."


"Astaga, Leon. Kau ke mana saja? Mom menghubungimu berulang kali tapi selalu dialihkan. Kau baru ingat kalau mom masih hidup, hah!"


"Maaf, Mom. Tapi aku benar-benar sedang sibuk."


"Setidaknya sekarang aku tahu kau baik-baik saja. Apa kau tahu? Kirana mencarimu! Siapa yang akan menghargai seseorang yang cuek terhadap calon istrinya? Kau seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu dengannya! Bagaimana bisa kau menikah jika bertingkah seperti ini!"


Leon menghela napas. Oh ayolah, dia menelepon bukan untuk dimarahi. Lagipula dia tidak pernah merasa memiliki calon istri, "Aku sudah bilang padamu kalau aku akan menangani masalah pernikahanku sendiri, Mom."


"Kau sebut ini dengan menangani!"

__ADS_1


Leon sampai harus menjauh dari ponselnya. Jelita──sang ibu berteriak sangat kencang, sampai membuat gendang telinga putra sulungnya berdenging.


Tak cukup sampai di situ, kemarahan sang ibu masih berlanjut. Sedangkan yang dimarahi menggaruk kedua alis karena mendadak pening.


"Seseorang dengan keinginan menikah takkan berprilaku sedingin ini! Kau selalu bermain-main dengan para wanita murahan, apa kau tidak tertarik bertemu dengan wanita baik-baik?"


"Mom, dia bukan wanita sebaik yang kau kira. Bahkan dia pernah berkencan dengan Leonard. Kenapa tidak adikku saja yang menikah dengannya?"


"Tidak! Leonard dia──"


Tak mau lebih lanjut mendengar kemarahan ibunya, Leon segera menyela dengan pertanyaan to the point, "Mom, bagaimana memandikan anak kecil?"


Ponsel genggam di jepit antara bahu dan samping kepala. Leon sibuk mengobrk-abrik persediaan peralatan mandi, mencari sabun pembersih tubuh.


Tidak terdengar jawaban di sebrang sana.


Leon mengernyit. Dia periksa sambungan telepon yang masih tersambung namun Jelita belum juga bersuara, "Halo, Mom?"


"Ah, a-apa yang kau bilang tadi?"


"Bagaimana cara memandikan anak kecil, Mom? Usia lima tahun."


"Hah? Kau sedang mabuk? Anak siapa yang kau bicarakan ini?"


"Kau ini. Baiklah. Dengarkan baik-baik. Kau sudah memastikan suhu airnya sesuai?"


"Ya."


"Lalu kau bisa memberinya sabun. Pilih sabun cair dengan pH normal agar tidak pedih di mata. Tuang sedikit lalu usap sampai berbusa. Pastikan kau membersihkan bagian lipatan seperti ketiak, lutut, siku dan leher. Juga gunakan shampo khusus anak kecil. Jangan lupa setelah mandi kau harus memberinya handuk halus dan bersih. Bisa juga kau tambahkan losion untuk menjaga kelembaban kulitnya."


Leon berjuang untuk mengingat apa saja yang Jelita katakan. Dia mengangguk seolah mengerti.


"Terima kasih, Mom. Dan sebentar lagi kau akan bertemu dengan cucumu."


Leon langsung mematikan sambungan. Membiarkan Jelita di sana berteriak meminta penjelasan.


Kembali Leon memerintah beberapa pelayan untuk menyiapkan satu set perlengkapan mandi untuk anak usia dini.


Setelah beberapa saat, para pelayan yang diberi tugas sudah kembali dengan membawa apa yang tuan mereka inginkan.


Leon tersenyum puas. Dia segera meraih tubuh Liam dan menyabuninya. Anaknya tidak rewel, malah begitu menikmati saat kepalanya digosok dengan lembut. Pria tampan yang sebenarnya adalah ayah kandung Liam begitu menikmati waktu bersama anaknya.


Tiba-tiba Leon melamun. Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan anaknya dulu. Sangat jauh dari kata layak pastinya. Liam tidak mendapatkan haknya. Leon tahu Jecy tidak terlalu mampu untuk menyediakan kehidupan yang mapan untuk anaknya.

__ADS_1


Dapatkan dia menarik Liam ke dalam hidupnya? Sudah cukup Jecy memonopoli Liam sendirian. Sekarang giliran dia untuk merawat Liam.


Atau bisakah mereka berdua merawat Liam bersama-sama?


Hey, dia juga ikut andil dalam membuat Liam, 'kan?


**


Setelah sang ayah memandikan Liam, maka sudah waktunya anak kecil itu untuk sarapan. Para koki telah memasakkan makanan khusus dengan memerhatikan kelengkapan gizi, tentunya lezat. Leon ingin anaknya merasa nyaman di tempat ini. Segala kebutuhannya adalah prioritas paling penting. Liam tidak sadar dia diberlakukan bak putra mahkota.


"Tidak ingin paman suapi?"


Surai hitam Liam bergerak lembut mengikuti gerak kepala pemiliknya yang menggeleng. Lagi-lagi bocah kecil itu menolak, "Aku sudah besar, Paman," dia berkata lucu sambil mengulum senyum malu-malu, "Aku sudah besar, sudah bisa makan sendiri."


Leon gemas sampai mengacak rambut Liam, "Lantas kenapa kau tidak kunjung memakannya? Apa kau tidak suka makanannya? Paman akan meminta koki untuk──"


"Tidak, Liam hanya ingin makan bersama mommy."


**


"Mommy!"


Jecy yang sedang duduk bersandar di ranjang menoleh ketika melihat Liam yang memasuki kamar, anak laki-lakinya itu berlari menghampirinya. Ternyata apa yang dikatakan Leon benar, ia bisa kembali bertemu dengan Liam.


"Halo, Sayang. Maaf, mommy membuatmu khawatir," Jecy memeluk Liam dan mencium pipinya, "Sekarang mommy sudah sehat."


"Benarkah? Sudah tidak ada yang sakit? Mommy sudah tidak demam?" tanya Liam yang terdengar merengek.


Jecy mengelus kepala Liam, "Ya, mommy sudah tidak apa-apa. Bahkan mommy sudah bisa menggendong Liam."


Belum sempat dia menggapai tubuh kecil Liam, putranya lebih dulu diangkat Leon. Dan kini berada di dalam gendongan pria itu.


"Tidak boleh, Boy. Biar paman saja yang menggendongmu."


Liam tertawa senang ketika Leon mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ke udara, "Haha, turunkan aku, Paman. Aku berattt..."


Jecy tertegun melihat interaksi Leon dan Liam. Perasannya ambigu. Ini benar-benar diluar bayangan. Apakah memang takdir mempertemukan ayah dan anaknya? Apa tidak apa-apa membiarkannya?


"Mommy!" seru Liam menyadarkan Jecy. Tangan kecilnya terulur mencoba menggapai wajah ibunya, "Mommy, ayo kita makan bersama!"


Makan bersama? Mereka bertiga? Jecy merasa sangat canggung.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2