
Kirana tiba-tiba muncul di depan mata Jecy. Menyeretnya keluar dan memakinya sebagai wanita jalng nan binl. Tubuh mungilnya terhempas begitu ditarik kasar.
Jecy sangat terkejut dengan kedatangan wanita tak dikenal yang memusuhinya. Dia ingin balas mencakar tapi tubuhnya masih terlalu lemas untuk membalikkan keadaan. Dirinya sampai terseret beberapa langkah menabrak perabotan yang ada. Jambakan di rambutnya menguat semakin kencang.
"Siapa kau? Lepaskan aku!" Jecy meringis, kepalanya begitu sakit.
"Dasar jalng tidak tahu diri! Kenapa kau di sini, Hah? Beraninya kau menggoda calon suamiku! Padahal kau sudah memiliki anak!"
Kirana tak juga puas menghina. Awalnya dia ingin langsung melabrak Jecy saat di rumah sakit, dia ingin memberi pelajaran pada wanita yang menjadi penyebab ketidakberhasilan hubungannya dengan sang calon suami.
Beranggapan bahwa wanita beranak satu itulah yang menggoda Leon. Bahkan mengikuti prianya sampai ke pulau pribadi. Kirana semakin murka. Di saat dia jauh-jauh datang ke sini, dia justru melihat Jecy yang sedang duduk tenang di dalam.
Kirana sangat membenci wanita yang menurutnya murahan itu, dia ingin menyingkirkan Jecy dari hidup Leon. Wanita itu adalah level terendah untuk bisa bersaing dengannya.
"Dirimu terlalu kotor untuk tinggal di sini! Pergi kau!" wanita berambut hitam itu terus memakai.
Ketika dirasa jambakan Kirana semakin menguat. Jecy memberontak dan Liam ikutan melawan. Meski kekuatannya tidak seberapa, bocah kecil itu tetap menyerang dengan memukul-mukul kaki Kirana tanpa rasa takut. Anak berdarah Januartha itu ingin melindungi ibunya.
"Nenek sihir! Jangan sakiti mommy!"
Namun, Kirana jelas lebih unggul. Beberapa kali dia menendang Liam namun bocah itu tetap keras kepala melawan. Liam menggigit betis wanita itu dan membuatnya menjerit tidak terima.
Kirana menjatuhkan pandangannya ke bawah. Surai hitam beserta manik mata hazel dari anak laki-laki yang sejak tadi berteriak dan memukul kakinya membuat matanya terbelalak. Tanpa perlu ditelaah matang-matang pun, naluri wanita itu mampu mengendus asal usul dari sosok kecil ini.
Napas Kirana semakin memburuh. Matanya melihat anak kecil yang memanggil Jecy dengan sebutan 'mommy' memiliki seluruhnya kemiripan dengan pria pujaannya. Dia cetak biru Leon tanpa ada celah ataupun keraguan. Hubungan darah tidak pernah bisa disangkal.
Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Leon memiliki anak dari seorang wanita murahan? Bukankah pria itu akan menikah dengannya?
"Ka-kau... Arghh!"
Kirana mendorong Jecy sampai terjungkal. Tangannya menemukan sasaran baru yakni makhluk kecil untuk segera disingkirkan. Anak laki-laki di depannya adalah mimpi buruk yang begitu Shion harapkan keberadaannya.
__ADS_1
"Sialan! Kau anak haram!"
Wanita itu semakin menjadi. Dia menggila dan langsung menendang keras sampai membuat tubuh kecil Liam terpental sampai terbentur marmer.
"Tidak! Liam!" Jecy menjerit, tubuhnya lemas, jantungnya terasa dilubangi ketika melihat sendiri anaknya dilukai secara keji. Jelas dia lebih memilih disakiti daripada harus membiarkan putranya menjadi sasaran pelampiasan.
Jecy menghampiri putranya dengan terseok. Tubuh bergetar Liam dipeluk. Lecet memerah sampai meneteskan darah merah, ada luka menganga di dahi bocah kecil itu. Dia mendengar tangisan keras Liam sambil memegangi keningnya.
"Hiks, Mommy. Sakit. Hiks..."
Liam jarang menangis kencang, tapi kali ini dia sampai meraung memeluk ibunya erat. Ketakutan. Jecy mampu menerjemahkan gesture takut anaknya.
Jecy tidak bisa membendung kesedihannya melihat orang yang sangat dia jaga dilukai di depan mata.
"Ja-jangan menangis, Sayang. Lihat mommy, sakitnya akan berpindah ke mommy. Sa-sakit pergilah," suaranya bergetar, Jecy mengigit kuat bibir bawahnya.
Tapi tetap saja, Jecy tidak mampu menahan tangis. Ia meniup luka lebar di dahi Liam.
"Liam, hiks... Sayang. Mommy di sini," kata-katanya belum mampu menenangkan Liam. Anaknya masih mengeluarkan tangisan hingga suaranya serak. Darah masih menetes dari lukanya.
"Hiks, mommy akan menghilangkan sakitnya. Lukanya akan sembuh. Si-siapapun tolong anakku...!"
Tepat pada saat itu Leon berada di sana. Darahnya mendidih melihat keadaan Liam. Emosinya diangkat ke atas pada puncak kemarahan. Pandangannya menggelap, otot biru tercetak pada kepalan tangan. Leon masa bodoh jika dia bisa membunuh orang yang telah menyakiti anaknya.
Pria itu begitu menyeramkan ketika diliputi kebengisan.
"Kurang ajar! Apa yang telah kau lakukan padanya, Kirana!" berteriak murka, wajahnya memerah marah. Leon benar-benar murka.
Kirana yang sedang menatap sinis tontonan menyedihkan di depannya, seketika terlonjak kaget ketika mendengar teriakan kemarahan yang menggema di seluruh ruangan. Wajah tidak bersalahnya menoleh ke arah Leon.
"K-kau berteriak padaku, Leon?"
__ADS_1
Tak percaya jika sang calon suami membentaknya. Bukankah pria itu mencintainya? Begitu mencintainya sampai patah hati di saat dia menjalin hubungan dengan Leonard, bahkan Leon sampai menetap di Amerika dan tidak mau kembali ke Indonesia.
Kirana memang terlalu percaya diri.
"Jawab! Apa kau yang membuatnya terluka?" lagi, Leon bertanya dengan nada tinggi.
"Aku hanya sedang menyingkirkan kedua benalu itu," Kirana menjawab meski merasakan ketakutan.
Tanpa keraguan apapun, tak memedulikan lawannya hanya seorang wanita, Leon balas mendorong Kirana tanpa rasa kasihan. Wanita itu terjungkal dan berlutut di depannya.
Belum, ini masih belum cukup!
Perbuatan Kirana sudah membuatnya membuang rasa kasihan. Sisi kemanusiaannya tidak untuk diberikan pada wanita itu.
"Kau yang apa-apaan, Leon!" Kirana masih dapat bangkit menantang untuk maju, ia menunjuk Jecy dengan nyalang. Apalagi pada bocah kecil yang mencari perlindungan dalam dekapan ibunya, "Siapa mereka, ha? Jangan bilang kalau..."
Giginya bergemelatuk geram. Kirana merasa terancam. Ibu dan anak itu bisa membuatnya kehilangan semua apa yang telah dia impikan selama ini.
"Apa bocah tengik itu adalah anakmu? Ibunya adalah pelcur maka anaknya pun juga anak kotor!"
"Diam! Aku bisa mematahkan tenggorokanmu supaya tidak bisa berbicara lagi!" desis Leon mulai tersulut emosi. Tempramen pria itu meledak-ledak ketika ada yang berani menghina Jecy dan Liam.
Sialan, Leon sedang berusaha membangun hubungan baik dengan mereka berdua, tidak seorang pun boleh menghancurkan usahanya.
"Bisa-bisanya kau terperdaya oleh wanita murahan itu. Jelas-jelas dia pasti sering bermain gila dengan lelaki lain. Dia membiarkan tubuhnya digerayangi para pria hidung belang. Dan sekarang kau menjadi ayah dari anak sampah itu!"
Jecy mengeratkan pelukannya pada Liam, menutup erat telinga putranya agar kata-kata kasar Kirana tidak terdengar oleh buah hatinya.
"Brengsek! Kubilang diam! Beraninya kau menghina mereka berdua!" satu gerakan cengkraman dan Leon sudah mencekik Kirana sampai wanita itu terbatuk kesulitan bernapas. Cekikannya membuat Kirana ketakutan, "Mulutmu bisa kurobek jika kau menghina anakku!"
Liam semakin menyembunyikan kepalanya pada perut Jecy, tubuh kecilnya menegang mendengar apa yang Leon ucapkan. Sama halnya dengan Jecy.
__ADS_1
Jadi selama ini dia hanya mengadakan pertunjukan? Kenapa pria itu hanya diam saja meski sudah tahu jati diri Liam? Apa Leon berniat mengambil Liam disaat dirinya lengah?
_To Be Continued_