
"Sayang, maaf dad–"
"Daddy sudah tidak ada!"
Liam memberontak, dia menarik-narik baju Jecy agar cepat pergi. Sang ibu juga baru pertama kali melihat putranya membenci seseorang sampai sebegitu besarnya.
Jecy melirik Leon yang nampak menyedihkan, dia bisa menyaksikan hancurnya segala kesempurnaan milik Leon Januartha.
Sekarang giliran Leon yang merendahkan diri di depannya.
Lelaki paling berkuasa dan angkuh kini menunjukkan sisi manusiawinya. Leon memandangnya dengan sorot pedih.
Bukankah Jecy seharusnya senang?
Liam enggan mau mengakui ayah biologisnya, menolak berada dekat dengan Leon.
Namun, kenapa Jecy tidak mampu tertawa atau tersenyum? Bukankah ini keinginannya, mengenai Liam yang membenci ayah kandungnya sendiri?
Tapi kenapa mata Jecy malah meneteskan air mata?
Sebajingan apapun Leon, dia tetap mengalirkan darahnya pada Liam.
"Daddy menyayangimu, Nak," suara yang serak terdengar menyayat.
Jecy menggendong Liam menjauh.
"Tunggu, Jecy. mau kau bawa ke mana anakku?" pria berusia dewasa itu cepat-cepat mencegah hal yang paling dia takuti terjadi.
Liam menolaknya, sedangkan Jecy menjauhinya.
"Berhenti melangkah keluar, Jecy. Aku bisa mengikat kakimu jika kau nekad!"
Leon mengancam, dia tidak tahu lagi harus bagaimana agar Jecy mau berhenti.
"Apa kau tuli? Liam tidak ingin berada di dekatmu. Jadi, biarkan kami pergi," tentu saja, Jecy tak takut diancam seperti itu. Ia sudah memutuskan segera menjauh dari Leon, tak ingin mengambil resiko yang dapat melukai buah hatinya lagi.
"Tidak! Bagaimana kalian pergi? Hanya ada lautan di sekeliling pulau ini!"
__ADS_1
"Aku akan pergi bersama pengawal yang membawa Kirana pergi. Jangan membuat dirimu semakin dibenci oleh Liam. Pikirkan kondisi mentalnya, kau membuat anakku mengalami hal buruk hari ini. Dan seujung rambut pun kau tidak berhak atas dari kami lagi," semprot Jecy sambil melangkah keluar.
"Tunggu!" lengan Jecy ditahan. Leon memohon untuk kali pertama dalam hidupnya, "Mana mungkin aku membiarkanmu dan anakku satu perahu dengan orang yang telah menyakiti kalian. Izinkan aku mengantar kalian pulang dengan selamat."
Di saat Leon begitu frustasi untuk menahan Jecy melangkah pergi. Jecy tertawa hambar, "Hah? Tidak usah pura-pura peduli. Akui saja Liam bukan anakmu."
Leon benar-benar belum terbiasa dengan ucapan tajam Jecy, napasnya tertahan di paru-paru, "Dia anakku, Jecy. Aku akan mengatakan bahwa selama ini kau berbohong pada Liam. Anakku tidak yatim, dia punya daddy dan aku adalah ayah kandungnya."
"Daddy? Ayah kau bilang? Harus berapa kali kubilang bahwa Liam tidak butuh kau," napas Jecy memburu dan panas.
Wanita cantik itu sudah lelah sebenarnya namun enggan untuk mengalah. Leon harus tahu bahwa dia sudah tidak punya harapan untuk meminta.
"Apa kau pernah melihatnya menangis ketika orang-orang mengatainya anak haram? Mereka beranggapan buruk mengenai Liam hanya karena dia lahir tanpa ayah. Putraku sering bertanya padaku dimana ayahnya, lantas apakah aku harus menjawab jika..."
Perkataannya terhenti untuk sejenak menarik napas dalam-dalam, dada Jecy naik turun menahan gejolak ledakan emosi.
"...Jika sejak awal hubungan kita adalah kesalahan. Kesialan. Inilah saatnya kau mengerti, Tuan Leon. Bahwa kita tidak untuk saling melengkapi. Kita berbeda arah. Kami tidak membutuhkan uluran tanganmu hanya untuk bisa bernapas atau bertahan hidup. Kami baik-baik saja meski kau tidak ada."
"Lalu bagaimana denganku?" batin pria itu teriris perih.
Leon memandang Jecy yang berlari menggendong Liam meninggalkan vila, dengan tatapan kosong.
Kembali, hidupnya runtuh.
**
Jecy menatap kapal yang menjauh meninggalkan pulau, kapal yang membawa Kirana pergi. Dia telah terlambat untuk bisa ikut. Benar yang dikatakan Leon, bagaimana dia pergi? Hanya ada lautan di sekeliling pulau ini. Tidak mungkin untuknya berenang sambil membawa Liam.
Dielusnya surai hitam Liam. Putra kecilnya sudah nampak tenang meski pipinya masih memerah, luka di dahinya butuh diobati. Apa akhirnya dia harus kembali ke vila satu-satunya di pulau ini? Tapi Jecy ingin pergi menjauh dari Leon, dan dia bisa hidup berdua kembali bersama Liam.
"Nak, apa masih sakit?" tanya Jecy dengan kecemasan yang tidak meluntur.
Liam bungkam, sedari tadi dia menutup mulutnya, mogok bicara.
Jecy mengerti bagaimana perasaan Liam. Putranya masih belum bisa menerima ini semua. Terlalu cepat. Kenyataan bahwa dia masih memiliki ayah membuat bocah kecil itu terganggu. Dia butuh waktu.
Jecy menurunkan Liam dari gendongannya, lalu berjongkok di depan putranya. Menyampirkan poni tebal Liam ke samping. Dua tangan kecil itu digenggam lalu dicium penuh sayang. Hidung dan kening tak luput dari kecupan penuh kasih.
__ADS_1
"Jangan abaikan mommy, apa jagoan ini juga membenci mommy-nya? Masih betah mendiamkan mommy?"
Tiba-tiba mata Liam berkaca-kaca. Dia mengamati Jecy lamat-lamat, melihat sosok wanita cantik yang melahirkannya masih dapat tersenyum menghiburnya. Sejak pertama bisa mengingat, senyum sang mommy tetaplah sama. Selalu membawa kehangatan.
Liam melompat memeluk Jecy. Perasaanya tumpah setiap melihat sang mommy yang tetap berada di sisinya. Anak lelaki itu merasa belum mampu menjaga ibunya. Dia begitu ketakutan mengingat mommy-nya diperlakukan kasar.
"Hiks, Mom-mommy," isak si kecil.
Punggung Liam dielus Jecy lembut. Ibu tangguh itu membisikkan kata-kata menenangkan. Tubuh montok putranya diayun pelan-pelan, biasanya Liam akan merasa nyaman.
"Kau marah pada daddy?" tanya Jecy lembut.
Liam mengangguk pelan, dan bergumam lirih, "Aku tidak ingin daddy."
Tidak pernah ada figur ayah dalam empat tahun Liam mengenal dunia, lalu kini tiba-tiba sang daddy datang. Leon mengaku sebagai ayah kandungnya. Lalu selama ini daddy-nya ke mana saja? Kenapa tidak cepat menemui mereka?
"Mom, daddy sudah meninggalkan kita 'kan," suara khas anak kecil bergetar, sambil terus sesenggukan dia mencoba terus berbicara, "Hikss, kita tidak butuh daddy juga kalau begitu, Mom."
Jecy menjadi merasa bersalah. Dia merasakan bagaimana perasaanya jika menjadi Leon, pasti akan hancur ketika buah hatinya sendiri membencinya. Dia tak menampik sikap perhatian dari pria itu. Leon terlihat sangat menyayangi Liam sepenuh hati.
Namun, mungkin kali ini bukan keberuntungan Leon. Sesekali pria harus merasakan kekalahan.
"Kenapa, hmm? Bukanya dulu Liam bilang ingin memiliki daddy."
Liam menggeleng cepat, "Tidak, tidak. Aku tidak pernah mengatakannya."
"Lalu siapa yang dulu sering bertanya pada mommy? Apa daddy tampan? Apa daddy benar-benar sudah meninggal? Dan masih banyak sekali pertanyaan mengenai daddy," beber Jecy tentang betapa penasarannya Liam tentang sosok ayahnya.
"Bukan Liam, Mom. Mungkin anak tetangga sebelah."
Meski Liam menyangkal, dia hanya membutuhkan waktu. Sejak lahir hingga saat ini, dia hidup tanpa seorang ayah. Anak lelaki itu membenci daddy-nya karena membuat sang mommy bekerja keras dan sering menangis secara diam-diam di belakangnya.
"Dia membiarkan mommy kelelahan sampai menangis diam-diam, dan membiarkan Liam diejek teman-teman karena tidak memiliki daddy selama ini. Daddy orang jahat, Liam benci. Dia tidak melindungi kita, Mom. Bukankah daddy sudah mati? Kenapa dia bisa kembali hidup lagi?"
Jecy tertegun, baru tahu bahwa selama ini Liam mengamatinya diam-diam. Anak itu begitu peduli pada ibunya.
_To Be Continued_
__ADS_1