
"Bagaimana enak?" tanya Jecy pada Liam yang sedang makan.
"Hmm, masakan mommy memang selalu enak," jawab bocah tampan sambil mengangkat kedua jempol kecilnya, memberi sang bunda nilai sempurna. Pipi tembam yang terisi makanan menggembung lucu.
Leon menarik senyum hangat memperhatikan ibu dan anak tersebut dengan seksama, mengabaikan nasi yang sudah tersedia juga di piringnya. Bukan tanpa alasan, hanya saja tadi ada sedikit cerita manis tentang Liam yang khawatir terhadap luka di wajahnya, terlebih dia berhasil mendapatkan french kiss dari Jecy.
Oh, ciuman mereka benar-benar hangat dan mengairahkan! Untung saja pria itu tidak kebablasan.
"Kenapa memperhatikan aku?" tanya Jecy yang sadar dengan tatapan tersebut.
"Memangnya tidak boleh?" Leon justru bertanya balik, ditatapnya bibir sang wanita yang agak bengkak.
Jecy dengan perlahan menelan makanan di mulutnya, mencoba berhati-hati pada kata yang keluar dari bibirnya, "Kau tidak makan, Tuan Leon? Apa kau tidak suka makanannya?" sadar arah tatapan pria itu, ia menjulurkan lidah untuk menjilat bibir, lalu melipat kedua belah bibirnya ke dalam. Merasa begitu gugup.
"Hmm?" Leon menyeringai, "Suka kok, apalagi... buah peach-nya."
Ya, dia suka bibir Jecy yang terasa lembut ketika dia cium.
"Makanlah, selagi masih hangat," wajah Jecy memerah, menahan gejolak di dada karena mengerti perkataan metafora Leon.
Leon terkekeh sesaat, lalu mulai sibuk dengan piringnya, "Baiklah, selamat makan."
Liam beralih menatap bingung plus heran ke arah mommy-nya, "Buah peach? Apa itu enak? Liam ingin memakannya, Mom," celetuk si bocah tampan yang sedari tadi menyimak kedua orang tuanya.
"Uhuk... uhuk..." Jecy seketika tersedak. Segera Leon memberikan minum untuk mereda batuknya. Diminum habis air putih itu, lalu ia mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata.
"Mom, kau tidak apa-apa?" tanya Liam khawatir, tidak tahu bahwa perkataan polosnya lah yang membuat sang ibunda tersedak.
"Tidak apa-apa, Sayang," jawab Jecy tersenyum kaku.
"Sebentar, kau berantakan."
Leon mengambil sehelai tissue dan mengelap bibir serta dagu Jecy yang basah oleh air. Wanita itu terlalu terburu-buru menegak minuman, hingga tetesan air mengalir, membasahi dagu dan leher.
Tubuh Jecy menegang ketika Leon beralih mengelap lehernya. Jantung seolah ingin melompat dari tempatnya. Dia dapat merasakan jari Leon yang sedikit mengenai kulit lehernya, terasa hangat dan membuat merinding.
"Terima kasih," ucap Jecy lebih terdengar seperti mencicit.
__ADS_1
"Hmm," sahut Leon hanya memberi gumam tak jelas, kemudian kembali menegakkan tubuh.
Deg... deg... deg...
Namun, debaran jantung Jecy semakin kacau. Dapat ia rasakan wajahnya memerah, dadanya sesak, dan ratusan kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya. Ini adalah perasaan yang baru pertama kali ia rasakan.
Kemudian Jecy mengambil buah peach yang diinginkan Liam, mengupas lalu memotongnya menjadi beberapa bagian. Meski tengah sibuk dengan kegiatan tersebut, namun, ia tak berhenti berdebar.
Wanita itu merasa frustasi!
Sepuluh menit berselang dalam lingkup ketenangan tanpa ada kecanggungan, padahal tidak ada suara yang keluar dari bunyi peralatan makan yang beradu.
Begitu keluarga kecil itu selesai makan. Liam langsung menarik Daddy Leon untuk menemaninya bermain, sementara Jecy mengambil piring kosong di atas meja makan dan meletakkannya di wastafel. Baru ingin mencucinya, baru kemudian dia menyadari bahwa para pelayan sedang menonton dengan tatapan gelisah. Dia lupa bahwa tidak perlu melakukan pekerjaan rumah sendiri sekarang, dan para pelayanan tersebut yang akan mengurus semuanya.
"Nona, kali ini biar saya saja yang mencuci piring," ujar Hana menghentikan Jecy yang hendak memakai celemek guna bersiap mencuci piring.
Lagi-lagi Jecy bersikeras melakukannya sendiri, berkata pada si pelayan bawah dia yang akan bertanggung jawab kalau Tuan Leon marah karena hal ini. Lalu wanita itu mulai mencuci piring.
Setelah mencuci, dia menyiapkan cemilan dan membawanya ke tempat di mana Liam bermain bersama Leon.
Suara riang terdengar dari taman buatan di sebelah kolam renang, Jecy mendatangi sumber keramaian. Ayah dan anak tersebut sedang bermain kejar-kejaran, lari berputar keliling taman. Si kecil Liam tertawa bahagia.
Leon menangkap Liam. Ia angkat anak tampan replika dirinya ke dalam gendongannya lalu membuat suara seperti monster.
"Akulah Baron Zemo! Penjahat super musuh terberat Captain America! Aku akan memakanmu! Hahaha!" canda Leon. Ia terkam perut Liam dengan wajahnya kemudian menggelitik menggunakan dagu dan hidungnya.
Liam tertawa geli. Air mata sampai keluar saking lamanya ia tertawa. Tangan dan kakinya terus menghentak gembira di udara karena Leon masih menggendong dan belum menurunkan.
Jecy memandangi itu semua dengan tersenyum dalam haru. Leon terlihat begitu perhatian dan sayang pada putra mereka.
"Liam, makan cemilan dan minum susu terlebih dahulu," ujar Jecy menginterupsi kesenangan itu, ia meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja kayu.
Akhirnya Leon menurunkan Liam. Bocah kecil itu menyambut dan menghampiri mommy-nya dengan gembira. Jecy menyeka keringat juga beberapa kotoran rumput kering di atas rambut hitamnya.
"Tidak ada kopi untukku?" tanya Leon yang sudah berdiri di samping Jecy, yang sedang memberikan gelas berisi susu cokelat pada Liam.
"Ah, Tuan Leon ingin kopi?" Jecy menoleh dan balik bertanya. Sebenarnya tadi dia ingin membuatkan Leon kopi, tapi dia tak tahu selera kopi pria tersebut.
__ADS_1
Tak menjawab. Leon hanya berdiri dalam diam. Sudut matanya melirik Liam yang sedang memakan kukis buatan mommy-nya.
"Tuan Leon?" Jecy bingung karena didiamkan.
"Cukup panggil aku Leon."
Jecy terkejut mendengar permintaan tak terduga Leon, dengan ragu dia berkata, "Maaf...? Bagaimana bisa aku melakukan itu?"
Alis Leon menukik, "Kau bahkan bukan bawahanku. Atau kau ingin menjadi seperti itu?"
"Eh? Tidak!" Jecy menggeleng cepat, siapa juga yang ingin menjadi bawahan pria itu, "Baiklah..."
Berhenti sesaat, wanita itu menghela napas.
"Leon...?" ucapnya canggung.
"Bagus," Leon menarik kecil sudut bibirnya. Merasa puas.
Jecy tercengang, tidak habis pikir. Sebegitu inginkah Leon dipanggil tanpa embel-embel tuan?
"Ah, Daddy. Aku punya sesuatu untukmu!" sela Liam di antara kecanggungan yang dirasakan Jecy.
"Untuk daddy?" Leon menegaskan lagi.
"Apakah itu...?" pikir Jecy ketika melihat punggung kecil yang berlalu untuk mengambil sesuatu untuk ayahnya.
Tidak lama kemudian, Liam kembali dengan membawa sebuah kertas yang terlipat menjadi dua, lalu segera memberikannya pada Leon.
"Ini dia!"
Leon menerima kertas pemberian Liam dengan bingung, "Apa ini? Bolehkah daddy membukanya sekarang?"
"Ya!"
Setelah mendapat persetujuan dari bocah kecil itu, Leon membuka lipatan kertas tersebut. Terlihat goresan seperti gambar seorang laki-laki berpakaian rapi dan membawa tas kerja. Gambar dengan warna yang tidak beraturan, tapi membawa pesan penting.
"Liam, kau menggambarku?" ucap Leon agak tercekat.
__ADS_1
_To Be Continued_