
"Kenapa, baji──"
"Kenapa kau mencekiknya?" desis Leon memegang kuat tangan lelaki yang mencengkram leher Jecy.
"Argh!" raung si pria berambut cokelat akibat kekuatan dari tangan Leon yang tidak segan mematahkan tangannya, ia langsung melepas cekikannya.
Jecy ambruk ke lantai dengan napas yang tersengal-sengal. Memegangi leher yang terdapat bekas kemerahan dari tangan yang mencekiknya. Dia terbatuk terus-menerus karena kekurangan udara dan berusaha memuntahkan cairan yang tadi dicekoki.
"Bedebah! Siapa kau? Jangan ikut campur dalam urusan kami! Kau tidak tahu betapa berbahayanya kami, ha! Kami adalah sekelompok mafia──"
"Berisik!" sela Leon mengetatkan rahang. Matanya buas, menatap bengis pada tiga lelaki yang menyerang Jecy. Mereka tidak perlu tahu siapa dirinya dan dia tidak perduli siapa mereka. Leon sudah cukup murka untuk mengirim ketiga bajingan itu ke neraka.
Tidak banyak bicara. Tidak pula menjawab. Pria bermata hazel itu langsung mengepalkan tangan dan melancarkan tinju pada bawah kepala pria lainnya. Pukulan telak pada dagu lawan, macam seorang petinju profesional. Seketika pria itu terhuyung mundur beberapa langkah.
"Kurang ajar!" teriak si kepala botak bangkit dari posisi bersimpuh di sudut ruangan, kemudian berlari menuju Leon. Siap menghajar sang CEO.
Dengan sigap, Leon menghindar dari pukulan pertama pria botak dengan mudah. Dia cukup menggeser badan sedikit ke kanan dan lepas dari serangan. Melihat itu, membuat musuh menjadi malu dan semakin ingin membalas.
Marvin datang bersama dua bodyguard hendak menyelesaikan semua ini, tetapi Leon menggeleng. Ia justru menyuruh bawahannya itu diam saja. Rupanya, lelaki gagah dan tampan itu sangat dendam dan ingin membereskan sendiri.
Jecy dibantu Marvin untuk berdiri. Wanita itu merasa agak risau melihat Leon sendiri melawan tiga pria mafia.
"Saya justru takut ketiga lelaki itu yang akan belur dan mati si sini kalah Tuan Leon sudah lepas kontrol," ucap Marvin seolah dapat membaca pikiran Jecy.
Dan benar saja, apa yang terjadi selanjutnya membuat Jecy terbelalak sampai menutup mulut dengan kedua tangan.
Leon dengan wajah blaster tampannya. Siapa sangka, ternyata dia sangat mahir bela diri.
Wajah Leon terlihat serius. Matanya memicing tajam bagai harimau bengal yang ingin menerkam mangsa. Napas memburu. Kakinya bergerak gesit menendang, gerakannya secepat kilat, tinjunya dilesakkan tepat mengenai bagian-bagian tubuh vital, di saat lawannya menggunakan pisau pun dia bisa mengatasinya.
Tidak sampai lima menit, lawannya tumbang dengan tetesan darah yang mengalir dari hidung dan mulut, tiga pria mafia itu satu-persatu rubuh. Mereka yang dengan kurang ajar melecehkan Jecy sekarang sedang merintih, sambil memegangi perut yang sesak dan nyeri akibat dihajar kaki lincah Leon.
__ADS_1
Namun demikian, melihat musuh sudah jauh dan lemas tidak membuat Leon puas. Ia meringsek maju, menginjak tangan milik si pria botak.
"Kau yang berani menyentuh perempuanku!" hardiknya kasar.
Leon masih terus menginjak tangan pria botak itu, belum berhenti meski si pemilik tangan menjerit kesakitan. Dia justru ingin sekali memotong tangan itu.
"Barani kau pegang-pegang perempuan itu! Mati saja kau!"
Tangan Leon mengepal di udara. Dalam sepersekian detik, kini kepalan itu berganti menghantam wajah si botak. Tidak cukup memberi tiga pukulan, dia belum berhenti sementara musuhnya hampir tidak sadar diri. Percikan darah terlihat melayang beberapa butir di udara tiap pukulan Leon dilesakkan.
Jecy ngeri melihat itu semua. Dia tidak mau tiga pengganggunya sampai mati, terlebih mati di private room restoran ini. Karena tidak melihat adanya pergerakan melerai dari Marvin dan kedua bodyguard, kaki wanita itu cepat dilarikan menuju Leon.
"Tuan! Tuan! Hentikan!" seru Jecy menahan tangan Leon, memegang lengan dan menariknya.
"Kau tidak ingin mereka mati? Bukankah mereka sudah melecehkanmu?" desis Leon melirik kesal.
"Tidak, aku tidak mau mereka sampai mati. Bukan berarti semua yang melecehkan aku harus mati."
Kalau semua yang melecehkannya harus mati di tangan Leon, maka pria itu harusnya bunuh diri saja. Bukannya dia juga pernah melecehkan Jecy baik dari sentuhan fisik, perkataan, bahkan tatapan?
Pada akhirnya, Leon menghentikan amukannya. Ia bangkit dan berdiri setelah meludahi pria berkepala plontos. Tangan Jecy digandeng, lalu melangkah meninggalkan private room dengan segala kekacauannya.
Jecy berusaha mengikuti langkah lebar dan cepat Leon. Beberapa kali mencoba lepas dari genggaman pria itu, "Mau ke mana?"
Namun, tangan sang lelaki justru semakin kuat menggenggam. Leon bungkam dan tetap Jecy memaksa untuk mengimbangi langkahnya.
**
Sampai di depan pintu mobil milik Leon, barulah genggaman itu dilepas. Ia menarik Jecy dan memojokkan wanita cantik tersebut ke pintu mobil.
Ditatapnya wajah imut dengan mata bundar, terlihat cantik dikulit wajah putih bersih bagai salju bulan Desember. Seketika wajah Leon langsung mengeras, tatkala melihat darah mengalir dari pelipis Jecy yang terluka, ia juga melihat lebam kemerahan di leher wanita itu.
__ADS_1
Mengeluarkan saputangan dari balik jasnya, Leon membersihkan darah di wajah Jecy. Mengusapnya dengan pelan dan perhatian.
Sedangkan sang wanita hanya berdiri terdiam.
"Aku bisa mendengar suaramu yang memukul mereka dengan nampan dan mendengar teriakanmu berjuang dari luar. Apa kau pikir, aku bisa mengabaikannya?" desis Leon mengeraskan wajah.
Jecy menelan saliva, menahan ketakutan ketika melihat tangan Leon yang terkepal. Apa sekarang pria itu akan memukulnya? Tapi, bukan salahnya yang tidak tahu bahwa Leon sedang makan siang di private room sebelah.
"Maafkan aku," ucap Jecy yang mengartikan kalau Leon terganggu karena keributan tadi.
"Kenapa minta maaf?" Leon mengangkat alis heran.
"Apapun itu, aku minta maaf," cicit Jecy sambil menunduk. Dia kesal pada dirinya yang lemah dan selalu saja mendapatkan masalah. Bukan berarti dia ingin menjadi seorang putri yang selalu diselamatkan sang pangeran, terlebih pangeran itu adalah Leon.
Sedangkan Leon menjadi gemas sendiri, dia benar-benar tidak membutuhkan ucapan maaf dari si wanita bermata amber. Bukankah akan lebih baik jika Jecy berucap terima kasih?
Sepersekian detik berikutnya, Leon mencubit perlahan dan gemas hidung mancung Jecy, tetapi penuh tekanan.
"Aduh! Sakit, Tuan!" protes Jecy mengelus hidungnya. Menengadah untuk melayangkan tatapan tidak terima. Namun, dia justru dihadapkan dengan iris mata kombinasi yang sedang menatapnya intens. Warna mata yang indah sama seperti putranya.
"Kurasa berterima kasih lebih bisa diterima daripada meminta maaf," ujar Leon.
"Ah, terima ka──ugh..."
Perkataan Jecy terhenti, tiba-tiba dia mulai merasa aneh. Sesegera dia memutuskan kontak mata keduanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Leon heran mendengar lenguhan Jecy, wajahnya juga tiba-tiba memerah dan berkeringat.
"Ya, hanya pusing dan panas sekali udara di sini," jawab Jecy sambil memegangi kepalanya. Entah sadar atau tidak, tangan sebelah kirinya tengah bergerak membuka kancing teratas bajunya.
"Kau..."
__ADS_1
Leon panik melihat kondisi Jecy, sepertinya ada yang salah di sini. Dia teringat sesuatu yang diminumkan paksa pada wanita itu. Jangan bilang minuman itu penyebabnya.
_To Be Continued_