SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
TIDAK PERCAYA DIRI


__ADS_3

"Sialan!"


Prangggg!


Mengumpat histeris, Kirana melempar ponsel yang masih terhubung dengan panggilan ke kaca meja riasnya. Kemudian tangannya bergerak menyapu semua koleksi parfum yang berada di atas meja, hingga tercecer di lantai, bahkan beling-beling dari botol parfum mahalnya bertaburan di sana.


Dia benar-benar marah, karena orang bayarannya telah gagal menjalankan perintah. Rencananya adalah mempermalukan dan mengambil video tidak senonoh Jecy, dengan begitu Keluarga Januartha tidak akan pernah menerima wanita itu meski dia sudah memiliki anak bersama Leon.


Rasanya Kirana ingin marah sepuasnya, memaki, mengumpat, dan menghajar wanita itu. Dialah yang paling pantas mengisi posisi Nyonya Keluarga Januartha, dia yang harus menikah dengan Leon bagaimanapun caranya.


"Astaga! Ada apa ini?" Sovian Daniel──sang Ayah, memasuki kamar Kirana dengan mengerutkan wajah.


"Ayah, bagaimana ini? Rencanaku gagal. Leon datang menyelamatkan jalng itu. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?" berucap frustasi, Kirana terduduk di pinggir kasur dengan wajah merah padam. Tangannya mengepal dengan erat, dan rahang mengatup rapat, "Leon hanya milikku! Tidak akan kubiarkan siapapun memilikinya! Selain aku!"


Kirana tidak mau usahanya yang berpura-pura menjadi gadis baik selama ini──demi bisa dijodohkan dengan Leon, berakhir sia-sia. Dia bahkan rela membuang Leonard yang telah menjalin hubungan cukup lama dengannya, hanya karena pria itu bukanlah pewaris Keluarga Januartha.


Sebab tujuan Kirana dan Sovian adalah puncak, mereka ingin menguasai harta Keluarga Januartha. Tidak menikah dengan Leon, itu berarti ambisi mereka tidak akan terwujud.


"Tenanglah, Kirana. Bukan berarti ini sudah berakhir," ujar Sovian menenangkan putrinya.


"Aku takkan bisa tenang, Ayah," gusar Kirana.


"Bukankah putra kedua Keluarga Januartha sangat mencintaimu? Kenapa tidak kau manfaatkan saja Leonard? Meski begitu dia juga dapat melindungimu," saran Sovian tersenyum culas.


Seketika Kirana terdiam guna memikirkan saran ayahnya. Ya, benar. Kenapa sebelumnya dia tidak kepikiran Leonard?


Dia hanya perlu mengutarakan beban hatinya dan menangis tersedu-sedu di hadapan Leonard, maka kembaran dari Leon itu akan iba padanya.


Leonard pasti tidak terima jika Leon menyakiti wanita pujaannya. Pria itu juga tahu bagaimana kerasnya perjuangan Kirana demi mencairkan hati Leon yang membeku. Dia yang menghibur Kirana ketika wanita itu mencurahkan kesedihannya setiap kali terluka oleh saudaranya. Bahkan dia sampai rela menjadi tempat pelarian sesaat.


Dia mencintai Kirana. Sangat-sangat mencintainya.


Sepertinya, Kirana akan menuruti saran Sovian.


**

__ADS_1


"Brengsek! Jadi wanita sialan itu yang menyuruh mereka?" geram Leon selesai mendengar laporan Marvin yang terdengar dari sebrang ponselnya.


Memejamkan mata dan berusaha kuat untuk tidak meninju apapun. Ia tidak bisa kembali menunjukan sisi terburuknya pada Jecy, meski wanita itu masih terlelap di sebelahnya.


"Ya, Tuan. Nona Kirana telah membayar mereka untuk mengambil video memalukan Nona Jecy."


Leon tidak menyangka, Kirana akan berbuat sejauh itu. Sialan, dia memang harus segera memberitahu ibunya untuk membatalkan perjodohan karena dia sudah memiliki Jecy dan Liam. Dan tentunya akan membuat wanita itu menderita.


"Baiklah, biar aku yang mengurus sisanya," ucapnya pada sang sekretaris.


"Baik, Tuan."


Diliriknya jam tangan rolex yang melingkar gagah di pergelangan tangan. Sudah pukul 6 sore, ini adalah waktu tempat penitipan anak di mana Liam dititipkan tutup.


Sebenarnya Leon ingin menjemput Liam, tapi dia harus menjaga Jecy. Terlebih dia tidak percaya diri untuk bertemu bocah kecilnya, merasa takut mendapatkan penolakan. Dia berharap putranya dapat memaafkannya dan mereka bisa kembali bermain bersama.


"Marvin, bisakah kau menjemput Liam di daycare? Aku tidak tahu kapan Jecy pulih, anakku pasti akan menunggu ibunya. Kau bisa membawanya ke sini──ah, tidak. Dia pasti takut bertemu denganku. Kau temani saja dia di rumah sampai ibunya pulang," ujar Leon sebelum memutus panggilan telepon.


"Ya, saya akan menjemput tuan muda kecil."


"Bos, anda tidak perlu khawatir. Saya yang bujangan ini akan berusaha sebaik mungkin menjadi baby sitter sementara untuk anakmu. Anda hanya perlu memberikanku bonus tiga kali lipat."


Leon berdecak karena sang sekretaris memotong ucapannya, ia akan membiarkannya kali ini, "Tck, baiklah. Aku percayakan anakku padamu."


Kemudian ditutupnya panggilan telepon itu, kembali ia melirik Jecy yang terlihat tidak terganggu sama sekali. Sudah hampir dua jam wanita itu tidur, mungkin sebentar lagi bangun.


Ting tong!


Tidak lama, suara bel penthouses berbunyi. Leon segera beranjak keluar dari kamar itu dan melangkah menuju pintu masuk. Ketika pintu dibuka, terlihat seorang pria tinggi besar dengan jas hitam dari balik daun pintu.


"Ini bubur pesanan anda, Tuan."


Leon menerima bungkusan yang diberikan bodyguard-nya. Mengingat perkataan dokter untuk memberi Jecy bubur atau sesuatu yang mudah dicerna, tapi dia tak mau kembali meracuni Jecy dengan bubur buatannya, pria itu pun memilih untuk membelinya.


"Ya, terima kasih. Kau boleh kembali ke tempatmu," ucap Leon pada si bodyguard.

__ADS_1


Kemudian dia melangkah menuju dapur, mengambil mangkuk keramik guna memindahkan bubur putih polos itu. Jika ditanya di mana para pelayan, maka jawabannya karena Leon memang tidak menugaskan pelayan untuk mengurus penthouses miliknya. Hanya ada seorang bibi yang akan datang bersih-bersih dua hari sekali.


**


Sementara itu.


"Mmh..."


Terdengar lenguhan dari bibir peach si wanita, kelopak mata terbuka menunjukan bulan sabit berwarna kuning keemasan. Jecy bangkit terduduk. Dia merasa panas, dan tidak nyaman.


Sakit.... dia ingin melakukannya. Ingin sekali dipeluk.


Ternyata efek dari stimulasi belum hilang. Wanita itu sudah sangat kepanasan.


Membuka pakaiannya. Kini, tangan Jecy dinaikkan, memeluk tubuhnya sendiri. Menghadirkan sensasi seakan dirinya sedang dipeluk. Ketika telapak tangan menyentuh lengannya sendiri, ia makin yakin kalau dirinya sudah gila.


"Jecy," suara berat familiar terdengar nyata, Jecy menoleh ke samping.


Jelas saja itu nyata. Ternyata memang Leon sedang ada di situ. Menatap dengan wajah memerah dan mata terbuka lebar.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengintip," gumam Leon kikuk.


Menelan saliva dengan susah payah ketika melihat tubuh setengah telnjang wanita itu. Ia yang ingin mengecek apakah Jecy sudah bangun, justru diperlihatkan tontonan yang menggoda iman.


Apa yang sedang Jecy lakukan? Apa dia sedang mencoba menyentuh dirinya sendiri? Astaga, itu benar-benar seksi!


Tanpa diduga-duga, Jecy menurunkan kakinya dari tempat tidur, lalu berlari ke arah Leon dan menubruk ke dalam pelukan pria itu.


"Tolong lakukan untukku, aku ingin melakukan denganmu sekarang," lirihnya dengan napas berat yang tersengal-sengal. Ia memeluk erat si pemilik tubuh kekar.


Oh, God! Kesadaran Jecy benar-benar terkoyak oleh stimulasi sialan itu. Apa yang harus Leon lakukan? Dia tahu bahwa situasi ini tidak benar, dia tahu dia tidak boleh tergoda.


Namun, untuk wanita ini, dia tetap...


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2