SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
DIPERTEMUKAN TAKDIR


__ADS_3

"Liam? Apa kau masih di dalam, Nak?"


Terdengar suara seorang wanita dari luar pintu toilet. Leon seperti mengenali suara itu. Suara yang mengetuk rasa rindu di sanubarinya.


"Ah, itu ibuku. Aku harus pergi, Paman."


Kepala Leon mengangguk, matanya terus mengekori Liam yang berlari kecil ke arah pintu keluar. Jujur, dia merasa berat berpisah dengan bocah itu.


Namun, kenapa dia merasa demikian?


Leon melihat sebuah paper bag besar yang tergeletak di samping wastafel, dia ambil itu dan melihat isi di dalamnya. Sebuah mainan robot milik Liam yang tertinggal.


Sementara itu, Jecy yang khawatir dengan putranya yang begitu lama di dalam toilet tersenyum lega ketika Liam menghampirinya.


"Kenapa lama sekali, Sayang?" tanya Jecy mengelus lembut pipi tembam Liam.


"Tadi Liam sedikit kesulitan menjangkau kran air, tapi ada seorang paman tampan yang membantu," celoteh si bocah imut riang, bahkan bola mata hazel miliknya sampai berbinar-binar.


"Paman tampan?"


Jecy bertanya-tanya, siapa orang baik itu sehingga dapat membuat Liam terlihat begitu menyukainya?


"Ya, Mom. Paman tampan memiliki mata yang mirip dengan Liam, dia sangat keren."


"Huh? Siapa orang yang lebih keren daripada putra mommy?" Jecy mengangkat tubuh Liam yang semakin hari semakin berat, merasa agak sedih karena anaknya kian menjadi dewasa.


Liam tertawa, berbunga-bunga karena dirinya dibilang keren. Ketika memeluk leher sang mommy, dia melihat Leon yang berjalan mendekat. Seketika kedua matanya melebar antusias.


"Mom, lihat ke belakang! Itu paman tampan! Oh, dia membawa mainan robot milikku!" seru Liam sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, sampai membuat ibunya kesusahan.


Jecy refleks menoleh ke belakang. Dan detik berikutnya, mata wanita itu langsung terbelalak. Bola mata sampai hendak melompat dari kelopak saking lebarnya dia membuka mata. Garis wajahnya menjadi kaku seketika.


"Tu... Tuan L.. Le...?" bibir terkunci seketika. Menyebut nama Leon saja tidak sanggup. Rahangnya mengeras, terlihat gemetar, menahan ledakan rasa di dalam dada.


Sama halnya dengan Leon. Bahkan pria itu sampai mematung di tempat.


Kepalanya ditundukkan, lalu sekian detik kemudian mendongak kembali, menatap tidak percaya. Sampai tiga kali dia melakukan itu. Berpikir dirinya yang sudah gila dan melihat semua wanita menjadi Jecy.


Kedua mata dia gosok-gosok. Hanya ingin memastikan memang benar Jecy Ketlovly yang sedang menggendong bocah laki-laki si pemilik mainan robot.

__ADS_1


Leon dan Jecy masih kesulitan mencerna dan menerima kejadian ini. Semua diproses secara lambat karena dipenuhi keterkejutan.


"Jecy?" desis Leon lirih, sudah yakin jika wanita itu benar-benar wanita yang dicarinya selama ini.


Napas Jecy menjadi berat, tersengal. Pundak naik turun, dada kembang kempis. Dipeluknya Liam semakin erat. Kakinya bergerak cepat, berbalik pergi menjauh dari Leon


Wanita itu berlari secepat yang ia bisa. Wajahnya bagai melihat hantu. Pucat, sangat ketakutan.


Lalu bagaimana dengan Liam? Bocah kecil itu merasa kebingungan. Dia melirik ke belakang punggung ibunya, melihat Leon yang mengejar mereka.


"Mom, kenapa berlari? Paman tampan mengejar kita. Berhenti, Mom. Bagaimana dengan mainan robot?"


Mau bagaimanapun, Liam tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kedua orang tuanya yang telah bertemu kembali itu.


"Liam!" teriak pria itu masih mengejar ibu dan anak itu.


Suasana ramai mall menghalangi langkah lebarnya. Namun, bukan Leon namanya kalau tidak bisa membuat orang-orang menyingkir dari hadapannya. Karena dia memberi berbagai umpatan kasar pada setiap orang yang menghalangi, bahkan dia tidak segan melayangkan tinju.


"Mom, paman tampan memanggilku. Dia yang membantuku di kamar mandi tadi, dia bukan orang jahat. Dia hanya ingin mengembalikan mainan robot milik Liam."


"Tidak! Dia orang jahat! Berhenti melihatnya!"


"Kenapa harus Leon lagi? Kenapa dia ada di Indonesia?" batin wanita itu luar biasa panik.


Melewati pintu keluar mall, menuju parkiran yang kondusif, Jecy bingung. Tidak ada taksi. Dia harus memesan secara online dulu seperti sebelumnya. Kepala menoleh kanan dan kiri.


Dia harus kabur dan kembali bersembunyi dari pria itu. Terlebih Leon sudah bertemu dengan anaknya. Dia tidak boleh tertang──


"Tertangkap kau!"


Grep! Tangan yang kokoh mencengkram lengannya, dan menghentikan pelarian wanita itu.


Leon menarik Jecy, lalu langsung membalikkan badan sang wanita hingga menubruknya, begitu pula anak kecil yang sedang digendong.


Jecy mendelik, semudah itu Leon mengejarnya. Apa ini? Kenapa pria itu tidak menyerah saja?


"Lepaskan! Lepaskan aku, brengsek!" dia meronta saat Leon tiba-tiba memeluk ketika tubuhnya menubruk barusan.


"Kau tidak akan kulepaskan," ucap Leon semakin mengetatkan pelukannya, "Kenapa kau takut sekali padaku? Hei! Aku tidak mengigit!"

__ADS_1


"Lepaskan aku! Ya, aku takut sekali padamu! Tolong, lepaskan aku!" Jecy memelas, pelukan pria itu begitu rapat sampai ia tidak bisa bergerak lagi. Terlebih ada Liam yang tergencet di antara mereka.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kau tidak tahu penderitaan apa yang kualami karena──argh!"


Gigitan keras hadir di tangan Leon sampai membuatnya berteriak kesakitan.


"Lepaskan mommyku!" geram Liam di sela-sela gigi taring yang menancap di pergelangan tangan Leon. Anak itu marah karena menyadari ketidaknyamanan ibunya.


Tentu saja, Liam akan melindungi sang ibu dari orang jahat.


Tidak ingin tangannya berakhir putus karena gigitan seorang anak empat tahun, Leon melepaskan Jecy dan mundur tiga langkah. Terlihat bekas gigitan berwarna merah keunguan serta sedikit darah di kulitnya yang putih.


Ke mana perginya bocah manis yang tadi bertemu dengannya di toilet? Di matanya, Liam menjelma menjadi kucing yang marah karena merasa terancam.


"Tenang, Boy. Paman tidak akan menyakiti kalian, oke?" rayu Leon yang justru tidak marah pada bocah itu. Entah ke mana tempramen buruknya.


"Tidak! Kata mommy, paman orang jahat!" Liam masih menatap marah, tidak percaya begitu saja, dia lebih percaya perkataan ibunya.


Leon tertohok mendengarnya. Meski mengakui kalau dia bukan orang yang baik, tapi tetap saja tidak menyenangkan dianggap orang jahat oleh bocah kecil yang serupa dirinya itu.


Di tengah-tengah ketegangan, Jecy melihat taksi yang berjalan mendekat, itu seperti angin sejuk baginya. Segera dia berteriak menghentikan kendaraan berwarna biru itu.


"Taksi!"


"Sial, mau ke mana kau, Jecy?" desis Leon yang tentu saja tidak membiarkannya.


Namun, wanita itu tidak perduli dan tetap menghampiri taksi yang sudah berhenti.


"Kak Leon? Sedang apa kakak di sini? Kenapa meninggalkanku?"


Tiba-tiba Aletta datang dengan berbagai pertanyaan dan menarik tangannya, menghentikan Leon yang hendak mencegah Jecy masuk ke dalam taksi.


Sungguh sial, lagi-lagi Leon kehilangan sesuatu yang dia inginkan dan kedua kalinya pada wanita yang sama.


Meski begitu.


"Biar saja. Aku tidak akan kehilanganmu ketiga kalinya. Benar, Jecy?" batin Leon menatap penuh arti taksi yang menjauh.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2