
"Memang, dan aku tidak cukup keji untuk memisahkan seorang anak dari ibunya. Di lain pihak, aku sama sekali tak setuju dengan konsep orang tua tunggal. Karena itu kita hanya punya satu pilihan."
"Apa?"
"Memberi Liam orang tua yang lengkap."
Dahi Jecy mengerut dalam, "Tapi bagaimana?"
"Hanya ada satu jalan," ujar Leon tanpa ekspresi, "Kau menikah denganku."
Memang Leon mengakui dirinya tipe orang yang kaku bila menyangkut perasaan. Bahkan sebenarnya dia termasuk pria otoriter, semuanya harus dalam kendalinya. Dia ingin membuat membuat Jecy bergantung padanya. Maka dari itu, dia ingin bertindak cepat dan tidak mau berkahir salah mengambil langkah.
Mungkin dia egois karena menginginkan anak sekaligus ibunya. Leon hanya ingin berada di tengah-tengah Jecy dan Liam. Dia berharap dengan tangannya sendiri bisa membuat wanita itu bahagia, bisa menjaga anak mereka. Bersama-sama membesarkan Liam. Kali ini, dia berjanji untuk selalu melindungi keduanya.
Sementara Jecy, yang tidak ingin terikat hubungan apapun dengan Leon dibuat melongo tatkala kata 'menikah' merambat syaraf pendengarannya. Menaruh ketidak percayaan.
"Kau pasti tidak serius?" tanyanya setelah menarik diri dari keterkejutan.
Leon meraih botol minuman dan mengisi gelasnya, dengan tenang disesapnya cairan berwarna merah itu dan dipandanginya Jecy, "Oh, tapi kau keliru, Jecy," ia tersenyum, "Aku serius. Sangat serius."
"Tapi..." ucap Jecy sesaat menelan saliva berat, "Sekarang ini pria-pria tak perlu menikah untuk alasan itu."
"Aku tahu. Tapi terkadang, mungkin mereka harus. Khususnya dalam kasus kita. Soal orang tua saja, misalnya, coba kau pikirkan. Bayangkan betapa terlukanya orang tuaku kalau tahu kita punya anak namun tidak menikah. Kau mungkin bisa saja berbohong kalau aku sudah mati, tapi sekarang Liam sudah tahu kalau daddy-nya masih hidup..."
"Aku..." sela Jecy, tapi Leon tak memberinya kesempatan.
__ADS_1
Ini berbahaya, ia harus semakin meyakinkan Jecy untuk memberinya lampu hijau. Pria itu tidak ingin adanya penolakan satupun membiarkan wanita itu membentangkan jarak.
"Aku tidak mau menutup-nutupi keberadaan Liam. Aku ingin terlibat dalam kehidupannya. Aku ingin hidup Liam mantap secara emosional maupun finansial, dan aku bisa memberikan itu padanya. Pikirkan tentang Liam. Dia membutuhkanku, kau tidak bisa egois membatasi hubungan ayah dan anak."
Tak ada cara lain selain menggunakan Liam sebagai alasan. Tapi tanpa sadar, Leon justru membuat Jecy tersinggung mendengarnya.
"Kau berpikir selama ini aku tidak benar-benar bisa merawat anakku hanya karena aku tidak sekaya dirimu!" semprot Jecy.
Hidupnya memang pas-pasan, namun, tak sampai kekurangan meski dulu ia sempat berjuang mati-matian. Ia masih bisa memberikan makanan meski bukan yang paling enak, juga membelikan baju dan mainan untuk Liam walau bukan yang terbaik. Tapi selama dia hidup tanpa Leon, nyatanya Jecy masih dapat bertahan bersama Liam.
Jecy sudah terbiasa hidup mandiri, kenapa sekarang Leon memintanya bergantung tangan?
"Kau kira aku sekejam itu pada anakku dengan menjauhkannya darimu? Kupastikan kau bisa menemuinya kapanpun, karena suka tidak suka dia tetaplah darah dagingmu," lanjut Jecy, berdesis dengan mata amber melebar.
"Jecy, tidak bisakah kali ini bersandarlah padaku? Aku tidak akan melepaskan Liam..." ──dan dirimu, ucap Leon kembali mencoba meyakinkan, "Liam tidak akan hidup tanpa seorang ayah lagi, tidak dirimu atau diriku yang akan menemaninya mengajari arti kehidupan. Namun, kita berdua. Kupastikan dia merasakan keluarga lengkap. Aku akan melakukan apapun untuknya..." ──untukmu, untuk kita bertiga.
"Termasuk pergi dari kehidupan kami?" suara Jecy bertanya menuntut, menyuruh Leon menyerah.
"Kau belum memberiku kesempatan, Jecy!" balas Leon gerah, 'pergi' adalah satu-satunya yang tidak bisa dia lakukan. Wajahnya berubah kecewa dan kesal.
"Kau memang tidak memiliki kesempatan. Kepalaku pusing, aku tidak dapat berpikir jernih mengenai ajakan menikah. Kurasa kita hanya akan berakhir sia-sia jika meneruskan hal ini, Tuan Leon. Untuk hubungan kau dan aku, maksudku kita bertiga sebagai keluarga utuh, bukanlah yang terbaik. Kau sepertinya lupa bahwa di antara kita ada rasa antipati. Apakah menurutmu situasi begini baik untuk perkembangan Liam?"
Bukan karena ucapan sang pria yang belum menyakinkan, tidak menyentuh sisi manusiawinya. Jecy berpikir menikah adalah sebuah langkah yang besar. Membangun rumah tangga bukanlah suatu yang mudah. Dalam berumah tangga tentunya akan banyak permasalahan baik dari dalam maupun dari luar. Terlebih tidak ada cinta di antara dirinya dan pria itu.
Leon menghela napas, Jecy benar-benar sulit diyakinkan, wanita yang lebih dengan antisipasi dan kewaspadaan, "Itu tergantung pada cara kita mendirikan pernikahan ini."
__ADS_1
"Maksudmu, seperti mendirikan perusahaan?" sinis Jecy. Berpikir bahwa laki-laki ini sangat keterlaluan.
"Kenapa tidak? Lembaga apa pun akan lebih berhasil bila mempunyai kerangka dasar, meskipun tentu saja kerangka itu tidak seratus persen sempurna," ucap Leon mencoba mengajak Jecy untuk mengerti.
"Dan kerangka apa yang kau rencanakan untuk pernikahan kita?" tanya Jecy lirih.
"Kau sepenuhnya bebas walau sudah menjadi istriku. Kita bisa merawat Liam bersama. Kau masih boleh bekerja tapi tidak perlu terlalu keras, aku akan meluangkan waktu untuk mengasuhnya. Memasukan Liam ke sekolah terbaik yang dia sukai. Dia pasti tidak lagi diejek teman-temannya karena memiliki daddy yang luar biasa sepertiku."
Jecy terdiam. Kalimat terakhir dari Leon menyusup dalam relung hati. Wajahnya langsung berusaha sedih, pandangannya menerawang ke arah tembok putih di belakang pundak lebar lelaki itu.
"Aku ingin kau berperan sebagai istriku dan mendampingiku di depan umum. Kau akan menjadi nyonya rumah di pesta-pesta yang kuadakan, dan kau harus ikut bila aku bepergian. Tapi kita bisa mengatur jadwalnya sehingga tidak bentrok dengan tugas-tugasmu di restoran. Yang terpenting adalah, aku ingin menjadi seorang ayah yang sah, dan itu hanya bisa dicapai dengan pernikahan," beber Leon kembali.
"Aku akan berbicara pada Liam. Sebisa mungkin akan membujuk dirinya untuk menerimamu. Kurasa pembicaraan kita telah usai," ujar Jecy ingin mengakhiri pembicaraan ini.
Leon menghela napas kasar. Rasa khawatir mulai bermunculan. Hatinya sangat ingin menikahi Jecy, namun, wanita itu terus saja menolak. Tidak, dia tidak mau menyerah.
"Satu bulan," Jecy belum mengerti maksud pernyataan Leon, "Kau dan Liam akan tinggal bersamaku selama satu bulan. Bila dalam 30 hari aku tidak bisa membuatmu yakin maka aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kalian."
Katakanlah bahwa dirinya sudah putus asa. Leon benar-benar akan mempertaruhkan segalanya dalam waktu yang dia tentukan. Dia tidak melihat pilihan lagi, apapun akan dia lakukan. Secara perlahan dia harus bisa masuk dalam kehidupan Jecy. Meskipun secara paksa. Memintal untaian benang hidup mereka.
"Aku tidak menerima penolakan. Bila kau bisa memaksaku pergi maka aku juga bisa memaksamu untuk tinggal bersamaku. Kita impas, hanya diakhir nanti kita akan tahu..."
...Perasaanmu atau perasaanku yang akan menang.
Ini pernyataan perang. Leon tidak akan gentar untuk menyerang Jecy. Rencana-rencana telah tersusun di dalam pikirannya.
__ADS_1
Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis, "Setelah aku mendapatkan Liam, aku akan mendapatkanmu, Jecy," batinnya.
_To Be Continued_