SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
BERSENANG-SENANG


__ADS_3

Kalau dipikir-pikir ini, adalah pertama kalinya Liam pergi ke taman hiburan. Bagaimana dengan Jecy? Leon tahu sejak kecil kondisi keluarga wanita itu tidak baik, jadi...


Malam ini, Leon harus melakukan yang terbaik untuk membuat kedua orang tercinta bersenang-senang.


Mereka melangkah ke toko sovenir, Leon memasangkan bando telinga kucing pada anaknya.


Liam terlihat menyukai bando pemberian daddy-nya, "Woah, ikat kepala telinga binatang!"


"Hey, kau juga harus pakai," ujar Leon mengambil bando telinga tikus yang ingin dia pakaikan pada Jecy.


"Aku? Juga pakai?" ucap Jecy menatap tangan Leon yang tengah memegang bando, dan memakaikannya di kepala bersurai cokelat muda.


Benar-benar mirip tikus perempuan.


Pria itu tersenyum melihat betapa menggemaskannya Jecy, "Ini seperti ritual di taman hiburan. Kau juga harus melakukannya."


"...benarkah?" Jecy melempar pandangan ke rak sovenir dan mengambil bando telinga kucing yang mirip seperti milik Liam, "Jadi, kau juga. Tundukkan kepalamu."


"Aku juga?" meski begitu, Leon menurut menundukkan kepala agar Jecy bisa memasangkan bando tersebut.


"Katanya itu adalah ritual permainan," ucap Jecy menyalin kalimat sang pria.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Leon dengan ekspresi datar.


Jecy berkedip, lalu menutup bibirnya menahan tawa.


"Kenapa?" tanya Leon bingung, ia melihat dirinya di pantulan kaca yang tersedia.


"Tidak, kau terlihat lucu menggunakan itu," Jecy tersenyum melihat wajah Leon yang sangat berbeda memakai bando itu, terlihat lebih enak dipandang.


Leon mendengus, tapi tidak melepas bando kucing yang dikenakannya. Demi Jecy tersenyum, tidak apa-apa. Beruntung tidak ada orang yang dia kenal di sini. Kalau ada, mau ditaruh di mana wajah tampannya?


"Deddy adalah yang paling keren~!"


Setidaknya, Liam masih menganggapnya keren.


Kemudian mereka mulai bersenang-senang. Suasana taman bermain dan segala aktraksi hiburan sangat menakjubkan dan menyenangkan. Melihat berbagai aktraksi, menaiki berbagai wahana, dan masih banyak lagi. Apa yang mereka lakukan tersebut tidak hanya menyenangkan Liam, tapi juga dengan Jecy.


"Deddy semangat!" seru Liam menyemangati Leon yang sedang mengambil alih kemudi mesin capit boneka.


"Ini kesempatan terakhirmu," ucap Jecy ikut menyemangati.


Leon menghiraukan, ia menelan tombol dimulainya permainan. Lalu dengan segala kekuatan yang ia punya, jari-jari penjepit pun sudah mulai menjepit pada salah satu boneka yang sejak tadi diincarnya.


"Dad, hati-hati..." Liam terlihat serius memperhatikan.


Sang daddy mengusap peluh keringat yang keluar. Ini lebih menyulitkan daripada memenangkan tender proyek perusahaan. Dengan penuh kehati-hatian, Leon menekan tombol yang berbeda, lalu penjepit pun mulai menarik si boneka ke atas.


"Sedikit lagi..." ucap Jecy gemas.

__ADS_1


Ketiganya terus memperhatikan gerak pencapit dengan perasaan harap-harap cemas. Saat pencapit tersebut sudah dekat dengan lubang pengakhir permainan, naasnya si boneka tangkapan malah terlepas begitu saja.


"Padahal tinggal sedikit lagi!" teriak Leon geram. Ia memukul mesin pencapit boneka di depannya. Sia-sia saja dia mengeluarkan segala kekuatan pikiran dan otaknya demi memenangkan permainan tak berguna itu agar terlihat keren.


Namun, pria itu tidak menyerah begitu saja. Dia ingin bermain lagi!


"Oh, uang cash-ku habis," gumam Leon ketika merogoh saku celananya.


"Aku punya 4 lembar 10 dollar, kau bisa menggunakannya," ujar Jecy menyerahkan uangnya pada Leon.


"Oh, oke nanti aku ganti!"


"Tidak perlu," Jecy menggeleng pada satu-satunya pria yang menghabiskan uang kertas 10 dollar ke-55 di mesin pencapit boneka. Benar-benar pantang menyerah.


"Dia juga pantang menyerah dalam mendekatiku," batin Jecy dengan berdebar.


"Apa yang kau katakan? Tentu saja, aku akan mengganti uangmu kembali karena aku tahu bagaimana perjuanganmu untuk mendapatkannya."


Jecy terhentak mendengarnya. Dia pandangi wajah tampan Leon yang tersenyum lembut.


"Ya ampun, kupikir daddy bisa mendapatkannya kali ini," Liam terlihat masih antusias ketika daddy-nya kembali bermain.


Setelah melakukan beberapa putaran permainan, akhirnya Leon mendapatkan satu boneka dinosaurus berwarna hijau untuk dia berikan pada Liam. Ingin mendekatkan satu boneka lagi untuk Jecy, tapi waktu tidak memungkinkan.


Selepas mendapatkan boneka dinosaurus dari sang daddy, Liam meminta dibelikan es krim pada mommy-nya. Ingin melarang karena sudah terlalu malam untuk makan es krim, tapi Jecy tidak tega melihat muka memelas buah hatinya.


"Tolong satu stroberi dan satu cokelat!" ucap Jecy pada penjual es krim.


"Di mana mereka?" gumamnya melempar pandangan ke sekeliling.


Apa mereka berdua kembali bersenang-senang tanpa dirinya? Seketika Jecy cemberut. Dia tidak suka ditinggalkan. Segera dia memutuskan mencari si kembar beda usia.


Terlihat kedua laki-laki tersebut sedang berdiri di depan seseorang berkostum beruang cokelat yang memegang balon warna-warni. Jecy bernapas lega telah menemukan mereka.


Melangkah menghampiri, wanita itu mendengar suara serak namun rendah milik Leon yang sedang berbicara dengan Liam.


"Liam, kau tidak harus lari seperti itu. Kau harus tetap bersama daddy dan mommy."


"Ah, maafkan aku. Aku hanya ingin balon."


"Daddy tidak memarahimu. Daddy hanya mengkhawatirkanmu. Sini, pegang tangan daddy."


"Okay~!"


Jemari mungil itu menerima ukuran tangan daddy-nya. Tersenyum sambil memeluk boneka dinosaurus dan memegang balon.


Pemandangan yang... begitu hangat. Leon adalah sosok ayah yang sempurna bagi Liam. Bagaimana bisa Jecy berpikir untuk memisahkan mereka?


"Jecy."

__ADS_1


"Mom!"


Kehadiran Jecy dilihat pucuk mata Liam dan Leon. Membuat wanita itu tersadar dari lamunannya yang tiba-tiba.


"Mommy! Mommy! Sini! Liam dapat balon dari paman beruang!" teriak Liam kegirangan, menunjuk balon berwarna merah yang dipegangnya.


Jecy pun menghampiri keduanya.


**


Ketiganya saat ini tengah duduk di salah satu kursi.


"Sudah semakin gelap," ucap Jecy sembari menghirup dalam aroma udara malam, lalu kembali menjilat es krim.


"Aku tahu, waktu benar-benar berlalu," sahut Leon mengangguk. Ah, sebenarnya dia tak ingin ini cepat berakhir.


"Terima kasih banyak untuk hari ini, itu sangat menyenangkan."


"Itu bagus. Aku juga bersenang-senang."


Hening sesaat.


"Ada sisa es krim di bibirmu."


Jari solid Leon menunjuk sisi bibir sang wanita. Jecy merabanya tapi tidak berhasil menghapus semua sisa es krim. Tangan Leon terulur dan membersihkan sisa es krim di ujung bibir Jecy dengan ibu jari.


"Te-terima ka-kasih," gagap Jecy, dia merutuki gagapnya yang tiba-tiba muncul, tidak heran karena dia merasa detak jantungnya seakan sedang karaoke.


"Enak..." Liam terlihat menikmati es krim stroberi miliknya. Pipi bulat itu memerah.


"Liam lihat ke sini!" seru Jecy yang mengarahkan kamera ponsel untuk mengambil foto menggemaskan Liam.


"Permisi, apa kau ingin aku mengambil foto keluarga untukmu?" ujar seorang pria dengan kamera menginterupsi.


Jecy terdiam, tidak langsung menjawab. Foto keluarga... bolehkah mereka berfoto keluarga?


"Aku tidak tahu tentang──"


"Yey!"


"Terima kasih!"


Liam dan Leon berseru menyetujui. Jecy hanya bisa tersenyum kikuk. Kemudian mereka mulai berpose untuk dipotret.


"Satu, dua, tiga! Oke, katakan cis!"


Click


"Ini dia, tunggu sebentar dan gambar akan muncul. Kalian benar-benar seperti keluarga yang luar biasa."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2