SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
KEMBANG API


__ADS_3

"Ini... adalah pertama kalinya aku mengambil gambar semacam ini."


Jecy menatap hasil foto dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Terlihat seorang wanita berambut cokelat muda berdiri di sebelah pria berambut hitam yang sedang menggendong bocah laki-laki, ketiganya tersenyum.


Benar, ini seperti keluarga yang luar biasa.


"Aku juga, itu tidak terlalu buruk," sahut Leon mengangguk pelan. Berpikir akan sangat bagus jika dibingkai dan dipajang di meja ruang kerjanya.


Sebuah pengumuman terdengar, sebentar lagi acara kembang api akan segera dimulai. Jecy antusias, bangkit dari duduknya dan berdiri menatap ke arah langit yang mulai dihiasi pancaran kembang api warna-warni. Rasa seperti ini benar-benar menyenangkan, bisa dibilang salah satu hari yang tak mungkin dia lupakan.


Apakah Leon dan anak mereka merasakan hal yang sama?


Dari sudut mata amber, Jecy dapat melihat Leon yang ikut bediri dengan mengendorkan Liam, keduanya memandang ke arah langit malam. Dapat dilihat pancaran dua pasang mata hazel berkilau binar. Semua kekhawatiran hilang.


"Cantik," gumam Jecy tanpa sadar.


"Hmm?" Leon menoleh dibuatnya.


"Ke-kembang apinya cantik," kilah Jecy gugup.


Jecy tidak mengerti kenapa dia harus mengatakan hal bodoh seperti itu di depan Leon. Untungnya, pria itu hanya tersenyum dan menatap teduh.


"Kupikir kau jauh lebih cantik."


...hah?


Jecy terlalu terkejut untuk membalas. Tidak siap menerima lontaran kalimat gombal di situasi yang mendukung ini. Sangat berbahaya untuk hatinya.


Salah satu tangan Leon memeluk pinggang ramping itu dan menariknya mendekat, lalu meletakkan dagunya di atas kepala sang wanita. Tinggi badan mereka memang berbeda jauh, hingga dagu Leon pas di pucuk kepalanya.


Boom!


Bunyi ledakan kencang bersama dengan letupan warna-warna cerah di udara, begitu pula jantung Jecy yang ikut meletup-letup. Dalam suasa hari bahagia untuk mereka bertiga untuk bersama seperti ini seterusnya. Jecy mengerutkan bibir agar sudut bibir tidak melengkung dan fokus pada pertunjukan kembang api.


"Jecy, ada yang ingin kukatakan padamu..."


Jecy terdiam. Menunggu kelanjutan perkataan Leon. Batinnya bergemuruh dengan masih terus berdebar, bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan pria itu.


Namun, sudah lewat tiga menit, Leon tak kunjung melanjutkan perkataannya.


"Apa? Kenapa dia berhenti berbicara? Aku sudah cukup tegang, apa yang akan dia katakan?" pikir Jecy kebingungan.


Ketika Leon hendak membuka suara...

__ADS_1


Boom! Crackle!


Dan pada akhirnya, pria itu tidak menyelesaikan kalimatnya karena letusan kembang api yang semakin banyak. Mereka cantik, tapi...


Jecy sangat penasaran dengan apa yang akan Leon katakan. Dia berbalik untuk menatap lelaki tampan itu. Menuntut kejelasan dari perkataan yang tak berlanjut. Sekilas dia melirik Liam yang tertidur di gendongan daddy-nya──sepertinya sudah cukup kelelahan.


"Jecy, aku punya proposal untukmu."


Proposal...? Wajah Jecy menegang, berusaha untuk tidak terkesiap, tapi getar hatinya tidak dapat di antisipasi. Kembali menunggu. Dia menelan saliva dengan susah payah.


Terlihat Leon menarik napas panjang, "Aku sangat menyukaimu. Jadi... jika kau menyukaiku, maka..."


Boom


"Denganku..."


Boom


Kembang api mulai lagi!


Jecy tidak bisa mendengar apa yang Leon katakan. Itu semua karena kembang api...!


**


"Pada akhirnya aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan..." batin Jecy menghela napas kecewa sambil menatap ke luar jendela mobil.


Ayolah! Jecy pikir Leon bilang menyukainya. Namun setelah itu, dia tidak bisa... dia tidak bisa mengerti apapun!


Leon yang sedang mengemudi menatapnya, diam-diam melengkungkan bibir. Senyum yang tiba-tiba itu begitu indah hingga membuat Jecy yang menoleh padanya langsung kehilangan akal, pikiran wanita itu yang pusing pun semakin tumpul.


Baru kemudian Jecy meyakinkan diri untuk bertanya sendiri.


"Um... Leon, tentang apa yang kau katakan selama──"


"Mommy! Mom!" jerit Liam yang tiba-tiba terbangun, meronta dalam pangkuan mommy-nya.


"A-apa yang salah, Liam? Apa kau mengalami mimpi buruk?" tanya Jecy langsung memeluk Liam dan mengusap halus punggung kecil itu.


"Y-ya! Monster! Sangat besar! Memakan Liam dan mommy! Dalam satu tegukan besar!"


Liam menceritakan mimpi yang membuatnya ketakutan. Jangan bilang, karena habis mendapatkan boneka dinosaurus dari daddy-nya.


"Ya, ampun. Berhasil?" Jecy mengecup kening putranya, bermaksud menenangkan, "Tidak apa-apa, Sayang."

__ADS_1


"Ya, tidak apa-apa. Karena ada deddy yang melawannya," timpal Leon ikut menenangkan, salah satu tangan yang tidak memegang kemudi mobil terulur untuk mengusap kepala Liam.


Si bocah kecil mulai tertawa, "Benarkah? Deddy luar biasa!"


"Benar, bukan deddy keren? Liam juga keren."


Leon terkekeh, dan mobil itu mulai bergerak maju lagi. Namun, hanya bergerak beberapa meter kemudian berhenti. Pada titik ini, mungkin bisa sampai besok. Jecy sedang memikirkannya dengan cemas ketika dia mendengar keinginan khusus pria itu.


"Aku ingin tidur."


Ah, Jecy menatapnya dan menjawab dengan serius, "Kalau ngantuk tidur saja."


Leon menatap sang wanita sejenak, lalu tersenyum, mengusap poninya.


"Jelas, orang ngantuk harus tidur."


Tangan yang mengacak-acak rambut berhenti tiba-tiba. Berbalik dan melihat Jecy. Wanita itu berbicara lebih dahulu karena takut akan malu.


"Malam ini kita akan menginap di hotel. Kita bertiga dalam satu kamar."


**


Jecy memasuki kamar super mewah, dia melongo. Kasur begitu besar dengan detail barang-barang yang memukau. Kilau nuansa emas dan perak menyebar, bahkan sampai ke kamar mandi. Dia sangat tidak terbiasa dengan kemewahan yang selalu melekat pada seorang Tuan Januartha.


Leon menaruh tubuh mungil Liam di atas ranjang dengan hati-hati. Anaknya kembali tidur setelah terbangun karena mimpi buruk. Jecy juga mendekat untuk melihat wajah damai si bocah lelaki.


"Liam terlihat bangga memiliki ayah sepertimu," ucap Jecy sambil mengatur selimut menutupi tubuh kecil putranya.


Si pria terkesiap dibuat. Tidak menyangka akan diserang secara tiba-tiba dengan kalimat pujian dari Jecy. Dia menahan diri untuk tidak meloncat kegirangan.


"Hmm," Leon berdeham sekali, "Itu bagus."


"Ya," sahut Jecy sedikit terkekeh melihat Leon yang tidak dapat menyembuhkan ekspresi senangnya, "Aku ingin membersihkan diri. Apa tidak apa-apa kalau aku yang memakai kamar mandi duluan?"


Muncul lah kembali seringai si mesum Leon, "Kupikir akan lebih baik jika kita memakainya bersama?"


"A-apa?" gagap Jecy dengan wajah semerah tomat, "Tidak! Aku duluan!"


Segera Jecy berjalan cepat ke kamar mandi. Mau bagaimana pun pria itu berubah menjadi lebih baik, tapi dia tetap saja pria cabul! Apakah pilihan benar bagi Jecy satu kamar dengan Leon? Dia tidak akan macam-macam karena ada Liam, 'kan?


Sementara Leon, hanya tertawa melihat pintu kamar mandi yang ditutup agak kencang.


"Sangat lucu..."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2