
"Baiklah, meeting hari ini cukup sampai di sini dan terima kasih atas waktunya," ucap Leon berdiri dari duduknya untuk berjabat tangan karena meeting sudah selesai.
"Senang bekerja dengan anda," ucap sesama rekan bisnis, kemudian pamit undur diri dan keluar dari ruangan rapat tersebut.
Leon kemudian membereskan berkas-berkasnya. Tidak lama kemudian, sekretaris-nya datang dan membawa alih berkas yang sedang dipegang oleh pria itu.
Berjalan menelusuri koridor perusahaan. Setiap langkah pasti dari kaki berpantofel mahal milik sang CEO begitu terasa aura dominan, dadanya membusung dengan kepala yang agak mendongak, sama sekali tidak memperhatikan sekeliling meski banyak karyawan yang menunduk hormat padanya. Itulah sosok angkuh Leon.
"Marvin, ceritakan jadwal tentang pertemuan selanjutnya," titah pria itu pada sang sekretaris yang berjalan setengah meter di belakangnya.
"Hmm, anda memiliki jadwal pertemuan dengan Mr. Lee dari berusaha Y. Makan siang dijadwalkan juga," ucap Marvin sambil melihat agenda atasnya itu.
"Di mana?" tanya Leon, langkahnya berhenti di depan pintu lift.
Buru-buru Marvin memencet tombol lift yang dikhususkan untuk pimpinan perusahaan. Mereka akan ke basement, di mana mobil sang CEO sudah disiapkan.
"Saya memesan tempat di restauran seafood kesukaanmu."
Berbicara tentang restauran seafood kesukaan, Leon ingat pernah berkata pada Marvin kalau dirinya menyukai olahan seafood di Vendoria Restaurant. Tempat di mana Jecy bekerja.
Ah, tiba-tiba rasa rindu menelisik batinnya. Semalam Leon belum sempat berbicara dengan wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu. Ia langsung pergi sebab tak ingin menganggu momen kebahagiaan Jecy dan Liam, meski hati terdalamnya sangat ingin ikut bergabung.
Ting! Pintu lift terbuka dan kedua pria itu memasukinya.
"Kau sengaja, ya?" selidik Leon setelah pintu lift kembali tertutup.
Marvin tak menjawab, dia justru menyerahkan sebuah berkas bertuliskan "contracts" pada Leon, "Setelah mencapai kesepakatan dengan Mr. Lee, anda harus menandatangani kontrak ini untuk mereka."
"Kupikir aku harus menandatangani lebih dari ini," sahut Leon menerima berkas itu, lalu mengeceknya di beberapa bagian.
"Saya hanya memberikan anda kontrak penting. Dan semoga urusan cintamu berjalan lancar, Bos."
Jika urusan asmara si bucin Leon berjalan lancar, Marvin akan langsung mengajukan cuti karena sudah terlalu lelah dengan tumpukan dokumen yang ditelantarkan tuan-nya itu.
**
"Chef Jecy, ada seorang pelanggan VIP yang sangat menyukai masakanmu, dia ingin bertemu denganmu secara langsung."
__ADS_1
"Pelanggan VIP? Kenapa ingin bertemu denganku?" tanya Jecy heran.
"Pelanggan itu berkata ingin memberikan apresiasi pada Chef Jecy, dia juga memintamu untuk mengantarkan minumannya secara khusus."
"Apa kau tidak lihat kalau kami sedang repot! Katakan pada pelanggan VIP sok berkuasa itu, tugas kami memasak bukan mengantar minuman!" bentak seorang pria bertato, salah satu chef yang menjadi rekan Jecy.
Si pelayan melongo sepersekian detik mendapat semprotan sang chef yang terkenal super jutek, "Saya juga sudah bilang seperti itu, Chef. Tapi dengar-dengar pelanggan itu adalah seorang mafia, akan menjadi masalah jika mengamuk karena kita tidak melayani dan menuruti permintaannya dengan baik."
"Tapi tetap sa──"
"Tidak apa-apa, Ruben. Aku akan mengantar minumannya untuk menemui pelanggan itu sebentar. Kita memang tidak bisa mengabaikan seorang pelanggan," pungkas Jecy memotong penolakan dari pria bertato.
Sejatinya pelanggan adalah raja.
Kemudian Jecy berjalan menuju private room──tempat pelanggan VIP yang ingin menemuinya, sambil membawa nampan berisi gelas dan sebotol wine sesuai pesanan.
"Permisi."
Wanita itu membuka pintu private room, terlihat tiga orang pria yang sedang asyik mengobrol sambil menyantap makanan. Apa benar mereka adalah perkumpulan rahasia yang bisanya bergerak dalam bidang kejahatan? Entahlah, Jecy tidak tahu ciri-ciri seorang mafia seperti apa.
Ketika Jecy meletakkan gelas terakhir di atas meja, tiba-tiba seorang lelaki berambut cokelat memegang tangannya.
"Kau harus melepaskannya dengan lembut," ucapnya dengan nada suara menggoda.
Jecy langsung menepis tangan lelaki kurang ajar itu. Namun, tidak hanya sampai di situ.
"Ah, hey, hey, jangan seperti itu, dia adalah seorang chef yang berbakat. Jadi dia tidak cukup tampil dalam menyajikan minuman," ujar lelaki lain yang bertubuh tinggi besar tiba-tiba mengelus bokong Jecy.
Jecy mulai merasa takut. Apakah apresiasi yang dimaksud adalah sebuah pelecehan?
Trauma masa lalu tentang dirinya yang pernah dilecehkan dan hampir diserang bos lamanya kembali menelisik ingatannya. Tubuh Jecy gemetar, dipegangnya erat-erat nampan yang berada dia peluk. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini.
"Tidak hanya masakanmu yang enak tapi kau juga sangat cantik. Apa kau bersedia menghiburku? Aku akan membayarmu. Kau itu memiliki pantat yang bagus, jadi kenapa kau bekerja keras seperti itu? Haruskah aku membayarmu di muka? Kau tampaknya bernilai mahal, hmm?"
Tangan yang masih berada di bokongnya mulai bergerak meremas sensual, yang membuat Jecy mendelik marah.
"Heh! Kurang ajar!" jerit Jecy tak mampu membendung emosi. Dia tidak bisa diam saja ketika dirinya dilecehkan.
__ADS_1
Brakk!
Jecy memukulkan nampan ke kepala pria yang meremas bokongnya, hingga nampan yang terbuat dari aluminium itu melekuk membentuk kepala botak lelaki itu.
Seketika tubuh Jecy terhempas hingga terbentur tembok, sebab pria itu mendorongnya kasar.
"Ugh..." rintihannya merasa sangat sakit, tangan kurus wanita itu memegang pelipisnya yang berdarah.
"Bangsat!" umpat pria itu penuh amarah, kepalanya sampai dibuat benjol akibat pukulan nampan tadi. Lalu mendekat pada Jecy yang tersungkur di lantai dan menarik kerah bajunya, "Pelcur sialan! Kau bertindak seperti aturan tidak berlaku untukmu!"
"Persetan, siapa yang kau sebut pelcur! Apa kau pikir tindakanmu sesuai aturan yang berlaku? Di sini hanya restoran seafood biasa! Jika kalian ingin dihibur, pergilah ke tempat pelcuran!"
Tidak mau diam saja, Jecy kembali mencoba melawan dengan menampar pipi pria itu. Dia lelah selalu menjadi pihak yang tertindas. Kenapa hal buruk sangat suka mengikuti setiap langkah kehidupannya?
Kenyataannya, ketiga pria itu adalah orang suruhan Kirana.
Wajah yang tertampar mengeras, si pria botak memelototi Jecy dengan kedua mata yang memerah karena sangat murka.
"Sial, apa yang kalian lakukan? Tangkap dia!" bentaknya pada kedua pria lain.
Ketiga pria itu menerjang Jecy yang hendak keluar.
"Lepaskan! Dasar bajingan! Persetan, lepaskan! Dasar mesum!" jerit Jecy, berharap seseorang di luar menolongnya. Siapapun.
Ia memukuli lengan lelaki yang memeluk erat dirinya dari belakang. Tubuhnya terangkat sekitar sepuluh centi dan perutnya semakin terasa sesak akibat tekanan pria tersebut.
"Minum ini," ucap pria berambut cokelat memaksa Jecy meminum sesuatu. Bahkan dia sampai mencekik wanita itu agar membuka mulutnya.
Cklek! Pintu yang terbuka tidak menghentikan penyerangan ketiga pria itu.
"Bajingan! Apa yang sedang kalian lakukan! Berani sekali tangan kotor kalian menyentuhnya!"
Suara berat dan dingin hadir memecahkan kesenangan tiga lelaki kekar. Orang itu menarik kerah baju bagian belakang si pria botak dan mementalkan ke sudut ruangan.
Jecy mengenal suara itu. Leon...?
_To Be Continued_
__ADS_1