SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
IBU YANG TANGGUH


__ADS_3

Setelah menemani Liam makan, Leon kembali mengajak putranya untuk menemui Jecy. sedari tadi bocah kecil itu merengek agar bisa melihat ibunya. Dia terlalu rindu untuk segera melihat sang mommy


"Apa dia sudah baikan?"


Satu lengannya digunakan untuk menjaga Liam agar tetap berada dalam gendongannya. Leon tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Liam yang bertingkah aktif mendekati Jecy.


Dokter baru saja menyuntikkan obat cair ke dalam infus Jecy, "Anda tenang saja, dia hanya butuh istirahat. Beberapa saat lagi dia akan sadar."


Leon mengangguk mengerti.


"Paman, bisakah kau menurunkanku? Liam ingin memeluk mommy," rengek Liam dengan mengulurkan tangan ke arah sang ibu yang tertidur di brankar.


"Tahan dulu, Boy. Bersabarlah sedikit lagi. Mommy akan bangun jika kau memberinya sedikit waktu."


Leon mengecup sayang pipi Liam, menyesap aroma harum anak kecil. Dia tahu anaknya ini sangat ingin berada dekat dengan mommy-nya. Tapi mau bagaimanapun, Jecy sedang dalam proses pemulihan.


Ia takut gerak lincah Liam akan mempengaruhi kesembuhan Jecy.


Saat seorang suster hendak mengganti baju Jecy, Leon langsung menghadap ke arah lain. Biar bagaimanapun dirinya merasa bahwa sebuah tindakan tidak sopan jika sampai jeli memerhatikan bagian tubuh wanita yang sedang sakit. Apalagi mengetahui bahwa Jecy tidaklah berubah sejak terakhir kali dia melihat wanita itu.


Jecy masih tetap cantik meski sudah melahirkan anak usia lima tahun.


"Paman lihat, di sana Liam lahir."


"Huh?"


Reflek Leon menoleh. Liam menunjuk pada perut Jecy yang terdapat bekas luka melintang. Mirip bekas jahitan. Mata hazel terpaku, fokusnya mengecil pada satu objek di depan sana.


"Bekas apa itu?"


Liam bergerak turun dan langsung meloncat ke ranjang rumah sakit, "Mommy bilang, Liam lahir dari sini."


Anak kecil itu mencium bekas jahitan di perut ibunya. Leon buru-buru mengambil Liam, goyangan tubuh montok bocah kecil itu terlihat menghawatirkan di matanya.


"Mommy memberitahu kalau Liam lahir dari operasi. Bukankah mommy orang yang hebat, Paman?"


Celotehan anak laki-laki itu tidak terlalu tertangkap di gendang telinga Leon. Pria itu masih menatap bekas itu meski sudah tertutup oleh baju yang lebih tebal.


"Kalau begitu kami permisi, Tuan."


Dokter wanita dan suster itu segera keluar ketika tugas mereka telah selesai.

__ADS_1


Dan Leon masih berdiri di tempatnya, dia mengambil langkah untuk duduk di kursi samping ranjang. Mengamati dengan seksama bagaimana napas teratur Jecy terlihat, bagaimana mata yang terpejam itu masih enggan untuk memerlihatkan bola mata kuning keemasannya.


Sementara Liam yang duduk di pangkuan ayahnya, tiba-tiba merasa ngantuk dan tertidur.


Tangan kanan Leon mengelus punggung kecil Liam, dan tangan kirinya bergerak pelan menyikap baju Jecy. Dia sedikit gemetar sampai mata hazelnya bisa melihat secara langsung abdomen Jecy.


Bekas operasi itu melintang cukup lebar, jahitannya masih membekas memberi guratan yang pria itu sentuh pelan.


Kening Jecy mengernyit dan kelopak matanya bergerak pelan. Gerakan halus di perutnya membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


Leon meremang. Perasaanya meluap bagai sapuan badai ombak, "Apakah dari sini anakku lahir?"


Ia tidak pernah tahu apapun mengenai proses kelahiran Liam, tentang perjuangan Jecy untuk bisa menghadirkan putranya meski nyawa adalah taruhannya. Wanita itu pernah sampai mengalami pendarahan hebat karena tubuhnya terlalu kecil untuk menampung janin yang terus tumbuh membesar.


Namun, mana tahu Leon mengenai hal itu. Dia bahkan tidak tahu keberadaan janin di perut wanita yang ia cari-cari. Yang seharusnya ia lindungi dulu.


Benar-benar brengsek, jika dia menyadarinya sendiri.


Pria itu menatap tanpa berkedip, ada rasa bangga mengetahui darah dagingnya bisa lahir ke dunia.


"Ugghh," Leon tegang. Tiba-tiba suara Jecy mengerang terdengar.


Leon merasa dia seperti pencuri yang tertangkap basah sedang melakukan asusila, "Jecy..."


Seketika pupil mata hazel milik Leon melebar. Pria itu cukup dibuat terkejut. Tapi hanya sesaat, karena detik kemudian Jecy kembali mengigau.


"Aku tidak ingin sendirian, Ibu."


Ibu?


Pikir Leon tak percaya. Bisa-bisanya, Jecy mengira lengan berototnya milik seorang ibu-ibu.


"Aku kesepian... kau mau pergi ke mana?" Jecy masih tidak melepas lengan Leon, liquid bening menetes di sudut matanya.


Karena banyak alasan pria tampan itu ikut merasakan perasaan sedih dan takut Jecy. Sosok tubuh kecil yang terbaring tak berdaya bergetar disertai isak tangis yang tergugu. Wanita itu rapuh, namun ia sanggup melawan takdir yang sama sekali tidak memihaknya.


Seorang ibu yang tangguh.


"Sialan? Apa yang harus kulakukan sekarang," gumam Leon menyugar rambut hitamnya ke belakang.


Pria itu mengambil ponselnya dan men-dial nomor telepon sekretaris-nya.

__ADS_1


"Marvin, siapkan helikopter. Aku akan memindahkan Jecy ke pulau pribadiku. Akan lebih baik jika dia beristirahat di tempat yang tenang dengan pengawasan dokter pribadi. Perintahkan juga para maid di vila untuk menyiapkan satu kamar berserta makanannya."


"Kenapa tiba-tiba──"


"Dia ingin aku membawanya bersamaku."


**


Mata Jecy terbuka, tapi lemah sekali. Terlihat berusaha untuk bertahan dan sadar, juga berusaha mengatur diafragma cahaya yang masuk ke dalam pupil mata. Di antara itu semua, ia kebingungan di mana dirinya berada saat ini.


Lagi-lagi dia berada di lokasi asing.


Kepalanya terasa ringan, namun dia tahu bahwa tubuhnya menjadi lebih baik. Fokusnya tiba-tiba membesar ketika sosok Leon menyapa indera penglihatannya. Bahkan obat penenang yang masuk ke dalam tubuhnya pun tidak bisa mengendalikan deru napasnya yang memburu.


Apa dia diculik lagi?


"Putri tidur sudah bangun."


Denyut nadinya meningkat karena mendengar suara berat satu pria yang sangat Jecy takuti.


Wanita itu langsung melotot namun tubuhnya terlalu lemas untuk dipaksa bergerak. Selang infus yang melubangi kulitnya membuat Jecy terpaksa tetap berbaring. Kepalanya terlalu pusing.


"Apa yang kau lakukan padaku?"


Jecy menoleh ke penjuru ruangan asing ini. Dia tidak mengenali di mana dia berada, juga tidak menemukan apa yang dia cari.


"Mana anakku?" matanya memanas begitu saja. Orang sakit jauh lebih sensitif.


"Turunkan keteganganmu," ujar Leon dengan suara berat, raut wajahnya tak terbaca.


"Mana Liam!"


Wanita itu masih memiliki kekuatan lebih untuk berteriak mencari tahu dimana putra semata wayangnya.


"Diam Jecy! Kau ingin putramu? Mengurus dirimu saja kau tidak becus! Kau membuat Liam hampir tidak beristirahat hanya untuk menunggumu. Kau itu lemah dan sudah sepatutnya untuk menyadari batasan dirimu."


Jecy baru bisa terdiam ketika apa yang dilontarkan Leon benar adanya, dirinya sadar bahwa saat ini ia tengah sakit. Lidahnya terasa pahit dan kepalanya sangat pusing.


"Berhenti memaksa tubuhmu bergerak, sakitmu akan lebih lama untuk sembuh!" tegas Leon dingin.


"Siapa dirimu yang mencampuri urusanku?" desis Jecy melebarkan matanya, menatap marah, "Tidak usah pura-pura peduli!"

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2