SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
TALK IN


__ADS_3

"Kau akan tetap di sini, Jecy, dan aku tak mau mendengar protes apapun," ujar Leon setelah menarik tangan Jecy untuk berdiri di hadapannya.


Terpojok, Jecy mengangguk, sambil menggigit bibir. Sebaiknya kali ini ia menurut saja, ia juga tidak mungkin keluar dalam keadaan pakaian yang seperti ini.


"Sepertinya kau tidak membutuhkannya," Leon melirik ke celana yang tergeletak di lantai, lalu menendangnya menjauh.


Melihat celananya di tendang, Jecy tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia mengakui bahwa celana tersebut memang tidak dapat diharapkan untuk menutupi kakinya, sebab terlalu besar dan akan berakhir terus merosot.


"Tolong kembalikan pakaianku," pintanya kaku.


Jecy bahkan berpura-pura mengintimidasi ketika mengatakan itu. Bagaimana bisa dia hanya memakai kemeja putih yang bahkan tidak dapat menutup tubuhnya dengan baik? Tanpa celana dan pakaian dalam?


Alis Leon terangkat, kepalanya menunduk, namun, kelopak matanya masih terbuka dan menatap si wanita dengan seksama, "Sudah terlambat untuk bersikap malu-malu kucing, bukan?"


Jecy tercengang, hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia ingin segera menyangkal Leon, tapi mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya, dia harus mengakui perkataan blak-blakan itu benar.


Pria itu menatapnya lekat-lekat, kemudian berkata dengan agak lembut, "Kau pucat sekali. Bagaimana kalau kau makan dulu." Ia menunjuk ke arah di mana ruang makan berada, "Kau ingin makan bubur? Tenang saja, bubur itu tidak akan meracunimu karena bukan aku yang membuatnya. Atau ada makanan yang kau inginkan? Ah, aku juga sudah memesankan makanan lain yang mungkin kau sukai."


Leon bukan lagi sosok keras ataupun cabul yang bertingkah semaunya. Jecy tidak mengenali siapa pria ini, yang menatapnya penuh arti dan memperlakukannya penuh perhatian.


Apa ini sosok asli seorang Tuan Januartha? Entahlah Jecy juga tidak terlalu menganalnya.


"Aku mau," ucap Jecy menerima tawaran sang lelaki, "Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."


Leon nampak heran, dan bertanya-tanya tentang sesuatu apa yang akan dikatakan Jecy. Senyumnya merekah, tapi sedetik kemudian senyum itu sudah lenyap, "Kebetulan, aku juga ingin bicara denganmu."


**


Jecy mengerjapkan mata melihat banyak makanan yang sedang ditata Leon di atas meja makan──makanan yang baru saja dibelikan pengawalnya. Dimulai dari bubur, berbagai macam sayur matang, nasi putih, sup, roti panggang, yoghurt, oatmeal, dan buah pisang.


"Semua ini makanan yang mudah dicerna. Kau harus memakannya."


"Uhm, ya..."


Bagaimana mungkin Jecy bisa memakan ini semua? Sejujurnya dia tidak lapar. Namun, ini adalah kali pertama dirinya dirawat sedemikian protektif oleh seseorang. Kehangatan yang manis tiba-tiba menyebar ke seluruh jantungnya. Seakan dia menjadi lemah karenanya.


"Terima kasih untuk semua bantuanmu," ucap Jecy meluncur begitu saja.


"...Bantuanku?" Leon mengerutkan alis.


"Ya, apapun itu terima kasih. Hanya itu yang ingin kukatakan padamu."

__ADS_1


Leon tersenyum dan menganggukkan kepala, "Ah, sama-sama. Tapi, jika kau mengucapkan terima kasih, kupikir aku sudah pantas mendapat imbalan darimu?"


"Imbalan? Apa yang kau maksud?"


"Aku akan menyimpannya nanti."


Benar, tidak mungkin ucapan terima kasihnya diterima begitu saja. Apa Jecy harus membayarnya dengan uang? Tapi dia tidak memiliki banyak uang untuk diberikan pada pria kaya tersebut. Kenapa juga Leon menyimpannya? Benar-benar menambah beban pikiran.


Leon meninggalkan ruangan itu dan kembali beberapa saat kemudian, membawa sebotol anggur dan satu gelas kristal. Ia menarik kursi di hadapan Jecy dan mendudukinya. Diam-diam bola mata amber mencuri pandang ketika pria itu sedang membuka botol minuman.


"Kau ingin minum anggur?" tawar Leon yang menyadari tatapan diam-diam tersebut.


Jecy kelihatan sangat tegang. Kepalanya menggeleng dengan sungguh-sungguh, menunjukkan bahwa dia tidak mau. Kemudian tangannya bergerak untuk mengangkat sendok, menyendok bubur dan langsung memakannya. Salah tingkah.


"Ya, kau memang tidak boleh minum anggur karena kondisi tubuhmu masih tidak baik."


"Aku sudah baik-baik saja. Aku memang tidak minum, Tuan," sahut Jecy menelan bubur dengan kaku.


Leon nampak heran melihat ketidak nyamanan Jecy. Apakah sesulit itu makan bersama dengannya?


"Hmm, aku tahu itu. Dulu kau pernah berkata tidak minum alkohol," ucap pria itu dengan wajah serius dan suram. Jecy ingat bagaimana berbedanya wajah tampan itu di waktu mereka menghabiskan waktu bersama sebelumnya, ketika Leon mengungkapkan betapa cantiknya dia dan selalu menginginkannya.


"Tuan Leon masih mengingat perkataanku lima tahun yang lalu?" tanyanya heran.


"Masih. Aku masih ingat semuanya," jawab Leon kalem.


Ingat semuanya...?


Gerakan tangan yang menyendok bubur terhenti seketika mendengarnya. Sebuah tatapan yang begitu kuat dari mata hazel, seakan membuat hati Jecy tenggelam dalam sekejap.


"Apa anda tahu? Tuan-ku sudah menjadi gila karena terus mencarimu lima tahun terakhir ini. Tuan Leon tidak berniat memisahkan Nona Jecy dan Tuan Muda Kecil Liam. Dia hanya tidak bisa melupakanmu."


Perkataan Marvin kala itu tiba-tiba terngiang di benaknya. Jadi, apa yang dikatakan sekretaris Leon itu benar adanya.


Menelan saliva berat, Jecy menatap pria berambut hitam legam ragu-ragu, "Apakah kau... tertarik padaku?"


Jelas, Leon tertarik secara seksual terhadap Jecy, bahkan bisa dibilang lebih dari itu.


Selalu ada waktu di mana dia membayangkan wajah cantik itu, yang mampu membuat imajinasi kotor menari-nari di otaknya. Membuat jantung berpacu. Itu tidak cukup membuat Leon untuk menahan diri dengan pikiran lainnya.


Semua ekspresi Jecy membuat kepalanya berputar. Cara dia menghindar kontak mata dan dengan gugup mengigit bibir bawahnya. Wajah yang lembab membangkitkan hasrat yang paling sadis dan tergelap dari dalam. Dan membuat Leon tertarik.

__ADS_1


Bahkan setelah lima tahun berlalu, dia tidak bisa berhenti memikirkan Jecy.


Meski Leon tidak pernah mempertimbangkan masa depan di mata dia akan hidup bahagia selamanya dengan seseorang. Seorang Jecy Ketlovly mengubahnya seperti pembaptisan oleh api.


"Tidak mungkin, 'kan? Kita bahkan hanya berhubungan satu malam saja," sambung Jecy memutuskan lamunan Leon.


Wanita itu tak percaya kalau lelaki casanova seperti Leon Victor Januartha tertarik padanya, karena Jecy tidak merasa kalau dia sepesial. Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan berkelas dibandingkan dirinya.


"Bagaimanapun hubungan kita, hasilnya adalah Liam," ucap Leon menghela napas.


Seenaknya saja wanita itu membuat kesimpulan. Ingin berkata jujur, tapi percuma. Jecy pasti tidak akan percaya bahwa dia memang tertarik padanya. Bukan, tapi mencintainya.


"Kenapa aku harus membebanimu dengan anak hasil hubungan asmara yang jelas-jelas hanya merupakan kencan semalam?" sahut Jecy sedikit ketus.


Leon mengernyit seolah-olah kesakitan, "Kau juga ahli merangkai kata-kata, Jecy," ucapnya dingin, "Pilihan katamu sangat indah."


"Maksudku, kau tidak perlu merasa terbebani. Aku dan Liam tidak akan mengganggumu, jadi──"


Leon menggeleng, dengan cepat dia memotong ucapan itu, "Demi Tuhan, Jecy. Aku tidak merasa terbebani dengan fakta bahwa aku memiliki seorang putra. Aku hanya ingin kita menyelesaikannya secara adil."


Apa yang sedang dibicarakan Leon? Jecy tidak mengerti maksudnya.


"Ini demi Liam. Secara finansial cara ini lebih sukar, tapi tak ada pilihan lain. Sekarang setelah tahu keberadaan Liam, aku tak bisa melepaskannya."


Jecy langsung memahami maksudnya, "Oh, kau ingin aku untuk tidak menghalangi-halangi hubunganmu dengan Liam?"


"Kau sangat murah hati," sambut Leon sinis.


"Dan hubungan macam apa yang kau maksudkan?" tanya Jecy.


"Tentu, hubungan yang biasa. Seperti umumnya yang terjadi di antara ayah dan anak yang tidak tinggal serumah."


"Kau tidak berniat memisahkan kami berdua, 'kan?" selidik Jecy waspada.


"Memang, dan aku tidak cukup keji untuk memisahkan seorang anak dari ibunya. Di lain pihak, aku sama sekali tak setuju dengan konsep orang tua tunggal. Karena itu kita hanya punya satu pilihan."


"Apa?"


"Memberi Liam orang tua yang lengkap."


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2