SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
MARAH


__ADS_3

Setelah pulang kerja dan menjemput Liam di TK, Jecy membereskan sisa barang-barang bawaannya yang semalam belum dibereskan, memasukan baju miliknya dan juga milik Liam ke lemari yang sudah dipersiapkan. Dia sempat menolak pelayan yang ingin mengambil alih pekerjaannya, tapi wanita itu lebih memilih melakukannya sendiri.


Beberapa waktu berlalu, setelah beres-beres dan membersihkan diri, Jecy keluar kamar hendak menjelajah setiap sudut rumah ini. Melihat-lihat sambil menghapal denah rumah agar tidak tersesat ketiga kalinya. Dia tersenyum sopan ketik melewati beberapa pelayan yang menunduk padanya.


Dan sampailah Jecy di dapur, dia ingin memasak makan malam dengan bahan yang didapatkannya dari dalam kulkas.


Salah satu pelayan menghampiri Jecy yang sedang mengambil apron di lemari, "Nona, apa yang anda lakukan di sini?"


Jecy tersenyum mendapati Hana──salah satu pelayan yang sudah ia tanyakan namanya, wanita pertengahan 30-an itu menatap khawatir. Jecy memegang lengan Hana, "Tolong siapkan beberapa bahan untuk sup. Aku ingin memasak."


Hana mencoba melarang sang nona untuk memasak dan menyerahkan semuanya pada pelayanan dan juru masak, "Nona, tapi tuan──"


"Aku sudah terbiasa mengurus makanan anakku sendiri," sela Jecy menghentikan perkataan si pelayan, "Liam sangat suka masakan mommy-nya, aku hanya ingin memasak beberapa makanan saja."


Lagipula Jecy dan dapur memang satu kesatuan yang sulit di pisahkan. Tangannya gatal jika tidak memasak.


Hana ingin tidak setuju kembali, tapi melihat Jecy yang sudah memakai apron dan mulai memotong-motong sayuran, ia langsung mengangguk dan menyetujui.


"Baiklah, Nona."


Semua pelayanan dan juru masak yang hendak ikut protes, tertahan ketika kepala pelayan wanita memberi isyarat bahwa mereka harus melakukan apa saja yang diperintahkan.


Jecy tersenyum kecil, dia sadar telah merepotkan para pelayan, tapi dia sangat tidak terbiasa dilayani seperti ini. Wanita itu sudah terbiasa hidup mandiri.


"Mommy," suara Liam yang mencarinya terdengar samar di telinga Jecy yang sedang fokus memasak. Bocah kecil itu melangkah memasuki dapur dan langsung menemukan ibunya.


"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaan rumahmu, Sayang?" tanya Jecy melirik sekilas Liam yang menghampirinya.


Sebelumnya Liam sedang mengerjakan PR menggambar di ruang tamu. Jecy juga sempat mendengar celotehan anaknya yang bercerita tentang sekolah dan teman-teman baru dengan riang gembira, ia tak harus iri dengan temannya lagi karena tidak memiliki ayah. Berkat Leon, bocah kecil itu menjadi lebih percaya diri saat bergaul dengan temannya.


Liam mengangguk, "Sudah, Mom. Nanti akan Liam perlihatkan gambarnya pada daddy ketika pulang."


Sejenak tangan Jecy yang sedang mengaduk sup mendidih di panci terhenti, ia mengernyit heran, "Kenapa diperlihatkan pada daddy?"


"Karena itu hadiah untuk daddy," kekeh Liam lucu.

__ADS_1


Jecy terdiam seketika. Hadiah...? Ah, Liam benar-benar sudah menyukai Leon.


"Mom, bisakah Liam melihat Captain America sekarang?" ucap Liam membuyarkan lamunan Jecy. Bisa-bisanya melamun ketika sedang memasak. Dia matikan kompor karena sup sudah matang.


"Ya, tentu. Nanti mommy akan menyusul ke kamar untuk memanggil Liam makan malam," Jecy tersenyum lembut menanggapi putra kecilnya.


"Okay~"


"Pelan-pelan."


Liam berlari kecil meninggalkan dapur, seorang pelayan mengikutinya di belakang.


**


"Kenapa kau yang menyiapkan makan malam, Jecy?"


Leon menegur Jecy yang sedang menaruh sup buntut kesukaan Liam di atas meja makan. Terlihat makanan lainnya juga sudah tertata memenuhi meja makan tersebut.


Jecy langsung menegakkan badan dan menoleh, melihat sosok pria yang tengah berdiri di pintu penghubung. Kedua matanya terbelalak ketika melihat wajah Leon yang babak belur, terlebih ekspresi menyedihkan sang pria yang baru pertama kali dia lihat.


"Apa yang terjadi?" tanya Jecy menghampiri Leon, ekspresinya terlihat... marah? Dan entah sadar atau tidak, tangannya terulur untuk meraih wajah pria itu.


"Siapa itu?" selidik Jecy masih dengan ketegangan di wajah cantiknya.


Jantung Leon berdengung kencang. Jika lebih diperhatikan, terdapat semburat merah di kedua telinganya. Apa Jecy marah karena dia terluka? Ini lebih menyentuh daripada yang Leon kira. Dia tidak memikirkan dengan dia yang dipukul, membuat Jecy marah. Demi dirinya. Saat dia terluka.


Dengan melihat respons dari wanita itu, Leon yakin jika Jecy pasti memiliki perasaan padanya, tapi dia belum bisa menerima Leon sepenuhnya. Sejatinya, hati Jecy begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku hanya berkelahi dengan Leonard, adik kembarku. Dia marah karena aku menghancurkan hidup Kirana──wanita yang dicintainya."


Jecy baru tahu jika Leon memiliki adik kembar, "Apakah itu cinta segitiga antar saudara?"


"Mana mungkin!" sangkal Leon cepat, kepalanya menggeleng tegas, "Aku tidak mencintai Kirana!"


Jecy tak menggubris, ia justru menarik tangan kekar Leon, "Aku harus mengobati lukamu."

__ADS_1


"Tapi aku sudah diobati oleh Marvin," ucap Leon namun mengikuti langkah sang wanita.


"Apanya yang diobati? Sekretaris-mu itu bahkan tidak bisa membalut perban dengan baik."


Jecy membawa Leon ke kamarnya yang berada di lantai dua, karena ia menyimpan kotak P3K di sana. Sesampainya di kamar, dia menyuruh pria itu duduk di ranjang, sementara dia mengambil kotak P3K di lemari.


"Aku akan cepat mengobati lukamu."


Rasanya, Jecy seperti bilang "Aku khawatir."


Sepertinya Leon merasa berada di genggaman Jecy. Berada di genggamannya itu sama saja dengan mengatakan kalau dia sudah menjatuhkan seluruh hatinya pada wanita bermata amber itu.


Ini agak lucu, bagaimana bisa seorang casanova sepertinya benar-benar mencintai seorang wanita lugu? Sudahlah, memang siapa yang peduli? Leon hanya merasa jika itu mengesankan dan menyenangkan. Yah, begitulah.


"Wow, aku bisa mengerti perasaan seorang yang jatuh cinta pada sebuah keindahan dan bisa dengan mudahnya mengatakan semua isi hatinya," pikir Leon membicarakan dirinya sendiri.


Jecy mulai mengobati luka lecet di wajah Leon. Melepas perban berantakan karya Marvin. Lalu membersihkan luka itu dengan menggunakan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat. Dengan lembut dia mengelapnya, dan telaten mengobati dengan memberi antiseptik serta meneteskan obat merah.


Leon menatap wajah Jecy dengan lekat, hatinya menghangat. Dengan mata amber yang tajam itu, dia bisa melayang hanya dengan menatapnya.


Pria itu bertanya-tanya, bila dia bilang kalau keluarganya ingin bertemu dengan Jecy dan Liam, apakah wanita itu bersedia? Tapi, baru sehari mereka tinggal bersama. Tidak mungkin ia langsung membawa wanita itu bertemu dengan keluarganya, takut ditolak mentah-mentah.


Rencananya dia ingin mendekati Jecy secara perlahan selama sebulan ini, sebelum memperkenalkan pada keluarganya sebagai wanita yang akan dinikahi. Tapi, ayahnya sudah mengetahui bahwa mereka telah memiliki anak hingga memaksa untuk bertemu.


Namun, sepertinya ini bukan waktu yang tepat, Jecy pasti belum siap bertemu Keluarga Januartha.


Lupakan itu sejenak.


"Bukankah sebentar lagi tanggal 27 Juni?" ucap Leon tepat ketika Jecy selesai mengobati luka di wajahnya.


"Ya," sahut Jecy, "Kau tahu ulang tahun Liam?"


"Aku ayahnya, tentu saja tahu. Bagaimana dengan perayaan ulang tahun?"


Jecy terdiam guna memikirkan perkataan Leon. Sebuah perayaan ulang tahun, yang pastinya akan membuat Liam senang, apalagi dengan keberadaan daddy-nya di tahun ini. Orang tua yang lengkap di ulang tahun kelima.

__ADS_1


"Dan jalan-jalan ke taman hiburan? Aku, kau, dan anak kita. Sebagai keluarga," Leon kembali menyuarakan rencananya.


_To Be Continued_


__ADS_2