SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
SANG BUAH HATI


__ADS_3

"Liam," panggil Jecy halus.


Mata hazel jernih Liam sontak mencari sumber suara yang memanggilnya, dan berubah senang ketika melihat sang mommy telah datang. Langkah kaki kecilnya berlari tidak terlalu seimbang akibat banyaknya mainan berserakan di lantai.


"Mom!"


"Hati-hati, jangan berlari," ujar Jecy khawatir kalau buah hatinya jatuh.


Satu loncatan, maka tubuhnya sudah menangkap Liam dalam gendongan.


"Mommy terlambat," rengek Liam dengan bibir manyun, lalu menyembunyikan kepala yang ditumbuhi rambut hitam lebat di leher ibunya, "Liam lapar namun ingin menunggu mommy."


Sangat manja, tapi Jecy menyukai hal manis dari putranya itu. Liam sangat bisa menunjukkan sikap menggemaskan.


Kecupan-kecupan sayang diberikan Jecy hampir di seluruh wajah Liam yang berada di gendongannya. Bocah laki-laki itu pun terkikik dan tertawa keras merasa geli.


"Haha, hentikan. Ayo makan, Mom! Lapar!"


Liam berseru dengan tangan kecil mengelus perutnya, bentuk penyampaian kepada sang ibu bahwa dia benar-benar merasa lapar.


Jecy menggeleng dalam senyum, bisa-bisanya Liam menahan rasa lapar sampai dia datang ke sini. Bagaimana jika dia benar-benar tidak bisa datang? Entah dari mana sifat keras kepala itu.


Terkadang dia merasa menjadi ibu yang lalai, putranya lebih banyak mengalah tanpa merengek, menghabiskan waktu dari pagi sampai petang tanpa bisa dirinya temani.


"Oke, jagoan. Ayo kita makan bersama!" Jecy menurunkan Liam dari gendongannya, meski sering mogok makan namun tubuh sang putra semakin berat saja.


Bocah itu langsung lari mengambil bekal miliknya. Oh, betapa aktifnya Liam sampai suka sekali berlari.


Setelahnya, ibu dan anak itu duduk di sebuah kursi panjang.


Kotak persegi tupperware di buka oleh Liam. Liurnya mulai menetes, bau harum masakan Mommy Jecy begitu menggoda. Jelas saja, ibunya adalah seorang chef terbaik yang sangat dia banggakan.


Kemudian dengan cekatan bocah kecil itu mulai mengambil sendok, dan sebelum memasukan makanan ke mulut dia menutup mata untuk berdoa. Liam benar-benar menangkap apa yang sang ibu ajarkan.


Di usianya yang masih kanak-kanak, Liam sudah bisa makan sendiri meski di lain waktu dia akan meminta Jecy untuk menyuapinya.


Kini, Jecy merasa bahagia karena hidupnya lebih berwarna dengan kehadiran Liam.


Nyatanya Jecy tidak sanggup memberikan bayinya kepada orang lain. Dia jatuh cinta pada tendangan pertama dari bayi di dalam perutnya. Ketika merasakan keberadaan nyata dari bayi itu, dia merasa tidak sendirian lagi.


Baginya, bayinya adalah malaikat kecil yang menjadi penyejuk dan penenang jiwanya yang terpuruk. Jecy tidak bisa hidup tanpa Liam di sisinya. Dia ingin merawatnya karena anak itu lahir dari rahimnya.


Dia memang tidak bisa memastikan kehidupan sempurna dan semua yang dibutuhkan Liam. Namun, Jecy akan berusaha semaksimal mungkin membesarkannya, ia akan melakukan yang terbaik.


"Mommy tidak makan?"


Dua bola mata hazel bergerak menatap Jecy polos. Ibu muda itu tertegun sesaat lalu terkekeh menyadari bahwa tidak ada yang Liam bawa dari dirinya. Anaknya begitu mirip dengan sang ayah biologis.

__ADS_1


Tidak adil sama sekali.


Namun, Jecy enggan mengungkapnya, apapun itu Liam adalah miliknya.


"Mommy sudah makan, Sayang. Dan semakin kenyang melihat Liam makan dengan lahap," ucap Jecy jujur.


Liam adalah satu-satunya hal yang begitu dia syukuri.


"Tentu dong, Mom! Jika Liam makan banyak, nanti akan cepat besar dan akan melindungi mommy. Mommy tidak perlu lagi pulang malam karena Liam akan memberikan banyak uang!" anak itu tertawa lebar memperlihatkan deretan gigi susu yang sudah tumbuh berjejer.


Mendengar itu, Jecy terdiam dengan hati berdenyut. Dia yang kekurangan waktu untuk mengikuti perkembangan Liam tidak menyangka, putranya telah dewasa dan bisa memahaminya.


"Mom, aa..."


Liam mendekatkan satu sendok isi makanan dari bekalnya pada bibir Jecy. Berniat menyuapi ibunya.


Wanita itu hampir menangis haru, tapi dia tahan sebisa mungkin. Apapun demi senyum putranya.


"Mommy menyayangimu."


Tangan kurus wanita bermata amber itu mengelus penuh kasih sayang pada puncak kepala malaikatnya.


Jika Liam pergi, maka Jecy akan mati.


Dia bersumpah akan mencegah apapun yang membuat cahaya kecil hatinya hilang.


Di sebuah hotel bintang lima yang ada di pusat kota Los Angeles. Seorang wanita berambut cokelat muda terlihat keluar dari salah satu kamar president suite.


Melihat raut wajah ketakutan dari wanita itu, Marvin menggaruk alisnya yang mendadak gatal. Dia sudah menebak apa yang terjadi selanjutnya, bos-nya pasti meledak lagi.


"Di mana Leon?"


Dia langsung menoleh ke asal suara itu, dan betapa terkejutnya Marvin ketika melihat siapa orang itu.


Oh ayolah, bolehkah dia mengundurkan diri detik ini juga? Namun, mengingat cicilan mobil dan rumahnya, dan dia yang memiliki hutang budi pada Leon. Marvin tidak bisa melakukan itu.


Sementara itu, terlihat Leon yang duduk di sofa. Hanya memakai celana panjang dan setengah telanjang.


Pria itu sedang mematik korek api ke ujung rokoknya. Lalu menyesap benda itu dengan gaya yang begitu dingin.


"Tuan..."


Leon tidak memperdulikan Marvin yang muncul dari pintu kamar yang terbuka, dia menatap keluar jendela untuk melihat suasana malam kota. Terlihat begitu tenang dan gelap karena sudah malam.


"Warna bola matanya berbeda! Bukankah sudah kukatakan tidak boleh ada perbedaan?" ucap pria itu terdengar jengkel, dia marah karena lagi-lagi wanita yang diinginkannya tidak sesuai, "Bawakan aku orang lain yang persis seperti yang aku deskripsikan!"


"Tapi, Tuan..."

__ADS_1


Marvin menelan saliva berat. Sosok yang berdiri di belakangnya justru lebih membuatnya takut dibandingkan Leon, bahkan dia sampai berkeringat dingin.


"Sial, bagaimana bisa sampai sekarang kau tidak bisa menemukan keberadaan Jec──"


"Siapa yang menemukan siapa, hah?" bentak sosok itu pada Leon, "Jadi ini yang kau lakukan selama ini? Bocah brengsek!"


Kedua mata Leon terbelalak, rokok yang dia sesap sampai jatuh karena saking terkejutnya, ketika mendapati keberadaan seorang lalaki tua yang memarahi itu.


Buk!


"Argh!"


Pria itu berteriak tatkala sebuah tongkat dipukulkan padanya, bahkan dia tidak sempet menghindar.


"Kakek kecewa padamu, Leon. Bisa-bisanya kau mewarisi sifat playboy Ryo, tidak seharusnya kau mengikuti sifat buruk ayahmu itu!" omel lelaki tua itu yang masih memukuli Leon bertubi-tubi dengan tongkatnya.


"Aduh! Ampun, Kakek! Sakit!" jerit Leon kesakitan.


Lelaki tua itu tidak lain adalah kakeknya──Xavier Alva Januartha, salah satu orang yang Leon takuti setelah ibunya.


Sejak masih muda, sang kakek lah yang mendidiknya dengan memberikan pukulan-pukulan yang disebut pukulan cinta. Dia dididik keras supaya menjadi seorang pewaris yang hebat.


Namun, bukankah Leon sudah terlalu tua untuk mendapatkan pukulan lagi? Kakek masih saja penuh dengan tenaga meski usianya sudah lebih dari tujuh dekade.


"Sudah kakek bilang padamu, berhenti bermain-main dengan wanita! Sebenarnya siapa yang kau cari selama lima tahun ini?"


Tidak ingin mati karena terus dipukuli, Leon meloncat dari tempat duduknya. Berlari ke arah Marvin, dan bersembunyi di belakang punggung pria itu.


Sedangkan Marvin hanya bisa pasrah, karena sudah terbiasa dijadikan tameng. Ini seperti dia yang disuruh mati terlebih dahulu sebelum bos-nya.


"Kau juga, Marvin! Apa kau tidak bisa menasihati Leon? Apa kau takut dipecat olehnya?"


Dan benar saja, omelan Kakek Xavier berimbas pada Marvin. Ekspresi lelaki tua itu terlihat berang, dia lelah selalu mendengar berita buruk tentang kelakuan cucunya yang belum berubah sampai sekarang.


Detik kemudian, Xavier memejamkan mata dengan satu tangan menekan dada bagian kirinya yang tiba-tiba terasa sesak, dia hampir terjatuh jika Leon tidak bergegas memapahnya.


"Kakek? Kau tidak apa-apa?" tanya Leon khawatir.


"Jangan sentuh aku! Kau cucu durhaka!" sengit Xavier menepis tangan cucu laki-lakinya. Sebagai gantinya, Marvin yang memapahnya.


Leon meringis dibuatnya, dia menggaruk rambut hitamnya yang tidak gatal. Sang kakek sedang ngambek sekarang.


"Jika kau masih ingin dianggap cucu olehku, maka pergilah ke Indonesia dan menikah dengan wanita yang telah ibumu pilihkan. Lupakan wanita bernama Jecy yang kau cari-cari itu."


"Apa?"


Bahkan sang kakek adalah orang yang paling gencar mendesaknya untuk segera menikah. Beliau mengkhawatirkan Leon yang tidak pernah serius dalam menjalin hubungan, terlebih umurnya yang sudah matang. Ibu dan Ayahnya juga mengharapkan seorang cucu untuk bisa membuat mereka kembali merasa muda.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2