
Keadaan Jecy sudah lebih baik, kesehatannya berangsur pulih meski masih diharuskan meminum obat setiap hari, tapi setidaknya dia sudah terbebas dari selang infus dan tidak lagi tiduran di ranjang seharian. Mungkin tidak terlalu banyak gerak aktivitas yang bisa wanita itu lalukan, dia benar-benar diharuskan untuk tidak banyak bergerak.
Merasa sedikit jengah sebab seluruh pelayanan di sini memperlakukannya berlebihan. Jangankan dibiarkan berkeliaran di dalam rumah, Jecy tidak diijinkan ke dapur meski hanya untuk mengambil minum.
Benar-benar membuat ibu satu anak namun tetap berparas cantik ini secara terang-terangan menyampaikan kekesalannya pada Leon──orang yang bertanggung jawab atas segala tingkah berlebihan para pelayan di sini. Pada dasarnya Jecy memang enggan merepotkan orang lain selama dia sendiri masih mampu untuk melakukannya.
Jecy benci dikekang.
Bersyukur, pria dengan segala kekuasaan serta kharisma itu mau mendengarkan. Sifat Leon entah sejak kapan menjadi lebih mudah untuk diajak berbicara. Jecy jadi bisa bernapas lega, setidaknya dia bisa berjalan ke manapun tanpa perlu mendengar kekhawatiran berlebih dari orang lain.
Satu hal paling penting, dia bisa kembali melihat anaknya. Bermain meski hanya mengawasinya saja. Jecy tidak enak merepotkan Leon, terutama dalam hal mengurus Liam. Dia masih mampu untuk sekadar menemani anaknya melakukan hal-hal normal seperti biasanya.
Seperti saat ini. Rambut cokelat mudanya digelung asal-asalan membentuk cepol. Jecy duduk sambil mengupas hallabong. Matanya tidak luput untuk mengawasi putranya yang sedang menonton televisi. Benda datar dengan layar LED memproyeksikan sebuah gambar bergerak. Penuh warna dan seolah benar-benar hidup.
Pandangan Liam tidak terlepas dari layar televisi memproyeksikan kartun kesukaannya. Animasi super hero menjadi tontonan menarik bagi perhatian bocah kecil itu. Dia akan berteriak heboh mengagumi setiap gerakan atraktif dari sang pahlawan idolanya. Jecy tersenyum kecut, di tempat tinggalnya dulu tidak ada televisi selebar lukisan dinding seperti apa yang kini berada di vila milik Leon.
Pria bermarga Januartha itu memang bergelung kemewahan. Seolah tidak ada yang tidak bisa untuk didapatkan. Mudah baginya memberikan apapun keinginan Liam. Mulai merasa kecil diri, Jecy merasakan jarak antara dia dan Leon tidak dapat diselami. Batasnya mencolok, dia dari keluarga yang tidak jelas asal-usulnya apalagi tidak punya apa-apa. Jecy harus bekerja siang malam agar bisa membelikan selimut tebal bagi putranya.
Apakah Liam merasa nyaman tinggal di sini?
"Sayang, kemari. Mommy mengupaskan Liam hallabong."
Suara lembut Jecy membuat jagoannya menoleh. Liam bangkit dan langsung menghampiri sang mommy sambil mengambil satu kupasan hallabong.
"Hallabong? Apa itu?" tanya Liam bingung menatap buah yang mirip seperti jeruk.
"Jeruk hibrida tanpa biji yang sangat manis."
Meski tak mengerti apa itu jeruk hibrida namun mendengar kata manis bocah kecil itu langsung memakannya, Liam berpikir kalau masih pasti rasanya enak.
"Pelan-pelan," ujar Jecy ketika melihat Liam memakannya lahap, "Enak?"
__ADS_1
Liam mengangguk. Dia makan namun dua lensa hazelnya menatap kembali pada layar datar bergambar aksi heroik sang pemeran utama dalam menjatuhkan lawan. Sangat memukau. Tercetus impian anak laki-laki itu untuk menjadi super hero.
"Bisakah kita di sini lebih lama, Mom? Liam menyukai DVD Captain Amerika yang dibelikan Paman Leon."
Mengelus sayang puncak kepala Liam, Jecy memberinya pandangan teduh. Senyumnya kecut, enggan mengiyakan kemauan sang buah hati, "Kita tidak boleh terlalu lama merepotkan Paman Leon. Secepatnya kita harus pergi dari sini..."
Dan secepatnya pula mommy harus membawamu menjauh dari Leon.
Semakin lama mereka di sini maka semakin mempermudah Leon menguasai──menginvasi keseluruhan Liam. Pria itu punya segala kelebihan serta kemampuan yang dapat merebut putranya dalam kedipan mata. Dia bisa berbuat apapun, begitu mudah hingga mungkin bisa berbuat keterlaluan.
Jecy membenci segala artibut kesempurnaan lelaki itu. Leon bisa berada di atas tanpa memeras keringat. Dia lawan berat untuk digulingkan. Tidak hanya tekad, Jecy butuh kesempatan dan keberuntungan agar benar-benar membuat Leon setidaknya menjauh.
Desah lelah keluar dari bibir yang tipis, sudah tidak mungkin untuk melarikan diri jika Leon lah pesaingnya. Dan sialnya, justru pria itu mengisolasinya di pulau pribadi agar kesulitan melarikan diri. Jecy tidak memiliki ponselnya, ia tidak bisa menghubungi siapapun.
Sungguh, Jecy tidak ingat jika dirinya pernah berkata ingin ikut bersama pria itu.
Wanita dengan manik amber itu menopang kepala, pelipisnya berkedut ngilu tiap memikirkan hal secara berlebih. Dia butuh ketenangan, bukan ketegangan setiap bertukar pandang dengan pria dewasa bermata hazel mirip anaknya. Tubuh wanita itu selalu meremang oleh kehadiran Leon di dekatnya. Mau bagaimanapun serumah bersama pria itu begitu canggung dan menyesakkan. Pria tampan itu justru memberi pengaruh buruk terhadap kesehatannya.
Ibu muda itu kembali mencari fokus pada buah hatinya. "Kau menyukai tempat ini?"
Bocah itu masih terlalu kecil untuk menyadari arti tatapan dalam ibunya.
Jecy tersenyum namun hatinya menyisakan sedikit ketidakrelaan. Ingin melarang tapi dia sadar diri. Biar bagaimana pun Liam masih anak-anak, umurnya baru lima tahun. Sedang dalam masa lincah-lincahnya, punya kesukaan pada hiburan tertentu pula.
"Apa itu artinya kau lebih menyukai Paman Leon daripada Mommy?" tanya Jecy meluncur begitu saja.
Bola mata hazel Liam berkedip beberapa kali. Bibir merah tipis yang didapat dari ibunya manyun dan pipinya mengembung. Bahkan anaknya sudah bisa berdecak lidah ketika kesal. Tingkahnya hampir menyerupai Leon. Jecy jadi khawatir putranya terlalu banyak mengambil kemiripan dari ayah kandungnya meski Jecy-lah yang dulu membawa Liam kemanapun dalam perutnya selama sembilan bulan.
Tidak adil.
"Mommy tetap orang paling spesial, terbaik bagiku," lengan kecil itu memeluk perut Jecy. Menggesekkan kepala dengan rambut hitam tebal mencari kenyamanan. Tingkah manja Liam akan muncul jika sudah berada dalam dekapan mommy-nya, "Mommy adalah pahlawan, akan selalu menjadi orang yang paling aku sayang."
__ADS_1
Oh, lagi-lagi anak lelaki tiu mengeluarkan kalimat manis yang menenangkan sang mommy.
"Pintar sekali mengambil hati mommy," goda Jecy mencubit gemas pipi anaknya hingga memerah. Dia mengangkat tubuh Liam, meletakkannya dalam pangkuan. Menjaganya agar tetap berada dalam jangkauan, "Dan jangan terlalu banyak makan, Jagoan. Tubuhmu bisa gendut dan mommy kesulitan membawamu. Mommy masih ingin memeluk Liam seperti ini."
Jangan terlalu cepat dewasa, Nak.
Rasanya baru kemarin dia melahirkan Liam. tapi, lihat sekarang. Bayi merah itu kini menjelma menjadi anak yang begitu lucu dan menggemaskan. Jecy bangga bisa membesarkan anaknya meski seorang diri.
Satu-satunya hal yang tidak pernah dia sesali dari kencan semalamnya dengan Leon hanya Liam. Dia hadir saat roda kehidupan Jecy berada di titik paling bawah. Bahkan dulu Jecy sempat ragu. Di tengah peliknya permasalahan, dia hampir gelap mata hampir menyerah.
Jecy takut tidak mampu merawat atau bahkan membesarkan Liam.
Hidup sebagai sebatang kara, Jecy memahami bagaimana dirinya sendiri. Tidak ada hal lebih yang bisa dia berikan untuk menyenangkan putranya. Ekonominya pas-pasan, sering kehabisan uang, tidak ada sanak saudara serta tinggal di tempat kecil. Apalagi sewaktu Liam sakit, dia harus meminjam uang pada Nyonya Margaret.
Apabila bila sudah tidak memiliki simpanan lagi maka dia hanya bisa memeluk buah hatinya semalaman berharap sakitnya bisa berpindah pada dirinya. Jecy akan mengusap sayang kening Liam lalu memeluknya sepanjang malam tanpa tidur.
Tangisan Liam adalah kesedihannya. Senyuman Liam adalah mataharinya. Jecy rela bertukar nyawa asal putra tampannya tetap bisa melihat isi dunia.
Dia lahir membawa harapan dalam kegelapan. Semirip apapun Liam dengan Leon, fakta bahwa anak itu terlahir dari rahimnya membuat Jecy selamanya akan menyayangi dan mencintai Liam melebihi apapun. Hanya pada Liam, dirinya berubah egois dalam menjaga dan lindunginya.
Dia ingin memiliki Liam seorang diri.
"Jika mommymu tidak kuat menggendongmu, maka paman bisa melakukannya."
Suara Leon menyentak Jecy, lelaki itu baru selesai mandi. Dia hanya menggenakan boxer selutut dan kaos V neck lengan pendek. Rambutnya pun masih basah dan jatuh meneteskan butiran sisa air. Aroma segar citrus menguar membuat Jecy menahan napas. Tubuh atletis Leon terlalu jelas terpampang untuk sekadar dicuri pandang.
"Paman!" Liam berteriak girang. Dia sangat senang ketika Leon beralih mengangkat tubuhnya dan diletakkan di atas pundak lebar dan kekar, "Apakah hari ini kita akan bermain lagi?"
"Kau ingin bermain apa, Boy?" kekeh Leon senang-senang saja bermain dengan putranya.
Sudah empat hari ini dia mengambil cuti, hanya supaya bisa lebih dekat dengan Jecy dan Liam. Meski sang wanita sama sekali tidak suka dekat-dekat dengannya. Sebenarnya Leon bukalah tipe lelaki pengejar wanita, ini benar-benar tidak seperti dirinya.
__ADS_1
Dapatkah dia membuka semua pintu yang ditutup Jecy untuknya mendekat? Setidaknya Leon berharap Jecy mau lebih melunak dengan membiarkannya mengetahui apa yang disuka atau dibenci Liam meski hanya secuil. Pria itu tidak mau terlalu banyak tertinggal meski dia terlambat untuk mengenal.
_To Be Continued_