SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
MELINDUNGI LIAM


__ADS_3

"Dia membiarkan mommy kelelahan sampai menangis diam-diam, dan membiarkan Liam diejek teman-teman karena tidak memiliki daddy selama ini. Daddy orang jahat, Liam benci. Dia tidak melindungi kita, Mom. Bukankah daddy sudah mati? Kenapa dia bisa kembali hidup lagi?"


Jecy menggelengkan kepala, menahan retak tipis di dalam perasaan, tangannya terulur mengusap lembut pelupuk mata putranya yang basah, "Tapi tanpa daddy, mommy tidak akan bisa melihat Liam. Tanpa daddy, Liam juga tidak akan bertemu mommy. Apa kau tidak ingat Daddy Leon sangat menyayangimu? Mau menuruti apa yang Liam inginkan dan juga merawat mommy. Jadi, jangan terlalu membenci daddy."


Liam terdiam, dia tidak menjawab dan hanya menyandarkan kepalanya pada dekapan sang ibu.


Jecy tahu dirinya tidak berhak untuk menuntut Liam membenci ayahnya sendiri. Alasan Jecy menangis diam-diam ketika melihat Liam di setiap malam adalah rupa anaknya mengingatkannya pada Leon. Wanita itu tidak menyukainya, tapi pria itu juga yang memberikan Liam padanya. Dia menitipkan cahaya kecil untuk menemani, menerangi jalan hidup Jecy.


Dia tidak pernah mengatakan hal buruk pada Liam mengenai sifat Leon. Karena di waktu-waktu tertentu meski hatinya membeku pun dia tetap berharap, Leon akan tersadar mengetahui bahwa dia telah melahirkan anak mereka ke dunia. Memberikan bentuk kencan semalam mereka ke dalam entitas kehidupan baru.


Sayangnya hubungannya dengan Leon hanya sebatas cinta satu malam, sebuah scandal kencan semalam. Benar-benar kesalahan. Jecy yakin, dia tidak mungkin menemui akhir bahagia bersama Leon. Terlebih perbedaan status sosial yang pasti mengundang badai.


Lima tahun lebih melarikan diri, Jecy tidak mengharapkan apapun dari Leon.


"Mommy, jangan sedih."


Jari telunjuk kecil menyentuh pertengahan alis Jecy yang mengerut. Menekan pelan agar kerutan di wajah sang ibu menghilang. Jecy buru-buru memberikan senyum, ia menatap Liam yang langsung mampu menghilangkan kesedihannya.


"Apa sekarang jagoan mommy sudah baik-baik saja?"


"Ya, dan bisakah kita makan? Liam lapar."


Mendengar permintaan putranya, Jecy terdiam seketika, dia memutar otak. Bagaimana dia memberi Liam makan? Untuk sekedar pergi dari pulau ini saja dia tidak bisa. Apa dia benar-benar harus kembali ke vila milik Leon?


Tap! Suara langkah kaki dari arah belakang membuat terkejut.


Pelukannya pada Liam dipererat. Jecy was-was Leon menyusulnya lalu melakukan tindak pemaksaan. Apalagi sewaktu Marvin lah orang dia lihat ketika menengok ke belakang. Pria itu orang kepercayaan Leon.


Jecy semakin menjaga jarak.


"Nona Jecy dan Tuan Muda Kecil Liam, maaf memuat kalian terkejut."

__ADS_1


Mata Jecy memicing tidak suka dengan sebutan yang diucapkan oleh Marvin. Terlalu formal dan terikat. Anaknya mulai dikenali sebagai pewaris darah Keluarga Januartha.


"Tenang, Nona Jecy," ucap Marvin yang melihat jelas sorot menghindar dari wanita milik tuan-nya.


Wanita yang dicari-cari Leon ini begitu estimasi. Seperti citah yang melindungi anaknya. Seekor kucing besar yang sangat menyayangi anaknya.


"Saya tidak bersama Tuan Leon. Saya hanya akan mengantar anda dan tuan muda kecil pulang ke rumah dengan selamat."


"Liam, cukup Liam. Tidak perlu menambahkan kata 'tuan muda kecil' karena itu terdengar menganggu," Jecy tak ingin Liam dipanggil seperti itu. Juga tak ingin hidup putranya diatur orang lain.


Memicing curiga. Meski Marvin menjelaskan tidak ada Leon, tetap saja dia patut mewaspadai. Bukankah Leon cukup keras kepala terhadap hal yang dia inginkan, pria itu arogan dan sulit melepaskan apa yang telah dia incar. Dan sekarang, justru memberikan perintah pada sekretaris-nya untuk mengantarkannya pulang.


"Apa kau benar-benar akan mengantarku pulang ke rumahku yang berada di Jakarta?" tanya Jecy memastikan.


"Ya, saya sudah menyiapkan kapal pesiar untuk membawa kalian pulang," jawab Marvin bersungguh-sungguh, diliriknya kepala Liam yang terluka, "Mari ikut dengan saya. Putra anda harus segera diobati, itu akan infeksi kalau dibiarkan begitu saja."


Pada akhirnya, Jecy tidak bisa menolak. Dia tidak boleh egois hingga mengabaikan keadaaan Liam yang terluka.


Di sisi lain, tepatnya di antara pepohonan cemara yang tumbuh rindang, terlihat Leon sedang menatap penuh arti Jecy dan Liam yang berjalan mengikuti Marvin menuju ke kapal pesiar miliknya. Senyum getir terutas karena masih tidak rela membiarkan kedua orang terkasih pergi.


Jecy membutuhkan dia untuk bersandar.


Terlebih Liam harus tinggal bersama dengannya, Leon tidak menginginkan adanya penolakan. Bukannya dia meragukan Jecy dalam merawat anaknya, tapi dia berharap diizinkan untuk ikut terlibat. Liam adalah keturunan Januartha. Ada banyak orang jahat yang mengincarnya.


Jecy tidak memiliki alasan untuk menolak. Bukannya sudah menjadi tugas sebagai ibu untuk Jecy melindungi Liam? Ini yang terbaik bagi buah hatinya. Jecy tidak boleh egois bila mengenai masa depan sang putra. Identitas Liam terlanjur terungkap.


Kini, saatnya wanita itu harus mempersiapkan diri, pasti ada orang di luar sana yang menaruh benci padanya juga pada malaikat hatinya. Meskipun itu artinya, dia membiarkan Leon memainkan perannya sebagai seorang ayah.


Begitu juga dengan Leon yang akan melindungi Liam, dia tak akan membiarkan kejadian Kirana melukai anaknya terulang kembali.


Leon telah bersumpah untuk mendapatkan keduanya, baik Jecy maupun Liam, "Untuk memiliki Liam, maka aku harus memilikimu juga. Apapun caranya, Jecy."

__ADS_1


**


Malam ini bintang muncul di langit tidak terlalu banyak, menandakan cuaca cukup cerah.


Jecy berjalan menyusuri kapal pesiar pribadi itu, putranya sedang tidur di kamar setelah diobati dan makan. Hembusan angin malam yang menusuk tubuh seolah membuat hati Jecy nyaman. Kapal pesiar milik Leon sangatlah mewah dan membuat terkagum-kagum.


Merasa tidak habis pikir dengan Leon yang menyiapkan kapal pesiar mewah, hanya untuk sekedar mengantarnya pulang. Bahkan ini adalah kali pertama Jecy merasakan menaiki kapal pesiar, mungkin akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup.


"Apa Nona Jecy mabuk laut? Anda membutuhkan sesuatu?"


Terdengar suara berat yang menarik Jecy dari lamunannya menatap kegelapan laut malam. Lagi-lagi Marvin mengejutkannya dengan kemunculan yang tiba-tiba.


"Kenapa dia hobi sekali mengejutkan orang?" gerutu si wanita di dalam hati. Untung saja dia tidak refleks meloncat ke laut.


"Bukan seperti itu, aku hanya tidak bisa tidur," jawab Jecy kembali menatap hamparan lautan, semilir angin membelai wajah putih pucatnya.


Saking pucatnya sampai membuat Marvin khawatir. Bukan karena apa-apa, bila terjadi sesuatu pada Jecy, pria itu akan disalahkan tuan-nya. Dia teringat bagaimana wajah frustasi Leon yang baru pertama kali dia lihat, tatkala menyuruhnya mengantar si kedua orang terkasih pulang.


Mereka bilang cinta dapat membuat orang bisa menjadi gila.


"Tuan Leon, dia sebenarnya bukanlah orang jahat. Dia hanya memiliki sifat yang keras dan bertemperamen buruk, tapi jika bersama keluarganya dia begitu penyayang. Apa anda tahu? Tuan-ku sudah menjadi gila karena terus mencarimu lima tahun terakhir ini."


Bukan bermaksud ikut campur, Marvin hanya merasa kerepotan karena sang CEO yang melimpahkan semua pekerjaan kantor padanya. Dia juga lelah harus bolak-balik ke sana dan ke mari hanya untuk mengurus Leon yang sedang frustasi karena cinta. Setidaknya dia ingin membantu sedikit.


Sedangkan Jecy yang mendengar itu, melebarkan retina matanya. Seketika banyak pertanyaan yang berputar di otaknya.


Kenapa Leon harus menjadi gila karenanya? Dia kita pria itu memang sudah gila dari sananya? Apakah Leon... tertarik padanya? Bagaimana mungkin? Mereka bahkan hanya berhubungan satu malam saja.


"Tuan Leon tidak berniat memisahkan Nona Jecy dan Tuan Muda Kecil Liam. Dia hanya tidak bisa melupakanmu. Bukankah anda membutuhkan perlindungan dari Tuan Leon? Anakmu adalah keturunan Januartha. Ada banyak orang jahat yang mengincarnya," kembali Marvin berucap.


Jecy hanya bisa bungkam, tidak tahu harus berkata apa. Perkataan Marvin ada benarnya. Identitas Liam sudah terkuak. Sebagai orang yang sangat berpengaruh, Leon memiliki banyak musuh di luar sana. Jecy tersenyum lirih, kenapa dia terlibat dengan orang seperti itu?

__ADS_1


Mungkin bila Leon memiliki kepercayaan diri sebagai seorang ayah, maka Jecy tidak bisa menghentikannya. Setidak sukanya dia kepada pria itu, tapi fakta bahwa Leon adalah ayah Liam tidak bisa dia hapus.


_To Be Continued_


__ADS_2