
Di tingkat paling tinggi J Crop, dan merupakan ruang terbesar adalah milik CEO sekaligus pewaris Keluarga Januartha.
Leon menatap sebuah map berisi materi rapat hari ini. Semuanya berhubungan dengan Sovian Daniel, bukti-bukti atas penggelapan dana perusahaan oleh ayah Kirana. Hari ini, dia akan membalas perbuatan wanita itu. Mereka akan merasa penderitaan yang menyakitkan.
"Ruang meeting sudah siap, dan komisaris perusahaan sudah berkumpul," ucap Marvin yang baru saja tiba dan berdiri di hadapan Leon.
Pria bermata hazel itu berdiri dan mengancingkan jasnya. Lalu menatap ke depan tanpa adanya keraguan. Ia keluar dari kursi dan berdiri menghadap ke kaca ruangannya.
Dari sana, ia bisa melihat sebagian kota Jakarta, dengan kesibukan di siang hari. Tatapan pria itu begitu dalam, seolah sedang merencanakan sesuatu yang matang.
"Selesaikan acara meeting segera. Setelah itu, temani aku menjemput anak dan calon istriku."
"Lalu bagaimana dengan Tuan Leonard? Dia pasti akan segera datang mencari anda, mengingat dia sangat menjaga Miss. Kirana," ucap Marvin mengingatkan. Ia yang dulu pernah satu sekolah dengan si kembar Januartha tentu saja tahu cinta segitiga itu.
"Oh, si bodoh itu..." Leon menghela napas sejenak. Kembarannya memang sangat bodoh karena mencintai nenek sihir seperti Kirana. Ia tak tahu kenapa bisa Leonard tergila-gila pada wanita itu, "Memang apa yang bisa dia lakukan? Aku akan menghadapinya."
Tepat setelah mengatakan hal tersebut, Leon pergi keluar ruangannya. Karena sekarang ia akan menyelesaikan sesuatu.
Menyadari hal itu, Marvin segera menyusulnya. Tidak lupa dia membawa map yang berisi hal-hal yang penting untuk meeting.
Dan berakhirlah mereka di ruang meeting, yang ternyata sudah dihadiri oleh orang-orang penting. Sebagian dari mereka, tampak kebingungan dengan rapat mendadak seperti sekarang.
"Selamat siang!" ucap Leon, ketika memasuki ruang meeting. Ditatapnya satu-persatu orang-orang di sana, membuat semuanya langsung membungkuk.
"Selamat siang, Tuan Leon!" jawab mereka hampir bersamaan. Detik kemudian, Leon langsung duduk di kursi utama.
Menengadahkan tangannya ke arah Marvin. Bersama dengan itu sebuah map mendarat di tangannya.
"Sebelumnya saya minta maaf, karena meeting ini mendadak. Tapi hal penting ini tidak dapat ditunda."
Ini yang mereka tunggu-tunggu, penjelasan langsung dari sang CEO. Karena sangat jarang mereka mengadakan rapat dadakan dengan dihadiri seluruh eksekutif perusahaan.
__ADS_1
"Bisakah meeting saya mulai?" Leon mempertanyakan kesediaan mereka. Sambil bola matanya bergerak, untuk mencari keberadaan Sovian Daniel.
Ah, itu dia. Seorang pria berumur setengah abat yang duduk santai dan tidak memperhatikan sorot mata Leon yang begitu ingin ke arahnya. Jabatan Sovian sebagai Chief Operating Officer sekaligus calon mertua CEO membuatnya bersikap seperti dialah pemimpi perusahaan, terlebih dia adalah teman dekat dari CEO terdahulu.
Leon tersenyum sinis, lalu membuka map yang sudah berada di hadapannya.
"Saya baru saja mendapat laporan keuangan bulanan. Ada yang tidak wajar, biaya operasional perusahaan berkali-kali lipat."
Plak! Terdengar suara dari laporan keuangan yang dilempar Leon di atas meja, lalu Marvin membagikan kepada masing-masing anggota rapat.
Leon berdiri, keluar dari kursinya dari berjalan sedikit ke arah belakang. Supaya dia dapet menatap wajah Sovian Daniel dari depan. Sebelum pria itu terkena serangan jantung nantinya.
"Saya telah melakukan audit, dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan!" Leon kembali melempar kertas laporan ke tengah meja rapat, dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Sovian, "Ada pengeluaran tidak wajar di sana. Transfer ke rekening atas nama Haura Arabell."
Seketika keadaan ruang meeting menjadi heboh, saat mereka membaca hasil audit itu. Tertera ada pembelian barang-barang branded wanita seperti pakaian, tas, parfum, dan sebagainya. Sementara Sovial, matanya terbelalak bahkan hampir lepas dari tempatnya.
Wajah pria paruh baya itu langsung memucat ketika Leon menyebut nama istri simpanannya.
Sovian menelan saliva sejenak, berusaha untuk tidak panik, "Apa maksudmu, Leon? Ini tidak ada hubungannya dengan Ayah. Siapa itu Haura Arabell?"
Ayah, eh? Sovian sungguh sudah mengeklaim dirinya sebagai mertua sang CEO. Bahkan berpura-pura bodoh, padahal Leon ingin memberi kesempatan untuk pria paruh baya itu mengaku, sebelum semakin dipermalukan.
Leon tertawa kecil, tawa yang mampu membuat seisi ruangan hening mendadak. Sedetik berikutnya, tawa itu berhenti dan ekspresi pria itu berusaha menjadi dingin.
Leon menggerakkan dua jarinya, memberi isyarat pada sang sekretaris. Tiba-tiba ruang tampak redup meninggalkan gelap, sebuah layar proyektor yang di depan sana menyala, yang cahayanya mampu menerangi ruangan meski sinarnya yang berpendar sedikit lemah. Sosok seorang perempuan muda yang tengah bermesraan dengan Sovian Daniel tampak jelas di sana.
"Tuan Sovian, itu anda, bukan? Anda dan Haura Arabell, istri simpanan anda."
Tidak mampu menjawab pertanyaan Leon, Sovian benar-benar membungkam mulutnya. Hanya bisa menggeram pelan, dia mengepalkan tangan dengan erat dan menatap penuh amarah pada Leon. Dia merasa tengah dieksekusi di ruang rapat ini.
"Tuan Sovian, bahagia bisa anda memakai uang perusahaan untuk istri simpanan anda? Anda harus membayarnya!" celetuk salah satu dari eksekutif.
__ADS_1
"Benar! Biaya yang keluar benar-benar menguras habis keuangan perusahaan!"
"Tidak hanya selingkuh, anda bahkan telah menyalahgunakan jabatan anda untuk melakukan penggelapan uang perusahaan! Ini bukan contoh yang baik! Apa jadinya hal ini dilakukan oleh karyawan lainnya?"
"Tuan Sovian sudah melanggar aturan perusahaan! Demi kenyamanan bersama, sebaiknya anda mengundurkan diri saja, karena perusaan tidak membutuhkan bagian dari pemimpin seperti anda!"
Sovian benar-benar panik, seluruh eksekutif menuntutnya untuk keluar dari perusahaan. Ini diluar kendalinya, dia benar-benar sudah berakhir.
Sementara Leon, tersenyum puas ketika melihat wajah pucat ayah Kirana tersebut. Karena sekarang, dia terbukti melakukan penggelapan uang perusahaan. Niatnya untuk menjadi bagian Keluarga Januartha pun sudah dipastikan pupus.
"It's done, kakek dan Ibuku pasti akan membatalkan perjodohan sialan itu setelah mendengar bertapa buruknya mereka," Loan tersenyum miring.
Ah, Kirana akan berakhir menjadi gelandangan.
**
Jam Rolex emas di tangan Leon menunjukkan waktu tengah hari setalah ia selesai meeting. Kini, ia sudah berada di depan pintu kontrakan Jecy. Liam membuka pintu dan menyambut dengan gembira.
"Daddy!"
Diangkatnya tubuh kecil Liam dan menggendongnya, wangi minyak telon membuat pikiran yang kusut menjadi segar kembali.
"Ke mana mommy?" tanya Leon setelah mengecup pipi gembul putranya.
"Oh, kau sudah datang?"
Sebelum Liam menjawab, Jecy muncul dengan memegang spatula, sepertinya ia sedang memasak makan siang. Wanita itu bahkan terlihat cantik dengan memakai kaos putih dan celana kain panjang bermotif kelinci yang dilapisi apron rumah.
Beginikah rasanya pulang disambut seseorang? Leon ingin setiap hari seperti ini!
_To Be Continued_
__ADS_1