
Tidak lama, gemericik air berhenti. Selang beberapa menit pintu terbuka.
Jemari Jecy mendadak gemetar. Dia merengkuh jemarinya sendiri. Merengkuh di atas pangkuan agar berhenti memekarkan kegugupan.
Aroma shower gel segera. Memberikan suasana laut di malam hari. menyeruak, meramaikan batin yang sudah tidak bisa berpikir lagi. Dalam tubuh hanya desiran hebat.
Harusnya tadi Jecy pura-pura tidur saja!
"Jecy?" panggil Leon begituan keluar dari kamar mandi.
"Y-ya," balas Jecy menoleh ke samping.
Baik! Lelaki itu tidak punya malu. Keluar kamar mandi hanya memakai handuk hingga pinggul sampai ke lutut. Pemandangan yang... entahlah!
Terkesima. Dua netra amber indah mematung melihat setiap jengkal lekuk jantan Leon. Tidak berbeda meski sudah lima tahun berlalu. Jecy merasa menyesal karena memiliki ingatan yang baik, terlebih ingatan bentuk tubuh telanjng pria itu.
Tetesan air meluncur lugas dari ujung rambut hitam, membasahi dada. Lokasi bidang dan datar. Sedikit turun ke bawah, enam otot terbentuk kotak berdesakan di perut yang rata. Semuanya masih terlihat berkilat karena air yang terkena pantulan cahaya lampu. Jecy tak kuasa untuk berkedip.
"Apa-apaan ini," kalut Jecy membatin, "Kanapa Leon tidak memakai pakaian di kamar mandi? Aku... aku..." tidak dapat meneruskan kalimat karena pandangnya kemudian tertuju pada lipatan handuk di pinggul.
Jecy membayangkan kalau handuk itu terlepas. Apa yang terpampang di sana, dan bagaimana rasanya...
"Aaa! Kenapa aku jadi mesum begini?" batin wanita itu berteriak frustasi.
"Sudah puas mengangumiku?"
Suara Leon mengejutkan angan Jecy. Dia menyeringai tipis.
Menelan saliva dua kali. Berharap wajah tidak merona merah muda, sudah cukup aliran darah berkumpul di wajahnya sejak tadi. Dia angkat pandangnya. Menatap wajah sempurna dengan alis tebal dan tulang pipi yang tinggi, disanggah oleh leher dan pundak yang kokoh.
"Aku... kamu... ehm, sudahlah!" Jecy kehabisan kata-kata. Ia memalingkan wajah ke arah berlawanan, tangan bergerak merapikan selimut Liam yang masih terlelap. Malu karena ketahuan sedang mengagumi secara berlebihan.
Dia lupa tentang apa yang ingin dia tanyakan pada pria itu.
Leon tertawa kecil, "Suka dengan apa yang kamu lihat barusan?" godanya lagi.
"Biasa saja," sahut Jecy memasang wajah datar. Menyembunyikan hentakkan dalam aliran darah. Terus memalingkan wajah, menatap selimut berwarna maron. Mengigit bibir agar tidak tersenyum apalagi tertawa malu.
__ADS_1
"Iyakah? Yakin biasa saja?" Leon berjalan mendekat pada Jecy yang duduk di pinggir ranjang, aroma segar pria itu semakin kuat.
Dan wanita itu tidak membencinya.
Sudut mata Jecy melirik, tapi hanya sedetik dan langsung kembali menghindar.
"Kenapa kau tidak memakai pakaian?"
"Memang tidak boleh?" Leon bertanya balik, berpura-pura polos.
Pria itu memang sengaja mempertontonkan tubuh gagahnya. Dia ingin menggoda Jecy lebih jauh lagi. Oh, dia benar-benar menyukai sikap malu-malu kucing wanitanya.
"Ya! Sebaiknya kau memakai sesuatu. Kau bisa sakit!" jawab Jecy lugas.
"Kalau itu yang kau khawatirkan, kau tenang saja karena aku sudah biasa tidur telanjng, kurasa itu tidak masalah," ucap Leon dengan santainya.
Jecy mendelik, tidak menyangka Leon memiliki kebiasaan tidur tanpa pakaian, "Tidak boleh! Bagaimana bisa kau tidur dalam keadaan seperti itu disaat ada aku dan Liam?"
"Keadaan seperti apa?" tanya Leon seolah tidak mengerti.
"Itu... itu..." gugup Jecy, dia tekan saliva dengan susah payah sebelum kembali berucap, "Tidur telanjng itu tidak sopan! Lakukan itu kalau kau sendiri!"
"Ya, sudah! Aku dan Liam pergi saja! Kami tidak ingin tidur bersama pria cabul sepertimu!" geram Jecy mulai cemberut.
"Tidak seru," kesal Leon setengah tertawaan, tak mampu melawan ancaman tersebut.
Pria itu berjalan menuju lemari di sudut ruangan, membuka lemari tersebut untuk mencari piyama tidurnya.
"Kamar hotel ini..."
"Dulu ketika aku tinggal di LA, ini adalah kamar yang sering digunakan untuk beristirahat. Aku tidak terlalu suka tinggal di rumah kakekku," Leon menjawab kata-kata Jecy, bahkan sebelum wanita itu mengemukakan maksudnya. Pantas saja lemari tersebut sudah terisi.
"Sudah berapa wanita kau ajak ke sini?" tanya Jecy memicing mata, menyindir kebiasaan pria itu.
Berbalik setelah mengambil piyama yang ingin dia kenakan, tatapan mata hazel serius, "Masih banyak hotel lain untuk aku kencan. Kau wanita pertama yang kubawa menginap di sini."
Leon memang tidak suka membawa wanita ke tempat pribadinya. Dia tidak mempercayai partner kencan semalamnya. Namun, kini hanya Jecy yang dia percaya untuk diajak tinggal bersama.
__ADS_1
Jantung Jecy mau melompat dari dada, karena Leon melepas handuk tepat di depan matanya. Segera dia menutup mata rapat-rapat.
"Kamu jangan mesum! Kenapa melepas handuk di depanku!"
"Apa yang salah? Aku hanya ingin memakai pakaian. Bukankah kau yang menyuruhku?"
"Kau bisa memakainya di kamar mandi!"
"Malas."
Malas katanya? Sungguh alasan!
Tawa Leon semakin terdengar. Ringan, dibumbui rasa gemas. Dia melihat Jecy begitu lucu karena sampai menggunakan kedua telapak tangan untuk menutupi matanya.
Hening beberapa detik. Kemudian Jecy merasa kasurnya bergoyang sedikit. Ada lonjakan beban di belakang tubuh. Membuatnya lebih condong ke arah belakang.
"Leon? Kau di mana?" tanya wanita itu hanya memastikan. Apa si pria sudah memakai pakaian. Semua menjadi serba sunyi.
Ia merenggangkan sedikit jari dan membuka mata, mengintip. Benar saja, Leon tidak ada di depan lemari, hanya ada handuk saja tergeletak di sana, di atas lantai.
"Leon? Kau di──"
"Di belakangmu, Jecy," suara berat dan tegas menjawab, berbarengan dengan sentuhan lembut di pundaknya.
Jecy menoleh pada tawa pendek yang datang dari belakang. Tawa berfluktuasi dari detak dari dada ke punggungnya.
"Selamat tidur," Leon mengecup kening Jecy. Dia tersenyum dan merebahkan tubuhnya di samping Liam, dan menutup mata.
Sang wanita hanya mematung di tempatnya. Dia telah mendapatkan segala macam perasaan terkejut, malu, dan... bahagia hanya dengan satu kecupan di keningnya.
Namun, masalah utamanya adalah tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Lantas kenapa Jecy harus gugup seperti seorang pengantin baru? Memang apa yang dia harapkan?
"Akhh! Aku malu!" pekik Jecy di dalam hati.
Merebahkan diri di sebelah Leon, berbaring membelakangi. Jecy mencoba menutup mata dan menghipnotis diri sendiri beberapa kali. Jika dia harus menetralkan detak jantungnya. Dia tidak tahu apakah cuci otak ini akan benar-benar bekerja, tetapi pikirannya kosong, tepat hendak tertidur dia merasa pelukan hangat dari belakang.
Sementara Leon yang hanya pura-pura tidur, diam-diam tersenyum. Dia tak percaya bisa segila ini dia memuja Jecy. Dia mendekap dari belakang, menarik pinggang elok dan menahannya. Mengabaikan tubuh sekaku batang kayu yang kembali terjaga.
__ADS_1
_To Be Continued_