
Di sisi lain, terlihat mobil hitam mengkilat berhenti tak jauh dari halte tempat Jecy berdiri menunggu bus. Sepasang mata hazel menatap dingin wanita tersebut.
Mobil tersebut melaju mendekati Jecy.
Mengerutkan kening. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya yang sedang menunggu bus. Jecy menolehkan kepala, melihat sekeliling dan hanya ada dirinya.
Seseorang keluar dari mobil dan membuat Jecy terkejut.
"Leon...?" ucapnya menatap bingung.
"Hai," sapa pria itu tersenyum simpul.
Kemudian Jecy menyadari bahwa senyum itu tidak mencapai matanya, jadi dia hanya mengangguk. Mata hazel yang terlihat lebih terang balas menatapnya, entah kenapa terasa berbeda. Tatapan kuat seperti melototi sesuatu. Apa yang telah Jecy lakukan hingga membuat pria itu kesal beberapa detik setelah tersenyum?
"Apa ada sesuatu yang membawamu ke sini?"
Mendengar pertanyaan blak-blakan itu, sang pria seperti berhenti menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain.
Tak seperti biasanya Leon mengalihkan pandangan. Merasa janggal. Jecy sudah terbiasa dengan pandangan kedua mata hazel yang selalu intens ketika menatapnya sampai membuat salah tingkah.
"Tentu saja aku ingin menjemputmu," jawab lelaki berambut hitam kalem.
"Kau tidak perlu melakukan itu," ujar Jecy tersenyum tipis-tipis.
"Kenapa tidak?"
"Karena aku bisa pulang sendiri."
"Oh, baiklah."
"Kau potong rambut?" tanya Jecy karena rambut Leon terlihat lebih pendek. Tangan terulur hendak menyentuh rambut hitam itu, tapi terhenti ketika melihat raut wajah yang terasa asing.
Tak menjawab, Leon justru menarik pinggang Jecy dan memeluknya, membuat si wanita tersentak. Kedua wajah mereka berdekatan. Di saat itu juga dia dapat mencium aroma parfum bernuansa aqua fresh dari tubuh pria itu. Wangi yang berbeda.
Seperti bukan Leon.
"Aku hanya berkelahi dengan Leonard, adik kembarku. Dia marah karena aku menghancurkan hidup Kirana──wanita yang dicintainya."
__ADS_1
Seketika teringat perkataan Leon kala itu. Kedua mata Jecy melebar dengan sempurna. Segera dia menepis tangan yang memeluk pinggangnya dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kau... siapa?"
Pria itu terlihat terkejut. Sepintas wajahnya menegang, "Kenapa bertanya? Tentu saja aku Leon."
"Aku tidak sebodoh itu untuk kau tipu, Tuan Leonard. Kau masih saja berpura-pura menjadi Leon meski aku sudah tahu kalau kau bukan dia," Jecy berkata dengan dingin, mengernyit tajam.
"Ah, aku ketahuan..." sahut si pria yang ternyata Leonard, tersenyum sinis, "Kau cukup pintar, jarang ada orang yang bisa membedakan kami."
Mengepalkan kedua telapak tangan. Jecy merasa dipermainkan. Entah alasan apa yang membuat pria itu berpura-pura menjadi Leon. Ingin bertanya, tapi tertahan di tenggorokan ketika melihat tatapan merendahkan disertai permusuhan dari Leonard.
Kenapa? Apa Leonard membencinya? Ini bahkan pertama kalinya Jecy bertemu dengan kembaran Leon. Dia tidak merasa pernah menyinggung pria itu.
"Kau memang tidak bermasalah denganku," ucap Leonard seolah tahu isi pikiran Jecy, "Kau mungkin mengenal Kirana, dia adalah wanita yang akan menikah dengan kakakku sebelum kau datang menganggu."
"Aku tahu dia, tapi aku tidak menggangu siapapun. Dialah yang telah menyakiti──"
"Simpan saja pembelaan dirimu, aku tidak ingin mendengarkannya," sela Leonard menghentikan perkataan Jecy.
"Lantas apa maumu?" tanya Jecy mencoba berani. Merasa tidak bersalah, lagi pula dia tidak melakukan apapun.
"Mauku?" Leonard memicingkan mata, "Aku mau kau pergi dari sisi Leon."
"Apa...?" gumam Jecy tercekat.
"Jangan berpikir jika Leon akan terus memperhatikanmu hanya karena seorang anak dari hubungan kalian. Aku tahu sekali bagaimana saudaraku, dia tidak akan pernah mencintai siapapun. Cepat atau lambat kau akan dibuang."
Hati terasa teriris. Jecy menggigit bibir bawahnya, tak tahu harus menyangkal atau membenarkan perkataan tersebut, karena Leonard memang lebih mengenal pria itu. Namun, dia merasa sakit membayangkan Leon membuang dirinya dan Liam.
Seharusnya Jecy tahu, dia tidak boleh berharap lebih kepada seseorang, tapi dia tidak berdaya dengan segala perhatian dan kehangatan Leon.
Leonard tersenyum sinis melihat Jecy yang tidak bisa berkata-kata. Yakin jika hubungan wanita itu dan kakaknya tidaklah kuat. Mudah dihancurkan.
Dan satu lagi yang harus dia lakukan.
Mendadak tubuh Jecy ditarik oleh Leonard sampai hampir terjatuh. Refleks ia menarik tangan lelaki tampan itu lalu merengkuh pundaknya agar tidak terjatuh. Keduanya berpelukan.
__ADS_1
"Akan aku tunjukan pria macam apa Leon. Kau tidak akan baik-baik saja jika bersamanya," desis Leonard langsung ******* bibir Jecy. Dia cium dengan penuh penghayatan. Napasnya terasa panas menerpa wajah cantik yang sedang kebingungan.
Satu detik, dia detik, tiga detik... Jecy belum menyadari penuh apa yang terjadi pada dirinya. Namun, pada detik kelima...
Plak!
Tamparan keras hadir di pipi Leonard sampai meninggalkan bekas tangan berwarna merah. Napas Jecy tersengal. Dia tidak percaya baru saja menampar adik kembar Leon, terlebih perbuatan kurang ajar pria itu yang seenaknya mencium.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan!"
Jecy menatap Leonard dengan ngeri. Sang lelaki tidak kalah kagetnya karena ditampar oleh Jecy. Terlebih, hanya wanita itu yang pernah menampar dirinya.
Melihat bus yang melintas. Kemudian langsung berlari menaiki bus itu. Jecy tak mau terus berlama-lama bersama lelaki segila Leon.
Leonard diam dalam berdiri. Memegangi pipinya yang tidak terasa sakit. Dia memang meyakini akan mendapat tamparan, tapi tidak menyangka akan sekeras ini.
"Bagaimana?"
"Sempurna," suara seseorang muncul dari balik pohon. Dia membawa sebuah kamera.
Jika ada orang di dunia ini yang tidak takut berhadapan dengan Leon, maka dialah orangnya. Leonard yakin bisa memisahkan Jecy dan kakaknya. Karena dia sudah berjanji akan membalas rasa sakit hati wanita yang ia cintai, tak akan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaan Kirana.
**
Menaiki bus, Jecy berkali-kali mengelap bibirnya yang baru saja dicium Leonard. Perasaan jijik melanda seluruh tubuh. Memang Leonard memiliki paras tampan yang sama persis dengan Leon, tapi dia tidak menginginkan sentuhan dari lelaki selain Leon.
Jecy melontarkan rentetan makian di dalam hati pada Leonard yang sudah main sosor seperti bebek. Demi apa pria itu menciumnya seperti itu, kurang ajar. Meski sudah memberi tamparan namun Jecy tak puas. Dadanya sesak peristiwa barusan.
"Kau tidak akan baik-baik saja jika bersamanya"
Memikirkan kalimat terakhir yang dikatakan Leonard. Tidak akan baik-baik saja? Memang apa yang akan terjadi? Namun, Jecy tidak merasa takut karena selama ini hidupnya memang tidak baik-baik saja. Justru ketika bersama Leon dia merasa lebih baik.
Kepala Jecy bersandar di kaca jendela bus. Menatap kosong.
"Pergi dari sisi Leon katanya?"
_To Be Continued_
__ADS_1