
"Jadi, anda memberitahuku, bahwa anda tidak mangaku?"
Terdengar suara Marvin di seberang sana.
"Ya," jawab Leon, terlihat dia sedang duduk di sofa dengan ponsel yang ditempelkan di telinga, "Hubungi Disneyland dan segara hentikan kembang api! Kembang api menyebabkan banyak masalah seperti polusi lingkungan, polusi udara, polusi suara, dan lainnya. Nampaknya taman hiburan tidak menyadari hal-hal tersebut."
Padahal Leon berniat melakukan pengakuan yang layak sambil menyaksikan kembang api yang indah. Begitupun dengan suasana romantis di bawah kembang api yang sudah dia atur sedemikian rupa. Namun, rencana pengakuan puitis tersebut gagal.
Ternyata kembang api menakjubkan yang disiapkan Leon justru mengganggunya.
"Haha... anda tidak benar-benar akan memberitahu mereka, 'kan?"
"Kenapa tidak?"
Merasakan asam pada mulutnya. Leon ingin merokok. Namun, dia tidak mungkin melakukannya karena ada Liam yang sedang tidur di kamar ini. Dia tidak boleh merokok di hadapan anak kecil, bukan? Apakah ini saatnya dia berhenti?
"Lupakan kembang api, Tuan. Anda saja tidak memiliki cincin, bagaimana bisa anda melamar seorang wanita?"
"Ci-cincin?"
"Hais, cincin adalah yang terpenting."
Seketika terbelalak. Seakan ada bongkahan batu yang menghantam kepala. Benar, dia melupakan cincin.
**
Jecy berdiri lalu mematikan shower. Dia meraih bathrobe yang terlipat rapi di atas rak, di samping wastafel, dan di sisi kanan ada bathtub besar.
Setelah mengenakan benda itu, dia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Memandangi wajah memerah karena pikiran yang mulai memanas. Sebenarnya apa yang sekarang dia lakukan? Kenapa dia bertingkah seperti seorang wanita yang baru menikah dan ingin melakukan malam pertama?
Nalar mendesak Jecy untuk secara paksa menariknya ke kenyataan. Sekarang dia hanya malu pada dirinya sendiri seperti gadis bodoh yang tidak berhasil menjaga dinding buatannya. Sebab, dinding itu telah runtuh sepenuhnya.
Leon, seseorang yang berhasil meruntuhkan pertahanannya. Lelaki itu bisa berbuat sesuatu di luar nalar. Memiliki hal yang sulit untuk ditolak atau dibantah. Absolute, kemutlakannya membuat Jecy meremang. Leon yang jatuh cinta benar-benar menyeramkan, bahkan Jecy merasakan tekanan itu dari cara pria itu menatapnya. Benar-benar tidak bisa dihindari.
Membayangkan dirinya jatuh cinta dengan pria kaya itu, dia mungkin kehilangan kewarasan dan Jecy tetap terhanyut pada kehangatan darinya. Perasaan menakutkan yang tak ingin dia rasakan. Namun, hal yang paling menakutkan terletak pada dirinya sendiri. Dari lahir sampai sekarang, dia memiliki pengalaman meninggalkan semua alasan untuk mengejar kesenangan yang aneh, tapi di sisi lain ini terlalu menggoda. Ibarat mencicipi manisnya buah terlarang yang sekali jatuh cinta kamu tidak lepas darinya, bahan hanya mengingatnya sekarang sudah menyenangkan.
Jecy tak bisa mengabaikannya lagi.
__ADS_1
Setelah cukup bertarung di dalam pikiran, wanita itu menarik napas dengan panjang. Lalu dia keluar dari kamar mandi.
Tepat ketika pintu kamar mandi terbuka, dia mendapati Leon yang duduk di sofa sambil menelepon, gaya yang begitu dingin dan elegan melekat. Tatapannya menyapu Jecy, dan kemudian bertemu mata. Kemudian dia tersenyum. Hilang sudah aura dinginnya.
Jecy yang bingung harus mengatakan apa, kembali berbalik ke dalam kamar mandi. Momen itu terlalu awkward, sampai dia tak tahu harus melakukan apa. Dia terlalu malu, apalagi keadaannya yang hanya memakai bathrobe.
Astaga, kenapa dia terjebak di situasi seperti ini?
Di dalam kamar mandi, wanita itu kebingungannya. Harusnya tadi dia membawa pakaian sebelum ke kamar mandi.
Karena luar biasa malu, Jecy memilih duduk di atas kloset duduk. Hatinya kacau dan jantungnya bertalu-talu.
Cklek!
Di tengah kepalanya yang sibuk memikirkan semua, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Jecy mendongak ke depan, dan dia terkejut saat mendapati Leon yang berdiri di sana.
"Kenapa kau masuk lagi?" Leon menertawai tingkah Jecy yang dia anggap menggemaskan.
Jecy meneguk saliva dengan kasar. Dia panik dan tak tahu harus menjawab apa. Tak mungkin dia jujur jika sedang salah tingkah.
Sebuah piyama beserta pakaian dalam disodorkan, langsung Jecy menerimanya dengan cara menyambar. Wajah Jecy seketika memerah seutuhnya.
"Maaf karena membongkar tasmu tanpa izin, tapi kupikir kau tidak akan keluar dari kamar mandi hingga besok pagi karena tidak membawa baju ganti," kekeh pria itu.
Ah, bukankah Leon kelewat peka?
"Y-ya, tidak apa-apa. Te-terima kasih."
"Hmm."
Setelah itu, tidak ada percakapan lagi, tapi Leon masih belum pergi juga. Jecy bertanya-tanya bagaimana dia bisa memakai pakaiannya. Tidak mungkin dia melakukannya di hadapan lelaki itu. Atau itu yang diharapkan.
"Bisakah kau keluar?" ujar Jecy ragu-ragu.
"Oh, oke."
Leon langsung berbalik dan menutup pintu, sekilas dapat terlihat semburat merah di daun telinganya.
__ADS_1
Jecy menatap pakaian tersebut, tatapannya terlihat rumit seperti pikiran dan hatinya. Seluruh tubuh seakan dikuasai oleh jantung, suara dentuman memenuhi bagian dalam.
Tidak mau semakin berlama-lama di kamar mandi, wanita itu langsung memakai pakaiannya. Setelah itu menatap penampilannya di cermin. Astaga, wajah memerahnya benar-benar sudah tidak bisa tertolong!
Di tengah kesibukannya memandangi dirinya, Leon tiba-tiba masuk. Dia mendapati Jecy yang sedang gelagapan sendiri.
"A-aku akan keluar. Sekarang kau bisa menggunakan kamas mandinya," ucap Jecy dengan cepat, lalu berbalik hendak pergi. Karena ia tahu, Leon akan mandi.
Baru saja dia ingin menuju pintu, tiba-tiba pria itu menahan pergelangan tangannya. Dan itu menambah detak jantung Jecy bertambah berkali-kali lipat. Bisa-bisa meledak.
"Tunggu!" ujar Leon lebih terdengar seperti perintah, lalu menarik Jecy agar berdiri di hadapannya.
Apa yang diinginkan pria itu? Jecy tak sanggup jika digoda lagi, apalagi mendapat tatapan hangat, atau kalimat-kalimat gombal.
Namun, hal yang tidak terduga. Ketika Jecy berdiri di hadapan Leon. Dia menyalakan hair dryer, dan mulai mengeringkan rambut cokelat muda itu.
Jecy tercengang sebentar, hampir tidak bernapas dan terdiam, lalu menatap Leon dari cermin. Pria itu tampak serius melakukannya.
Astaga! Tidak hanya hangat dan memilih otak mesum, Leon merupakan orang yang perhatian. Tanpa di minta dan tanpa mengatakan apapun, dia mau mengeringkan rambut Jecy.
Tentu pria itu akan sangat menyayangi wanitanya, bukan?
Leon menyudahi kegiatannya, dia meletakkan pengering rambut itu ke tempat semula.
"Nah, sudah."
Jecy menganggukkan kepala. Dia meraba rambutnya yang sudah benar-benar kering dan halus. Kembali tersipu malu, saat mengingat ketika Leon mengusap dan membelai rambutnya tadi.
"Kenapa masih di sini? Kau ingin mandi lagi bersamaku? Atau kau ingin melihatku mandi?"
Jecy tersentak saat mendengar ucapan pria itu, buru-buru dia menggelengkan kepala, dan langsung melipir keluar.
Mendasari tingkah gugup sang wanita, Leon tersenyum tipis.
"Aku akan membeli cincin secepatnya."
_To Be Continued_
__ADS_1