
"Biar saja. Aku tidak akan kehilanganmu ketiga kalinya. Benar, Jecy?"
Jecy yang berada di dalam taksi semakin erat memeluk Liam. Meski dia tidak bisa mendengarnya namun firasat buruk mengguncang batinnya.
Awalnya, dia hanya ingin menyenangkan Liam dengan mengajak pergi ke mall untuk membeli mainan, tapi takdir justru mempertemukannya dengan seseorang yang dianggap mimpi buruk.
Kemudian Jecy melempar pandangan ke kaca spion, yang memperlihatkan Leon yang digelayuti seorang wanita. Semakin menjauh sampai tidak terlihat lagi.
Berpikir untuk apa pria itu mengejar-ngejarnya jika sudah memiliki wanita? Apa kesalahannya dulu sangat fatal sampai tidak bisa termaafkan meski sudah lewat bertahun-tahun? Dendam apa yang Leon miliki?
"Mom?"
Mendengar suara cempreng khas anak-anak mengalihkan kecemasan Jecy. Dan saat itu juga, dia baru sadar jika terlalu erat memeluk putranya, Liam pasti kesakitan.
Namun, anak kecil itu tidak mengatakan bahwa dirinya sakit. Liam membiarkan dirinya dipeluk seerat apapun asal itu bisa membuat sang ibu tenang.
Liam berucap seraya meraih pipi ibunya dan memberikan usapan kecil, lalu dipandanginya wajah pucat Jecy, "Liam selalu di samping mommy. Aku sayang mommy. Mommy tidak perlu khawatir, aku akan selalu menjaga mommy dari orang jahat."
Mendengar ucapan buah hatinya, lelehan liquid bening merebak tidak bisa ditahan. Ketangguhan yang Jecy coba bangun luluh lantah sudah.
"Mom, jangan menangis, kalau menangis nanti tidak cantik lagi," ujar Liam tersenyum menunjukkan deret gigi kecilnya.
Astaga, dari mana anak sekecil itu belajar kalimat gombal untuk menghibur ibunya? Jecy menjadi tersenyum dibuatnya.
Dirinya memang selalu mengalami masa-masa sulit, tapi semua akan baik-baik saja karena dia memiliki Liam.
"Love you son."
**
Setelah pertemuannya dengan wanita yang selama ini dia cari, Leon lebih banyak berdiam diri, tidak fokus dalam melakukan semua hal yang menyangkut pekerjaan.
Mendesah pelan, Leon menyandarkan dirinya pada kursi kerjanya. Dia butuh ketenangan. Tapi setiap pria itu memejamkan mata, dia selalu mendapati wajah Jecy. Wajah yang tidak menunjukan perubahan, wanita itu tetap memancarkan kecantikan tersembunyi yang sudah Leon akui.
"Huh, dia bahkan bisa melarikan diri sejauh ini. Sembunyi layaknya buronan polisi. Dan memiliki seorang anak..."
Ditatapnya bekas gigitan dari anak kecil yang memanggil Jecy dengan sebutan mommy.
Ya, anak Jecy yang mirip dengannya. Suatu perkara lain yang mengganggu.
Leon mendadak dipenuhi keraguan dan ketidak tahuan. Dia melamun, mencoba meraba keanehan dalam dirinya, barangkali dia melewatkan sesuatu.
Knock knock! Suara ketukan pintu menginterupsi lamunannya.
Menegakkan posisi duduknya dan berdeham satu kali, Leon mempersilakan si pengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuklah."
Marvin memasuki ruang kerja sang CEO. Dia mulai membacakan kegiatan bos-nya yang padat sejak kepindahannya ke Indonesia.
"Setengah satu nanti, anda mengadakan pertemuan dengan tim perencanaan mengenai laporan untuk kuartal keempat."
Leon menerima dokumen yang sekretaris-nya berikan. Dia memang tidak boleh terus-terusan mengesampingkan pekerjaannya, mengingat bagaimana perjuangan yang dilakukan hingga sampai di posisinya saat ini.
"Ini adalah hal-hal krusial yang harus anda tangani hari ini. Setelah sore pukul tiga, divisi US akan segera... Oh! Ibu anda mengatakan akan suka jika anda makan siang dengan Miss. Kirana."
Mendengar itu, tangan Leon yang sedang menandatangani kertas dokumen berhenti. Teringat bahwa dia akan dijodohkan dengan wanita pilihan ibunya. Ucapan Kakek Xavier kala itu benar-benar serius.
"Apa kau sudah bilang pada ibuku kalau aku tidak──"
"Oh ayolah, Bos. Anda ingin saya mati? Beliau hanya memberitahu saya waktu dan tempatnya," sela Marvin cepat. Bukannya bermaksud tidak sopan, dia hanya lelah dimarahi di sana sini.
"Jadi kau sudah menaiki kapal Kakekku, ya?" dengkus Leon melirik tajam, beranggapan jika orang kepercayaannya tidak berpihak lagi padanya.
"Saya hanya ingin hidup tenang."
Entah sudah berapa banyak masalah yang selalu dibuat Leon untuk Marvin tangani. Contohnya saja, pria itu baru kemarin membuat keributan di mall dengan meninju banyak orang yang menghalangi jalannya. Marvin yang baru saja datang, langsung dihadapi keluhan dan kerugian yang ditimbulkan atasannya itu.
Sang sekretaris hanya memilih sependapat dengan Kakek Xavier, bahwa tempramen buruk Leon dan obsesinya terhadap wanita yang dicari-carinya akan sembuh jika pria itu menikah.
"Ini demi kebaikan anda, Tuan," pungkas Marvin menurut pandangan subjektifnya.
"Siapa yang anda maksud?"
"Jecy."
Marvin terlihat terkejut, tidak menyangka jika Leon akan menemukan wanita yang dicari di negara ini. Memang benar, takdir Tuhan diujung usaha meraka.
Leon kembali berucap sambil menatap lurus pada tembok berwarna putih, "Selama ini dia sembunyi dengan anaknya."
"Jadi dia sudah menikah dan memiliki seorang anak? Bagus, ini adalah saatnya anda berhenti."
Mendengar itu, wajah Leon mengeras. Kedua tangan mencengkeram ganggang kursi, menahan rasa marah. Dia dihantam situasi di mana Jecy sudah menjadi milik pria lain. Batinnya mendadak riuh.
"Berhenti berbicara omong kosong, lebih baik kau diam saja, Marvin!" tegas Leon dingin.
Sang sekretaris menelan saliva berat, menyadari kesalahannya dalam berbicara.
**
Suasana tegang tercipta di dapur yang dipenuhi peralatan serba stainless itu. Dari meja, peralatan memasak, rak yang berjejer, wastafel, gas charcoal grill, noodle boiler, dan masih banyak lagi lainnya.
__ADS_1
Berdiri berjam-jam dengan udara yang panas, sudah menjadi hal yang biasa bagi Jecy. Karena itulah seorang chef harus memiliki stamina dan mental yang kuat bak seorang prajurit.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat," tanya Jecy pada seorang wanita yang terlihat sakit.
"Aku baik-baik..." ucap wanita itu lemas, dengan tangan yang bertumpu pada meja ketika pengalihannya agak memburam.
"Apanya yang baik-baik saja? Lebih baik kau istirahat saja," ujar Jecy khawatir pada rekan kerjanya yang hampir pingsan itu.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku? Aku harus mengepel lantai."
Jecy melihat sekeliling, semua orang terlihat sibuk karena akan ada pelanggan VIP yang datang. Meski hanya ditugaskan untuk memasak, tapi jika hanya mengepel lantai sepertinya dia bisa membantu.
"Biar aku yang mengepel lantai."
"Tidak, aku tidak ingin merepotkan Chef Jecy," tolak wanita itu merasa tidak enak.
"Kau istirahat saja," pungkas Jecy tidak menerima penolakan.
Dia memapah tubuh lemah wanita itu menuju ruang istirahat khusus staf. Tidak hanya khawatir kalau wanita itu benar-benar pingsan, Jecy juga memikirkan kenyamanan pelanggan VIP yang mungkin bisa terganggu.
"Terimakasih."
Jecy mengangguk lalu bergegas mengambil alih pekerjaan wanita itu.
Menenteng sebuah kain pel basah untuk mengepel lantai telah dia lakukan. Kini, tinggal sekalian membuang trash bag besar berisi timbunan sampah sebelum tubuhnya limbung akibat seseorang secara tak sengaja menabraknya dari arah depan.
Gaya gravitasi menarik Jecy jatuh mengakibatkan ceceran sampah kotor bercecer di lantai. Dia meringis menyadari lututnya sempat menghantam marmer namun merasa sakit ketika mendengar kalimat berisi makian terhadapnya.
"Oh ****! Bisakah matamu kau taruh di tempatnya!" suara umpatan terdengar dari seorang pria.
"Maaf, Tuan. Saya tidak melihat anda," buru-buru Jecy mengeluarkan sapu tangan mencoba mengelap cipratan kotoran di sepatu mahal pria itu. Namun sebuah hinaan kasar kembali dia terima.
"Jauhkan itu dariku, kau sudah membuat diriku merasa malu. Aku bisa membuat lidahmu membersihkan sampah di lantai."
Merasa harga dirinya tengah direndahkan, Jecy mendongak menatap nyalang pada pria itu. Sampai dia melihat wajah dari pelontar kalimat hinaan itu.
Leon Victor Januartha.
Jecy membatu menyadari siapa pria di depannya. Sorot mata hazel yang tajam dan surai hitam yang diwariskan pada anaknya sangat dihafal baik olehnya.
Leon adalah cetak biru sempurna bagi Liam.
Kenapa Jecy harus bertemu lagi dengan pria yang selalu mengeluarkan aura kejam diiringi dominasi tak terkalahkan itu?
"Astaga lihat, siapa tikus got yang kutemui ini."
__ADS_1
_To Be Continued_