
Malam hari berikutnya.
Seharusnya Leon akan lembur di perusahaan karena sudah terlalu banyak mengambil cuti, dia tidak boleh mengabaikan tanggung jawab meski pemilik perusahaan. Namun, Leon ingin segera pulang. Masih pukul delapan, dia harap Liam tidak langsung tertidur. Setidaknya dia ingin mengucapkan selamat malam atau selamat tidur nyenyak bagi bocah kecilnya.
Ditambah keberadaan wanita manis di rumahnya menjadikan Leon tidak sabaran menginjakkan kaki di rumah.
Bangkit dari kursi kerjanya. Pria itu merapikan penampilan, menyambar sebuket mawar putih, dan mengecek kotak cincin di dalam saku jasnya. Semuanya telah siapa.
Dengan segala persiapan dan keberanian yang telah dikumpulkan, malam ini Leon akan kembali melancarkan proposal pada Jecy.
Melangkah menuju pintu keluar ruangannya, Leon menemukan sebuah amplop di bawah daun pintu yang dia buka. Kemudian mengambilnya, dia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan apa yang ada di dalam.
Detik itu juga matanya terbelalak. Napasnya terhenti sampai sekian detik lamanya. Mawar putih yang tadinya dipegang dengan suka cita terjatuh begitu saja ke lantai.
"Bedebah!" dia memaki. Mengumpat tentang betapa marahnya Leon dengan apa yang dia lihat. Dia perlu bicara dengan Jecy secepatnya.
Dia berjalan cepat menuju lift khusus. Secepatnya dia harus sampai di rumah. Dia hanya membiarkan Jecy menikmati hari-harinya tanpa dirinya campuri. Dia belajar untuk memercayai wanita itu, Leon menurunkan sikap posesifnya dengan harapan sang wanita akan sedikit melunak. Tapi bukan dengan cara seperti ini, bukan dengan berhubungan dengan pria lain. Dia merasa diselingkuhi.
"Brengsek!" Leon memukul dasbor mobil. Rambutnya diacak kasar. Dasinya dilonggarkan kemudian dilempar ke samping kemudi. Sesuatu yang telah menjadi miliknya diusik dan dia tidak dapat mentolerir, "Apa yang membuatmu tidak paham mengenai hal yang seharusnya tidak boleh kau perbuat, Jecy," geramnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
**
Leon memasuki penthouse miliknya tergesa. Tanpa melepas jas dia menyusuri ruangan untuk menemukan dimana Jecy berada. Suasana sedikit sepi, hanya ada beberapa pelayan yang memang dikhususkan bermalam di sini, sebagiannya pulang ke rumah masing-masing.
Mendapati kamar Jecy kosong, lalu tanpa membuang waktu berjalan ke arah kamar Liam. Dugaanya tepat, wanita itu berada di sana, menyelimuti anak mereka yang sedang tertidur. Dia tidak bisa berbicara dengan Jecy di sini, Leon yakin mereka akan bersuara keras dan itu akan menganggu istirahat Liam.
"Ikut aku."
Jecy terkejut. Dia belum menyadari kehadiran Leon sebelum tangannya dicekal lalu ditarik mengikuti pria itu. Mereka berhenti di ruang kerja, ruangan ini cukup baik untuk meredam teriakan karena terpasang beberapa peredam suara. Setidaknya Leon berharap dia dapat berbicara baik-baik dengan Jecy.
"Apa yang kau lakukan di belakangku?"
__ADS_1
Si pria masih mencekal pergelangan tangan Jecy. Wanita itu bungkam meski cengkeramannya semakin mengerat.
"Jawab, Jecy!" suaranya naik beberapa oktaf. Jecy terkejut dan pandangannya menyiratkan ketidak pahaman.
"Kau baru datang dan kau membentakku. Biarkan aku pergi," Jecy berusaha melepas cengkeraman Leon. Dia tahu pria ini dalam keadaan marah. Bukan sesuatu yang bagus bila mereka hanya berdua.
"Akan aku lepas setelah kau menjelaskan tentang hubunganmu dengan Leonard."
"Apa yang kau maksud?" Jecy kebingungan.
"Buka amplop ini dan lihat apa isinya!" Leon menyerahkan sebuah amplop pada Jecy.
"Apa ini?"
Jecy memasukan tangannya ke dalam amplop dan menemukan tiga lembar foto. Mengeluarkan foto lembaran tersebut.
Mata amber terbelalak. Bibirnya terbuka sendiri tanpa dia sadari.
Di tangannya, fotonya sedang berciuman dengan Leonard terpampang nyata. Mereka terlihat begitu mesra dengan Jecy yang memeluk lengan si tampan, adik kembar Leon. Semua kejadian Minggu sore saat di halte.
Urat kebiruan menjalar di lengan Leon. Dia mengumpat.
"Bagaimana bisa? Seharusnya itu pertanyaanku. Kau dengan Leonard dan arrgghhkkk..." Leon benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dia meninju dinding. Tangannya merah namun tidak sampai berdarah.
Binar Jecy tenggelam dalam keterkejutan. Dia bisa menjelaskan, namun suaranya tersangkut, "Aku tidak memiliki hubungan dengannya. Aku tidak berbohong, Leon."
Jecy mencoba meraih tangan Leon tapi dia menyentaknya. Hatinya sakit. Pria itu kali ini menolaknya.
"Sialan!" teriak Leon melempar hiasan meja berbahan kaca ke dinding hingga pecah berserakan. Napasnya terengah, pundak naik turun tidak beraturan.
Tidak hanya sampai di situ, dia juga membuang semua barang di atas mejanya ke lantai. Suara pecah belah menggema. Jecy menatap horor Leon yang mengamuk.
__ADS_1
"Aku percaya kau wanita baik-baik, Jecy. Tapi, jelas sekali ada gambar kalian berpelukan dan berciuman di foto itu," dia mengguncang bahu Jecy, "Bagaimana bisa aku percaya kalau kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Leonard?"
"Aku bisa jelaskan! Berhenti berteriak padaku," sahut Jecy merasa sakit pada cengkeram Leon di kedua bahunya, juga merasa ngeri dengan tempramen yang telah meledak itu.
"Kalau bukan karena kalian memiliki hubungan. Lantas berapa uang yang kau peroleh dari mengizinkan Leonard menyentuhmu?" Leon mengambil dompetnya, mengeluarkan semua kredit card nya beserta lembaran uang.
Suara Jecy tercekat. Dia masih belum stabil, semuanya serba mendadak. Dia tidak menyangka Leon akan berpikir seperti itu kepadanya. Pria itu kembali merendahkannya.
Jecy terisak, wanita itu beberapakali mengusap pipinya. Dia sakit dan kecewa pada Leon.
Refleks Leon mendorong Jecy ke sofa di belakangnya. Harga dirinya terluka. Wanita itu selalu menolaknya, mendorong jauh dirinya dengan alasan takut padanya namun malah memberikan orang lain keleluasaan untuk menyentuhnya.
"Kau harus sadar siapa pemilikmu," Leon semakin brutal, mulai berani menjamah kulit pucat Jecy. ******* kasar bibir tipisnya lalu menggigit hingga bertaut lidah.
"Hen... tikan," Jecy memberontak. Tubuh berat Leon menahannya untuk bangkit. Kedua tangannya memukul apapun, tapi sang pria semakin liar menghisap bibirnya.
Suaranya melengkuh. Satu gigitan, Leon menyerang lehernya. Jecy memohon, "Berhenti, Leon. Berhenti."
Kabut merah di mata hazel membuatnya takut. Tubuh kecilnya terkungkung sempurna di balik tubuh besar si pria.
"Di mana saja dia menyentuhmu?"
Suara berat Leon serak, Jecy bungkam. Dia terisak.
"Lepaskan aku," ronta wanita itu namun percuma. Leon terlalu dominan untuk dirobohkan.
"Kami tidak melakukan apapun," bantah Jecy, "Dia menjebakku. Lepaskan! ──ahhk," teriakannya berubah menjadi rintihan. Kedua tangan diikat menggunakan ikat pinggang.
Sungguh sekuat apapun Jecy melawan, tenaganya tidak akan mampu menggeser dominasi kokoh Leon pada dirinya. Bibirnya kembali menjadi sasaran beringas pria yang cemburu buta itu. Ini menyakitkan, harga dirinya semakin jatuh dan terkoyak.
Mata amber melebar horor ketika bajunya ditarik sampai robek. Kakinya yang bebas menendang-nendang, entah mengenai perut atau dada pria kalap ini. Leon sempat kewalahan lalu dia juga bertindak semakin kesetanan.
__ADS_1
"Akan aku lihat sendiri dengan mata kepalaku bila dia tidak menyentuh dirimu."
_To Be Continued_