
Ada masa di mana jari solid Leon ditempeli plester di sana sini, karena dia terus terkena sayatan pisau saat memotong labu. Sudah ketiga kalinya dia gagal membuat bubur. Seperti, terlalu banyak menggunakan air, gosong, dan hampir saja menghancurkan dapur karena menggunankan api terlalu besar.
Oh, pria itu benar-benar gigih.
"Aku tidak kebanyakan menambahkan garam lagi, 'kan? Orang sakit bisanya lidahnya akan pahit dan semua makanan hambar, mungkin aku harus sedikit membuat bumbunya lebih kuat," ucap Leon pada percobaan keempatnya.
Leon mengambil semua bumbunya. Memasukan garam satu sendok, lada sedikit lebih banyak, dan kaldu. Dia juga memberikan irisan tomat ceri dan saus.
Tersenyum bangga melihat mahakaryanya selama di dapur. Leon sama sekali tidak pernah memasak, ia bahkan tidak bisa membedakan semua bumbu dapur. Hanya membuat satu mangkuk bubur saja ia sudah membuat kekacauan seperti kapal pecah.
Leon meletakkan bubur itu di nampan beserta air putih. Kemudian membawanya ke kamar di mana Jecy berada. Sepanjang perjalanan dia membanggakan dirinya sendiri karena berhasil memasakkan sesuatu untuk orang lain, dan ini adalah pertama kali dalam hidupnya.
Tiba di kamar dia segera meletakkan di nakas, dan mulai membangunkan Jecy yang tertidur.
"Jecy, bangun. Ini makan malammu. Kau harus makan, karena tadi dehidrasi berat."
Leon mengguncang tubuh Jecy tapi wanita itu masih tertidur. Karena cemas, ia pun membungkuk dan meletakkan punggung tangannya di dahi Jecy.
"Sudah tidak panas," gumamnya ketika tidak merasakan panas menyengat seperti pagi tadi.
Bulu mata Jecy mulai bergetar dan terangkat perlahan, hingga mata kuning keemasan sepenuhnya terbuka. Dengan pandangan sayu, dia menatap Leon yang membungkuk di atasnya. Pandangan mereka bertemu, dan Leon segera menegakkan tubuhnya.
Leon menekan pipi Jecy dengan telunjuknya, "Cepat bangun. Aku sudah memasak bubur labu kuning untukmu, Putri Tidur."
Ketika Jecy bangun untuk mendudukkan dirinya, Leon mengambil mangkuk bubur buatannya dan memberikan pada wanita itu. Namun, Jecy tidak menerima, dia hanya menatap diam bubur berwarna kuning itu dan jari-jari solid yang diplester.
Tercengang sebentar. Jecy tidak percaya dengan Leon yang memasak bubur sampai melukai dirinya sendiri. Astaga! Ada apa dengan pria itu? Segala sesuatu yang dilakukannya benar-benar tidak dapat dimengerti.
Jecy hanya ingin tahu apa mungkin Leon juga merasa kasihan padanya, dan itu menggerakkan pria itu berbuat baik. Namun, itu kesalahannya sendiri yang bisa jatuh sakit.
Terdengar suara decakan dari wajah tampan yang merenggut, "Cepat ambil dan makan. Kukira kau sudah berhenti bersikap keras kepala."
"Aku masih lemas," Jecy kesal pada dirinya sendiri.
"Aku tahu, makannya kau harus makan dan minum obat."
"Tanganku lemas."
Leon mengerjapkan mata sesaat, memandang tangan Jecy yang terkulai lemas dikedua sisi tubuhnya. Orang sakit pasti merasa seluruh tubuhnya lemas dan tidak berdaya, dan dia baru menyadari bahwa wanita itu pasti tidak bisa memegang mangkuknya dengan benar.
__ADS_1
Pria itu pun menyendok bubur dan meniupnya sebentar, lalu membawanya ke mulut Jecy, "Ayo makan," ucapnya lebih terdengar memerintah.
"Tuan mau menyuapiku?" tanya Jecy sekali lagi tidak percaya.
"Hmm, ayo buka mulutmu sebelum aku membukanya dengan paksa."
Sedikit takut diancam, Jecy langsung membuka mulutnya dan menerima suapan itu masuk. Dua mata bertatapan lagi, sesaat saling mengagumi keindahan bola mata satu sama lain.
Namun, situasi itu tidak berlangsung lama. Karena wajah cantik berubah semakin pucat ketika lidahnya merasakan bubur itu. Bahkan Jecy merasa pandangan berkunang. Dia baru saja melihat pintu neraka terbuka di depannya dan malaikat maut menyambutnya.
Melihat Leon yang kembali meniup bubur itu, Jecy berusaha menelannya meski rasanya seperti menelan satu kilogram paku beracun. Bagaimana bisa ada orang yang memasak makanan manusia semengerikan ini? Rasanya sangat mengerikan, nyaris membuat lidah mati rasa dan tenggorokan terbakar.
Setelah bubur itu berhasil melewati kerongkongannya, Jecy menatap horor sendok bibir yang sudah di depan bibirnya. Dia seperti mendapat serangan mimpi buruk tiba-tiba.
"Buka mulutmu lagi," titah Leon dengan santainya.
Jecy tidak mengatakan apapun, dia meraih air putih dengan segera dan meneguknya sampai tandas. Mungkin cacing dan bakteri baik di lambungnya pun akan terkapar dan segera mati karena mendapatkan serangan mengerikan dari bubur labu kuning buatan Leon.
"Tuan ingin meracuniku?" hardik Jecy mendelik.
"Apa yang kau katakan?" tanya Leon heran.
"Bubur."
Dicicipinya bubur itu. Dan tiga detik kemudian, Leon segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang baru saja dia makan. Kemudian dia berdiri di depan wastafel, memandangi pantulan wajah pucat di cermin. Sepertinya satu mangkuk bubur buatannya akan membawa seseorang bertemu malaikat maut. Sial, dia tidak bermaksud meracuni Jecy.
Tak beberapa lama Leon kembali menghampiri Jecy, tapi wanita itu tidak meliriknya sama sekali. Duduk di kursi sebelah ranjang, Leon merasa seperti pesakitan terdakwa di ruang sidang. Mulai menyesal memberi bubur mengerikan pada orang sakit. Ujung jasnya ia remas kencang sebagai pelampiasan rasa gugup dan malu.
"Maaf."
Kata maaf adalah hal pertama yang tidak pernah Leon ucapkan. Bahkan sampai membuat Jecy tertegun. Kepala cantik menoleh untuk memastikan kalau pria itu benar-benar Leon Victor Januartha yang sedang berucap maaf padanya.
"Maaf, Jecy. Aku tidak bermaksud meracunimu, aku hanya tidak bisa membedakan bumbu dapur," sesal Leon lagi.
Wanita bermata amber itu masih diam saja. Ya, memang benar Leon yang sedang meminta maaf. Dia tidak menyangka, lelaki yang terkenal memiliki tempramen buruk bisa menunduk penuh sesal terhadapnya. Lalu Jecy kembali melirik jari-jari solid yang diplester.
Karena beberapa alasan kedendaman Jecy mengikis satu lapisan, tidak seharusnya dia bersikap dingin kepada Leon yang sudah merawatnya.
"Ya," sahut Jecy menerima permintaan maaf itu, "Terima kasih juga karena sudah menolongku."
__ADS_1
**
Keesokan harinya.
Rutinitas pagi ini diawali dengan Leon yang berniat membangunkan Liam. Akan tetapi, ketika pria itu sampai kamar di mana Liam tidur semalam, bocah kecil itu sudah bangun dan terlihat sedang membereskan tempat tidur.
"Liam sudah bangun?"
Anak laki-laki dengan pipi membulat lucu menoleh, seketika matanya berbinar senang melihat paman tampan yang berdiri di dekat pintu. Liam langsung meloncat dari tempat tidur untuk menghampiri Leon, "Paman!"
Leon mengacak rambut hitam milik putranya, "Apa yang sedang kau lakukan..." ucapannya menggantung heran, tatapan pria itu beralih ke tempat tidur yang sudah rapi, "Membereskan tempat tidur?"
"Hmp!" Liam mengangguk, lalu tersenyum menunjukkan deret gigi kecil berwarna putih, "Liam sudah dewasa dan bisa merapikan tempat tidur sendiri setiap pagi. Liam juga tidak mengompol, Paman!"
"Wow, kau hebat, Boy," puji Leon merasa bangga.
Namun, sisi hatinya yang lain tergelitik tak nyaman. Tatkala mengetahui putranya sudah tumbuh dewasa meski belum waktunya. Padahal tak apa bagi Liam bermanja-manja atau mengompol seperti anak kecil berumur lima tahun pada umumnya.
"Tapi Liam, belum mandi."
"Kalau begitu kita mandi bersama, hmm."
Ya, ampun. Leon tidak pernah merasa sesenang ini. Bisa mandi bersama anaknya. Hatinya menghangat. Dia ingin setiap harinya dapat seperti ini. Ternyata memiliki anak bukanlah sesuatu yang buruk.
Setelah memerintahkan beberapa pelayan menyiapkan pakaian untuk anak kecil, Leon langsung menggendong Liam masuk ke dalam jacuzzi. Namun, Leon mulai bingung. Air apa yang tepat untuk seorang anak kecil? Air dingin atau hangat? Keningnya mengerut tak sadar Liam sudah kedinginan lebih dulu terkena udara dingin.
"Paman, ayo mandi."
"Sebentar. Kau suka air dingin apa hangat?" Leon sama sekali buta akan mengurus anak kecil. Bagaimana Jecy biasanya memandikan Liam?
"Terserah, Paman. Aku menyukai dua-duanya," bibir Liam mulai manyun unyu. Dia nampak persis dengan Jecy ketika kesal. Entahlah, kadang bocah kecil itu juga menampilkan sisi yang dia warisi dari ibunya.
"Baiklah."
Leon mengisi bak mandi dengan air hangat. Meletakkan tangan ke dalam air, memastikan suhu air tidak akan menyakiti kulit anaknya. Pria dewasa itu lalu masuk bersama Liam yang sudah telnjang.
Baru beberapa guyuran tiba-tiba Liam berkata, "Paman, bolehkah Liam bertanya?"
"Ya, apa itu?"
__ADS_1
"Semalam Liam mendengar paman meminta maaf pada mommy. Apa kalian bertengkar atau semacamnya?"
_To Be Continued_