SCANDAL KENCAN SEMALAM

SCANDAL KENCAN SEMALAM
MELARIKAN DIRI DAN MENGEJAR


__ADS_3

Di luar pohon Jacaranda menari-nari, bunga-bunganya yang menyerupai trompet berwarna ungu bergoyang cantik dihembus angin musim semi. Cuaca di sore bulan September itu sungguh cerah.


Kali ini Jecy memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumahnya sambil menghirup udara segar. Setelah berjalan-jalan, dia memutuskan untuk duduk di kursi sambil menikmati semilir angin yang menerpa rambutnya.


Ketika dia memejamkan mata, dia merasakan ada pergerakan di sampingnya. Tapi Jecy acuh dan masih memejamkan mata.


"Kalau ada orang disapa, tidak perlu pura-pura tidak tahu," ucap orang yang duduk di sebelahnya.


Jecy mendengus kasar setelah menyadari siapa orang itu. Padahal dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.


Terlebih oleh Amora, wanita malam yang tinggal di sebelah rumah. Seseorang yang mendorong Jecy masuk ke dalam lumpur yang kotor, dengan mengatakan cara cepat untuk mendapatkan uang itu dengan menjual tubuhmu.


Waktu itu, dia memang sangat bodoh karena mengikuti saran Amora memilih alternatif itu. Jecy terlalu pusing dan buntu untuk mencari biaya operasi neneknya.


"Akhirnya aku bisa melihatmu keluar dari rumah. Kau tahu? Kukira kau akan berakhir bunuh diri di dalam sana," oceh Amora kemudian, tapi terdapat kekhawatiran di nada suaranya.


Akhirnya Jecy membuka mata dan menoleh, menatap dengan lirikan kesal, "Berhenti omong kosong, tinggalkan aku sendiri."


"Aww, berbicaralah denganku lebih banyak lagi, aku masih punya sisa waktu satu jam sebelum aku bertemu pelangganku berikutnya."


Mendengar itu, Jecy menghela napas panjang. Bahkan dia tidak bisa membantunya, melainkan hanya melihat lebam yang ada di leher Amora. Dan mulutnya itu terlihat seperti menangis meski wajahnya sedang tersenyum.


Dia tahu kalau menjual diri sendiri adalah sesuatu yang akhirnya dilakukan orang-orang yang mencapai titik terendah keputusasaan. Untuk beberapa orang, ini satu-satunya pilihan yang mereka miliki.


Hidup itu seperti sebuah komedi ketika melihat dari jauh, tapi seperti sebuah tragedi jika melihat dari dekat. Tapi beberapa kehidupan menjadi sebuah tragedi berkepanjangan.


Jecy pikir, dia mengerti kenapa dia tidak bisa marah pada wanita itu, meskipun Amora menyesatkannya.


"Jecy."


"Ya?"


"Kau harus berhati-hati."


Jecy mengerutkan dahi bingung, tidak mengerti kenapa Amora tiba-tiba memberi peringatan, "Apa maksudmu?"


"Tuan Leon sedang mencarimu. Ada satu waktu aku ditanyai di mana kau tinggal."


"A-apa? Kenapa dia mencariku? Bukankah aku sudah tidak berurusan lagi dengannya setelah malam itu? Apa kau memberitahu di mana aku tinggal?" tanya Jecy bertubi-tubi, dia terkejut dan panik secara bersamaan. Bahkan matanya sampai membulat dengan sempurna.


Oh ayolah, dia tidak ingin berurusan dengan pria mesum itu lagi!


"Aku tidak tahu kenapa dia mencarimu. Apa kau melakukan kesalahan ketika bersamanya? Kau tenang saja, aku tidak memberitahunya," Amora sebisa mungkin menjawab semua pertanyaan itu.


"Tidak," Jecy mengigit ujung kuku jari, gelisah, "Aku tidak tahu apakah aku membuah kesalahan atau tidak..."


Jecy benar-benar tidak tahu!


Mungkin karena dia yang tidak bisa memuaskan lelaki mesum itu? Apa Leon ingin meminta kembali uang yang telah dia dapatkan? Atau dia akan dituntut karena menuliskan nominal cek yang sangat banyak? Apa Jecy akan dipenjara?


Apapun itu, Jecy sangat takut.

__ADS_1


"Meski aku mengatakan tidak tahu apa-apa tentangmu, orang itu pasti akan bisa menemukanmu cepat atau lambat. Kau tahu sendiri, bukan? Uang bisa melakukan segalanya," ucap Amora yang semakin membuat Jecy panik.


Seakan masalah terus datang bertubi-tubi menyerang. Jecy mengigit bibir bawahnya, sambil memutar otak.


Bagaimana jika fakta dia yang mengandung anak pria itu terungkap? Hal terburuk yang Jecy pikirkan adalah Leon menyuruh menggugurkannya.


Tidak! Jecy tidak akan membiarkan itu. Dia sudah berjanji menjaga kandungannya agar si bayi lahir sehat. Dirinya harus melakukan sesuatu supaya tidak ditangkap!


Grep! Dengan gerakan tiba-tiba, Jecy mencengkeram kedua pundak Amora. Tatapannya tajam dan bersungguh-sungguh.


"A-apa?" tanya Amora di antara bingung dan terkejut.


"Aku sedang hamil sekarang," ucap Jecy yang memutuskan untuk memberitahu Amora.


"Ya, Tuhan, Jecy! Kau hamil?" pekiknya tertahan.


Wanita itu terbelalak dengan sempurna. Amora tidak berpikir jika itu bercanda, karena Jecy berkata dengan keseriusan yang tercetak jelas di matanya.


Sekarang dia paham, kenapa Jecy begitu frustasi hingga mengurung diri di dalam rumah. Sampai-sampai memiliki mata yang berkantung hitam dan tubuh yang kurus. Kondisi temannya itu benar-benar kacau.


Kepala Jecy mengangguk. Setelah dokter, Amora lah yang sekarang tahu dia sedang mengandung. Setidaknya dia percaya pada wanita itu.


"Lalu, akan kau apakan bayimu?" lirih Amora yang jelas tahu siapa ayah dari bayi itu──satu-satunya pria yang pernah tidur dengan Jecy.


"Apapun yang terjadi aku akan melahirkannya!" jawab Jecy tetap hati. Lalu semakin mengeratkan cengkeraman pada pundak Amora, yang membuat meringis sakit.


"Apa rencanamu selanjutnya?"


Tempat ini sudah tidak aman untuknya, dia harus kabur!


Jecy tahu tidak semudah itu pindah kota atau negara lain. Tapi dia ingin tetap mencobanya. Akan lebih baik jika dia membeli indentitas baru dengan sisa uang di rekeningnya.


**


Keesokan harinya.


Leon turun dari Limousine miliknya. Mengenakan stelan terbaik, berharap ini adalah hari yang baik juga. Sebab, tempat tinggal Jecy sudah ditemukan.


Wanita itu tinggal di Distrik Skid Row, salah satu daerah dengan konsentrasi gelandangan paling tinggi di Amerika Serikat. Pantas saja sangat sulit mencarinya.


"Ini rumah?" tanya Leon keheranan, dia bingung karena tempat itu sangat kecil dan terlihat kumuh. Memiliki perbedaan yang sangat jauh dan mansion dan juga apartemennya, "Tempat ini sangat kotor, dan di sini sangat bau... bau kemiskinan yang menyengat."


"Kau hidup seperti ini? Bukankah hidup seperti ini mencekik?" lanjut Leon di dalam hati.


"Lewat sini, Tuan," ucap Marvin yang membimbing jalan Leon.


Sebenarnya pria itu juga merasa bingung. Bingung dengan bos-nya yang memutuskan untuk ikut datang ke tempat ini. Padahal Leon bisa menunggu, dan membiarkan Marvin menyelesaikan tugas membawa Jecy.


Leon berjalan melewati pagar kecil yang sedikit berkarat. Dia mendapati bunga berwarna putih yang mekar di halaman rumah.


"Apakah wanita itu menyukai mawar putih?" ucapnya tanya sadar.

__ADS_1


"Kenapa, Tuan?" tanya Marvin yang mendengarnya.


"Tidak," jawab Leon langsung menutup mulut rapat-rapat.


Pandangan Leon berjalan, melihat rumah-rumah sekitar yang saling berdempetan. Dia merasa tidak nyaman melihat itu, takut jika menemukan kecoak di sini.


Terlihat Amora yang datang dari salah satu rumah, menghampiri Leon yang hendak menyuruh para pengawalnya mendobrak paksa rumah Jecy.


"Tuan, anda──"


"Kudengar dia ada di sini," ucap Leon datar.


Tidak bisa untuk tidak berkeringat dingin, Amora merasa takut dengan pria yang bisa melakukan apapun itu, "Maaf? Apa yang anda bicarakan?"


Leon mengangkat tangan kanannya dengan santai, memberikan isyarat pada enam pengawalnya.


Dan detik berikutnya, terdengar suara gaduh yang disebabkan para pengawal yang menghancurkan rumah Jecy. Mereka mendobrak pintu, memecahkan jendela, dan melakukan hal brutal yang mampu menghancurkan temboknya.


Ketika Leon mengetahui jika Jecy tidak berada di rumah, ekspresi wajahnya berubah dingin seketika.


"Hati-hati dengan perkataanmu, atau distrik ini akan berakhir seperti rumah itu," ucapnya penuh akan ancaman.


Amora gemetar semakin ketakutan, dia tahu itu bukan sekedar ancaman. Ingin sekali dia melindungi Jecy dengan tidak mengatakan apapun pada Leon, karena temannya itu sudah meminta tolong padanya.


Namun, semua orang di distrik ini dalam bahaya. Pria kaya itu bisa saja meratakan tempat ini.


"...Bandara," gumam Amora dengan bibir gemetar, di dalam hati dia merapatkan banyak kata maaf pada Jecy, "Dia ada di bandara."


"Di bandara?" ucap Leon memicingkan mata tajam. Kemudian bertanya dengan nada luar biasa dingin, "Kenapa? Dia mengemasi barangnya dan pergi ke luar negri?"


Ditatap seperti itu, Amora merasa dikuliti hidup-hidup. Sungguh, dia ingin kabur detik ini juga. Bisa-bisanya Jecy berurusan dengan pria bertemperamen buruk itu.


"Aku..." wanita itu berhenti sejenak untuk menelan saliva dalam-dalam, "...Pikir begitu."


Leon terdiam. Ekspresinya tidak dapat dibaca. Dan itu berlangsung beberapa menit.


Sementara Marvin yang sejak tadi berdiri di sisi kanan Leon, kembali kebingungan. Sudah cukup lama dia berkerja menjadi sekretaris pria itu, tapi masih belum bisa mengerti bos-nya.


Menit berikutnya, terdengar kekeh kecil dari bibir milik Leon, yang lama kelamaan menjadi tawa kencang.


"Hahaha, ini lucu! Mari kita segera cek bandara!" pungkas pria bermata hazel itu.


Leon berpikir jika Jecy sedang mengajaknya bermain. Memainkan sebuah permainan melarikan diri dan mengejar.


Baiklah, dia akan meladeni tikus perempuan itu.


**


Sedangkan di bandara. Terlihat Jecy yang sedang check in penerbangannya ke Indonesia, pada penerbangan selanjutnya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2