
Kedua mata Jecy mulai berkaca-kaca, "Di mana? Di mana yang sakit?"
Dia harus membawa Liam ke rumah sakit...
"Gigi..." sahut Liam pada akhirnya.
"Gigi?" beo Jecy tidak mengerti.
"Gigi Liam copot. Huaaaa!" Liam kembali menangis histeris. Menangisi salah satu gigi serinya yang sudah copot, lalu dia merogoh saku celana dan menunjukan gigi yang copot itu pada Jecy, "Hiks, Mom-mommy..."
Seperti orang bodoh dengan air mata yang hampir menetes, Jecy memperhatikan benda kecil yang berada di atas telapak tangan anak laki-lakinya, "Gigi?"
"Apa Liam akan mati sekarang? Hiks..." Liam merengek sambil menarik-narik baju bagian depan Jecy, "Liam harus bagaimana, Mom?"
Sadar bahwa sang mommy terdiam dengan tubuh yang teguncang gemetar, membuat bocah kecil itu berhenti merengek. Apa ibunya menangis? Oh, Liam tidak bermaksud membuat ibunya bersedih. Tidak ingin membuat Jecy khawatir, tapi Liam justru membuatnya menangis.
"...Mom?" Liam memanggil dengan perasaan bersalah, juga merasa gagal menjadi dewasa. Dia mencoba berhenti menangis meski sulit.
Namun, salah. Sang ibu tidaklah menangis, Jecy justru sedang menahan tawa. Hingga detik berikutnya, tawanya lepas menjalar di udara.
"Ahahaha..."
Perut Jecy terasa tergelitik, wajah cantik yang semakin menawan ketika tertawa. Wanita itu tidak ingat terakhir kali dia bisa tertawa selepas ini. Mungkin ketika dia masih kecil.
"Eh?" Liam bingung sejenak menatap mommy-nya. Tidak lama kemudian, bocah kecil itu ikut tertawa. Dia senang melihat wajah tertawa Jecy, "He... Hehehe."
Ibu dan anak itu tertawa bersama.
"Apa yang Liam tertawakan?" tanya Jecy mengatur tawanya agar berhenti.
"Karena mommy tertawa," jawab Liam masih tertawa, entah ke mana perginya rasa takut akibat giginya yang copot.
Seketika Jecy terdiam, ditatapnya lamat-lamat wajah sehabis menangis sang anak yang kini tertawa riang. Terlihat tampan dan lucu secara bersamaan.
Rumah yang kecil, uang yang tidak banyak, dunia di mana dirinya bukan siapa-siapa, dan satu-satunya yang Jecy miliki hanya kasih sayang Liam. Dia berpikir akan lebih baik jika dia memberikan Liam untuk diadopsi, Jecy sangat menyesali karena belum bisa memberikan yang terbaik dan berpikir hidupnya akan lebih baik daripada sekarang.
Tetapi apa itu benar akan terjadi?
Apakah Jecy akan menjalani hidup yang lebih baik tanpa Liam?
"Tidak, tidak," gumam Jecy berkali-kali di dalam hati, ditariknya Liam ke dalam pelukan erat.
"Gigimu copot secara alami," ucapnya sambil mengecup sayang kepala yang ditumbuhi rambut hitam tebal, wangi minyak telon tercium menyegarkan.
__ADS_1
"Benarkah?" Liam memastikan dengan mata jernih yang berkaca-kaca.
"Ya, jagoan mommy tidak akan mati."
Jecy tersenyum mengusap si surai hitam. Kalau dipikir-pikir, sepuluh hari lagi Liam akan berumur lima tahun, yang artinya gigi susu pertama akan tanggal di bagian gigi seri tengah bawah. Ini sedikit lebih cepat dari perkiraan.
"Lalu apakah gigi Liam akan tumbuh lagi?" tanya si bocah kecil polos.
"Ya, itu akan tumbuh lagi. Sebesar mommy!" jawab Jecy sambil menunjukkan deret gigi putihnya sendiri.
"Wah...!"
Liam terlihat senang, kedua mata hazelnya berbinar-binar. Dia ingin sekali memiliki gigi yang besar dan kuat seperti milik mommy-nya.
"Itu tandanya Liam semakin tumbuh besar dan akan segera pergi ke sekolah!"
Jecy sudah samar-samar memikirkannya, tapi itu akan segera terjadi. Dia pasti bisa memasukan Liam ke sekolah yang bagus. Akan berusaha keras meski mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghasilkan uang dari tetes keringat. Dia ingin putra tercintanya menjadi orang yang hebat.
"Sekolah? Apa itu berarti Liam akan mendapat teman baru?"
"Yaps, Liam juga harus belajar di sekolah. Liam bercita-cita menjadi super hero, bukan? Seorang pahlawan juga harus pintar."
"Ya, Liam ingin menjadi pintar agar mommy bangga."
Seseorang itu adalah Leon.
Pria itu terenyuh melihat pemandangan di depannya. Dia yang ingatannya dipenuhi wajah menangis dan ketakutan Jecy, ini adalah kali pertama baginya melihat sang wanita tertawa lepas.
Jantungnya berdegup kencang.
Jika bisa, Leon ingin terus melihat Jecy tertawa karena kecantikan wanita itu menjadi berkali-kali lipat. Ingin menghadirkan kebahagiaan untuknya, tapi tidak ingin melihat air matanya lagi.
"Aku ingin bergabung dengan mereka," lirih Leon menahan keinginan terbesarnya, dia mengepalkan tangan untuk menahan segala rasa yang menusuk-nusuk sanubarinya.
**
Pagi yang penuh dengan sinar matahari.
Di saat Liam sedang mandi, Jecy terlihat hendak membuka jendela dan pintu untuk menjaga sirkulasi udara.
Jecy membuka kuncian engsel pintu pelan. Namun, direksi pandangannya langsung teralih melihat sebuket bunga mawar putih dan sebuah bungkusan yang tergeletak tepat di depan pintu masuk kontrakannya.
Menelisik ke luar guna melihat ada tidaknya seseorang yang telah meletakkannya. Dia merasa bingung karena tidak menemukan sosok siapapun.
__ADS_1
Kemudian Jecy menunduk untuk mengambil buket mawar putih dan bungkusan itu, mungkin dia bisa mengetahui pengirimnya jika menemukan sebuah catatan.
Namun, kening Jecy merenggut, dua alisnya hampir bertaut ketika mendapati lembaran uang berada di dalam bungkusan──terselip di antara kotak yang berisi pastery, lalu dia juga menemukan catatan. Tidak ada namanya, hanya bertuliskan satu kata "maaf".
Jecy bisa menebak siapa orangnya.
Leon.
Memang siapa lagi?
Setelah seminggu tidak ada pergerakan, dia kira pria itu sudah menyerah.
Jecy membuang napas kesal. Apa Leon mengasihaninya? Semiskin apapun keadaannya, dia masih bisa menghidupi anaknya.
"Ternyata dia adalah pria bodoh berpikiran sempit."
Lelaki itu tidak perlu susah-susah mengeluarkan uang. Memahami Leon sebagai pria kaya raya, alias tajir melintir sampai puluhan bisnis dipunyai. Namun, sifatnya yang Jecy sayangkan. Pria itu suka meledak-ledak, arogan tanpa belas kasihan, berpikir semua masalah dapat diselesaikan dengan gelontoran uang.
Namun, tidak untuk masalah ini. Dia menolak menerima suapan Leon dalam bentuk uang.
Sejatinya dia ingin sekali memasukan lelaki itu ke dalam daftar hitam hidupnya. Hanya Liam hal yang Jecy syukuri dari hubungannya bersama Leon.
"Baiklah, aku cukup menghargainya yang telah memberikan buket bunga dan satu kotak pastery kesukaan Liam."
Jecy mencium aroma mawar putih pemberian Leon. Batinnya bertanya heran, darimana pria itu mengetahui kalau dirinya menyukai bunga yang memiliki makna kemurnian dari sebuah cinta sejati?
**
Dapur restoran siang itu terlihat sibuk dengan tiga orang koki yang tengah mengerjakan tugas mereka. Jecy terlihat mengaduk saus Mushroom, lalu mengangkat teflon saat dirasa sudah cukup.
"Mana ikannya?"
"Baru selesai, Chef," jawab seorang pria berperawakan tinggi ramping, sambil meletakkan steak ikan di atas piring.
Selanjutnya, Jecy menuangkan saus Mushroom yang tadi dia buat. Dan beres! Fish Steak Mushroom Sauce baru saja terjadi dengan tampilan yang indah.
Kring! Jecy memencet bel dapur untuk memanggil pelayan yang bertugas mengantarkan makanan ke pelanggan.
Tidak lama kemudian seorang pelayang datang. Sebelum mengambil makanan yang akan diantar ke meja 21, pelayang itu menghentikan Jecy yang hendak kembali berkutat di dapur.
"Chef Jecy, ada seorang pelanggan VIP yang sangat menyukai masakanmu, dia ingin bertemu denganmu secara langsung."
"Pelanggan VIP? Kenapa ingin bertemu denganku?"
__ADS_1
_To Be Continued_