Sekertarisku Ibu Susu Putraku

Sekertarisku Ibu Susu Putraku
Aku datang


__ADS_3

Pagi pun tiba. Setelah sarapan Lia pamit untuk pergi. Toni hanya bisa mengangguk tak bisa menahan kepergian Lia, bahkan mengantarkannya pun tak bisa.


Toni menatap kepergian Lia yang menggunakan taksi sampai menghilang.


Sesuai tujuan awal Lia pergi ke makam suami dan anaknya yang bersebelahan. Lia membawa buket bunga mawar dan bunga untuk di tabur di makam suami dan anaknya.


Saat tiba di makam suaminya Lia segera menabur bunga dan meletakkan buket bunga di samping nisan suaminya.


Dengan air mata yang mengalir di pipi, Lia memanjatkan doa untuk suaminya.


"Mas Alia datang. Andai mas masih hidup, mungkin kita bisa merayakan ulang tahun mas. Mas Lia sudah ikhlas melepas kepergian mas. mungkin mas sudah tenang di sana bersama putra kita. Dan mas juga sudah bebas dari beban dunia yang mas pikul selama kita bersama. Mas restui Lia untuk melanjutkan hidup tanpa mas lagi di sisi Lia."


"Nak ibu datang menjengukmu. Walaupun ibu hanya sekilas menatap wajahmu, tapi ibu sudah puas dan ibu juga ikhlas melepasmu, semoga kamu tenang di surga bersama ayahmu. Restui ibu untuk melanjutkan hidup tanpa kalian."


Tak lama setelah Lia memanjatkan doa untuk anak dan suaminya. Seorang wanita menarik tubuh Lia untuk berdiri.


"Berdiri kamu wanita pembawa sial. Masih berani kamu menginjakan kaki di makam anak dan cucu saya. Sudah saya peringatkan kamu untuk tidak datang kesini tapi masih saja berani."


"Tapi ini makam suami dan Anak Lia ma" jawab Lia namun sebuah tamparan mendarat di pipi Lia.


"Lancang sekali kamu masih menganggap dia suami dan anakmu. Jika bukan karena kamu anakku dan cucuku kasih hidup." bentak mertua Lia.


"Ini takdir ma, Jika bisa memilih Lia ikhlas menggantikan mereka dengan nyawa Lia."


Mendengar jawaban Lia, mama mertua Lia makin marah dan ingin menampar kembali Lia, Namun tangannya sempat di tahan papa mertuanya.


"Tahan emosi ma. Ini tempat umum bukan di rumah. Jangan membuat masalah di depan makam anak dan cucu kita, " bentak papa mertua lia pada istrinya, " Lia lebih baik kamu pergi jangan buat mamamu tambah marah" usir papa mertuanya.


Dengan derai air mata serasa tak ikhlas meninggalkan makam suaminya. Dengan berat hati Lia melangkah pergi walau sesekali masih menoleh ke makam suami dan anaknya. Ia tatap juga mama dan papa mertuanya sedang menabur bunga untuk anak dan cucunya.


Tanpa terasa Lia sudah sampai di depan gerbang makam. Dan terasa berat untuk melangkah pergi.


Lia masih berdiri di samping gerbang sambil menunggu taksi yang di pesannya. Sambil sesekali mengelus pipinya yang masih sakit karena tamparan yang cukup keras tadi.

__ADS_1


Tak lama Lia mendapat panggilan telepon dari mbak Ayu.


"Halo mbak Lia ada di mana? mbak bisa datang kerumah sakit sekarang."


"Siapa yang sakit mbak? Lia masih di makam dan masih menunggu taksi."


"Alfin mbak demam tinggi. Sedangkan pak Bara baru bisa pulang sore nanti."


"Baik mbak, saya akan segera kesana. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya nanti saya hubungi lagi ini taksinya sudah datang."


"Iya mbak."


Lia pun segera menuju rumah sakit dan dengan perasaan cemas dan kuatir dengan keadaan Alfin.


Butuh waktu agak lama untuk sampai rumah sakit karena jalan yang macet.


Sesampainya rumah sakit Lia segera mencari kamar rawat Alfin. Saat Lia sampai, ia melihat Alfin yang menangis di gendongan Ayu dan segera Lia menghampiri.


"Mbak gimana keadaan Alfin?"


Lia pun mengambil Alfin dari gendongan Ayu. Lia mencoba menyusui Alfin agar bisa berhenti menangis.


"Sayang, kenapa sakit rindu papa yang belum pulang? cepat sembuh sayang papa nanti pulang nemuin Alfin. Nanti kita marahi papa ya, bilang sama papa kalau pergi jangan lama-lama Alfin kangen." ucap lia mengajak ngobrol Alfin sedangkan Alfin menyusu sambil matanya menatap Lia.


Alfin minta di gondong terus dan tak mau di letakkan di ranjang. Hari sudah mulai malam tapi belum ada tanda-tanda Bara datang.


Saat Alfin sudah benar-benar nyenyak dan bisa di letakkan di ranjang, Lia pun ikut tertidur karena sudah lelah menjada Alfin dan giliran dengan Ayu yang terjaga saat Lia tertidur.


Sekitar pukul satu dini hari Bara baru sampai dan langsung menuju rumah sakit bersama Akas.


Saat sampai kamar rawat ini Bara di sambut Ayu yang masih terjaga.


"Pak Bara baru sampai?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Iya. Gimana keadaan alfin."


"Alfin sudah bisa tidur, setelah seharian gak mau lepas dari gendongan mbak Lia. masalahnya Alfin gak mau saya gendong maunya sama mbak Lia." Jelas Ayu.


"Ya udah. mbak tidur saja biar saya yang jaga."


"Tapi kan pak. bapak baru saja sampai pasti lelah."


"Gak papa itu sudah resiko saya jadi seorang ayah."


Sedangkan Akas memilih langsung tidur karena lelah setelah perjalanan pulang.


Bara pun menghampiri Alfin yang tertidur pulas dengan selang infus di tangannya.


"Maaf sayang, papa lama ninggalin kamu. pasti kamu kangen sama papa ya, papa juga kangen sama kamu. Cepat sembuh ya sayang papa sudah datang biar kita bisa melepas rindu." Bara mengusap kepala putranya.


Setelah puas memandang Alfin. pandangan Bara beralih pada Lia yang sedang tidur pulas dengan rambut yang menutupi wajahnya.


Dengan perlahan Bara menyibak rambut Lia dan menyisihkannya di belakang telinga.


Di perhatikannya wajah lia yang masih terlihat merah dan masih membakas jari-jari tangan.


Di benak Bara langsung di penuhi tanda tanya. siapa yang telah menampar wajah cantik Lia.


"Makasih Lia, kamu sudah menjadi seorang ibu buat alfin dan siaga menjaga Alfin. Walau kamu sendiri sedang merasakan sakit yang teramat. Suatu hari nanti akan ku balas semua kebaikan mu pada keluargaku. Kamu memang wanita hebat aku sangat mengagumimu. Kamu berbeda dengan wanita lain kamu bisa membuat aku mengagumimu dengan cara yang berbeda." Bara masih saja memandangi Lia tanpa menyadari Lia mulai terbangun.


"Mas Bara sudah pulang? kapan sampainya? maaf lia ketiduran." ucap lia sambil sesekali mengucek matanya.


"Belum lama. Lanjutkan lagi tudurmu biar aku yang jaga, kamu pasti lelah seharian jagain Alfin."


"Gak papa mas, itu sudah tanggung jawab lia sebagai ibu asi buat Alfin. Lagian Lia malah senang bisa menjaga dan mengurus Alfin saat sedang sakit. Itu berarti Alfin masih membutuhkan Lia."


"Makasih, kamu selalu ada buat Alfin di sela kesibukan harimu dan selalu ada buat Alfin di saat dia butuh."

__ADS_1


Lia hanya menganguk pada Bara atas ucapannya. Mereka pun memilih ngobrol sampai pagi saat rasa kantuk Lia hilang.


__ADS_2